Mahasiswa Palsu

SUARAMEDANNEWS.com – Mahasiswa berasal dari kata maha dan siswa yang berarti siswa besar. Seharusnya, predikat ini tidak hanya dipakai oleh sekelompok orang yang pekerjaannya hanya kuliah di kampus, tetapi seharusnya juga aktif di kehidupan sosialnya. Mahasiswa sejatinya kuliah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, meneliti, dan mengabdi ke masyarakat sesuai tridarma perguruan tinggi, tetapi berbeda dengan yang terjadi sekarang, mahasiswa pencari SKPI.

Pengertian mahasiswa sekarang sudah jauh bergeser dari arti mahasiswa dahulu. Dulu, saat kita mendengar kata mahasiswa maka yang terbayang adalah kumpulan orang hebat di bidang akademik, maupun di bagian nonakademik. Sekarang, predikat mahasiswa bahkan hampir tidak ada pengaruh apa-apa lagi, hanya tukang kuliah yang pergi pagi dan pulang di sorenya.

Makna kata mahasiswa semakin hanya menjadi mahasiswa saja, Terlebih dengan diterapkan kebijakan SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) di salah satu universitas ternama di Aceh. SKPI adalah program baru yang mendukung agar mahasiswa tidak hanya menjadi tukang kuliah, tetapi juga aktif di dunia organisasi atau pun sosial. Ironinya, SKPI ditakutkan hanya akan menjadi simbol saja. Mengapa demikian? Ini karena SKPI hanya menghitung keaktifan mahasiswa yang hanya ada bukti tertulisnya, seperti sertifikat, piagam, atau penghargaan tertulis lainnya yang mencantumkan nama disertai kegiatan yang telah diikuti. Jadi, banyak mahasiswa yang akan dengan sengaja mencari sertifikat-sertifikat untuk bukti palsunya.

Memang sudah menjadi hukum di Indonesia segala sesuatu harus ada buktinya. Kita diajarkan untuk tidak percaya terhadap sesama. Harus kita akui, persaingan dalam dunia kerja semakin hari semakin keras. Jadi, manusia dalam mencapai tujuannya itu juga akan melakukan segala hal, bahkan mengambil jalan pintas agar ia juga bisa sampai ke tujuan. Mungkin prinsip yang ia pegang bagus, “JIka orang lain bisa, mengapa saya tidak?” dan mulailah ia melakukan berbagai cara asalkan niatnya tersampaikan.

Sejatinya, SKPI adalah kertas yang menunjukkan bukti keaktifan mahasiswa, tetapi sekarang SKPI nampaknya mulai akan salah digunakan. Bayangkan saja, jika pada hari biasa sebelum diberlakukannya SKPI mahasiswa yang mengikuti seminar nyaris tidak ada, berbeda halnya dengan sekarang, sekarang bahkan mahasiswa sendiri yang mencari di mana ada seminar. Jika sudah seperti ini, kita tentu tahu yang dicari mahasiswa bukan lagi ilmu pengetahuan dari sebuah seminar atau apa pun itu, melainkan hanya poin SKPI untuk menunjang nilai kelulusannya nanti. Sungguh ironi! Ketika sebuah program yang diniatkan akan berjalan baik malah akan disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu.

Ironinya mulai ada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan asal jadi dengan tujuan asal mengena dan dengan niatan hanya untuk mendapatkan sertifikat dan menambahpoin SKPI pun bertambah. Kemudian, banyak mahasiswa yang biasanya apatis sekarang malahan sangat antusias dengan dibukanya pendaftaran seminar atau hal serupa lainnya. Kemudian bisa ditebak, pendaftar kocar-kacir menghubungi panitia yang namanya terletak di spanduk yang ditempel di seluruh tempat umum untuk mendaftar dengan harapan masih tersedia jatah kursi untuk mengikuti seminar atau jatah kursi untuk mendapatkan sertifikat dengan poin tiga hingga sepuluh ini.

Istilah mahasiswa palsu mungkin sangat cocok jika disandingkan dengan mahasiswa pencari SKPI, malas ikut seminar untuk ilmu, tetapi mau nilai SKPI saja. Ya, sudah jadi mahasiswa, tetapi kelakuan belum mahasiswa. Palsu.

Kali ini, siapa yang berani mengatakan jika bangsa Indonesia adalah bangsa yang malas menuntut ilmu dan tidak mau menyongsong hari esok yang lebih baik? Buktinya jelas, sangat jelas, seminar selalu dibanjiri mahasiswa. Nyaris tidak ada celah.

Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi Indonesia selalu kekurangan orang jujur. Ya, ungkapan ini sangat jelas telihat pada kasus ini. Mahasiswa selaku pemuda calon pemimpin bangsa ke depan sikapnya hanya ingin yang instan tanpa berjuang, hanya ingin nilai tanpa memerdulikan ilmu, hanya ingin lulus dengan predikat bangga tanpa memerdulikan pengalaman atau softskillnya, atau hanya sekedar ingin poin di ijazahnya terlihat hebat.

Kebijakan ini adalah kebijakan baru. Ada baiknya kebijakan ini dkaji lagi sehingga tidak terjadi praktek-praktek curang untuk mendapatkan poin di SKPI-nya. Sejatinya dalam kehidupannya kelak yang paling dibutuhkan adalah kemampuannya, bukan hanya lembaran kertas penunjuk keaktifan di masa kuliah.

 

Masih Ada Cara

Jika ingin mencari siapa salah, tentu tidak ada yang salah. Program SKPI dibuat dengan tujuan yang positif agar mahasiswa lebih aktif dan tentu saja ada kelompok mahasiswa yang memang memanfaatkan acara seminar ini untuk pengetahuannya seperti biasanya, tetapi yang  jadi masalah hanya segelintir mahasiswa palsu tersebut. Memang, sangat sulit mengubah pola pikir seseorang, apalagi jika pola pikir itu justru menguntungkannya, walaupun pola pikir itu salah. Cara yang bisa diambil untuk mengatasi mahasiswa curang yang pertama adalah mewawancarai pendaftar seminar, walaupun hanya ditanyai pertanyaan sederhana seperti alasan mengikuti seminar tersebut, tetapi setidaknya ia tahu  manfaat mengikuti seminar itu.

Cara selanjutnya sekaligus cara yang paling umum diketahui semua orang adalah dengan niat dan kesadaran diri mahasiswa pendaftar seminar tersebut. Sebagus apa pun peraturan yang dibuat, jika tidak ada niat untuk menjalankannya maka peraturan itu tetap tidak berlaku pada orang tersebut. Selanjutnya, kita hanya bisa berdoa semoga mahasiswa kembali menjadi mahasiswa sebagaimana memang kodratnya. Amin.

 

Tulisan Kiriman : Ruhul Aflah

Mahasiswa aktif S1 Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Unsyiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *