Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Momentum Kongres Ekonomi Ummat 2017

SUARAMEDANNEWS.com, Medan – MUI akan terus membantu bangsa dan negara, salah satu yang kita lakukan adalah dengan cara menjaga akidah dan perbaikan ekonomi . Langkah MUI sangat cepat dalam menjawab permasalahan ummat saat ini hal ini dapat terlihat pada Deklarasi Kongres Ekonomi Ummat dan mendapat perhatian besar bagi pemerintah , kongres ini telah diselenggarakan sejak 21-24 april di Jakarta dengan dihadiri kurang lebih 500 peserta dari perwakilan umat Islam di Indonesia dari perwakilan MUI Wilayah, ormas Islam tingkat pusat, perguruan tinggi, asosiasi ekonomi, dan juga beberapa pondok pesantren besar.

Ada enam keputusan yang dihasilkan dalam Kongres Ekonomi Ummat yaitu Pertama, dalam keputusan ditegaskan tentang sistem perekonomian yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi. kedua, mempercepat redistribusi dan optimalisasi sumber daya alam secara arif serta berkelanjutan, ketiga, memperkuat sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi berbasis keunggulan IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan, keempat, yaitu menggerakkan koperasi dan UMKM menjadi pelaku usaha perkonomian nasional, kelima, mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi. Para pelaku UMKM yang saat ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, padahal mereka adalah yang terbesar di Indonesia. Karena itu berbagai konsep kita siapkan untuk mengangkat martabat UMKM, kelima adalah pengarusutamaan ekonomi syariah dalam perekenomian nasional, tetap dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keenam, membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat untuk mengawal arus baru perekonomian Indonesia.

Tak hanya poin poin deklarasi, komite ini juga memiliki sasaran kajian dan rekomendasi aksi ekonomi umat. Rekomendasi pertama adalah pembagian tugas dalam menghimpun pusat data dan kajian pemberdayaan ekonomi umat, rekomendasi kedua adalah distribusi dan kerjasama dalam berbagai kajian pemberdayaan ekonomi umat yang dikaitkan dengan isu-isu perkembangan lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal, nasional, maupun global, rekomendasi ketiga, ia menyebut tersusunnya rekomendasi langkah aksi ekonomi umat yang dapat dilaksanakan secara sinergis sebagai upaya nyata pemberdayaan ekonomi umat, rekomendasi keempat adalah menyepakati penerbitan jurnal/majalah/media online pemberdayaan ekonomi umat di Indonesia, rekomendasi kelima, adalah pemberian apresiasi bagi pelaku usaha muslim teladan secara berkala versi majalah/media online pemberdayaan ekonomi umat. Sedangkan beberapa langkah aksi kajian dan rekomendasi aksi ekonomi umat, ia menyebut antara lain ; (1) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan perlunya pemerintah menciptakan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkeadilan dengan penekanan pada pemerataan ekonomi ; (2) Guna terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, diperlukan konsep Rancangan Undang-undang Sistem Perkonomian Nasional dalam kerangka membangun ekonomi umat.

Momentum Deklarasai Kongres Ekonomi Umat ini mengajak seluruh Umat Islam di Indonesia, agar membangun niat luhur bersama pada tahun 2017 sebagai Tahun Kebangkitan Ekonomi Umat. Kongres Ekonomi Umat ini akan turut membantu usaha mikro dan menengah, sehingga produk-produk yang misalnya dikeluarkan pesantren dapat masuk ke pasar nasional maupun global,  akan bekerjasama dengan Apindo, Transmart, dan pesantren, perguruan tinggi dan juga pemerintah

Kongres tersebut diharapkan ada integrasi ekonomi umat Islam yang berkeadilan. Artinya, ekonomi umat tidak tersentral pada beberapa orang atau kelompok saja tetapi terhadap seluruh umat,  usaha-usaha kecil-kecil ini harus mampu diberdayakan semaksimalnya.

Momentum 212, diharapkan memberi spirit bagi umat Islam untuk hijrah ke syariah Allah swt yang pada gilirannya akan mendukung kebangkitan ekonomi umat. Semangat  dan spirit hijrah harus kita implementasikan secara riil dalam kehidupan kita dewasa ini. Kita harus segera hijrah dan berubah. ”Sesunggunya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang melakukan perubahan akan nasibnya”. (Ar-Ra’d : 110). Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kemajuan ekonomi merupakan pilar kemajuan tamaddun (peradaban) Islam. Jika ekonomi lemah (pangsa pasarnya hanya 1,8 %), kebangkitan umat sulit terwujud. Dengan demikian, dapat disimpulkan mereka yang menghambat dan tidak mundukung gerakan ekonomi Islam, dan masih berkutat dalam sistem ekonomi ribawi, berarti mereka penghambat kebangkitan Islam.

Baru tiga dasawarsa menjelang abad 21, muncul kesadaran baru umat Islam untuk mengembangkan kembali kajian ekonomi syari’ah. Ajaran Islam tentang ekonomi, kembali mendapat perhatian serius dan berkembang menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada era tersebut lahir dan muncul para ahli ekonomi syariah yang handal dan memiliki kapasitas keilmuan yang memadai dalam bidang mu’amalah. Sebagai realisasi dari ekonomi syariah, maka sejak tahun 1975 didirikanlah Internasional Development Bank ( IDB ) di Jeddah. Setelah itu, di berbagai negara, baik negeri- negeri muslim maupun bukan, berkembang pula lembaga – lembaga keuangan syariah. Sekarang di dunia telah berkembang lebih dari 400an lembaga keuangan dan perbankan yang tersebar di 75 Negara, baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah maupun kawasan Asia lainnya. Perkembangan aset – aset bank mencatat jumlah fantastis 15 % setahun.

Tahun kebangkitan ekonomi ummat dapat ditandai adanya energi positif dari semangat (ghirah) aksi 212 dinilai begitu besar pada aksi damai penuh semangat seperti aksi 212 baik di Indonesia maupun di negara modern di dunia. Ghirah berenergi positif dahsyat itu perlu dijaga agar terus memberikan ‘napas’ kehidupan bangsa ini. Energi tersebut hendaknya diolah menjadi energi gerak abadi umat dan dikelola serius agar tidak berhenti di batas nostalgia.
Ikhtiar umat untuk menjaga, mengolah dan mengelola ghirah itu tengah membuncah. “Menarik dan mengharukan sekali melihat fenomena kebangkitan kesadaran sekaligus kebersamaan umat kini. Momentum 212 pun 411, kini menjelma momentum kebangkitan untuk merebut kemerdekaan hakiki dan konkrit. Hal ini dapat dicontohkan di Bandung akan dibangun Menara 51, Koperasi Syariah 411 dan Bank Islam 212. Di Yogyakarta juga beredar iklan mencari mart konvensional untuk diakuisisi jadi mart syariah 212. Di Makassar juga begitu, sudah pendirian Koperasi Syariah 212. Koperasi yang diinisiasi oleh Prof Ahmadi Miru itu disambut antusias, di Medan juga sudah berdiri Medan Mart yang diprakarsai dari koperasi medan sejahtera . Ikhtiar positif umat untuk bangkit dengan penuh kesadaran dan kebersamaan yang dimomentum oleh ghirah 212 dan 411, termasuk di lini ekonomi, patut diapresiasi dan didukung. “Saya Muslim, saya Indonesia. Saya haqqul yaqin bahwa ikhtiar berghirah 212 dari umat Islam ini akan menjayakan Indonesia dalam makna yang sesungguhnya, maka saya apresiasi dan saya dukung, termasuk pendirian Bank Islam 212 dan Koperasi Syariah 212

Deklarasi Kongres Ekonomi Ummat ini juga hampir sama dengan sejarah awal berkembangnya bisnis islam Indonesia ditandai pada tahun 1905, Haji Samanhudi mempelopori berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI). SDI awalnya merupakan organisasi perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai perekonomian rakyat pada masa itu. Pada kongres pertama SDI di Solo tahun 1906, namanya ditukar menjadi Sarikat Islam (SI). Dan pada tanggal 10 September 1912, pimpinan SI ketika HOS Tjokroaminoto membuat Sarikat Islam sebagai Badan Hukum dengan Anggaran Dasar SI yang baru, kemudian mendapatkan pengakuan dan disahkan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 14 September 1912.

Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan Syarikat Islam 1912 adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan jiwa dagang. 2. Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha. 3. Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat. 4. Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam. 5. Hidup menurut perintah agama. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat, dimana keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Di tahun 1929 dalam upaya mencapai kemedekaan nasional, SI mengubah diri menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Prinsip pemerataan ekonomi ummat ini juga dapat menjadi contoh dari kebijakan ekonomi Nabi Muhammad SAW di Madinah juga terlihat dari upaya Nabi Muhammad SAW  membangun pasar yang dikuasai ummat Islam. (Sebelumnya pasar-psar dominan dikuasai kaum Yahudi), sehingga konsumen Muslim dapat berbelanja kepada pedagang muslim.  Dampaknya, semakin tumbuhlah perekonomian kaum muslimin mengimbangi dominasi pedagang Yahudi. Spirit reformasi yang dipraktekkan Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya dalam berhijrah, harus kita tangkap dan aktualisasikan dalam konteks kekinian, suatu konteks zaman yang penuh ketidakadilan ekonomi, rawan krisis moneter, kemiskinan dan pengangguran yang masih menggurita di bawah sistem dan dominasi ekonomi kapitalisme.

Ekonomi ummat memiliki cakupan dan ruang lingkup yang sangat luas. Semua ajaran ekonomi ummat tersebut seharusnya dapat kita aktualisasikan dan terapkan  dalam kehidupan, baik dalam bidang ekonomi mikro maupun ekonomi makro, seperti dalam produksi, distribusi, konsumsi, kebijakan moneter, fiskal, manajemen, maupun akuntansi.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *