Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Optimalisasi Sosial-Techno Finance untuk Pengembangan Usaha Kecil Menengah

” Momentum Temu Ilmiah Nasional Fossei  di Sumut “

SUARAMEDANNEWS.com – Keteguhan dan konsistensi sikap yang tetap mengedepankan sopan santun dan selalu berjuang untuk kemajuan umat, yang saya lihat setiap berkunjung ke daerah dalam turut memajukan dan mengembangkan Ekonomi Islam. Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) adalah wadah asosiasi Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang berada di ratusan kampus di Indonesia pada Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) FoSSEI .Agenda ini merupakan perhelatan keilmuan ekonomi Islam terbesar yang diselenggarakan oleh FoSSEI.

Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) mengangkat tema “Optimizing Socio-Techno Finance for Small and Medium Enterprises (SMEs) Development” yang nantinya akan diturunkan ke dalam sub-kegiatan rangkaian Temilnas XVII 2018 di antaranya Olimpiade Ekonomi Islam, Symposium, Seminar Internasional, Video Company Profile Competition, Chief Executive Organizer (CEO) Talks, Gathering KSEI Seluruh Indonesia, Sarasehan FoSSEI Bersama Alumni, Pameran/Bazaar, dan Field Trip.

UIN Sumatera Utara merupakan tuan rumah  Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS) yg ke-17. TEMILNAS ke-17 ini mengambil tema ‘Optimizing Socio-Techno Finance for Small and Medium Enterprises (SMEs) Development’. TEMILNAS dilaksanakan pada tanggal 25-29 Maret 2018 di Asrama Haji Medan  oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam Universal Islamic Economic (KSEI UIE) UIN Sumatera Utara dengan beberapa kegiatan salah satunya Seminar Internasional yang dihadiri oleh Prof. Bambang Brodjonegoro,Ph.D (Menteri Perancangan Pembangunan Nasional) dan Dr. Ing. H. Ilham Akbar Habibie ,MBA (Chairman of ISMI) dan Rektor UIN SU Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M.Ag. Target peserta TEMILNAS sebanyak 800 peserta dari berbagai universitas yang ada di Indonesia.

Dibawah kepemimpinan Presidium Nasional FoSSEI Darihan Mubarak, FoSSEI terus menunjukkan eksistensinya, dan akan semakin memberikan dampak nyata terhadap kemajuan perekonomian bangsa. FoSSEI terus terlibat dalam forum-forum internasional dan terus membangun kerjasama antar lembaga, baik lembaga industri, pemerintah, dan lainnya dalam membumikan Ekonomi Islam.

Aktivis ekonomi Islam tidak berhenti dan puas di tahap pengkajian, tapi juga harus mulai menerjemahkan semua yang dikaji dalam implementasi nyata di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, ekonomi Islam tidak berhenti dalam ruang wacana, tapi benar-benar dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat. Kegagalan pola pembangunan ekonomi yang bertumpu pada konglomerasi usaha besar telah mendorong para perencana ekonomi untuk mengalihkan upaya pembangunan dengan bertumpu pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun 2013 jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Dari jumlah tersebut, UMKM sebanyak 56.534.592 unit atau 99,99 %. Sisanya, sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah usaha besar

 

Mengoptimalkan Sosial-Techno Finance untuk pengembangan Usaha Kecil Menengah. Bisnis syariah mulai memperlihatkan geliat pertumbuhan seiring dengan kesadaran masyarakat Indonesia bertransaksi sesuai aturan islam. Perkembangannya diawali dari bisnis keuangan dan makanan, selanjutnya merambah pada busana, kosmetik, dan pariwisata. Selain itu perkembangan teknologi informasi menyita perhatian penuh dalam perkembangan bisnis syariah. Pasalnya mulai bermunculan financial technology (fintech) syariah sebagai solusi atas permasalahan transaksi mengandung riba.

saat ini kehidupan masyarakat hampir tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia TIK. Apalagi saat ini, Kemenkominfo melalui Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) gencar melakukan pembangunan infrastruktur internet di seluruh Indonesia khususnya di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal) terutama untuk mengurangi kesenjangan digital di Indonesia. Teknologi internet membuat kehidupan masyarakat lebih mudah, lebih cepat dan lebih efisien. Teknologi ini memungkinkan untuk membantu pertumbuhan sektor strategis seperti kesehatan, pertanian, pariwisata, keuangan, pendidikan, transportasi, dan berperan dalam transformasi sosial.

Untuk Program UKM Go Online misalnya, para UKM akan mendapatkan peluang untuk distribusi Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar dalam 1 x 24 jam, Inkorporasi RKB, transformasi inklusi finansial, serta kesempatan membuat NPWP serentak untuk seluruh pelaku UMKM yang akan dionlinekan. Para UMKM tersebut juga akan dibimbing mulai dari proses pengonlinean hingga manajemen dan promosi online.

TIK sebagai pendorong bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, menjadi ekonomi terbesar nomor 4 pada tahun 2050, dengan 10 persen potensi kenaikan GDP pada tahun 2050. Kita lihat nilai transaksi e-commerce pada 2016 mencapai Rp440 triliun, dan pemerintah sendiri telah membuat roadmap bisnis e-commerce hingga 2020 sebesar 1.700 triliun. Sosio teknologi informasi merupakan suatu bidang kajian dalam melihat pengaruh perkembangan teknologi informasi dalam kehidupan sosial. Perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi kebijakan dan strategi dunia usaha perbankan yang selanjutnya lebih mendorong inovasi dan persaingan di bidang layanan terutama jasa layanan pembayaran melalui bank. Inovasi jasa layanan perbankan yang berbasis teknologi tersebut terus berkembang mengikuti pola kebutuhan nasabah bank. Transaksi perbankan berbasis elektronik, termasuk internet dan menggunakan handphone merupakan bentuk perkembangan penyedia jasa layanan bank yang memberikan peluang usaha baru bagi bank yang kerakibat pada perubahan strategi usaha perbankan, dari yang berbasis manusia (tradisional) menjadi berbasis teknologi informasi yang lebih efisien dan praktis bagi bank. Pada perusahaan jasa seperti perbankan komputer digunakan untuk menghitung bunga secara otomatis, transaksi on-line, ATM, dan sebagianya.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk meningkatkan penghasilan masyarakat dengan cara memberikan bantuan pinjaman lunak.Dengan pinjaman lunak tersebut diharapkan ekonomi masyarakat dapat tumbuh dan berkembang sehingga menjadikan kekuatan ekonomi nasional. Namun dalam pelaksanaannya kurang diketahui oleh masyarakat, sehingga kadang-kadang target penyaluran tidak tercapai, dan juga pencapaian kolektivitasnya jauh dari harapan. Kurangnya pengetahuan tentang teknologi informasi bagi pelaku usaha kecil dan menengah juga sangat berpengaruh terhadap dunia usaha, sehingga produk pelaku usaha kurang dikenal oleh masyarakat umum. Dari beberapa pelaku usaha kecil dan menengah kemungkinan hanya beberapa prosen saja yang memanfaatkan teknologi informasi ini sebagai sarana mengenalkan produknya, sehingga perkembangan produk pelaku usaha sangat lamban dan tidak dikenal oleh dunia.

Pada era globalisasi sekarang ini teknologi informasi sudah sangat melekat pada diri banyak masyarakat dunia. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Walau begitu namun masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Konektivitas menjadi hal penting bukan saja bagi Indonesia untuk menghubungkan 240 juta penduduknya namun juga bagi seluruh populasi di 20 entitas ekonomi negara APEC lainnya. Di sinilah teknologi informasi dan komunikasi memainkan peran paling krusial, disamping sebagai enabler connectivity maupun pemicu pertumbuhan ekonomi yang merata (inclusive growth).

Sektor informasi, komunikasi dan teknologi (ICT) menjadi suatu hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu negara terutama soal ekonomi. Semakin maju sektor ICT suatu negara maka akan semakin berkembang dan semakin baik pula ekonominya. Industri nasional bisa berdaya saing apabila pelaku industri bisa memanfaatkan sektor Informasi, Komunikasi dan Teknologi (ICT) secara optimal. Bahkan, mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 1,3 persen dan tentunya penggunaan ICT bisa mempermudah dan mengurangi efisiensi biaya. Pemerintah harus mendorong penggunaan ICT terutama untuk sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang merupakan salah satu industri prioritas Indonesia. Saat ini terdapat 55 juta UKM di Indonesia dengan total penyerapan tenaga kerja sebesar 108 juta. Berdasarkan sebuah analisa yang dilakukan World Economy Forum, ICT berkontribusi tidak hanya mendorong petumbuhan ekonomi dan industri tetapi juga menciptakan lapangan kerja. ICT di Indonesia harus didorong agar industri dan perekonomian bisa tumbuh.

Pemakaian ICT oleh usaha kecil dan menengah didalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Co-operation dan Development), rata-rata kontribusi PDB seorang karyawan UKM adalah 139 dolar, dibandingkan 3524 dolar per karyawan perusahaan besar. Penggunaan ICT dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing UKM secara signifikan dalam memodernisasi sistem bisnis dasar (termasuk pembukuan, pembayaran gaji dan manajemen supply chain) dapat membantu. Zona pengembangan dan anggaran khusus ICT untuk mendorong pertumbuhan penerapan teknologi inovatif bagi UKM Indonesia juga dapat meningkatkan produktivitas dan penjualan melalui sistem online.

Kesiapan suatu negara terhadap ICT termasuk dalam kemampuan pengadaan keterampilan, terjangkaunya layanan ICT serta penggunaan ICT dalam sektor bisnis dan lembaga pemerintah. Kemampuan ICT Indonesia saat ini berada di peringkat tengah yaitu peringkat 64 dari 148 negara menurut Laporan Informasi dan Teknologi Global WEF 2014. Tidak hanya itu, Indonesia juga berada di peringkat ke 85 dalam hal infrastruktur dan konten digital, peringkat ke 61 dalam hal kemampuan dan peringkat ke 63 dalam hal bagaimana ICT memiliki dampak sosial yang menguntungkan bagi bangsa dan rakyatnya.

Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbasis syariah terletak pada pembiayaan lembaga keuangan syariah . Perbankan Syariah memiliki andil besar dalam memanfaatkan dan mendorong semua potensi yang terdapat pada pengembangan UMKM di Indonesia khususnya dalam hal pemberian bantuan maupun pembiayaan, yang paling tidak untuk membantu masyarakat selaku pelaku UMKM agar terhindar dari ketergantungan rentenir, dll. Bank Syariah ini dalam upaya memberikan bantuan dana kepada masyarakat kecil adalah terkait dengan pengelolaan bantuan kredit itu sendiri harus dilakukan secara terbuka dan profesional dengan berprinsip dari, oleh dan untuk anggota.

Bagi industri perbankan yang dalam hal ini adalah Perbankan Syariah, proses penyaluran pembiayaan yang mereka lakukan terhadap sektor UMKM lebih menguntungkan dibandingkan sektor non UMKM. Sebab, sektor UMKM memiliki ketahanan bisnis lebih kuat. Disamping itu factor pendukung lainnya yang juga akan menguntungkan Perbankan Syariah yaitu terkait dengan pembiayaan UMKM yang saat sekarang ini mendapat alokasi bantuan yang besar dari pemerintah terkait dengan pengembangan UMKM tersebut, karena alokasi pembiayaan yang cukup besar tersebut lahir dan dipicu oleh keinginan pemerintah agar industri perbankan nasional memiliki kontribusi lebih besar dalam mendorong perkembangan sektor UMKM.

Pengembangan UMKM akan melahirkan pebisnis tangguh , yang kreatif dalam memajukan perekonomian bangsa ini, bangsa yang hebat harus mampu menangkap peluang yang ada. Telah menjadi pengetahuan banyak pihak bahwa peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia begitu penting. Sektor UMKM nasional dikenal memiliki karakteristik positif seperti sektor yang menyerap tenaga kerja yang besar, mengakomodasi peran masyarakat miskin dan dominan dalam struktur ekonomi.

Dengan ruang-lingkup usaha yang dominan beraktifitas di lingkungan ekonomi domestik, tidak mengherankan sektor UMKM selalu tampil menjadi “pahlawan” bagi perekonomian negeri ini, ketika ekonomi nasional berhadapan dengan badai krisis keuangan yang juga kerap menghantam ekonomi global. Oleh sebab itu, sangat beralasan sekali jika pemerintah dan pihak-pihak terkait mengambil posisi terdepan dalam mendorong sektor ini berkembang dengan lebih baik.

Ada beberapa tantangan modernisasi dan perluasan infrastruktur secara nasional sampai menyentuh elemen pedesaan bagi dunia usaha mitra binaan.

  1. Beberapa aspek yang perlu segera ditindaklanjuti demi keberhasilan hal ini adalah :

 

  1. Kebutuhan akan perangkat keras, yaitu infrastuktur untuk menyalurkan lalulintas informasi, karena tanpa infrastruktur tersebut pengusaha UKM tidak dapat segera optimal untuk memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang berkembang dengan cepat di Global Information Infrastructure untuk memperluas jaringan perdagangannya.
  2. Kebutuhan akan perangkat lunak, yaitu berupa tingkat keamanan dan legalistas yang menjamin transaksi bisnis. Dalam hal perangkat lunak dapat mewujudkan terciptanya transaksi elektronik yang dapat memenuhi kriteria aman, dan kualitas yang dipercaya serta didukung aspek legalitas.
  3. Akses pasar yang bertujuan untuk mengilangkan hal-hal yang menghambat pelaksanaan transfer teknologi informasi seperti tingginya biaya telekomunikasi.
  4. Sosialisasi yaitu memberikan informasi tentang pemanfaatan internet kepada penguasaha UKM untuk menghindari istilah-istilah atau gambaran-gambaran yang justru membuat masyarakat menjadi salah persepsi atau takut menggunakan teknologi internet.
  5. Pelatihan yaitu mengadakan Training of Trainer (TOT) tentang UKM yang materinya disesuaikan dengan kondisi lokal serta dapat dimanfaatkan secara langsung mudah digunakan dan tidak sulit didapat.
  6. Workshop ditujukan untuk pengusaha UKM agar pengusaha dapat dikenalkan lebih dekat dengan teknologi internet.

 

  1. Peranan Telkom dalam pembinaan UKM.

 

UKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia terbukti tangguh dalam menghadapi krisis, sehingga keberadaannya perlu terus menerus dikembangkan dan diberdayakan. Telkom melalui teknologi komunikasi yang dimilikinya dapat mendukung pemberdayaan UKM yang mempunyai keterbatasan modal, sumber daya manusia dan keahlian sehingga mereka dapat berperan dalam perdagangan global. Melalui konsep kerja sama program kemitraan dengan Telkom, UKM akan diberdayakan sehingga menjadi industri yang mempunyai nilai tambah maksimal dan penjalinan pasar (market linkage) antar sesama pengusaha kecil dan menengah dengan pengusaha besar, baik di pasar lokal, regional maupun global.

Dalam implementasinya, sistem pembinaan dan pemberdayaan UKM, Telkom akan mendukung permodalan, akses informasi dan komunikasi serta aplikasi e-business.

Pengembangan UKM sejauh ini masih memiliki kendala, antara lain akses pasar (lokal dan global), akses permodalan, akses manajemen dan akses teknologi. Untuk itu kerjasama pola kemitraan antara ukm dengan Telkom sangat bermanfaat untuk :

  1. Membangun multidimensional networking antar industri UKM dan lembaga yang terkait dengan UKM (seperti, sistem distribusi, sistem pembayaran, sistem pelatihan, sistem mutu, sistem permodalan, teknologi produksi, perijinan dan sebagainya).
  2. Menjalin market-matching antar sesama UKM dan UKM dengan Usaha Besar ke pasar lokal, regional dan global.
  3. Memberikan fasilitas antarmuka terhadap perbedaan sistem perdagangan, investasi dan teknologi.
  4. Menggalang klasterisasi industri-industri UKM untuk membentuk jaringan industri yang bernilai.
  5. Menyediakan layanan terpadu bagi UKM untuk akses kepada informasi pasar, standardisasi, perbankan, teknologi dan manajemen melalui simpul pelayanan UKM.

 

Selain itu Telkom dapat menerapkan sistem pentarifan yang lebih flexibel dan kreatif secara langsung atau tidak langsung mendorong perkembangan layanan bagi UKM. Komitmen Telkom untuk memberdayakan UKM melalui telekomunikasi merupakan wujud nyata Telkom untuk membangun ekonomi bangsa Indonesia. Masa depan Indonesia tergantung kepada inovasi teknologi yang menghubungkan pada informasi, pendidikan yang mendukung kehidupan masyarakatnya dan meningkatkan performa bisnis lokal.

 

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close