Ekonomi Syariah Dalam Revolusi Industri 4.0

Sunarji Harahap, M.M
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUARAMEDANNEWS.COM – Setiap Zaman ada tantangannya, setiap jaman ada dinamika yang harus dihadapi, dan setiap langkah pasti mengandung dan mengundang masalah yang harus diubah menjadi tantangan serta peluang yang luar biasa.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah masyarakat dan menciptakan laju perkembangan baru. Melalui inovasi teknologi, telah tercipta digitalisasi yang mempercepat perputaran informasi yang mengubah struktur ekonomi global dan nasional.  Era ini akan menjadi era ekonomi digital, menandai proses revolusioner dari apa yang disebut revolusi industri keempat atau industri 4.0

Pemerintah Indonesia berkomitmen mempercepat pelaksanaan revolusi industri keempat. Komitmen tersebut tecermin dari peluncuran inisiatif “Making Indonesia 4.0” dengan tujuan mengimplementasikan strategi revolusi dan peta jalan (road map) revolusi keempat di Indonesia.

Abad 21 seakan baru saja kita masuki. Berbagai karakteristik abad 21 meliputi : perkembangan teknogi yang begitu pesat, hubungan antarbangsa dan antarmanusia semakin mudah, kompetensi sumber daya manusia harus jelas.

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat ini menggambarkan tentang globalisasi dan mendorong manusia khususnya umat Islam harus mampu menghadapi percaturan global, harus dapat menangkap peluang dan menghadapi tantangan abad 21. Perubahan dan perkembangan berjalan terus begitu cepat dan kini telah muncul sebuah era revolusi industri 4.0.

Era baru revolusi industri keempat atau industri yang berbasiskan teknologi informasi, membuka tantangan baru dari berbagai kalangan diantaranya mahasiswa , akademisi, dan praktisi kedepannya harus disikapi dengan cerdik. Karena, orang yang punya tenaga dan mau kerja jumlahnya sangat besar di indonesia. Sementara, dengan adanya revolusi industri ke-4 ini, maka otomatis perusahaan akan memangkas SDM nya hingga 50%. Karena tenaga manusia digantikan mesin. Angkatan kerja yang banyak didominasi remaja itu akan bertambah berkali-kali lipat. Alhasil, maka tingkat pengangguran semakin akut. Setelah lulus kuliah, anak-anak muda itu butuh kerja, makanya, perlu adanya terobosan-terobosan baru.

Arus utama perkembangan industri bisa dihadapi dengan menggunakan pendekatan ilmu agama Islam, yang berbasiskan teknologi, seperti arah revolusi industri keempat tersebut. Bagaimana etos kerja dalam Alquran yang perlu diangkat. Apalagi dalam Islam, bahagia dunia dan akherat bisa dikejar oleh ilmu.  Pendekatan Islami ini sangat penting dilakukan oleh para mahasiswa agar bisa bertahan di era revolusi industri keempat tersebut, terutama dalam menyiapkan SDM-SDM yang berdaya saing tinggi. Khususnya pada Perguruan Tinggi bagaimana menghasilkan kualitas Sumber Daya Manusia yang berdaya saing di era globalisasi revolusi 4.0.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII), ada sebanyak 143,26 juta orang yang menggunakan internet di Indonesia. 80 persen dari angka tersebut merupakan jumlah pengguna internet yang dilakukan melalui smartphone. Fakta ini menjadi sebuah peluang yang diambil oleh berbagai pihak, khususnya dibidang ekonomi syariah bidang Perbankan Syariah , Produk Halal dll dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Efek dari revolusi industri tersebut harus diikuti. Saat ini tingkat penetrasi internet dalam aktivitas kehidupan masyarakat adalah sebesar 57 persen dan diperkirakan pada 2020 akan mencapai 88 persen. Hal ini yang kemudian direspon oleh perbankan dengan melakukan berbagai inovasi yang memudahkan nasabah, misal dengan membuat aplikasi perbankan mobile. Peluang ini juga berlaku bagi Perbankan Syariah, bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan tersebut. Karena jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, perkembangan Ekonomi Syariah masih tertinggal

Hal ini yang direspons oleh perbankan dengan melakukan berbagai inovasi yang memudahkan nasabah, misal dengan membuat aplikasi perbankan mobile. Peluang ini juga berlaku bagi perbankan syariah, bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan tersebut.secara makro banyak peluang yang bisa dimanfaatkan diantaranya industri makanan halal dunia, pada tahun 2016 jumlah konsumsi makanan halal adalah sebesar 1.245 miliar US dollar dan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal tertinggi di dunia. Sayangnya kita masih berkutat dalam konsumsi dan belum merambah industri produksinya, ini yang kemudian menjadi peluang ekonomi syariah untuk Indonesia. Apalagi Indonesia juga menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia dan juga pangsa pasar industri keuangan syariah terus meningkat. Total aset industri keuangan syariah Indonesia hingga Mei 2018 adalah sebesar 8.38 persen terhadap total keuangan nasional, hal ini menunjukkan adanya peluang yang bisa diambil.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan sinergi untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang dilakukan oleh setiap elemen. Baik masyarakat, akademisi, media, regulator dan bank syariah itu sendiri. Misal untuk aspek masyarakat adalah bagaimana mereka mampu untuk membuka rekening dan melakukan transaksi melalui perbankan syariah. Kita mengharapkan perbankan syariah mampu menjawab tantangan revolusi 4.0 karena fitur dan pelayanan bank syariah baik berupa simpanan, pinjaman, maupun jasa perbankan seperti e-commerce, bancassurance, investasi lainnya.

Bisnis syariah mulai memperlihatkan geliat pertumbuhan seiring dengan kesadaran masyarakat Indonesia bertransaksi sesuai aturan islam. Perkembangannya diawali dari bisnis keuangan dan makanan, selanjutnya merambah pada busana, kosmetik, dan pariwisata. Selain itu perkembangan teknologi informasi menyita perhatian penuh dalam perkembangan bisnis syariah. Pasalnya mulai bermunculan financial technology (fintech) syariah sebagai solusi atas permasalahan transaksi mengandung riba.

Ekonomi syariah di luar negeri bisa melesat dengan cepat berkat bantuan teknologi, ada beberapa negara yang sangat progresif mengintegrasikan teknologi ke dalam kerangka pembangunan ekonomi Islam adalah Malaysia dan Uni Emirat Arab (UEA).

Revolusi Industri 4.0 sebuah keniscayaan yang mesti harus dihadapi oleh umat Islam. Karakteristik revolusi industri 4.0 yang mesti harus dipahami bagi kita semua adalah : 1). munculnya inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang memunculkan kondisi baru yang kadang tidak banyak yang bisa menduga, mengganggu atau merusak kondisi yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu yang sudah mapan.

2) Berkembang sangat pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence disingkat AI) adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin komputer agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.

3). Istilah Big Data atau data besar yang semula hanya dapat disimpan dalam memori besar seperti mainframe atau server, saat ini dengan basis internet setiap orang dengan menggunakan smartphone dapat memiliki big data dengan berbagai keterbatasannya. Seberapa besar seseorang khususnya umat Islam memanfaatkan teknologi internet menunjukkan seberapa besar seseorang sudah terlibat dalam revolusi industri 4.0.

Jika sebagai seorang muslim pada perannya masing-masing telah memanfaatkan teknologi internet untuk melakukan keputusan-keputusan strategis seperti berbisnis, berdakwah menggali dan menyatukan potensi umat muslim, berarti mereka yang paling dapat menangkap peluang dan bisa menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Tahapan di bawahnya adalah seseorang khususnya umat Islam memanfatkan internet hanya untuk menyelesaikan kebutuhan keseharian, seperti memanfaatkan transportasi online, transaksi online dan lainnya, maka mereka termasuk orang yang hanya dapat mengikuti dan memanfaatkan perubahan teknologi. Yang paling berat adalah manusia khususnya umat Islam menjadi subjek dan objek adanya revolusi industri 4.0 di mana mereka menjadi semakin konsumtif, mudah terpengaruh hal yang tidak baik, membantu menyebarkan berita hoax melalui media sosial dan lainnya.

Hal yang perlu dipersiapkan adalah kesiapan SDM umat Islam untuk menghadapi semua kondisi. Sebuah pepatah yang sangat terkenal “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedang kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan.

Keseimbangan meraih urusan dunia dan akhirat sangat jelas tersirat dalam surat Jumu’ah ayat 10 “Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Hal penting yang mesti kita pahami adalah setelah umat Islam selesai melakukan salat, harus segera bekerja untuk mencari rezeki Allah di muka bumi. Ketika umat Islam sedang mencari rezeki tetap harus ingat kepada Allah. Apabila ini menjadi mental dan karakter muslim, maka kemenangan di dunia ini akan dapat diraih.

Perkembangan teknologi yang sudah mencapai tingkat keempat, telah menyediakan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia, baik dari segi kehidupan paling pribadi hingga sosial-masyarakat yang pelik. Perkembangan teknologi telah mengubah wajah umat manusia sebagai makhluk adidaya dengan daya cipta dan pikirannya dalam memanfaatkan planet bumi dibanding makhluk lainnya. Teknologi telah menopang kepentingan manusia bagi kehidupan dan kesejahteraannya.

Akan tetapi, teknologi justru menimbulkan berbagai ekses negatif. Perubahan teknologi yang begitu cepat telah mengubah siklus kehidupan manusia disekitarnya baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya. Manusia tidak terlepas dari lingkup hidup di sekitarnya. Perubahan yang begitu cepat telah mengubah wajah manusia di muka bumi. Akan tetapi, tidak setiap masyarakat dalam lingkup hidup tertentu di salah satu sudut bumi ini menerima perubahan yang begitu cepat tersebut.

Teknologi, dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkannya, telah mengubah perilaku manusia. Bila kita berbincang dengan orang tua di kala mudanya, pasti akan mengatakan bahwa zaman dahulu apa-apa sangat begitu sulit, namun berbeda sekarang dengan segala kecanggihan teknologi semua menjadi serba mudah.

Dahulu, untuk berkomunikasi dengan orang-orang dekat yang tidak ada di tempat, meskipun berjarak beberapa puluh meter dari tempat tinggal, harus berjalan dahulu ke luar rumah menemui sangat orang terdekat. Apalagi terhadap orang yang sangat jauh. Hal ini berbeda dengan keadaan masa kini, di mana smartphone telah menjamur dan sudah menjadi kebutuhan masa kini, baik itu untuk kebutuhan komunikasi yang ‘primer’ hingga menjadi simbol prestise dan trendy masa kini.

Namun, hal itu berbeda bila kita melihat pada sudut pandang lain. Kemudahan dan kenyamanan telah membuat kehidupan manusia menjadi serba instan dan ‘apa-apa ingin mudah tercapai’. Aksebilitas adalah kunci utama bagi informasi. Setiap sentuhan dari smartphone menawarkan berjuta hal bagi kehidupan kita.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara / Pengamat Ekonomi Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close