GERAKAN DEDOLARISASI

Perang dagang, sanksi ekonomi, hingga embargo menimbulkan gejolak ekonomi global. Sejumlah negara Islam kini mempertimbangkan bertransaksi menggunakan emas. Apakah ini menandakan era mata uang emas kembali lagi?  negara-negara di dunia, utamanya  negara muslim, memang sedang berupaya melakukan dedolarisasi atau membuang dolar

Wacana dedolarisasi (membuang dolar) pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara Islam Dunia membahas perdagangan menggunakan emas sebagai senjata untuk bertahan dari embargo ekonomi yang dilancarkan oleh negara barat. Muncul gagasan menjadikan dinar emas sebagai alat pembayaran Internasional dinilai cocok dan beralih ke mata uang dinar berbasis emas sebagai alat tukar internasional, jadi topik hangat dalam sepekan terakhir. Pasalnya dolar bukanlah mata uang riil , dolar dianggap tidak sehat dan tidak punya jaminan khusus sebagaimana emas yang ada pada mata uang dinar. Gagasan perdagangan menggunakan dinar emas semoga terwujud dan akan membangkitkan perekonomian umat islam di dunia , saat ini dunia memang sedang menunggu dinar untuk dijadikan sebagai mata uang internasional. Dinar ini akan menjadi mata uang dengan emas sebagai jaminan. Mata uang dinar merupakan alat tukar paling fair karena berbasis emas yang tidak turun nilainya sampai kapanpun.

Umat Islam terutama di negara mayoritas, sebagian tidak berani mengambil kebijakan ini karena takut dengan gertakan Amerika sebagai pemilik dolar, sehingga tidak percaya diri dan terjajah secara ekonomi. Gerakan dedolarisasi atau pindah ke dinar emas ini juga tidak boleh luput dari kita, harus terus didorong ke depan, dimana pada saat itu subprime mortgage di tahun 2008 itu benar-benar dunia merasa ketergantungan terhadap dolar itu tidak baik.  Sejarah sejak 18 agustus 1971, pertama kalinya Amerika Serikat (AS) menyatakan mem-print dolar tidak menggunakan jaminan emas lagi. Jadi AS cetak dolar suka-sukanya tanpa jaminan emas lagi. Sejak saat itu sebenarnya dunia sudah menantang Amerika tapi Amerika kan lagi kuat-kuatnya. Nah saat ini ada satu negara yang besar yang namanya China, yang ekonominya nomor satu di dunia, yang merasa dolar itu tidak fair karena mem-print dolarnya tidak berdasarkan jaminan emas dan itu diucapkan di tahun 71. Sejak saat itu, sekali lagi dolar itu tidak riil, karena itu dedolarisasi (dilakukan). Itu harus ada yang riil. Harus ada patokannya. Diharapkan dinar (bisa menjadi mata uang riil

Meningkatnya antusiasme negara-negara muslim seperti Malaysia, Iran, dan Qatar dalam menjadikan dinar mata uang internasional. Beberapa negara telah memulai untuk tidak terlalu bergantung pada perekonomian Negeri Paman Sam. Salah satunya Cina. Negeri Panda telah menyuarakan buang dolar atau dedolarisasi. Beberapa upaya yang dilakukan oleh Cina untuk ‘buang’ dolar, antara lain dengan mendiversifikasi cadangannya ke dalam mata uang lain serta membangun cadangan bayangan (shadow reserves).

Sampai saat ini dolar AS memang menjadi salah satu mata uang yang paling banyak digunakan di dunia. Menurut catatan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserves atau The Fed, total mata uang dolar AS yang tersirkulasi di dunia mencapai US$1,74 triliun. Nilai tersebut setara dengan 1,7x output perekonomian Indonesia tahun 2018. Sebuah nilai yang fantastis tentunya. Jauh sebelum adanya fiat money , sistem moneter yang digunakan gold standar, artinya  emas merupakan mata uang yang berlaku , bukan mata uang kertas yang diyakini memiliki nilai intrinsik (fiat money).  Pada sistem gold standard, transaksi akan terjadi antara penjual dan pembeli ketika uang kertas yang mencerminkan kepemilikan akan sejumlah emas ditukarkan dengan suatu barang atau jasa. Sistem gold standard memang memiliki keuntungan terutama dalam meredam inflasi dan menciptakan efek stabil pada perekonomian. Namun sistem ini juga memiliki keterbatasan dari sisi fleksibilitas penyediaan uang hingga menimbulkan persaingan tak sehat bagi negara-negara yang tak memproduksi emas.

Dolar AS menjadi mata uang acuan , berawal dari tahun 1944 setelah perang dunia meletup, berbagai negara mengirimkan delegasinya untuk menghadiri konferensi tentang sistem moneter di Bretton Wood New Hampshire pada 1-22 Juni 1944. Hasil dari konferensi tersebut adalah Perjanjian Bretton Wood yang melahirkan dua lembaga keuangan global yaitu International Bank for Reconstruction & Development (IBRD) atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Perjanjian Bretton Woods juga menjadi tonggak awal mata uang dolar AS sebagai acuan. Alasannya saat itu, Paman Sam menguasai lebih dari dua pertiga emas dunia. Sehingga jadilah dolar sebagai mata uang acuan dan menggantikan sistem Gold Standard. Saat itu satu dolar setara dengan 1/35 oz emas. Namun, dampak yang ditimbulkan adalah nilai dolar menjadi dominan dibanding mata uang lain. Permintaan akan greenback pun melonjak meski tidak terjadi perubahan terhadap nilai emas. Ketidaksesuaian inilah yang menjadi cikal bakal runtuhnya perjanjian Bretton Woods. Kala AS dipimpin oleh Richard Nixon pada tahun 1971, ekonomi AS menderita penyakit yang namanya stagflationStagflation ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran serta inflasi yang meroket, Ada negara yang sengaja memberhentikan pertukaran mata uang emas, ada pula yang menyimpan uang emas agar tidak bisa dikeluarkan. Hal ini juga mengakibatkan kegiatan ekspor impor menjadi kacau pada 1971. Kesempatan ini dimanfaatkan negara Paman Sam –yang saat itu menjadi super power dunia– untuk menghentikan penggunaan sistem uang emas ini. Akhirnya, negara adidaya itu menetapkan mata uangnya sebagai patokan alat tukar internasional sebagai pengganti uang emas. Mata uang itu adalah US dolar. Skandal yang sengaja dilakukan negara negara sekutu ini tidak lain hanya untuk mengontrol dunia. Amerika sendiri dengan kerakusannya ingin menjadi mata uangnya sebagai standar moneter dunia. Hal tersebut diakibatkan karena dolar menjadi mata uang global.  Amerika berhasil menjadikan dolar sebagai standar pertukaran internasional, negara adidaya itu melakukan berbagai manufer ekonomi. Dengan kemampuannya mencetak uang, Amerika mudah mempermainkan kondisi pasar. Semua itu dilakukan agar perekonomian internasional tetap berada di tangannya. Juga sebagai cara untuk tetap mencengkeram negeri-negeri muslim agar perekonomian negeri muslim tak stabil.

Berbagai kesulitan dan tekanan pun semakin menerpa berbagai negara. Mereka merasakan kebuasan kapitalisme menelan semua mangsanya, dalam hal ini, kelicikan permainan ekonomi negeri Paman Sam. Maka, beberapa negara yang mulai menguat perekonomiannya pun mulai mengambil sikap.

Tidak ingin dijadikan budak dan harus terus mengekor pada negara adidaya yang semena-mena, maka Cina, Rusia, dan Uni Eropa mulai melakukan langkah dedolarisasi: langkah membuang dolar atau tidak menggunakan dolar dalam transaksi perdagangan. Mereka menyadari tak ingin lagi memiliki ketergantungan dengan Amerika. Cara ini dinilai sangat efektif untuk menghadapi embargo dari AS. Sebagaimana yang terjadi pada Iran dan Qatar, di mana keduanya mendapat sanksi ekonomi berupa embargo. dolar bukanlah mata uang riil Meski demikian, keduanya hingga saat ini mampu bertahan dan bukan tidak mungkin sanksi seperti ini akan dialami oleh negara lainnya karena apa pun alasannya, jika dinilai merugikan AS pasti akan diberikan sanksi tegas.

Untuk menghadapi itu semua, maka tak ada cara lain selain beralih pada emas. Sebagaimana pada zaman abad pertengahan Islam ketika koin emas dijadikan alat tukar. Hal ini dipastikan akan lebih menstabilkan perekonomian dunia. Dalam percaturan perdagangan dunia, emas telah mengambil alih roda perdagangan 13 abad lamanya. Hal ini membuktikan emas adalah pilihan terbaik untuk dijadikan sebagai alat tukar.

Dinar berasal dari zaman Romawi, merupakan satuan moneter yang digunakan beberapa negara Timur Tengah. Di antaranya Aljazair, Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Libya, dan Tunisia.  Satuan moneter tersebut pertama kali diperkenalkan pada akhir abad ke-7 Masehi oleh Abd al-Malik. Ia memperkenalkan dinar sebagai ‘koin Islam’. Ketika itu Dinar dikenal sebagai denarius. Bentuknya seperti kepingan logam emas.

Berdasarkan hukum Syariah Islam, dinar merupakan uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce.  Saat ini, ada sejumlah negara yang menerbitkan dinar, antara lain Libya, Malaysia, termasuk Indonesia. Menjadikan Sistem Ekonomi Islam sebagai Standar dapat dilihat dalam sejarah,  Islam membuktikan bahwa sistem mata uang emas dapat menjaga kestabilan perekonomian dunia. Selama kurun waktu 13 abad, sistem mata uang emas menjadi pijakan alat tukar. Hanya saja, sistem ini tidak akan bisa berjalan sendiri dengan sistem yang tidak Islami. Sistem mata uang emas perlu dikombinasikan dengan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam hanya bisa dijalankan oleh pemerintahan Islam.  Jika negeri-negeri Islam bisa bersatu , maka dapat dipastikan Islam akan mampu menghadapi ancaman negara adidaya AS.

Selama kurun waktu tertentu, emas menjadi mata uang dalam perdagangan, selama 13 abad Islam menggunakan logam mulia ini sebagai mata uang. Bahkan dalam beberapa ayat dan hadis disebutkan penggunaan emas sebagai alat tukar , dimana awalnya manusia hanya melakukan sistem barter dalam memenuhi kebutuhannya, . Seiring berkembangnya peradaban manusia, akhirnya jika ingin mendapatkan sesuatu cukup dengan menukarkan barang dengan alat tukar dinamakan uang. Namun, kadang terjadi kesulitan saat menukarkan barang akibat satu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki perbedaan dalam satuan. Oleh sebab itu, dibuatlah sebuah standar alat tukar yang dapat dipakai setiap saat. Emas pun dipilih sebagai alat tukar standar.

Dalam Alquran, Allah SWT menyebut dinar dan dirham sebagai mata uang yang digunakan manusia, namun Alquran tidak secara eksplisit memerintahkan penerapan dinar dirham sebagai mata uang. Alqur’an dan Hadist juga tidak pernah mengklaim bahwa dinar dan dirham adalah satu-satunya mata uang yang sah digunakan umat Islam dalam melakukan setiap transaksi dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Namun demikian, penyebutan kata-kata dinar dan dirham dalam ayat-ayat berikut secara implisit menunjukkan pengakuan Allah terhadap superioritas dinar dan dirham. Sebutan Dinar dan Dirham, misalnya terdapat dalam ayat-ayat berikut:

Dan di antara Ahli Kitab, ada orang yang kalau engkau amanahkan dia menyimpan sejumlah besar harta sekalipun, ia akan mengembalikannya (dengan sempurna) kepadamu, dan ada pula di antara mereka yang kalau engkau amanahkan menyimpan sedinar pun, ia tidak akan mengembalikannya kepadamu kecuali kalau engkau selalu menuntutnya…” (Q.S. Ali Imran: 75);

mata uang dinar dirham dan menjadikanya sebagai alat pembayaran keagamaan, seperti zakat, diyat, dan ukuran-ukuran hukuman dalam jinayat. Dengan demikian, jika dipandang dari ilmu hadits, maka  pengakuan Rasulullah akan dinar dan dirham, dapat dipandang sebagai sunnah taqririyah. Praktek penerapan dinar dalam Islam di masa Rasulullah terlihat pada uraian berikut :

1.. Islam mewajibkan zakat pada emas dan perak dan  menetapkan pula adanya nishab tertentu berdasarkan standar emas. Rasulullah SAW bersabda, “Pada setiap 20 dinar zakatnya adalah setengah dinar”. Artinya nisbah zakat dinar (emas ) adalah 20 dinar (atau 85 gr emas), dan zakatnya sebesar 2,5 persen (1/40). Rasulullah saw, juga bersabda, “Pada setiap 200 dirham zakatnya adalah 5 dirham”. Artinya nishab zakat dirham (perak) adalah 200 dirham (atau 595 gr perak), dan zakatnya adalah 2,5 persen (1/40).

  1. Islam mewajibkan pembayaran diyat (denda) dengan emas dan perak serta menentukan ukuran tertentu untuk masing-masingnya. Diyat berupa emas besarnya 1000 dinar, sedangkan diyat berupa perak besarnya 12.000 dirham. Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. bahwa pernah ada seseorang dari kabilah Bani Ady terbunuh. Nabi Muhammad SAW, kemudian menetapkan bahwa diyatnya adalah sebesar 12.000 dirham (HR. Ashab as Sunan).

 

Dalam sejarah umat Islam, Rasulullah dan para sahabat menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uang mereka, disamping sebagai alat tukar, dinar dan dirham juga dijadikan sebagai standar ukuran  hukum-hukum syar’i, seperti kadar zakat dan ukuran pencurian. Pada masa kenabian, uang dinar dan dirham digunakan sebagai alat transaksi perdagangan oleh masyarakat arab.

Menurut hukum Islam, uang dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah ditetap pada masa Rosulullah dan telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya .

 

Dalam perjalanannya sebagai mata uang yang digunakan, dinar dan dirham cenderung stabil dan tidak mengalami inflasi yang cukup besar selama ± 1500 tahun. Penggunaan dinar dan dirham berakhir pada runtuhnya khalifah Islam Turki Usmani 1924.

Di Bumi Nusantara, Dinar dan Dirham sudah mulai digunakan ketika Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326) berkuasa di Kerajaan Samudera Pasai. Dinar Pasai memiliki berat 0,60 gram dan berdiameter 10 mm mempunyai mutu 18 karat. Di bagian depan Dinar Pasai tertera nama Muhammad Malik Al-Zahir dan di bagian belakangnya tertera ungkapan ‘al-Sultan al-‘Adl‘. Seperti di Pasai, mata uang emas yang digunakan di Kelantan-Patani pada kurun yang sama yang terdiri dari jenis-jenis kijang dan dinar matahari juga tertera di atasnya tulisan ‘Malik al-‘Adl‘.

Ungkapan yang sama juga tertera pada uang Timah Terengganu yang disebut Pitis yang digunakan pada tahun 1838. Di Negeri Kedah pula, Sultan Muhammad Jiwa Zainal Syah II (1710-1760) turut mengeluarkan mata uang emas yang dinamakan Kupang yang ditempa ungkapan ‘Adil Syah‘ yang berarti Raja Yang Adil. Ungkapan keadilan (al-‘Adl) yang tertera di atas uang emas jelas menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai keadilan ditegakkan dalam sebuah perekonomian.

 

Ada 6 Keunggulan Dinar Emas : 1. Mata uang emas memiliki nilai nominal yang sama dengan nilai intrinsiknya.

Tidak seperti pencetakan dinar yang di back up 100% oleh emas, pemerintah kapan saja dapat mencetak uang hampa karena tidak perlu di back up oleh emas. Artinya, masalah utama uang hampa (fiat money) adalah tidak adanya nilai intrinsik (harga yang dikandung uang tersebut). Bank Sentral yang pertama kali mengeluarkan uang hampa itu dapat memungut keuntungan luar biasa. Keuntungan ini diperoleh dari perbedaan ongkos pencetakan dan nilai legal uang. Perbedaan ini dalam istilah keuangan disebut “seigniorage”. Uang hampa ini diperkenalkan dalam sebuah ekonomi sebagai hutang atau pinjaman. Kemudian bank-bank komersial memungut keuntungan melalui penciptaan deposit berganda (multiple deposit creation) dengan meminjamkan kepada masyarakat. Sistem uang fiat dan penetapan cadangan minimum (minimum reserve requirement) bank ternyata telah memudahkan penggandaan uang dilakukan. Sebagai contoh, jika jumlah cadangan yang disyaratkan dimiliki setiap bank adalah 10%, dengan jumlah deposit Rp. 1.000, bank akan dapat menggandakan jumlah deposit menjadi Rp. 10.000. Proses penggandaan uang ini akan menimbulkan inflasi.

  1. Nilai mata uang emas lebih stabil.

Kestabilan dinar akan mengeliminir upaya-upaya spekulasi di pasar Valas. Penggunaan dinar emas diyakini akan menutup semua gerak para spekulan untuk meraup keuntungan di pasar Valas melalui aktivitas arbitraging.Fluktuasi Dolar juga akan menentukan keuntungan/kerugian para pemegang Dolar. Hal ini dialami para konglomerat Arab Muslim yang mendepositokan uangnya di bank-bank di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya yang telah mengalami kerugian luar biasa ketika terjadi tragedy pemboman gedung World Trade Centre (WTC), 11 September 2001 di New York. Tragedi “11 September 2001” itu telah menyebabkan Dolar terdepresiasi luar biasa sehingga menyebabkan para konglomerat Arab mengalami kerugian bermilyar-milyar Dolar. Hal ini akan berbeda dengan menyimpan uang dalam bentuk Dinar emas yang tidak pernah berfluktuasi.

  1. Nilai dinar emas adalah tetap dan tidak menimbulkan inflasi.

Sejak mulai digunakan hingga saat ini, Dinar (sekitar Rp. 400.250) masih bisa digunakan untuk membeli barang-barang dengan kuantitas dan kualitas yang sama yang dapat dibeli ketika dinar digunakan tempo dulu.

  1. Nilai dinar emas juga tidak pernah mengikuti hukum ekonomi sebagaimana digambarkan oleh kurva penawaran dan permintaan (supply and demand curve).

Selama kurun 1988-1997, dunia mengalami pasokan emas sebanyak rata-rata 319 ton per tahun, tetapi harganya tetap relatif stabil. Malah, pada kurun 1994-1997, saat dunia mengalami defisit emas sebesar 384% harganya justru turun 14%. Realita ini persis seperti diakui oleh Alan Greenspan, dalam bukunya yang berjudul: Gold and Economic Freedom sebagai berikut: “ in absence of the gold standard, there is no way to protect savings from confiscation trough inflation” (tanpa kehadiran uang standar emas, tidak ada cara untuk memproteksi penyusutan tabungan akibat inflasi).

  1. Emas terbukti kebal dari segala krisis ekonomi.

Ketika krisis Peso Meksiko, 1995, nilai emas disana naik 107% dalam waktu tiga bulan, ketika krisis Rupiah pada 1997, nilai emas di Indonesia melonjak 375% dalam kurun waktu tujuh bulan, dan ketika krisis Rubel di Rusia, 1998, nilai emas di Rusia naik 307% dalam waktu delapan bulan. Secara umum, meskipun harga emas dalam Dolar AS turun sekitar 30 % sejak 1990, rata-rata harga emas di dunia justru naik sebesar 20%.

  1. Penggunaan Dinar akan mengurangi ketergantungan keuangan (financial

dependency) para penggunanya terhadap Dolar akibat mismanajemen

modal.

Ini dapat dilihat dari dunia perdagangan Internasional. Negara yang memiliki pembayaran defisit (mayoritas dunia Muslim) berarti jumlah dana dalam negeri lebih banyak mengalir ke luar negara ketimbang dana asing yang masuk ke dalam negara. Dalam kata lain, jumlah impor jauh lebih besar dari jumlah ekspor.  Hal ini akan menyebabkan terjadinya capital flight yang tinggi menyebabkan devisa akan turun, kalupun tidak minus. Bila ini terjadi, maka untuk menutupi defisit budget negara harus didanai dengan hutang luar negeri. Keterpaksaan berhutang akan memerangkapkan negara penghutang terhadap keharusan untuk memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan negara donor (pemberi hutang), yang sifatnya sangat mencekik leher negara penghutang. Tahun ini Indonesia harus membayar bunga utang lebih Rp70 triliun plus cicilan utang lebih Rp. 60 triliun total sekitar Rp140 triliun.  Hal ini akan terus meningkat sesuai dengan kenaikan suku bunga.    Keharusan menggunakan Dolar ketika membayar hutang akan menyebabkan nilai uang negara penghutang semakin rendah. Konsekuensinya, Negara penghutang berada pada pihak yang dirugikan karena harus membayar hutang dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan hutang sesungguhnya. Ini semata-mata karena karena ketidakstabilan (appresiasi) nilai Dolar. Lain halnya, jika berhutang dengan Dinar maka sampai kapan pun dan dalam keadaan bagaimana pun, nilai Dinar tidak pernah berubah.

Selain alasan di atas, superioritas Dinar telah terbukti ketika AS menggunakan uang standar emas pada tahun 1879. Pada saat itu, tingkat inflasi di negara Super Power itu menurun drastis menyamai tingkat inflasi ketika uang standar standar emas digunakan pada tahun 1861. Penyebab utama krisis ekonomi yang berulangkali menerpa dunia karena pengadopsian sistem keuangan global yang menggunakan fiat money, bukan Dinar Emas.

 

Kembali kepada isu model penerapan uang emas, Malaysia sebagai pelopor diberlakukannya kembali sistem uang emas dalam transaksi internacional menegaskan bahwa negara itu tidak akan mengganti sistem mata uangnya yaitu ringgit dan sen dengan mata uang emas. Malaysia berusaha mengembalikan sistem Britten Woods yang pernah berlaku. Penggunaan mata uang emas untuk perdagangan internasional selain akan menyebabkan efisiensi, maka kestabilan nilai emas sebagai alat tukar akan dapat meningkatkan nilai ekspor.

 

Penerapan dinar tentunya mengandung kemaslahatan yang luar biasa, Menerapkan kembali mata uang dinar merupakan suatu keniscayaan, karena penerapan dinar akan menciptakan keadilan ekonomi dan mengandung banyak kemaslahatan, sementara mata dollar (fiat money) telah terbukti menciptakan kekacauan moneter, ketidakadilan, ketidak-stabilan moneter dan finansial, mengakibatkan inflasi, membuka pintu spekulasi valas dan perdagangan mata uang,dsb. Berdasarkan kemasalahatan dinar itu, maka penerapan dinar dirham merupakan perintah syariah. “Dimana saja terdapat kemaslahatan, maka di sana  syariah (hukum) Allah”,. Jadi karena penerapan dinar dirham mengandung kemaslahatan perekonomian bagi umat manusia, maka penerapan dinar dirham adalah perintah syariah berdasarkan ‘urf dan kemaslahatan, dan tentunya berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penerapan dinar dirham mengandung berkah, karena ia mengandung keutamaan dan kemaslahatan, bahkan keadilan dan sejumlah keunggulan yang luar biasa.

 

Sunarji Harahap

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara / Penulis Mendunia / Pengamat Ekonomi Milenial

 

 

.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *