Keluarga Lapor ke Kontras, Aktivis PK Sumut Sebut Ada Dugaan Gerakan Mafia Hukum dalam Penanganan Kasus Leni Damayanti

SUARAMEDANNEWS.com, Medan – Terkait kasus penyitaan rumah yang notabenenya milik keluarga Dahlia Br Siahaan yakni atas nama putranya Perdana Eliakim Manalu sesuai tertuang dalam SK Camat sekaligus Sertifikat Hak Milik (SHM) berlokasi di Jalan Menteng 7 Gang Sepakat No.2 Kelurahan Medan Tenggara Kecamatan Medan Denai, juga Mobil dan sejumlah barang lainnya yang dilakukan oleh HD Tampubolon salah seorang oknum anggota komisi C DPRD Deliserdang, sekaligus pemilik Hotel Deli Indah, membuat kalangan aktivis mengaku berang dan angkat bicara.

 

“Atas dasar apa HD melakukan penyitaan rumah, mobil dan barang lainnya milik keluarga Dahlia Br Siahaan, kalau memang barang-barang tersebut bukan atas nama yang berperkara, atau milik pribadi Leni Damayanti Br Manalu, kenapa HD berani melakukan hal itu ?. Apalagi eksekusi yang dilakukan menggunakan sejumlah preman bayaran, dengan cara menakut-nakuti. Jadi saya sarankan kepada keluarga Dahlia Br Siahaan melaporkan hal ini ke Polisi. Dalam hal ini sama artinya HD melakukan perampokan”, tegas Jhoni Sarington didampingi Kornelius Kembaren, keduanya Aktivis Pergerakan Kebangsaan (PK) Sumut kepada wartawan di Simalingkar Medan, Sabtu, (22/10/2016).

 

Lebih lanjut dikatakannya, tindakan HD Tampubolon diduga sudah melanggar hukum. Selaku anggota dewan seharusnya mengerti akan hal tersebut.

 

Disatu sisi, lanjut Jhoni, saya melihat ada keanehan dalam kasus ini. Berdasarkan berkas HD Tampubolon yang melaporkan putri Dahlia yakni Leni Damayanti Br Manalu dalam kasus penipuan ataupun penggelapan uang hingga sebesar 7 Milyaran Rupiah tanpa dibarengi dengan barang bukti yang kuat (autentik), adanya kwitansi ataupun rekening pengiriman. Yang gawatnya lagi ada juga tertulis pengakuan HD memberi sejumlah uang kepada Leni, sebesar Rp.3 Milyar lebih kurang tetapi hanya dalam kapasitas pengakuan saja tidak juga dibarengi bukti penerimaan (kwitansi). Sama artinya HD hanya mengada-ada. Tetapi dalam hal ini kenapa pihak-pihak penegak hukum terkait menerima laporan tersebut ?, tanya Jhoni.

 

Masih dikatakan Jhoni Sarington, kebenaran dalam kasus tersebut terbukti pada 1 Maret 2012 Pengadilan Tinggi mengeluarkan putusan, dengan putusan No.50/PID/2012/PT.MDN, yang memutuskan demi hukum membebaskan Leni Damyanti Br Manalu dari jeratan hukum, dan memerintahkan Kalapas Deliserdang untuk segera membebaskan Leni, sehingga Lapas Deliserdang juga mengeluarkan surat pembebasan dengan nomor surat bebas No.Reg.A IV/01/11, pada 8 maret 2012 selanjutnya Leni pun dibebaskan dari dalam penjara. ucap Jhoni.

 

“Ironinya, setelah itu kasus kembali bergulir ke Mahkamah Agung (MA). Kasasi HD dimenangkan. Walaupun dengan tidak adanya bukti baru (tambahan) hanya mengacu kepada bukti-bukti sebelumnya. Malahan pihak kejaksaan mengenakan sanksi pencucian uang (money laundry) kepada Leni. Jadi kuat dugaan dalam kasus ini telah terjadi gerakan mafia hukum, guna memaksakan kehendak. Jadi saya meminta para petinggi Kepolisian, Kejaksaan di Republik ini meninjau ulang kasus tersebut, memeriksa oknum-oknum yang terlibat, sebagai upaya menegakan supremasi hukum yang memang konsekuensinya harus memihak kepada kebenaran”, tegas Jhoni Sarington.

 

Ditempat lain, salah seorang pengurus Kontras Sumut, Amin, menerima laporan pengaduan keluarga Dahlia Br Siahaan dan berjanji akan meneruskan kepada ketua maupun praktisi hukum di Kontras.

 

“Keluhan ibu Dahlia kami terima, dan akan saya teruskan kepada ketua. Dalam hal ini komitmen Kontras tetap membela masyarakat yang terzolimi dan akan mengawal kasus ini serta menyurati intansi terkait guna mempertanyakan perihal kasus ini”, ucap Amin, di kantor Kontras Jl Brigjen Katamso Gang Bunga Medan, Sabtu (22/10/2016).

 

Sebelumnya terbongkarnya kasus tersebut, Dibeberkan Dahlia, awal perseteruan putrinya Leni Damayanti dengan HD Tampubolon anggota Dewan yang juga sekaligus pemilik Hotel Deli Indah Medan, berawal sejak tahun 2011 lalu. Saat itu Leni Damayanti bekerja sebagai karyawan hotel milik HD Tampubolon tersebut. Tidak hanya sampai disitu saja, saya menduga ada kedekatan yang sangat special antara Purti saya Leni dengan HD Tampubolon, mungkin karena gayung tidak bersambut sehingga menimbulkan kekecewaan HD hingga dia nekat  menghalalkan segala cara.

 

Akibat dari persetruan tersebut akhirnya HD melaporkan putri saya Leni ke Polisi dalam kasus penipuan dan penggelapan uang miliknya hingga Milyaran Rupiah. Tetapi laporan tersebut tanpa dilengkapi barang bukti yang Autentik (kwitansi), tuduhan HD tersebut hanya ditulis diatas selembar kertas yang tertera rincian sejumlah uang yang diterima putri saya Leni.

 

Selain itu ada juga berkas laporan barang bukti yang dikirim HD ke polisi menerangkan uang sebesar Rp.3,5 Milyar diberikan kepada putri saya Leni tetapi tidak dilengkapi tanda terima. Pun demikian anehnya pihak aparat penegak hukum merespon kasus tersebut hingga akhirnya dalam BAP putri saya Leni dituduh dengan kasus pencucian uang oleh pengadilan Negri Lubuk Pakam.

 

Melihat keanehan dari kasus tersebut yang terkesan diakal-akali, lanjut Dahlia, kami melakukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Sumut, hingga akhirnya memang terbukti putri saya Leni tidak bersalah dan Pengadilan Tinggi mengeluarkan putusan pada 1 Maret 2012 dengan putusan No.50/PID/2012/PT.MDN, yang memutuskan demi hukum membebaskan putri saya Leni dari jeratan hukum, dan memerintahkan Kalapas Deliserdang untuk segera membebaskan Leni, sehingga Lapas Deliserdang juga mengeluarkan surat pembebasan dengan nomor surat bebas No.Reg.A IV/01/11, pada 8 maret 2012 dan putri saya Leni pun dibebaskan dari dalam penjara, jelas Dahlia.

 

Lebih lanjut dikatakannya, yang herannya HD Tampubolon kembali menggugat putrinya sendiri Leni hingga ketingkat MA. Mungkin karena memang dia (HD Tampubolon) banyak uang sehingga diduga gampang membayar sana-sini sehingga MA pun memenangkan HD, akhirnya putri saya Leni ditangkap kembali dan dipenjara.

 

“Yang lebih menyedihkan putri saya Leni dijatuhi hukuman 7 tahun penjara, dan saat ini sudah hampir kurang lebih 3 tahun dia mendekam dalam sel penjara Lapas Tanjung Gusta. HD pun menyita rumah kami, Mobil dan barang lainnya yang bukan milik atau atas nama Leni, melainkan nama putra saya Perdana dan almarhum suami saya,” ucapnya sedih. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close