MERGER BANK BUMN SYARIAH

Suaramedannews.com, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan akan melaksanakan merger PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah. nantinya akan berfokus untuk semua segmen nasabah, mulai dari UMKM, affluent middle-class, investor, wholesale, dan korporasi. sejarah penting di perbankan syariah Indonesia akan tercipta di Februari 2021.

Lebih dari dua dekade dikembangkan di Indonesia, pangsa pasar perbankan syariah dibandingkan perbankan konvensional, menurut statistik terbaru perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih di bawah 10 persen. Angka ini masih jauh dibandingkan Malaysia yang sudah sampai 20 persen. Padahal, Indonesia negara dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim. Penggabungan bank umum syariah, yaitu BSM, Bank BNI Syariah, dan Bank BRI Syariah untuk menata kembali regulasi, mendorong pertumbuhan yang juga harus dipercepat dengan pertumbuhan nonorganik.

Proses merger bank syariah BUMN sudah dimulai. Hal ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian merger (Conditional Merger Agreement/CMA) oleh bankbank yang akan digabungkan, yaitu PT Bank BRISyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT BNI Syariah pada 13 Oktober 2020. Tujuan utama dari merger ini adalah meningkatkan daya saing perbankan syariah di industri keuangan nasional.

 

Alasan merger bank syariah BUMN, meski 87% total penduduk di Indonesia menganut agama Islam, tetapi market share perbankan syariah terjebak di kisaran 5-6% setelah 20 tahun bank syariah pertama berdiri di negara ini.

 

Perkembangan ekonomi syariah Indonesia di dunia saat ini juga tertinggal dan berada di peringkat kelima dunia, berdasarkan data State of Global Islamic Economy 2020, menyusul Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Saudi Arabia. Fakta tersebut mengindikasikan ada yang kurang tepat dan efisien di industri perbankan syariah selama ini. Karenanya, proses merger bank syariah BUMN harus disambut dengan sukacita. Masyarakat menjadi yang paling diuntungkan dari proses ini karena produkproduk perbankan syariah yang ditawarkan ke depannya pasti akan menjadi lebih murah dan bersaing. Mengapa produk yang ditawarkan bisa lebih murah? Karena bank syariah BUMN yang baru akan mendapatkan sumber dana yang lebih murah dengan besarnya modal yang mereka miliki pascamerger.

 

Kecilnya modal perbankan syariah selama ini dianggap menjadi salah satu sebab utama susahnya pelaku industri ini berkembang. Tapi masalah ini akan sirna, karena pascamerger bank syariah BUMN yang baru akan memiliki modal inti Rp 20,7 triliun. Jumlah ini muncul berdasarkan kalkulasi modal inti BSM sebesar Rp 10,2 triliun, BRI Syariah Rp 5,2 triliun, dan BNI Syariah Rp 5,3 triliun per Agustus 2020. Dengan modal inti sebesar itu, bank syariah BUMN akan masuk kelompook bank BUKU III yang bermodal inti Rp 5 triliun-30 triliun. Saat ini, hanya ada dua bank syariah yang berada di kelompok BUKU III, yaitu BSM dan BNI Syariah. Sementara penghuni kelompok BUKU IV yang bermodal inti lebih dari Rp 30 triliun adalah bank-bank konvensional. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan ke depannya bank syariah BUMN akan masuk kelompok BUKU IV. Tidak hanya dari segi modal inti, bank syariah BUMN nanti juga akan memiliki aset yang besar, mencapai Rp 214,75 triliun atau hampir separuh dari total aset perbankan syariah di Indonesia. Dengan jumlah aset tersebut, bank syariah BUMN akan menjadi bank dengan aset terbesar ke-7 di Indonesia mengikuti BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, BTN, dan Bank CIMB Niaga.

Terdapat beberapa fakta dan angka dapat dicatat yang memberikan harapan dari rencana merger ini. Selama 2020, BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74 persen menjadi Rp 20,5 triliun. Sedangkan BNI Syariah, yang baru saja menjadi Bank BUKU III pada kuartal I tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar. BSM, membukukan laba bersih Rp 368 miliar pada kuartal I 2020, naik 51,53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu .

 

Statistik terbaru yang penulis update dari laman OJK menunjukkan, tiga bank yang akan dimerger, meminjam bahasa Ahmad Dani, merupakan separuh napas bank syariah Indonesia. Aset mereka sekitar 40 persen dari total aset seluruh bank syariah.

Keberhasilan strategi nonorganik pemerintah akan sangat memengaruhi peta industri perbankan syariah. Hal yang membesarkan hati, tiga bank ini memiliki positioning yang nantinya saling melengkapi. BSM memiliki fokus di segmen kredit korporasi, BRI Syariah pada penyaluran pembiayaan segmen UMKM, BNI Syariah, fokus ke consumer banking, menyasar milenial, dan international funding karena induknya, yakni BNI, memiliki sejumlah cabang di luar negeri. Dengan merger, insya allah akan terjadi saling melengkapi kompetensi bank syariah BUMN.

Merger ini memberikan harapan bagi pertumbuhan perbankan syariah. Melihat data dan fakta di atas, dapat diperkirakan pertumbuhan dan keberhasilan strategi bisnis tiga bank BUMN syariah sangat berpengaruh pada potret industri perbankan syariah ke depan.

Belajar dari kesuksesan merger Bank Mandiri maka merger bank BUMN syariah memberikan banyak efek positif pada industri perbankan syariah yang memang sangat membutuhkan injeksi strategi merger ini. Rencana merger tiga bank BUMN syariah patut segera direalisasikan karena pascamerger diharapkan mereka menjadi akselerator pengembangan perbankan syariah.
Tujuan utama penggabungan usaha ini adalah meningkatkan daya saing dan market share. Karena itu, bank syariah BUMN yang baru ini akan dan harus menargetkan konsumen bank konvensional, dan/atau yang paling baik adalah unbanked people demi meningkatkan market share-nya. Selain itu, riset menunjukkan bahwa nasabah eksisting bank syariah yang Muslim religius bukanlah swing customers.

 

Mereka tidak mudah terpengaruh untuk berpindah ke bank lain (bank syariah atau konvensional) hanya jika bank lain tersebut menawarkan rates yang lebih tinggi. Dengan besarnya modal inti dan aset, apalagi ditargetkan jika bank syariah BUMN ini bisa naik ke BUKU IV, maka bank ini bisa mendapat sumber dana lebih murah. Sumber dana murah mampu membuat bank syariah BUMN menyalurkan pembiayaan dengan murah dengan target utama adalah UMKM. Belajar dari pengalaman Bank Mandiri yang lahir dari merger pada 1999 silam karena terkait dampak krisis keuangan hebat di tahun 1998, penggabungan bank syariah kali ini tidak berdasarkan sense of crisis. Seberapa pun hebatnya krisis keuangan dan kesehatan akibat pandemi Covid-19 kali ini, tetapi keparahannya belum separah kondisi 1998. Karena itu, merger bank syariah BUMN bisa belajar banyak dari keberhasilan merger empat bank pemerintah pada 1999. Merger saat itu mendukung riset bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi (M&A) selama krisis memiliki kinerja yang melebihi perusahaan yang tidak melakukan M&A. Strategi Pasca Merger penguatan literasi, edukasi, dan inklusi demi menjangkau unbanked people. Dengan edukasi yang masif, literasi keuangan akan meningkat sehingga dalam jangka panjang turut menumbuhkan inklusi. Per 2019, literasi keuangan Indonesia hanya 38,03%, naik 8,3% dari 2016. Sementara inklusi keuangan di saat yang sama adalah 76,19 %, naik 8,3 % dari 2016. Kenaikan literasi keuangan yang diikuti inklusi keuangan secara nasional tidak terjadi di industri perbankan syariah. Literasi keuangan syariah Indonesia hanya 8,93% di tahun 2019, naik sedikit dari posisi 2016 sebesar 8,1%. Sementara itu, inklusi keuangan syariah justru turun dari 11,1% pada 2016 menjadi 9,1% pada 2019. Target utama literasi ke depannya harus fokus menyasar ibu rumah tangga dan pemuka agama. Saat ini pengembangan ekonomi dari pesantren sedang mulai gencar dilakukan. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk menjangkau para pemuka agama di pesantren-pesantren, sehingga mampu membagikan ilmu-ilmunya kepada muridnya agar memakai produk bank syariah berupa layanan digitalisasi model bisnis dan digitalisasi layanan.

 

Dengan melakukan digitalisasi di model bisnis dan layanan, maka customer experience akan meningkat sehingga bisa menarik nasabah baru. Untuk digitalisasi layanan, bank syariah BUMN yang baru nanti bisa mengambil contoh produk digital beberapa bank yang menyediakan layanan pembukaan rekening dan membuka/menutup deposito dengan mudah, cepat, dan gratis; atau transfer uang tanpa biaya.

 

Sedangkan digitalisasi model bisnis bisa dilakukan bank hasil merger dengan turut menggandeng pelaku teknologi finansial (tekfin) agar mereka bisa menjadi kawan untuk pengembangan usaha. Indonesia menjadi pusat keuangan syariah di Asia bukanlah sekadar angan-angan dan bisa menjadi harapan kita bersama jika proses pre-merger dan post-merger BUMN syariah ini berjalan dengan baik.

Karena itu, diperlukan pemimpin tangguh yang menjadi perekat dan pelaksana sekaligus ujung tombak keberhasilan merger ini. Bank BUMN syariah semakin fokus dan menjadi teladan bagi bank syariah lainnya dalam segala aspek termasuk proses bisnis lebih efektif dan efisien, memiliki pertumbuhan jaringan lebih agresif, dan inovasi produk lebih baik.

Efek merger terbesar adalah aspek skala ekonomis yang akan memberikan dampak luar biasa bagi industri perbankan syariah. Maka, aspek kepemimpinan dan sinergitas perlu menjadi perhatian khusus. Sinergi akan meningkatkan kinerja dan menurunkan biaya. Sinergi penurunan biaya, biasanya diperoleh dari penghematan dan skala ekonomis internal. Sinergi diraih di antaranya dari efisiensi  dengan mengurangi cabang bank tumpang tindih dan efisiensi SDM. Dengan merger bank BUMN  syariah, publik tentu berharap ada sinergi dari alih teknologi, pengetahuan, dan pemasaran yang pada akhirnya mengakselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

 

Penulis
Sunarji Harahap, M.M.
Pengamat Ekonomi / Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Sumatera Utara / Pengurus MES Sumut / Pengurus IAEI Sumut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *