Kewajiban Taat Kepada Penguasa

SUARAMEDANNEWS.com,Medan – Kewajiban rakyat adalah mentaati penguasa walaupun dia berbuat kezhaliman dan penyimpangan, walaupun dia berbuat kefasikan dan kemaksiatan, kecuali jika dia memerintahkan maksiat, maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khâlik.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

Kewajibanmu mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam keadaan engkau susah atau mudah, engkau suka atau engkau, dan mementingkan penguasa atau dirimu. [HR. Muslim]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِى عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِى لَكُمْ

Sesungguhnya setelahku akan terjadi monopoli hak dan perkara-perkara (pada penguasa-pen) yang kamu akan mengingkarinya. Para sahabat bertanya, “Apakah yang anda perintahkan kepada orang di antara kami yang mendapati hal itu?” Beliau menjawab, “Kamu tunaikan kewajibanmu dan kamu meminta hakmu kepada Allâh”. [Muttafaq ‘alaihi]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِى

Barangsiapa mentaati amir (penguasa), maka dia telah mentaati aku. Dan barangsiapa memaksiati amir (penguasa), maka dia telah memaksiati aku [Muttafaq ‘alaihi]

Bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي (وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ) قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada penguasa-penguasa setelahku, mereka tidak mengikuti petunjukku, tidak melaksanakan sunnahku, (akan ada di atara mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati setan berada di dalam jasad manusia)”[1]. Hudzaifah bertanya, ‘Jika aku menemui hal itu, maka bagaimana yang akan aku lakukan wahai Rasûlullâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dengarlah dan taatilah pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu, namun tetap dengarlah dan taatilah “. [HR. Muslim]

Bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا. قَالَ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِى قَالَ : صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

Bagaimana engkau (Wahai Abu Dzarr), jika engkau dipimpin oleh para amir (penguasa) yang mengakhirkan shalat dari waktunya (atau mematikan shalat dari waktunya)? Aku (Abu Dzarr) menjawab, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Beliau bersabda, “Shalatlah pada waktunya, jika engkau mendapati shalat bersama mereka, maka shalatlah, sesungguhnya itu (shalat) nafilah (sunnah/tambahan) bagimu”. [HR. Muslim]

Dengan munculnya kemaksiatan-kemaksiatan yang berupa syirik dan lainnya di kalangan kaum Muslimin di zaman ini, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh, kemaksiatan-kemaksiatan itu tidak diperintahkan untuk dilakukan. Seandainya hal itu terjadi (yaitu kemaksiatan-kemaistan yang ada itu diperintahkan oleh penguasa), penguasa tetap ditaati dalam perkara yang merupakan ketaatan kepada Allâh, dan penguasa tidak ditaati dalam perkara yang merupakan kemaksiatan kepada Allâh, sebagaimana dikatakan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu , salah satu perawi hadits tentang hal itu.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.(Ustad Syahrul Efendi / Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close