MELEK ASURANSI SYARIAH

Bisnis syariah yang berawal dari tahun 1990-an dan mulai populer di tahun 2000-an  diawali dengan makin gencarnya pemasaran produk berbasis syariah dari Bank Mu’amalat, Bank Syariah Mandiri dan bank berbasis syariah lainnya. Setelah produk tabungan dan pembiayaan, kini makin marak produk asuransi berbasis syariah. produk asuransi syariah bisa jadi pilihan menarik bagi sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. 

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penetrasi asuransi di Indonesia saat ini masih berada di titik rendah dengan capaian baru 3,01%. Padahal asuransi seharusnya bisa menjadi andalan sebagai pelindung dari berbagai resiko di masa depan yang disebabkan oleh perencanaan keuangan yang salah.

Terdapat beberapa penyebab rendahnya minat masyarakat untuk memiliki asuransi, seperti tingkat pendidikan yang rendah, kesadaran akan pentingnya mengikuti asuransi serta yang paling utama adalah pendapatan masyarakat. Perlunya komitmen untuk meningkatkan pemahaman dan inklusi keuangan dalam mendorong ketersediaan akses dan layanan keuangan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. dalam memberikan edukasi inklusi asuransi agar dapat meraih pasar yang lebih besar, agar terciptanya masyarakat yang melek asuransi.

Sebenarnya insan asuransi melihat celah di tengah tantangan penetrasi asuransi yang terjadi saat ini. Di era teknologi digital dan perubahan lintas generasi dari baby boomers menjadi milenial merupakan kesempatan luar biasa bagi industri asuransi, perlu penetrasi dan literasi yang rutin dilakukan oleh seluruh pelaku usaha jasa keuangan khususnya industri asuransi akan mendorong peningkatan akses keuangan dan literasi di masyarakat.

Pemerintah yang mencanangkan target keuangan inklusif dengan presentase jumlah penduduk dewasa yang memiliki akses layanan keuangan pada lembaga keuangan formal sebanyak 75% pada akhir 2019, target tersebut tercantum dalam peraturan presiden (Perpres ) No. 82 tahun 2018

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa tahun depan Indonesia akan memasuki periode dengan komposisi jumlah penduduk produktif yang cukup tinggi. Hal tersebut tentunya akan berimplikasi pada meningkatnya demand terhadap asuransi karena masyarakat sebenarnya membutuhkan produk keuangan baik proteksi, investasi yang baik. potensi perkembangan asuransi harus ditunjang oleh hegemoni insurance technology yang kian populer dengan berevolusi aspek operasional asuransi, seperti sisi penjualan produk, underwriting, hingga pembelian polis yang bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari. Saat ini, ada banyak jenis dan manfaat yang ditawarkan oleh asuransi, di mana setiap perusahaan asuransi memiliki beragam fitur dan keunggulan pada masing-masing produk yang mereka keluarkan.

Namun sebagai calon pengguna, maka sudah sewajarnya jika kita memahami dan mengenal dengan baik asuransi yang akan kita pilih dan gunakan. Hal ini akan membantu kita untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan yang maksimal atas penggunaan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, asuransi syariah menjadi salah satu produk asuransi yang banyak dibicarakan dalam kalangan masyarakat. Asuransi ini hadir untuk memenuhi kepentingan dan keinginan banyak orang yang mengharapkan adanya sebuah produk asuransi yang halal dan sesuai dengan ketentuan syariah. Dalam perkembangannya, kini masyarakat semakin memahami agama bukan saja dari sisi ibadah, namun juga mu’amalah atau hubungan dengan sesama manusia. Bisnis dan keuangan termasuk dalam kategori mu’amalah yang kini banyak dipilih orang dengan berbagai pertimbangan, salah satunya faktor halal dan haram.

Namun ternyata masih banyak orang yang belum memahami secara mendalam apa itu Syariah dan hanya sebatas ikut-ikutan saja. Secara prinsip, syariah mencakup seluruh aktivitas muslim terkait perilaku baik dan buruk serta halal dan haram. Syariah bertumpu pada iman dan akhlak serta memiliki balasan di dunia dan akhirat.

Syariah mengacu kepada Al-Quran dan Hadits, begitu juga aturan yang diterapkan dalam Asuransi Syariah. Dalam konteks bisnis khususnya asuransi berbasis syariah, ketentuan dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta pendapat ulama (fiqih) diterjemahkan dalam produk asuransi

Dalam asuransi syariah, diberlakukan sebuah sistem, di mana para peserta akan menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim jika ada peserta yang mengalami musibah. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa, di dalam asuransi syariah, peranan dari perusahaan asuransi hanyalah sebatas pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima saja.

Di Indonesia, asuransi syariah sudah banyak tersedia di berbagai produk-produk asuransi jiwa maupun asuransi kesehatan yang bisa didapatkan dengan mudah melalui perusahaan-perusahaan asuransi swasta.

Dalam konteks syariah, asuransi merupakan usaha kerjasama untuk saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang dalam menghadapi musibah atau bencana melalui perjanjian yang disepakati bersama sesuai dengan ajaran Islam.

Perjanjian yang digunakan menggunakan prinsip akad Takaful yang artinya tolong-menolong dengan prinsip dasar Tabarru’, sedangkan pengelolaan dana menggunakan prinsip Mudharabah melalui investasi syariah.

Perlu diperhatikan bahwa dalam Asuransi Syariah harus sesuai dengan Syariah Islam dengan mempertimbangkan larangan yang harus dihindari yaitu tidak mengandung Gharar (ketidakpastian), Maysir (perjudian), Riba (bunga), barang haram dan maksiat yang dilarang dalam Islam. Untuk mendukung sistem syariah perlu digunakan akad yang tepat seperti berikut ini:

  1. Akad Tijarah, yang mempunyai tujuan komersial yaitu mencari keuntungan
  2. Akad Tabarru, yang mempunyai tujuan non profit yaitu untuk kebajikan dan tolong-menolong, dan bukan untuk tujuan komersial.

Dalam perkembangannya, asuransi syariah memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan asuransi konvensional. Terdapat 10 perbedaan yang terdapat di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional secara umum:

  1. Pengelolaan Risiko
    Pada dasarnya, dalam asuransi syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana hibah (tabarru). Dengan begitu bisa dikatakan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan di dalam asuransi syariah adalah menggunakan prinsip sharing of risk, di mana resiko dibebankan/dibagi kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.Sedangkan di dalam asuransi konvensional berlaku sistem transfer of risk, di mana resiko dipindahkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagi penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut seperti pada asuransi kesehatan, asuransi mobil, atau asuransi perjalanan
  2. Pengelolaan Dana
    Pengelolaan dana yang dilakukan di dalam asuransi syariah bersifat transparan dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.Di dalam asuransi konvensional, perusahaan asuransi akan menentukan jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri.
  3. Sistem Perjanjian
    Di dalam asuransi syariah hanya digunakan akad hibah (tabarru) yang didasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal. Sedangkan di dalam asuransi konvensional akad yang dilakukan cenderung sama dengan perjanjian jual beli.
  4. Kepemilikan Dana
    Sesuai dengan akad yang digunakan, maka di dalam asuransi syariah dana asuransi tersebut adalah milik bersama (semua peserta asuransi), di mana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana saja. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, karena premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan asuransi tersebut, yang mana dalam hal ini perusahaan asuransi akan memiliki kewenangan penuh terhadap pengelolaan dan pengalokasian dana asuransi.
  5. Pembagian Keuntungan
    Di dalam asuransi syariah, semua keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan terkait dengan dana asuransi, akan dibagikan kepada semua peserta asuransi  tersebut. Namun akan berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, di mana seluruh keuntungan yang didapatkan akan menjadi hak milik perusahaan asuransi tersebut.
  6. Kewajiban Zakat
    Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat yang jumlahnya akan disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional.
  7. Klaim dan Layanan
    Di dalam asuransi syariah, peserta bisa memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap di rumah sakit untuk semua anggota keluarga. Di sini diterapkan sistem penggunaan kartu (cashless) dan membayar semua tagihan yang timbul.Satu polis asuransi digunakan untuk semua anggota keluarga, sehingga premi yang dikenakan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku dalam asuransi konvensional, di mana setiap orang akan memiliki polis sendiri dan premi yang dikenakan tentu akan lebih tinggi.

    Asuransi syariah juga memungkinkan kita untuk bisa melakukan double claim, sehingga kita akan tetap mendapatkan klaim yang kita ajukan meskipun kita telah mendapatkannya melalui asuransi kita yang lain.

  8. Pengawasan
    Di dalam asuransi syariah, pengawasan dilakukan secara ketat dan dilaksanakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibentuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diberi tugas untuk mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yang mengaturnya.

Di setiap lembaga keuangan syariah, wajib ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas sebagai pengawas. DPS ini merupakan perwakilan dari DSN yang bertugas memastikan lembaga tersebut telah menerapkan prinsip syariah secara benar. DSN inilah yang kemudian bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap segala bentuk operasional dijalankan di dalam asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan oleh peserta asuransi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram.

  1. Instrumen Investasi
    Hal ini juga menjadi sebuah perbedaan yang besar dalam asuransi syariah dan konvensional. Di dalam asuransi syariah, investasi tidak bisa dilakukan pada berbagai kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah dan mengandung unsur haram dalam kegiatannya.
  2. Dana Hangus
    Di dalam beberapa jenis asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi konvensional, kita mengenal istilah “dana hangus” yang mana hal ini terjadi pada asuransi yang tidak diklaim (misalnya asuransi jiwa yang pemegang polisnya tidak meninggal dunia hingga masa pertanggungan berakhir). Namun hal seperti ini tidak berlaku di dalam asuransi syariah, karena dana tetap bisa diambil meskipun ada sebagian kecil yang diikhlaskan sebagai dana tabarru.

 

SUNARJI HARAHAP, M.M.

PENGURUS WILAYAH MES SUMUT / PEMERHATI EKONOMI SYARIAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *