ACEH MENUJU WISATA HALAL DUNIA

SUARAMEDANNEWS.com, Medan – Aceh sebagai daerah destinasi wisata halal unggulan. service untuk menjamin kehalalan makanan hal utama dicari wisatawan. “Sertifikasi halal pada produk makanan, restoran, dan hotel mutlak diperlukan. Aceh ikut berkompetisi dengan destinasi wisata lainnya di Indonesia. Untuk kategori destinasi budaya ramah wisatawan muslim terbaik, Aceh bersaing dengan Yogyakarta dan Lombok. Selain itu, Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi icon Aceh masuk nominasi kategori daya tarik wisata terbaik bersama Museum Kapal PLTD Apung, Museum Rumoh Aceh, dan Museum Tsunami. Kemudian Bandara Internasional

Sunarji Harahap, M.M. Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PEMERHATI EKONOMI SYARIAH
Sunarji Harahap, M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PEMERHATI EKONOMI SYARIAH

Sultan Iskandar Muda untuk kategori airport ramah wisatawan muslim terbaik, serta Hotel Hermes Palace untuk kategori hotel keluarga ramah wisatawan muslim terbaik. Aceh yang tampil sebagai Pemenang akan diusulkan menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang kompetisi pariwisata Halal Internasional World Halal Travel Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi.

“Tagline ‘The light of Aceh’ sudah bagus dan mewakili Aceh sebagai satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam. pesona Aceh ditampikan, seperti keindahan bawah laut, kekayaan dataran tinggi Gayo dan khazanah budayanya, kekayaan kuliner, kerajinan tangan etnik, serta budaya Aceh yang islami.

Ada beberapa Aspek penilaian utama dalam KPHN 2016 meliputi Profile, Key Achievment, Unique Characteristics yaitu 1. Aspek penilaian Profile, meliputi profile destinasi atau usaha serta komitmen pd kepatuhan untk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, sertifikat halal untuk produk makanan dan minuman, penyedia fasilitas kemudahan untuk beribadah dan komitmen yg tergambar dlm kebijakan, struktur organisasi, kepemimpinan, sistem operasional. 2. Aspek Penilaian Achievements, menggambarkan performance destinasi atau usaha, data pasar dan perkembangannya, capaian dan target pasar, kepuasan konsumen, kinerja keuangan, sistem prosedur serta pembinaan SDM. 3.Aspek Unique Characteristics merupakan inovasi dan terobosan produk dan pelayanan yg sesuai pd komitmen pemenuhan kebutuhan wisatawan muslim.

Kementerian Pariwisata akan memberikan penghargaan kepada para pemenangnya berupa 15 Anugerah Pariwisata Halal Terbaik, sebagai berikut:

  1. Airport Ramah Wisatawan Muslim Terbaik;
    2. Hotel Keluarga Ramah Wisatawan Muslim terbaik;
    3. Resort Pantai Ramah Wisatawan Muslim terbaik;
    4. Biro Perjalanan Wisata Halal Terbaik;
    5. Website Travel Ramah Wisatawan Muslim terbaik;
    6. Destinasi bulan madu ramah wisatawan muslim terbaik;
    7. Operator Haji dan Umroh terbaik;
    8. Destinasi Wisata halal terbaik;
    9. Destinasi kuliner halal terbaik;
    10. Destinasi budaya terbaik;
    11. Sentra kuliner halal terbaik;
    12. Pusat belanja tamah wisatawan muslim terbaik;
    13. Restoran halal terbaik;
    14. Daya Tarik Wisata terbaik;
    15. Kuliner halal terbaik

TP3H kementerian Pariwisata mengapresiasikan partisipasi masyarakat, pemerintah daerah, dan dunia usaha yg sudah mengembangkan pariwisata halal dan turut serta dalam KPHN 2016.

Antusiasme masyarakat berpartisipasi dalam kompetisi ini sangat tinggi dan ini membangkitkan optimisme bahwa pariwisata halal Indonesia akan menjadi unggulan di dunia. Aceh menyabet tiga kategori juara pada Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, Aceh telah berhasil menyisihkan 117 nominasi dari 15 kategori, Aceh menang pada 3 kategori Tiga kategori yang berhasil dimenangkan Aceh yakni, Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, Airport Ramah Wisatawan Muslim Terbaik (Bandara Sultan Iskandar Muda), dan Daya Tarik Wisata Terbaik (Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh)

Prestasi ini merupakan langkah awal menuju kompetisi yang sama tingkat internasional,” bukanlah akhir dari segala perjuangan selama ini. Ini merupakan awal untuk bangkit, sekaligus membuktikan bahwa Aceh mampu bersaing ke tingkat dunia.

Kemenangan ini sebagai semangat baru bagi pembangunan sektor pariwisata di Aceh serta membenahi berbagai aspek dalam mewujudkan Aceh sebagai destinasi wisata halal unggulan dunia. Halal saat ini tak sekadar jadi istilah untuk segala hal yang diperbolehkan dalam Islam. Tapi sekaligus menjadi sebutan untuk gaya hidup yang menjadi tren pilihan bagi komunitas Muslim dunia, termasuk di dalamnya soal wisata.

“Halal atau non-halal, kini bukan hanya soal makanan, tapi sudah meluas ke berbagai sektor. Hal ini muncul seiring peningkatan kesadaran komunitas Muslim yang ingin hidupnya lebih sesuai dengan syariah atau ajaran Islam. Salah satu sektor halal yang kini tengah digalakkan Indonesia adalah pariwisata, melalui kompetisi wisata halal ,terdapat beberapa aspek penilaian utama, yakni profil destinasi atau usaha serta komitmen pada kepatuhan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim. Ada juga penilaian soal sertifikasi halal untuk produk makanan dan minuman, penyediaan fasilitas kemudahan untuk beribadah, dan komitmen yang tergambar dalam kebijakan, struktur organisasi, kepemimpinan, juga sistem operasional.

“Untuk aspek key achievements, gambaran performa destinasi atau usaha, data pasar dan perkembangannya, capaian dan target pasar, kepuasan konsumen, kinerja keuangan, sistem prosedur serta pembinaan sumber daya manusia . gaya hidup halal kini diadaptasi banyak negara. Tercatat, umat Islam berjumlah 25 persen dari total populasi dunia atau mencapai 1,8 miliar jiwa dengan jumlah Gross Domestic Product mencapai US$7,740. “Ini adalah jumlah yang sangat potensial sebagai pasar produk dan layanan halal.

Bangsa Besar adalah bangsa yang bisa menangkap peluang dan tanda zaman serta berpikir jauh ke depan, halal dan Ekonomi Syariah tidak sekedar kebutuhan umat Islam. Melainkan sudah menjadi trend  global, yang bersifat universal.

Halal kini sudah menjadi trend di dunia. 1/3 populasi dunia adalah Muslim. Islam menjadi salah satu agama terbesar yang paling cepat berkembang di dunia, saat ini mencapai 1,8 Milyar orang. Berbicara tentang halal belakangan ini tidak hanya booming di masyarakat muslim saja, tetapi sudah menjadi urusan banyak kalangan. Banyak negara maju di Asia, Eropa dan Amerika, telah mengkonsentrasikan diri pada bidang produk halal, khususnya pangan halal. Hukum halal pada makanan,dalam Islam tidak hanya sekedar doktrin agama, tetapi justru menjamin bahwa makanan tersebut sehat dan aman yang secara ilmiah masuk akal (scientifically sound).

produk pangan (Makanan dan Minuman) adalah produk yang paling besar disertifikasi halal. World Halal Food Council (WHFC) merilis bahwa saat ini kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negara-negara yang mayoritas beragama non-muslim pun sudah banyak yang menerapkan prinsip halal bagi produk-produknya.

Pangan halal adalah kebutuhan setiap muslim, banyak ayat alquran maupun hadis yang menegaskan keharusan konsumsi halal. Perintah itu bersifat umum. Karenanya, berlaku di mana saja muslim berada. Perkembangan teknologi pangan menyebabkan kompleksitas pengetahuan tentang halalnya produk pangan. Arus pergerakan orang antar daerah, bahkan antar negara, memerlukan kehati-hatian dalam memilih makanan. Situasi demikian menyebabkan makin banyak “syubhat” (ketidakjelasan status halal).

Data dari State of The Global Islamic Economy 2014-2015 menyebutkan indicator trend bisnis halal terlihat pada lima bidang industri terus menunjukkan kemajuan. Antara lain jasa keuangan Islami (Islamic finance), makanan halal, busana muslim, media dan rekreasi halal, serta farmasi dan kosmetika halal.

Indonesia menempati urutan kesepuluh dari negara-negara pelaksana ekonomi Islam itu. Kesepuluh besar negara tersebut adalah Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Yordania, Pakistan dan Indonesia. Kondisi ini menandakan bahwa Industri halal di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, bahkan dengan negara-negara non muslim. Padahal potensinya begitu besar.

Kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negeri yang tidak akrab dengan term halal pun, pangan halal kini tidak lagi barang langka. Banyak maskapai kelas dunia menyediakan menu halal. Dikenal dengan sebutan Moslem Meal (MoML) diantaranya maskapai, mulai Japan Airlines, American Airlines, Singapore Airlines, Qantas, Chatay Pacific (Hong Kong), Saudia, Emirates, Qatar Airways, sampai Malaysia Airlines. Dalam penerbangan domestik India dan China pun, tersedia menu halal.
Mengkonsumsi produk halal, ia melanjutkan, adalah hak dasar setiap muslim. Ada dimensi kesehatan dan ekonomi di dalamnya. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, tanpa diminta, seharusnya negara hadir melindungi hak dasar warganya. Hal ini dilakukan supaya pengusaha sadar akan tanggung jawabnya dalam melindungi konsumen.

Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yang pertama perspektif agama yaitu sebagai hukum makanan sehingga konsumen muslim mendapat hak untuk mengkonsumsi makanan sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanyaperlindungan konsumen. Yang kedua adalah perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennyasebagian besar muslim, maka tentu saja dengan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangiblevalue.Produk pangan yang kemasannya tercantum label halal akan meningkatkan daya tarik bagi konsumen muslim.

Sektor pangan merupakan salah satu bidang yang mendominasi perdagangan bebas. Iklim pangan global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas. Sebuah teori kunci untuk perdagangan;  yang harus dipahami adalah bahwa pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat dan  secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu . Terciptanya kedaulatan pangan dalam negeri akan menjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara muslim relatif signifikan dengan rata-rata pertumbuhan perkapita sekitar 6.8%. populasi umat Islam diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar pada 2030, yang mana akan menjadi pusat pasar produk halal.Industri Halal diharapkan menjadi salah satu sektor yang tumbuh stabil di perekonomian global. Sejak beberapa tahun belakangan, bahasan “halal” sudah tidak menjadi bahasan para muslim saja. Menurut data yang diambil dari Global Halal Data Pool, besarnya industri halal secara global telah mencapai USD 2.3 triliun. Bahkan, angka tersebut belum termasuk nilai pendapatan dari perbankan syariah. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 20%, industri halal dapat bernilai hingga USD 560 juta setiap tahunnya. Hal tersebut membuat industri halal menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan segmen konsumen terbesar di dunia.

Meningkatnya jumlah populasi muslim dunia menjadi pemicu utama naiknya trend produk halal dan ekonomi syariah. Dengan jumlahnya yang semakin meningkat, maka  kebutuhan muslim dunia juga akan ikut meningkat. Sampai saat ini, telah banyak produk-produk dunia yang disertifikasi untuk mematuhi hukum syariah.

Misalnya produk halal dalam bidang makanan dan minuman yang tidak mengandung babi serta alkohol, begitu juga dalam bidang keuangan, sistem ekonomi syariah juga mulai digunakan perusahaan-prusahaan non muslim dunia guna menarik konsumen dan wisatawan muslim yang semakin hari, semakin meningkat.

meningkatnya permintaan produk halal telah menarik beberapa sektor bisnis, seperti restoran dan hotel di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan pelanggan muslim.

Untuk segmentasi konsumen sendiri, para konsumen non muslim juga banyak yang lebih memilih untuk menggunakan produk yang bersertifikasi halal. Setelah mengetahui ketatnya proses pemeriksaan halal, mereka percaya bahwa makanan yang halal akan lebih memenuhi aspek kesehatan (thayyib) dan higienis dibandingkan produk yang belum jelas proses produksinya.

Produk yang menjadi pengisi pasar halal pun sekarang sudah tidak hanya seputar makanan dan minuman saja, namun telah meluas ke industri obat, vaksin, kosmetik, fashion, hingga industri pariwisata seperti hotel dan travel. Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia. Bahkan, di Jepang, Korea, Thailand, hingga Singapura yang memiliki penduduk heterogen, teknologi pemeriksa halalnya sudah canggih dan akurat.

proses pengadaan produk halal harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Kebutuhan tersebut salah satunya harus dipenuhi pada sistem suplai dan rantai pasok halal. Misalnya, pengadaan peternakan dan rumah potong hewan yang dijamin halal pada hulu sistem, sistem logistik halal, dan pelabuhan halal pada bagian hilir, dan seterusnya.

Kehalalan yang akan diperiksa pada system tersebut tidak hanya menyangkut bahan baku, namun juga bahan tambahan, teknik pemrosesan, pengepakan, logistik, penyimpanan, kemasan dan penyajian. Jika masyarakat sudah teredukasi dan peduli akan pentingnya kehalalan, insya Allah Indonesia akan menjadi role model dunia dalam penerapan gaya hidup halal.
Pemerintah Aceh bertekad menjadikan daerah itu sebagai tujuan wisata halal terbaik dunia yang dipromosikan lewat festival seni dan budaya lokal yang digelar secara berkelanjutan di provinsi itu.

Aceh menargetkan jumlah wisatawan lebih meningkat lagi, apalagi kita telah bertekad menjadikan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia yang terbaik. terbukti 2015 kunjungan wisatawan ke Aceh mencapai 1,71 juta orang, terdiri dari 1,6 juta wisatawan nusantara dan 54 ribu wisatawan mancanegara atau meningkat 20,22 persen dari tahun 2014.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PEMERHATI EKONOMI SYARIAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close