JALA UKHUWAH PANCASILA

SUARAMEDANNEWS.COM – Bak merunut benang kusut, susah darimana dulu harus mulai mengurai dan meluruskannya. Dibutuhkan tenun kesabaran dan ketekunan dakwah dalam menganyam jala persaudaraan yang sempat terkoyak akhir-akhir ini.

Merujuk analisa Qs. Al-Hadid/57:22-23 bertimbunnya masalah timbul dari 2 hal yang saling berlawanan : 1. Ketidakmampuan diri dalam mengatasi perasaan dukacita akibat kegagalan – putus asa. 2. Ketidakberdayaan mengelola kegembiraan yang disebabkan kesuksesan – jumawa.

Ayuklah, kita bertafakur untuk mengembalikan segala urusan negeri ini kepada sang pemilikNya (Khaliq). Berusaha menyandarkan diri kepada bimbingan Allah melalui Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya!.

Dalam Qs. Al-Hujurat : 13 secara universal Allah mentaqdirkan manusia secara heterogen, berbeza (SARA) suku bangsa, kelompok dan agama untuk mengenal lahir dan bathin (لتعارفوا) antara satu dengan lainnya. Hidup bersanding/bertanding untuk menjadi muttaqin terbaik.

ﺇِﻥَّ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﻣَﻔَﺎﺯًا Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan (Qs. An-Naba’: 31)

Dibeberapa hadits kita dapati ilustrasi sosial, bahwa orang mukmin hidup berdampingan laksana bangunan dan badan (jasad). Saling menguatkan dan menyayangi sesama, peduli dan empati menebarkan cinta kasih layaknya kekompakan antar bagian tubuh kita.

Dalam histori hijrah, Rasul Saw dan sahabat menjadi kaum urban (muhajirin) dari Mekkah ke Madinah, lalu disambut mesra kaum pribumi (Anshor) dengan penuh persaudaraan. Kejayaan peradaban periode Madinah dibangun oleh Rasul Saw dan Sahabat dengan 3 hal, yakni : 1. Ukhuwah Islamiyah (antar muslim) 2. Ukhuwah Basyariyah (antar muslim-non muslim) 3. MoU antara muslim dan non muslim yang dituangkan dalam bentuk piagam Madinah.

Piagam Madinah dalam kontekstualisasi Indonesia adalah kesepakatan kita atas 4 pilar kebangsaan, yakni : 1. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara 2. UUD 1945 sebagai konstitusi negara 3. NKRI sebagai bentuk negara 4. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Ke 4 pilar ini menjadi acuan, magnet sekaligus lem perekat untuk mewujudkan jala ukhuwah pancasila, untuk bersatu membangun negeri ini mengejar ketertinggalan negara maju dan negara berkembang lainnya.

Tak terasa, DKI Jakarta 1 periode 3 gubernur, dahsyatnye!. Tentu sulit menjamin stabilitas pembangunan kita untuk berkelanjutan. Solusinya, mari kita basuh luka yang ada, mengelus dada dengan istighfar. Hapuslah putus asa dan pongah, bersatu, santun dalam pesona akhlak dan berpelukan seperti teletabis yang lucu dan ceria. Ayuk tunjukkan kebeningan dan ketulusan hatimu! Whoever, whenever and wherever!

Penulis

Rakimin Al-Jawiy

Dosen Psikologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *