Foto Bersama selepas acara dialog keperempuanan KOHATI Komisariat FMIPA Unimed

DIALOG KEPEREMPUANAN KOHATI HMI FMIPA UNIMED

SUARAMEDANNEWS.COM – Medan – Dialog keperempuanan Kohati HMI FMIPA unimed dengan Tema  Stereotypes Masa Kini : Islam Radikal sama dengan Teroris.

Acara ini merupakan program kerja dari kohati fmipa unimed ini terjadwalkan dan  terlaksana satu kali setiap bulan pada semester satu. acara dialog keperempuanan yang pertama terlaksana pada hari Minggu, 23
September 2018 di Gedung Biro Insan Cita lantai 2 Sekretariat HMI Cabang Medan.

Pemateri dialog keperempuanan yang pertama ini yaitu bapak Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag. Beliau merupakan penulis buku nilai-nilai dasar perjuangan HMI dan islam madzhab HMI. Sedangkan pemateri kedua Nanang Rifai, S.Sos yang sudah sering menjadi pengisi materi di berbagai acara.
Dialog ini banyak membahas mengenai stereotypes masa kini dan juga tentang islam radikal, sesuai dengan tema yang telah di tentukan dari KOHATI HMI Fmipa Unimed.

Pemateri pertama memaparkan mengenai stereotypes yang ada di Indonesia serta apa dampak dari buruk nya. “stereotypes itu sendiri yang dapat membuat perselisihan dari suatu kaum dengan kaum lainnya serta bagaimana bahaya nya hal tersebut sehingga akan berdampak pada struktur sosial  diferensial. Stereotypes itu sendiri merupakan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan, artinya kita hanya memandang dari perspektif kita sendiri-sendiri dan kita tujukan terhadap orang lain.

Pemateri  banyak mencotohkan stereotypes- stereotypes yang ada diindonesia, salah satunya jangan menikah dengan orang minang, karena ketika berpisah/cerai suami hanya akan membawa pakaian dibdan saja, itu merupakan stereotypes yang salah dan sudah banyak di percayai orang-orang”

Pemetari kedua memaparkan mengenai islam radikal” dimana orang berpikir bahwa radikal itu semua kekerasan, akan tetapi arti sebenarnya radikal itu sendiri tidak seperti itu. Islam memang harus radikal, akan tetapi radikal yang dimaksud yaitu radikal pada ajaran tauhid. Radikal yang keras itu membenarkan kejahatan, makanya faham radikal harus dibatasi. Ketika seseorang bertauhid, pemilik kebenaran itu sendiri adalah tuhan, garis bawahi jangan mencela orang lain dari sudut pandang dia sendiri dan merasa yakin pendapat dia selalu benar”.

Harapan kedepannya dari bidang eksternal KOHATI Fmipa sendiri yang menanggung jawabi acara dialog keperempuanan, yaitu apa yang telah di paparkan oleh kedua pemateri pada dialog keperempuanan pertama ini dapat kita ambil manfaat nya untuk menjadi perbaikan kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *