Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Idul Fitri dan Ekonomi Syariah

SUARAMEDANNEWS.com, Medan – Pada prakteknya dalam rangka mencapai kebutuhan maupun keinginannya, manusia seringkali  melakukan segala cara. Untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya tersebut, manusia berpotensi besar untuk melakukan cara-cara yang bathil  dan aniaya terhadap sesama maupun makhluk lainnya (sosial lingkungan) termasuk terhadap dirinya sendiri. Kata bathil disini diartikan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ukuran kepuasan lebih banyak dipengaruhi oleh subjektifitas kepentingan individu atau komunitas manusia.

Disinilah sangat diperlukan suatu pakem atau etika yang mengatur kegiatan ekonomi tersebut agar tidak berdampak buruk bagi para stakeholders. Isu mengenai pakem atau etika inilah yang membedakan antara ekonomi Islam dan ekonomi lainnya. Kegiatan ekonomi yang disifati dengan kata Islam mengandung makna bahwa kegiatan ekonomi tersebut harus dipastikan sesuai dengan pakem maupun etika Islam dalam Al Quran dan Al Hadits. Berekonomi secara Islami menjadi sebuah keharusan bagi setiap mukallaf sebagai pengejawantahan keberimanan seseorang. Selalu ada spirit dan motivasi untuk selalu berada dalam kerangka ajaran Islam tentang cara berekonomi tersebut sebagai pesan yang termaktub dalam Al Quran tentang  prinsip bermuamalah dalam ekonomi:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan atau melakukan interaksi ekonomi/keuangan di antara kamu secara batil…..” (QS Al Baqarah [2] : 188)

Namun demikian, selalu ada celah dimana cara berekonomi kita selama sebelas bulan sebelum bulan Ramadhan penuh dengan warna kebathilan dalam rangka menggapai kebutuhan maupun keinginan. Tidak jarang, cara kita mendapatkan pemasukan maupun pengeluaran jauh dari nilai-nilai syar’i.

Sesungguhnya ketika membahas tentang Idul Fitri tidak akan terlepas dari membahas mengenai bulan Ramadhan dengan kewajiban ibadah shaum-nya. Kewajiban shaum yang bisa mengantarkan kaum muslimin menjadi orang-orang yang bertaqwa sebagaimana termaktub dalam QS Al Baqarah : 183-185:

“Hai orang-orang yang beriman diwajbkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa………”

Idul fitri adalah merupakan puncak pelaksanaan ibadah shaum dan memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan pelaksanaan ibadah shaum tersebut. Adapun kata ‘id diambil dari bahasa Arab yaitu “’aada ya’uudu ‘iedan” artinya “kembali.” Sedang fitri atau fitrah artinya sifat asli, pembawaan.  Secara etimologis Idul fitri berarti hari raya kesucian atau juga hari raya kemenangan, yaitu kemenangan mencapai kesucian (fithri). Dengan demikian, Idul Fitri ialah lebaran untuk merayakan kemenangan karena berhasil kembali ke fitrah semula yang suci bersih.  Kembali menjadi manusia-manusia “baru” yang kembali ke ajaran Islam yang suci/fithrah (muttaqun) sehingga pada akhirnya mendapatkan syurga-Nya.

Sesungguhnya secara praktis kegiatan ekonomi bisa kita reduksi maknanya menjadi usaha yang dilakukan oleh pelaku ekonomi – baik di level mikro naupun makro – untuk mendapatkan pemasukan (income) berupa materi dan bagaimana membelanjakannya. Faktor pendorong  untuk kegiatan ekonomi tersebut adalah kebutuhan maupun keinginan pelaku ekonomi tersebut (manusia) yang dalam prakteknya tidak mungkin diperoleh tanpa melibatkan pihak lain. Dalam rangka memenuhi kebutuhan maupun keinginannya tersebut manusia mau tidak mau harus melakukan kerja sama dengan pihak lain. Malah, dalam batas tertentu trade off sering kali terjadi dalam menetapkan prioritas pilihannya.

Ekonomi Syariah merupakan sistem ekonomi berbasis pada keyakinan kepada Allah SWT dengan sumbernya Al-Quran dan Sunah Nabi. Dengan begitu, sistem ekonomi ini diyakini bisa membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia.

“Untuk urusan ekonomi yang bersumber pada wahyu, ini kan urusannya believe atau keyakinan. Urusan keyakinan itu diyakini karena berasal dari pencipa alam semesta, Allah SWT, meski dalam prakteknya belum tentu terjadi tetapi sebagai sebuah believe ga ada masalah. Berbeda dengan konsep yang berasal dari manusia. Berdasarkan pengalaman dan pengamalan, bukan keyakinan. Kalau Ekokomi Syariah sumbernya adalah Al-Quran dan Sunah berkategori keyakinan, ini Insya Allah akan memajukan bangsa dan NKRI ini. Kemudian kita menghadirkan konsep apapun dalam ruang negeri yang kita cintai ini, sesungguhnya ini bagian dari cinta kepada negeri untuk menghadirkan berbagai konsep kehidupan yang bisa menghadirkan Indonesia yang lebih makmur, lebih sejahtera.

Hanya di bulan Ramadhan umat islam serentak menjalankan ibadah yang di bulan lain disunnahkan. Nilai-nilai keislaman semakin kuat di sini. Semua orang berlomba-lomba meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Masjid semakin ramai di awal-awal Ramadhan. Para ustad terus memenuhi panggilan dakwah di berbagai tempat. Terasa bulan ini sarat akan peningkatan ibadah. Namun, ada hal lain yang tidak disoroti oleh umat ini. Sebuah sektor yang sejatinya menjadi penentu indikator sebuah negara dikatakan negara maju ataupun berkembang. Indikator kesejahteraan sebuah negara. Ya, itu adalah sektor ekonomi khususnya ekonomi syariah. Ramadhan tiap tahun terus dilalui tetapi nyatanya tidak ada peningkatan yang signifikan yang terjadi di sektor ekonomi syariah. Ini dapat dilihat dari sektor perbankan syariah sebagai representatif perkebangan ekonomi syariah. Tidak ayal bahwa sampai saat ini total pangsa pasar perbankan syariah masih berada dalam 5% trap. Yang artinya kurang dari 5% pangsa pasar perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan nasional. Tragis bukan. Padahal sektor ini merupakan bagian terpenting. Terlabih perbankan syariah adalah sebuah institusi yang dibangun berlandaskan Al-qur’an dan As-Sunnah yang mana merupakan pedoman utama umat muslim. Sayangnya umat muslim terasa acuh akan hal tersebut. Mayoritas mereka lebih suka untuk menggunakan perbankan konvensional karena lebih terpercaya, lebih mudah dan bila ingin melakukan pembiayaan bunganya lebih rendah. Dibandingkan dengan perbankan syariah yang memiliki sifat kebalikannya. Tentu dengan tanpa bunga. Hal tersebut disebabkan karena likuiditas perbankan syariah masih sangat kecil. Adalah wajar bila kemudian sifat-sifat yang demikian menjadi corak bagi perbankan syariah saat ini. Kecilnya likuiditas dari perbankan syariah sejatinya dikarenakan sedikitnya nasabah yang mereka miliki. Melihat keadaan yang demikian tentu ada yang salah dari semangat ramadhan dan idul fitri yang dijunjung dengan nilai-nilai keislaman. Kesalahan tentu bukan terletak dari nilai-nilai keislamannya tetapi dari orang-orang yang sudah mengaku menerapkan nilai-nilai keislaman tetapi sayang tidak secara keseluruhan padahal Allah memerintahkan untuk memasuki agama islam secara kaffah (menyeluruh).

Pembuktian ketahanan Ekonomi syariah dapat dilihat ketika terjadi krisis pada tahun 1998, Bank Muamalat menjadi institusi perbankan yang mampu bertahan menghadapi gejolak krisis saat itu. Oleh sebab itu, mari babak baru yang akan segera kita hadapi (re : idul fitri) menjadi pijakan awal untuk membantu perekonomian umat dengan menjadikan diri kita sebagai bagian dari perkembangan sektor ekonomi syariah. Dengan demikian, kita menjadi umat muslim yang mampu untuk berislam secara kaffah.

Hal ini juga dapat kita perkembangan ekonomi syariah yang terus memberikan kemajuan yang positif bagi Indonesia. Meningkatnya Aset Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah dari Rp 61,6 Triliun menjadi Rp 81, 46 Triliun, naik 38,75 persen bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Dari ikhtisar data keuangan IKNB Syariah OJK, sebesar Rp 34,67 Triliun disumbangkan oleh Lembaga Pembiayaan Syariah. Dari Rp 34,67 Triliun, sebesar Rp 33,53 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Pembiayaan Syariah, Perusahaan Ventura Modal Syariah menyumbang Rp 1,04 Triliun, dan Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur sebesar Rp 103 Miliar. Posisi kedua disumbangkan oleh industri Asuransi Syariah dengan total aset sebesar Rp 33,41 Triliun, yang terdiri dari Rp 27,24 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah, Rp 4,82 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Asuransi Umum Syariah, dan Rp 1,35 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Reasuransi Syariah.

Meningkatnya aset yang signifikan pada IKNB Syariah hingga Oktober tahun ini, didorong oleh jumlah pelaku pada IKNB Syariah. Data OJK menunjukkan bahwa Oktober 2016, data perusahaan yang sudah menjalankan bisnis secara full syariah mencapai 33 perusahaan, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu baru 16 perusahaan. Selain itu, jumlah Unit Usaha Syariah (UUS) Non Bank meningkat, dari 88 UUS Non Bank menjadi 93 UUS Non Bank. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan aset, yaitu membaiknya kembali pembiayaan syariah setelah sebelumnya sempat lesu beberapa waktu yang lalu. Pertumbuhannya cukup baik di tahun 2016 ini.

Ke depannya, diperkirakan pertumbuhan aset pembiayaan syariah akan melampaui aset Asuransi Syariah. Pasalnya, di bidang pembiayaan Syariah mulai masuk perusahaan pembiayaan infrastruktur dimana pertumbuhan asetnya akan semakin meningkat seiring dengan adanya upaya pemerintah untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur. Salah satu faktor pemicu meningkatnya aset pembiayaan syariah, membaiknya bisnis pembiayaan syariah beberapa perusahaan. Pasalnya, pembiayaan syariah besaran uang mukanya lebih rendah 5 persen bila dibandingkan dengan uang muka pembiayaan ribawi. Selain itu, adanya upaya perluasan pembiayaan multiguna yang menawarkan pembiayaan umroh dinilai dapat mendongkrak minat pasar untuk memanfaatkan pembiayaan syariah.

Dengan terbitnya Peraturan OJK No.33/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Program Pensiun Berdasarkan Prinsip Syariah, menjadi angin segar bagi Industri Keuangan Non Bank Syariah. Ini akan

POJK No.33/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Program Pensiun Berdasarkan Prinsip Syariah, dapat dilakukan dengan empat cara. Pertama, pendirian Dana Pensiun Syariah. Kedua, mengkonversi Dana Pensiun menjadi Dana Pensiun Syariah. Ketiga, Pembentukan Unit Syariah di Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Keempat, Penjualan Peket Investasi Syariah di Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Maka, pilihan produk Dana Pensiun Syariah menjadi beragam, baik full UUS atau hanya produk saja. Dengan POJK, kita optimis dapat mengembangkan Dana Pensiun Syariah lebih baik lagi.

Dalam catatan OJK, hingga Agustus 2016 telah ada 12 Dana Pensiun Syariah yang siap beroperasi. Selain itu, diproyeksikan ada 11 Dana Pensiun Syariah yang siap berdiri, yang berasal dari Rumah Sakit Islam, Ormas Islam, hingga sekolah Islam dan Swasta. Potensi kehadiran Dana Pensiun Syariah mencapai Rp 10 Triliun hingga Rp 20 Triliun dengan kontribusi mencapai 10 persen dari total Dana Pensiun Ribawi. Potensi Baru juga dari Modal Ventura Syariah. Modal Ventura merupakan suatu format pembiayaan modal dimana investor dengan aktif ikut berpartisipasi dalam ventura atau usaha beresiko yang sedang dibiayai. Sasarannya, untuk memberikan nilai tambah pada perusahaan sepanjang periode pembiayaan yang diberikan. Umumnya, perkembangan suatu usaha akan mengalami siklus start-up, growth, mature, dan decline. Setiap tahap memiliki karakteristik usaha yang berbeda, baik dari aspek kebutuhan pembiayaan, potensi pertumbuhan maupun resiko.

Ekonomi Syariah harus diperjuangkan untuk kebaikan umat dan bangsa Indonesia. Secara umum, sudah muncul kesepahaman bahwa keuangan syariah dapat mendorong disiplin ekonomi dan keterkaitan sektor riil. Selain itu, kita juga harus mengambil peluang besar perkembangan pasar global sekaligus penguatan keuangan dan perekonomian syariah Indonesia. Ekonomi syariah juga diharapkan karena sangat terkait dengan sektor riil sehingga dapat mensejahterakan rakyat lebih luas lagi.

Spirit dan motivasi untuk selalu berada (istiqomah) dalam kerangka QS Al Baqarah  : 188 inilah yang bisa dimaknai sebagai sebuah kemenangan yang sesungguhnya dan secara berkelanjutan menjaganya dengan secara sadar. Spirit dan motivasi yang dibalut dengan esensi taqwa. Sebuah wujud resultasi perenungan kembali selama kurang lebih satu bulan untuk kembali ke jalan yang benar dalam semua aktivitas kehidupan wa bilkhusus dalam cara berekonomi setelah berpotensi mengalami deviasi selama sebelas bulan sebelumnya. Semoga Idul Fitri kali ini kita termasuk golongan yang kembali fithrah dan menggapai kemenangan syurga-Nya kelak. Aamiin YRA

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *