Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

MOMENTUM LAUNCHING LEMBAGA EKONOMI UMAT MART  

SUARAMEDANNEWS.com – Kehadiran LEU Mart merupakan jawaban konkret yang ditunggu-tunggu umat dari tema arus baru ekonomi umat di Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia 2017 yang notabene merupakan mayoritas di Indonesia. Presiden Jokowi  bersama KH Maruf Amin di Pondok Pesantren An Nawawi Tanara, Serang, Banten, pada Rabu 14 Maret 2018 meresmikan ritel konsinyasi modern pertama di Indonesia bernama LEU Mart yang dicetuskan oleh Lembaga Ekonomi Umat (LEU). Keberadaan LEU Mart bisa membantu pengembangan dan pembangunan ekonomi di pondok-pondok pesantren.

Ekonomi umat sekarang ini seolah-olah berjalan sendiri tanpa perlindungan pemerintah, sementara yang kuat-kuat justru mendapat banyak fasilitas, termasuk bagaimana konglomerat bisa menguasai berjuta-juta hektar lahan dan saat ini potensi umat dikapitalisasi oleh pihak lain, bahkan oleh luar negeri oleh karena itu umat harus dapat mengkapitalisasi sendiri untuk mewujudkan kedaulatan bangsa

LEU tentunya sudah  merumuskan strategi-strategi apa yang bisa diberikan umat dalam sumbangsihnya kepada negeri ini. untuk memakmurkan umat diperlukan program ekonomi yang nyata. Ini bagian dari upaya mewujudkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi LEU mengajak umat untuk menjadi pedagang dan saudagar yang berkualitas sekaligus mengimplementasikan ekonomi syariah di sektor riil. LEU Mart adalah salah satu contoh buktinya, bahwa sektor riil syariah di Indonesia bisa dikembangkan selain sektor moneter yang ada selama ini. Selain itu juga dengan adanya bisnis ritel , juga akan mendorong produk-produk UKM milik umat bisa terdistribusikan secara benar dan termanajemen dengan baik dalam kemitraan dengan LEU Mart. Dengan demikian LEU Mart bukan sekadar memasarkan produk-produk UKM saja tapi lebih dari itu melakukan pendampingan dan pemberdayaan terhadap UKM, tentunya hal ini mengakibatkan  penyerapan tenaga kerja lebih progresif di sektor ritel dan akan meningkat pesat dan menjadi salah satu solusi bagi kesenjangan sosial bagi bangsa.

Konsep bisnis yang ditawarkan oleh LEU Mart sangat murah efisien dibandingkan dengan bisnis-bisnis lainnya dengan sistem konsinyasi didukung degan sistem IT yang terintegrasi yang  belum dimiliki oleh ritel lain. Ditambah lagi diperkuat dengan adanya pelatihan dan pendampingan para mitra secara gratis, LEU Mart mampu menghadirkan sebuah konsep baru dalam bidang ritel.

LEU Mart menargetkan secara nasional tahun ini dapat berdiri 1.000 gerai di kawasan Jabodetabek.  Untuk itu ia berharap berbagai pihak bisa mendukungnya dan diharapkan sebagai alternatif peluang bisnis bagi umat. Lembaga Ekonomi Umat (LEU) memilih metode pemberdayaan melalui program pengembangan jaringan ritel, agar umat atau kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah dapat menyebarkan semua produknya.

Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart Dalam implementasinya didukung penuh dari pemerintah cq. Kementerian Koperasi dan UKM serta Majelis Ulama Indonesia (MUI).  LEU saat ini fokus di pengembangan jaringan retail (pasar) LEU Mart, yang juga didukung oleh:

  1. PT. Infomedia Telkom sebagai penyedia layanan sistem IT,
  2. PT POS Logostik Indonesia sebagai penyedia layanan logistik,
  3. Bank BNI Syariah sebagai penyedia layanan sistem banking

Dalam mengartikan lembaga ekonomi umat, maka ada tiga kata yang harus dipahami terlebih dahulu yaitu: kata lembaga, kata perekonomian, dan kata umat. Bila ketiga kata tersebut telah dipahami maka selanjutnya lembaga ekonomi umat dapat dipahami sebagai sesuatu yang utuh. Lembaga dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan institution dan didalam bahasa Indonesia setara pula dengan pranata. Maka lembaga ini lebih bernuansa sosiologi, yakni sebagai sebuah proses sosial yang menjelma menjadi sebuah sistem. Dalam hal ini lembaga lebih diartikan sebagai lembaga sosial (social institution). Perekonomian umat sebenarnya telah muncul pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Pada masa Nabi SAW lembaga perekonomian tersebut berbentuk  Bayt al-Mal. Pada  masa Nabi Muhammad SAW  Bayt al-mal

merupakan lembaga ekonomi yang berfungsi sebagai pengumpul dan pendayagunaan harta yang bersumber dari umat Islam, seperti zakat, infak, dan sadaqah. Ekonomi islam sendiri merupakan sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al- qur‟an dan As Sunnah.

 

Begitu juga pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada masanya, Abu Bakar memberantas kelompok orang-orang yang enggan membayar zakat. Selain sebagai penegakkan syari’ah, pemberantasan itu juga bertujuan untuk menghindari kurangnya pemasukkan dana ke baitul mal, karena dana yang masuk ke baitul mal dari ZIS saat itu bukan hanya disalurkan untuk fakir dan miskin, akan tetapi juga digunakan untuk keperluan perang demi perluasan wilayah kekuasaan Islam.

Perkembangan baitul mal selanjutnya tampak pada masa Umar bin Khaththab. Sumber pemasukan saat itu diperluas lagi yaitu dari jizyah, kharaj, fai’,ghanimah, rikaz, luqathah, dan lain-lain. Dana yang ada di baitul mal saat itu digunakan untuk berbagai keperluan sebagaimana fungsinya yang terbagi dua : baitul mal khash dan baitul mal muslim. Baitul mal khash berfungsi untuk mendanai hal-hal yang bersangkutan dengan jalannya pemerintahan seperti gaji pegawai dan lain-lain. Baitul mal muslim berfungsi untuk mendanai pembangunan fasilitas umum, membantu fakir miskin dan lain-lain. Pada masa Umar bin Khaththab, kinerja baitul mal sangat efektif, tidak pernah terjadi penimbunan dana di baitul mal, setiap ada harta yang masuk, langsung saja dialokasikan untuk mendanai hal-hal yang mendesak.

Perkembangan perekonomian Islam di masa Bani Umayyah dan Abbassiyah tidaklah begitu terekam oleh sejarah sebab perkembangan ilmu fiqh dan politik jauh lebih populer daripada perkembangan ekonomi, sehingga data dan bukti sejarah yang menunjukkan perkembangan lembaga ekonomi sulit didapat. Perkembangan lembaga ekonomi baru terlihat jelas setelah terbentuk negara bangsa dan terlihat signifikan pada pertengahan abad XX.

Sebelum terbentuknya lembaga ekonomi Islam, ekonom-ekonom Islam terlebih dahulu menggagas doktrin yang menyatakan bahwa sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi terbaik, meskipun saat itu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis sedang naik daun. Ialah Sayyid Abu al-A’la Maududi , Muhammad Baqir al-Shadr, dan Mahmud Thaliqani yang memberikan doktrin-doktrin tersebut kepada dunia. Akan tetapi, pemikiran yang mereka kemukakan masih bersifat normatif dan tidak mengikuti jalannya ekonomi yang sedang berkembang saat itu. Pemikiran ekonomi yang modern dan sesuai syari’ah yang dapat dipraktikkan oleh pelaku bisnis Islam kemudian di kemukakan di pertengahan 1960 oleh Muhammad Nejatullah Siddiqi, Muhammad Abdul Manan, dan Muhammad Umer Chapra.

Prinsip-prinsip utama yang ditengahkan Islam berkenaan dengan sistem ekonomi adalah berkenaan dengan sistem ekonomi Islam, . Seperti kewajiban zakat, larangan riba, kerjasama ekonomi, jaminan sosial dan peranan Negara. Selain itu, nilai filosofis sistem ekonomiIslam adalah sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai ekonomi bersifat dinamik, dalam arti penelitian dan pengembangan berlangsung terus-menerus serta nilai normatif sistem ekonomi Islam berlandaskan pada;

  1. Al- Qur‟anur karim . Sebagaimana dalam Al-Qur‟an surat Al -Baqarah ayat 172 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikankepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadanyalah kamu menyembah. b. Landasan aqidah . Aqidah adalah pokok-pokok keimanan, maka aqidah sifatnya kekal dan tidak mengalami

perubahan.b. Landasan  Akhlak . c. Landasan Syariah. Landasan syariah yang berarti peraturan hukum perintah dan larangan yang dibebankan olehAllah swt kepada manusia. d. Landasan akhlak yang berasal dari bahasa Arab berarti perilaku atau tindakan yangmengarah kepada kebaikan. . e. Ijtihad (Ra‟yu) meliputi qiyas, maslah mursalah, istihsan, istishab dan „urf.

 

Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari manusia, tujuan ekonomi ada lima, yaknimeliputi: memenuhi kebutuhan hidup seseorang secara sederhana, memenuhi kebutuhankeluarga, memenuhi kebutuhan jangka panjang, menyediakan kebutuhan keluarga yangditinggalkan, memberikan bantuan sosial dan sumbangan. Sedangkan dasar-dasar tujuan ekonomi Islam terbagi tujuh bagian, diantaranya adalah: bertujuan untuk mencapai masyarakatyang sejahtera baik di dunia dan di akhirat serta tercapainya pemuasan optimal berbagaikebutuhan baik jasmani maupun rohani dan secara seimbang baik perorangan maupunmasyarakat, lalu hak milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dandipergunakan untuk hal-hal yang halal pula, dilarang menimbun harta benda dan menjadikannyaterlantar, dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang selalu meminta olehkarena itu harus dinafkahkan,sehingga dicapai pembagian rizki, pada batas tertentu hak milik relatif tersebut dikenakan zakat, perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang, tiadaperbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi ukuran perbedaan adalahprestasi kerja.Untuk terciptanya suatu sistem ekonomi islam yang baik diperlukan suati landasan nilai.Landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya sistem ekonomi Islam terbagi menjadi 3 sistem,yaitu:1. Hakikat pemilikan adalah pemanfaatan, bukan penguasaan, seperti modal. Modal sepertisumber daya alam dan harta juga dibagi menjadi 3 yaitu dicari, dikeluarkan (dibelanjakan) dandikembangkan.2. Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia. Keseimbangan didalam pembahasannorma dan etika ekonomi islam ini adalah keseimbangan yang adil (pertengahan) tentang duniadan akhirat,jiwa dan raga,akal & hati tertuju semata-mata karena ridho Allah.  3. Keadilan antara sesama manusia. Seperti jujur, amanah dalam melaksanakan ekonomiyang dalam contoh perniagaan yang diperkenankan, dan riba sangat dilarang oleh Allah SWT.

Pemikiran-pemikiran itu kemudian mendapat hasil yang nyata berupa lembaga ekonomi Islam yang didirikan oleh OKI (Organisasi Konferensi Islam) berupa bank yang disebut Islamic Development Bank pada tahun 1974. Setelah itu barulah marak berdiri bank-bank syari’ah di negara-negara Islam seperti : Bank Pembangunan Islam Saudi Arabia (1974), Bank Islam Dubai (1975), Bank Islam Faisal Mesir (1976), Bank Muamalat Indonesia (1992) dan lain-lain.

Selain berbentuk bank, lembaga ekonomi Islam selanjutnya berbentuk asuransi yang berdiri tahun 1979 yaitu Islamic Insurance Co, Ltd di Sudan dan Islamic Insurance Co, Ltd di Arab Saudi. Di Indonesia juga muncul asuransi syari’ah yaitu Asuransi Takaful pada tahun 1994. Kemudian dewasa ini juga bermunculan lembaga ekonomi Islam yang lain seperti di indonesia : Badan Amil dan Zakat (BAZ), Unit Simpan Pinjam Syari’ah (USPS), Pusat Inkubasi Bisnis dan Usaha Kecil (PINBUK), Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), Baitul Mal wat Tamwil, dan Reksa Dana Syari’ah.

 

LEU berharap menjadi mitra strategis pemerintah dan solusi bagi umat untuk membangun gerakan ekonomi dan berharap pemerintah juga lebih maksimal dalam mengembangkan UMKM terkhusus dalam pembiayaan.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close