Optimalisasi Peran Teknologi Informasi bagi Industri Halal dan Keuangan Syariah untuk Memenuhi Kebutuhan Konsumen

Suaramedannews.com – Indonesia akan menjadi role model dunia industri halal. Bangsa Besar adalah bangsa yang bisa menangkap peluang dan tanda zaan serta berpikir jauh ke depan, industri halal tidak sekedar kebutuhan umat Islam, melainkan sudah menjadi trend  global, yang bersifat universal yang tidak hanya booming di masyarakat muslim saja, tetapi sudah menjadi urusan banyak kalangan.

Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan melalui industri halal. Selain sebagai negara yang penduduk nya hampir 85% seluruhnya muslim tentunya menjadi hal yang sangat memungkinkan bagi indonesia menjadi negara dengan penguasa industri halal di kancah internasional. Indonesia tidak hanya memiliki potensi alam yang bisa dimanfaatkan akan tetapi banyak sekali hal atau aspek yang perlu untuk dikembangkan salah satunya adalah industri halal.

Potensi industri halal di kancah internasional sangatlah besar. Saat ini banyak sekali negara-negara di dunia ini tidak hanya negara muslim melainkan negara non muslim berlomba-lomba mengembangkan potensi industri halal melalui bisnis syariah. Menurut laporan global islamic economy report2016/2017 nilai belanja makanan dan gaya hidup (food and lifestyle sector expenditure)muslim di sektor halal dunia mencapai US$ 1,9 triliun pada tahun 2015 dan diperkirakan akan naik menjadi US$ 3 triliun pada tahun 2021.

Berdasarkan laporan dari global islamic economy report tersebut tentunya hal ini menjadi bahan pertimbangan khusus bagi pemegang kebijakan tertinggi yakni pemerintah untuk bisa lebih membuat kebijakan yang terencana, terstruktur dan tersistem dengan baik. Sehingga nantinya kebijakan tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan industri halal di indonesia dan dapat menjadi kuat di kancah internasional.

Kurangnya dukungan penguatan yang penuh dari pemerintah yang menyebabkan indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga Malaysia yang sudah sejak tahun 2006 mengembangkan dan membuat desain perencanaan yang matang mengenai industri halal di negaranya. Hal ini berdasarkan laporan  global islamic economy report tahun 2016/2017indonesia masih menempati posisi ke 10 jauh tertinggal dari negara Malaysia yang berada di posisi pertama.

Di lain sisi memang perlu diapresiasi dukungan pemerintah sangat aktif terhadap pengelolaan wisata halal di indonesia, namun hal itu kurang adanya dukungan di sektor industri lainnya seperti sektor keuangan islam, dan halal pharmaceuticals. Di sektor lain yang patut di apresiasi adalah sektor halal Food, halal cosmetics, dan halal travel.Di sektor halal food indonesia sudah maju dan berkembang lewat lembaga badan sertifikasi halal atau MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dimana banyak perusahaan asing barang dagangan nya yang akan masuk ke indonesia harus bersertifikasi halal terlebih dahulu sebelum dipasarkan.

Selanjutnya pada sektor halal cosmetics indonesia memiliki wardah cosmetics yang mampu menembus pasar global. Di sektor halal travel indonesia sudah memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan industri wisata halal di indonesia lewat kementerian pariwisata. Hal ini tentunya ada dua sisi yang berbeda yang harus diperhatikan oleh pemerintah. dengan melakukan langkah yang tepat dengan pengembangan industri halal yang masif tidak menutup kemungkinan indonesia bisa menyaingi malaysia dalam pengelolaan industri halal di kancah internasional.

Seperti yang tadi disebutkan selain di sektor kosmetik yang bisa menembus pasar global  ternyata ada beberapa hal pencapaian yang telah dicapai oleh indonesia dalam pengelolaan industri halal diantaranya adalah  pada acara Taiwan International Halal Expo tahun 2016 produk halal indonesia dapat bersaing dengan produk luar lainya. Permintaan produk halal semakin meningkat dan pemerintah terus berkomitmen memperluas produk halal yang kompetitif di dunia.

Selanjutnya pada sektor wisata halal indonesia kini kian mengguncang di kancah internasional, Indonesia kembali menorehkan prestasi sebagai winner di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik didunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard. Tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78. Selain Indonesia dan Malaysia, urutan ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor 75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman (skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Wisata halal akan menjadi pilihan hidup masyarakat dunia dan mendominasi perdagangan bebas. Iklim wisata global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas. Sebuah teori kunci untuk perdagangan;  yang harus dipahami adalah bahwa pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat dan  secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu . Terciptanya kedaulatan wisata halal dalam negeri akan menjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global.

Berdasarkan data Global Muslim Travel Index 2019 pada tahun 2026 diperkirakan angka tersebut akan bertambah lebih besar menjadi 230 juta. Diperkirakan juga, pemasukan dari wisatawan muslim mencapai US$ 300 juta pada ekonomi global. Pada tahun 2019, Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara muslim tujuan wisata halal dunia dengan skor 78. Sementara untuk negara non-muslim, Singapura berada di peringkat pertama, disusul Thailand, Inggris, dan Jepang.

Prestasi ini merupakan kabar gembira bagi pegiat pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Destinasi wisata halal ini dapat dijadikan proyek percontohan ke destinasi lainnya di Indonesia. Wisata halal tidak hanya melulu pada hal agamis melainkan dapat berkaitan erat dengan pertumbuhan industri dan bisnis.

Potensi yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan dalam industri halal indonesia supaya dapat bersaing dengan negara muslim atau non muslim lainnya yaitu wisata halal, halal food, halal pharmaceuticals, dan halal cosmetics. dari beberapa sektor tersebut hal yang harus ditingkatkan lebih lanjut adalah wisata halal yang dimana wisata halal sudah mengalami pertumbuhan yang begitu pesat dan banyak memiliki prestasi yang baik di dunia .

Hal ini perlu adanya peningkatan dari sektor wisata halal karena di indonesia begitu banyak tempat bersejarah yang islami yang dapat dijadikan wisata halal di indonesia. Misalnya dari bangunan masjid-masjid di indonesia yang banyak memiliki keindahan arsitekturnya. selain itu, indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan  termasuk negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, dari segi pemanfaatan sumber kekayaan alam yang dimiliki indonesia di beberapa daerah sekarang sudah ditemukan wisata halal yang tidak kalah keindahan nya dengan wisata-wisata lainnya.

Dari sekian banyak hal potensi  yang dimiliki oleh indonesia yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal,  maka disini hal yang harus dilakukan demi terwujudnya tujuan indonesia menjadi pelopor utama industri halal di kancah internasional yaitu perlu adanya rancangan sebuah program kerja yang tersusun dan tersistem secara bagus agar industri halal di indonesia menjadi terarah dan jelas bagi perkembangan industri halal indonesia agar bisa lebih bersaing dengan negara-negara lainya.

 

Hal ini perlu adanya peningkatan dari sektor wisata halal karena di indonesia begitu banyak tempat bersejarah yang islami yang dapat dijadikan wisata halal di indonesia. Misalnya dari bangunan masjid-masjid di indonesia yang banyak memiliki keindahan arsitekturnya. selain itu, indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan  termasuk negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, dari segi pemanfaatan sumber kekayaan alam yang dimiliki indonesia di beberapa daerah sekarang sudah ditemukan wisata halal yang tidak kalah keindahan nya dengan wisata-wisata lainya.

Perkembangan Industri Halal akhir-akhir ini begitu pesat, hal ini di dorong oleh muncul nya kesadaran Muslim untuk menerapkan ajaran serta konsep Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Halal yang dulu nya hanya sekedar hal yang diperbolehkan dalam Islam kini sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup (lifestyle) bagi komunitas Muslim dunia.

Industri Halal sendiri mempunyai 10 sektor dengan kontribusi yang paling besar yaitu financialfood, wisata dan perjalanan, fashion, kosmetik, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan dan seni budaya.

Manusia selalu membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan pangan harus selalu tersedia secara cukup, aman, bermutu, dan bergizi. Pangan mempunyai keragaman dari segi harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinana, dan budaya masyarakat. Unutk mencapai semua itu, perlu diselenggarakan suatu sistem oangan yang mnyediakan perlindungan, baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi. Pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan suatu negara. Hal itu dilakukan melalui pemenuhan asupan pangan yang beragam, bergizi seimbang, serta pemenuhan persyaratan keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Bagi para pelaku pangan harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap produknya yang disebar-luaskan. Baik itu mengenai gangguan kesehatan maupun kematian orang yang mengoonsumsinya. Masyarakat dihimbau untuk tahu dan mendapatkan segelimat informasi yang jelas mengenai setiap produk pangan yang disajikan sebelum membeli dan mengonsumsi. Informasi tersebut terkait dengan asal, keamanan, mutu, kandungan gizi, dan keterangan lain yang diperlukan. Oleh sebab itu, produk pangan perlu ditetapkan ketentuan mengenai label dan iklan pada pangan itu sendiri sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar dan akurat. Akses informasi adalah bagian terpenting dalam memenuhi prinsip keterbukaan informasi bagi konsumen yang di dalamnya mengandung makna adanya kepastian hukum sebagaimana tujuan yang digariskan dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap konsumen.

Pada saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan berkembang dengan sangat cepat. Pengolahan produk pangan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan percampuran antara yang halal dan yang haram, baik disengaja maupun tidak. Bentuk suatu hal untuk mengetahui kehalalan dan kesucian suatu pangan diperlukan suatu kajian khusus yang membutuhkan pengetahuan multidisiplin, seperti pengetahuan di bidang pangan, kimia, biokimia, teknik industri, biologi, farmasi, dan pemahaman tentang syariat. Kenyataannya produk pangan yang beredar di masyarakat belum terjamin kehalalannya walau pelaku usaha sudah menyatakan produk yang dipasarkan dinyatakan halal. Perubahan makanan dari halal menjadi tidak halal disebabkan adanya bahan tambahan ari pelbagai zat kimia, atau dari ekstrasi hewan yang tidak halal.

Indonesia adalah negara yang memiliki  penduduk muslim terbesar di dunia yang tentu saja berkepentingan dengan peredaran produk yang aman dan berstandar halal. Sebab secara otomatis kaum muslim menjadi konsumen terbesar (mayoritas) di negeri ini di samping menjadi incaran dan target impor negara-negara lain. Maka itu sepatutnya konsumen dalam negeri mendapatkan perlindungan dalam memperoleh kepastian tentang kehalalan produk pangan yang beredar.

Kedudukan konsumen terhadap pelaku usaha pada umumnya memang sangat lemah. Konsumen menjadi objek dari aktivitas bisnis dari pelaku usaha melalui kiat promosi, iklan dan cara penjualan serta penerapan perjanjian-perjanjian standar yang acapkali secara sengaja merugikan konsumen. Lemahnya posisi konsumen menjadi santapan empuk bagi para pebisnis yang acapkali mengibuli dengan berbohong dengan menyuguhkan produk. Dengan peredaran produk yang cepat disinyalir pebisnis memiliki ruang bebas dalam memberikan produk yang tidak sepatutnya. Oleh karena itu, pemerintahan harus bergerak cepat dan baik agar produk yang disajikan tidak membohongi publik dengan kiat-kiat halal.

Masalah produk berstandar halal seharusnya sudah menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari praktik perdagangan dan perekonomian global yang menuntut adanya standar-standar dan kualitas baku internasional untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen lintas negara. Dengan begitu aliran barang, jasa, modal, ilmu pengetahuan antar negara menjadi makin mudah. Perdagangan internasional berpengaruh besar terhadap perekonomian antar negara tersebut yang dapat menciptakan iklim kondusif yang saling menguntungkan dari perdagangan timbal balik, bahkan lebih efesien dalam memproduksi dan memasarkan barang. Banyak pakar yang menyimpulkan bahwa manfaat perdagangan lintas negara melampaui manfaat persaingan militer dan perluasan wilayah.

Indonesia juga mempunyai banyak hal yang menjadi keunggulan dalam pengembangan Industri Halal lifestyle. Misalnya dari segi pariwisata atau halal tourism, Indonesia mempunyai keindahan alam yang tidak di miliki oleh negara – negara lain. Ada banyak tempat di Indonesia yang bisa dijadikan tujuan pariwisata halal berkelas dunia. Baik pariwisata danau, pantai, dan pegunungan, Indonesia mempunyai banyak pilihan, sebut saja Danau Toba di Sumatera Utara. Pantai-pantai di Bali dan Pantai Kepulauan Raja Ampat yang sangat menawan. Kemudian untuk wisata pegunungan ada Gunung Bromo dan Gunung Rinjani. Kita juga mempunyai Pulau Komodo yang menjadi 7 keajaiban dunia dan Candi Borobudur yang sangat ikonik.

Untuk wisata budaya, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman suku dan budaya nya, dan setiap suku pasti mempuyai kebudayaan dan kearifan lokal masing-masing. Sehingga tidak perlu diragukan lagi mengenai apa yang bisa di tawarkan Indonesia lewat budayanya.

Kemudian untuk wisata kuliner, Indonesia di kenal dengan kelezatan dan keberagaman makanan nya. Banyaknya suku dan budaya di Indonesia menyebabkan setiap daerah mempunyai makanan khas nya masing-masing. Beberapa yang terkenal seperti  Pempek, Gudeg, dan Rendang. Bahkan  Rendang kelezatan nya sudah di akui oleh Dunia. Selanjutnya adalah bagaimana kita memastikan bahan dan proses pembuatan nya benar-benal sesuai syariah dan halal.

Indonesia sendiri saat ini masih berada di peringkat 10 dalam Industri dan pasar halal dunia Peringkat pertama diduduki Malaysia. Peringkat berikutnya berurutan: Emirat Arab, Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar, Jordan, dan Indonesia. Padahal dengan sumberdaya yang melimpah baik itu sumberdaya manusia maupun alam harus nya, Indonesia bisa menjadi yang terdepan di dalam Industri Halal dunia dan hal tersebut tidak lah mustahil, tinggal bagaimana keseriusan kita untuk mengoptimalisasi potensi yang ada.

Untuk mengoptimalisasi potensi perkembangan Industri Halal di Indonesia agar bisa bersaing harus di lakukan beberapa strategi yaitu branding bahwa Indonesia adalah Negara pusat halal lifestyle, adanya pengembangan Sumberdaya manusia, dan terakhir pemerintah harus menggandeng para stakeholders untuk bersama-sama mengembangkan Industri Halal. Instansi dan lembaga tersebut yaitu Majelis Ulama Indonesia, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, perbankan, asuransi, produsen Industri Halal, dan lainnya.

Terakhir, dibutuhkan dukungan dari semua pihak untuk mendorong pengembangan Industri Halal di Indonesia, sehingga di harapkan nantinya Indonesia benar-benar bisa menjadi pusat pengembangan Industri Halal lifestyle dunia, dan bukan tidak mungkin apabila hal ini terwujud Industri Halal akan mengangkat perekonomian Indonesia dan bisa menjadi motor ekonomi nasional.

Terdapat ada 4 Langkah Strategis dalam Dalam pengembangan industri Halal

Pertama, meningkatkan kerjasama baik sektoral maupun lintas sektoral antara pemerintah, perbankan syariah dan pelaku industri. kerjasama sektor pemerintah utamanya Kementerian Agama (BPJPH) dan Kementerian Perindustrian dengan melakukan pelatihan dan sertifikasi halal. Utamanya, kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta memberikan insentif kepada UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal. Dan biaya menjadi salah satu faktor hambatan UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal, padahal sektor ini penopang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yaitu di angka 60,34%. Data teranyar, mencatat bahwa saat ini hanya ada 37% produk yang telah tersertifikasi halal, dan masih didominasi industri besar yang memiliki kemampuan keuangan memadai. “Padahal, Indonesia memegang kunci-kunci penting dalam industri halal. Sistem jaminan halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi parameter penentuan sertifikasi halal yang telah diakui dunia, dimana setidaknya memiliki 44 anggota sertifikasi halal dari berbagai belahan dunia.

Kedua, langkah pemasaran agar produk dikenal secara luas dan dapat disalurkan dengan baik. Karenanya, pemanfaatan teknologi informasi pemasaran serta sistem distribusi global menjadi keahlian yang wajib diketahui oleh UMKM khususnya, dan para produsen industri halal di Indonesia.

Ketiga, adanya jaminan pemerintah agar pelaku industri mendapat kemudahan dalam mengakses dana sebagai pembiayaan. Demikian diharapkan, kedepan Indonesia dapat menduduki posisi puncak proses ekonomi ‘produsen’ dalam industri halal.

Keempat, adanya dukungan dan keinginan politik dari seluruh stakeholders terkait, agar optimalisasi potensi industri makanan halal di Indonesia dapat diwujudkan. “Tanpa ada langkah strategi diatas, maka Indonesia tidak akan dapat bertahan dalam pertarungan industri halal dunia dan sangat mungkin akan tenggelam. Investor akan berfikir ulang dengan keadaan politik yang tidak stabil untuk melakukan investasi di sebuah negara, karena hal tersebut akan sangat beresiko dan membuyarkan setiap proyeksi yang dilakukan.

Mengonsumsi pangan yang halal adalah hak dasar setiap muslim. Hal ini bukan saja terkait dengan keyakinan beragama, namun ada dimensi kesehatan, ekonomi dan keamanan. Maka dengan penduduk yang mayoritas muslim, tanpa diminta sudah semestinya negara hadir melindungi warganya dalam pemenuhan hak-hak mendasar warganya. Selaras dengan itu pelaku usaha (produsen) juga sudah seharusnya memberikan perlindungan kepada konsumen. Untuk kepentingan tersebut, maka dituntut peran yang lebih aktif negara dalam pengaturan sistem ekonomi yang dijabarkan dalam strategi yang dilakukan pemerintah/negara dalam menjalankan instrumen perdagangan/bisnis di antaranya melalui regulasi

Gaya hidup halal (halal lifestyle) belakangan ini memang tengah melanda dunia, tidak hanya menggejala pada negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim tetapi juga di negara berpenduduk mayoritas non muslim. Kesadaran pemenuhan pangan halal meningkat di kancah global beriringan dengan meng – geliatnya wisata halal global yang tidak melulu terbatas pada sektor destinasi wisata yang berkait situs keislaman (religi) tetapi menyangkut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan wisata itu sendiri. Perusahaan berskala global (multinational corporation) saat ini telah menerapkan sistem halal, sebut saja seperti Japan Airlaines, Singapore AirLines, Qantas, Chatay Pacific (Hong Kong), America Airlines menyediakan menu halal (moslem meal). Gejala ini juga merambah negara Amerika, Australia, Jepang, Cina, India, dannegara-negara Amerika Latin. Khusus Jepang, negara ini memiliki perhatian sangat serius terhadap pengembangan tren halal, salah satu indikasinya dengan digelarnya Japan Halal Expo yang selalu ramai sehingga cukup berhasil menyedot perhatian dan minat pelbagai pihak. Japan Halal Expo adalah pameran berskala besar yang memuat produk halal buatan Jepang. Tercatat, saat ini sudah ada 350 restoran di Jepang yang telah menyediakan makanan halal, 54 di antaranya adalah restoran khusus makanan negara tersebut.

Menyediakan pangan halal dan aman adalah bisnis yang sangat prospektif, karena dengan label (sertifikasi) halal dapat mengundang pelanggan loyal yang bukan saja diminati oleh muslim tetapi juga masyarakat non muslim. Sebaliknya bagi produsen yang tidak memberikan keterangan halal yang memasarkan produknya di negara seperti Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, produknya kurang diminati sehingga merugikan pelaku usaha sendiri. Pangan halal bagi muslim itu terbukti berkualitas dan sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia.

Seperti daging yang berasal dari hewan yang halal yang disembelih sesuai dengan ketentuan Islam ternyata lebih sehat untuk dikonsumsi. Adanya sertifikasi-labelisasi halal bukan saja bertujuan memberi ketentraman batin pada umat Islam tetapi juga ketenangan berproduksi bagi pelaku usaha. Apalagi dalam konteks globalisasi ekonomi dan pasar global, sertifikasi-labelisasi halal pangan makin diperlukan.

Oleh karenanya, mengapa industri halal ini memiliki peluang besar untuk ikut bersanding dalam memberikan pangan yang aman, bermutu, bergizi, dan sehat. Industri halal pun sudah banyak diterapkan di negara islam lainnya, dan ada beberapa negara non islam yang telah melaksanakan industri halal ini. Karena industri halal tak hanya diberikan kepada konsumen islam, kepada non islam pun bisa.

Dari sektor finansial sendiri beberapa tahun terakhir perkembangan nya di Indonesia sudah cukup baik. Hal ini di buktikan dengan semakin banyaknya Industri Perbankan dan Keuangan Syariah  yang hadir di tengah-tengah masyarakat, seperti Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah, Reksadana Syariah, Obligasi Syariah, Pegadaian Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Sistem ekonomi syariah yang transparan, jujur, adil dan stabil menambah daya tarik masyarakat untuk beralih ke sistem syariah yang halal, bahkan untuk yang bukan beragama Islam sekalipun.

ekonomi keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini dilandaskan pada potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang sangat menjanjikan.

Prospek dan tatanan perkembangan keuangan syariah menunjukkan trend positif dan relatif stabil, namun dibalik perkembangan tersebut ada kekhawatiran bahwa perkembangan keuangan syariah merupakan rangkaian dari eforia reformasi dan dapat memicu adanya immature booming, jika semua itu tanpa didasari kerangka kelembagaan dan pengaturan yang memadai dari aspek best practices. Maka dalam rangka membangun industri keuangan syariah masa depan yang tangguh diperlukan penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, mekanisme pembukaan jaringan dan upaya penyebarluasan informasi.

Masterplan AKSI fokus untuk menjadikan keuangan syariah sebagai kekuatan nyata bagi Indonesia dengan memanfaatkan dinamika ekonomi untuk mencapai tujuan pembanguna yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025.

Harapan bangsa ini menuju Indonesia Islamic Finance Center of The World tidak muluk muluk, perlu keseriusan pemerintah , institusi dan lembaga terkait lainnya untuk terus semangat bersama sama memasyarakatkan dan membumikan ekonomi syariah,  kita harus yakin bahwa Indonesia siap akan hal ini mengingat peluang jasa keuangan dan ekonomi berbasis syariah (keuangan syariah) terbuka lebar, dengan adanya bonus demografi, dimana kelas menengah tumbuh berkembang dengan pesat. Kebutuhan kelas menengah untuk menabung dan berinvestasi serta terhadap layanan jasa keuangan yang beragam, baik di lembaga perbankan syariah maupun  lembaga keuangan non-bank syariah seperti asuransi syariah, dana pensiun syariah, obligasi syariah, perusahaan pembiayaan syariah, reksadana syariah dan lainnya diperkirakan juga akan meningkat.

Menurut Bank Dunia pada Juni tahun 2011, kelas menengah di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat, yaitu 7 juta orang setiap tahun. Pada tahun 1999, kelas menengah ini tumbuh secara signifikan, yaitu  45 orang juta atau 25% dari jumlah penduduk Indonesia. Kemudian pada tahun 2010 menjadi 134 juta orang, dan pada 2015 kelas menengah Indonesia mencapai 170 juta atau 70% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kelas menengah yang merupakan kelompok penduduk yang memiliki kekuatan “expenditure” per hari antara 2 – 20 dollar AS ini berpotensi menjadi sumber pembiayaan pembangunan melalui pasar keuangan seiring peningkatan pendapatan kelas menengah tersebut.

Bank Dunia juga menyebutkan, pada tahun 2014 tercatat hanya 36,1% dari orang dewasa di Indonesia yang memiliki account di lembaga keuangan formal. Dengan demikian sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mempunyai akses pada layanan jasa keuangan formal, sehingga peluang tumbuhnya keuangan berbasis syariah masih sangat terbuka luas.

saat ini jumlah institusi keuangan syariah di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia, Indonesia telah memiliki 34 bank syariah, 58 takaful atau asuransi syariah, 7 modal ventura syariah, rumah gadai syariah, dan lebih dari 5.000 lembaga keuangan mikro syariah. Semua institusi keuangan itu memiliki 23 juta pelanggan, suatu jumlah yang besar. Tetapi masih banyak sekali peluang yang masih bisa kita manfaatkan, karena pasarnya sangat besar untuk dimanfaatkan.

Terdapat beberapa peran strategis keuangan berbasis syariah dalam pembangunan nasional, yaitu:

Pertama, dalam menjalankan kegiatannya  keuangan syariah bertumpu pada nilai-nilai luhur dan etika berbisnis yang santun sesuai tradisi Bangsa Indonesia, seperti misalnya penghargaan terhadap waktu, kejujuran bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, menghindari perilaku spekulatif dalam transaksi keuangan dan penerapan sistem jaminan sosial melalui konsep zakat, sedekah dan wakaf. Dengan nilai-nilai ini, usaha berbasis syariah menyeimbangkan antara aspek keuntungan dan aspek kemanusiaan.

Usaha berbasis syariah tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi semata, namun juga distribusi ekonomi yang lebih merata. Prinsip kegiatan usaha dalam ekonomi syariah menempatkan aspek keuntungan ekonomi dan aspek humaniora secara seimbang, diharapkan dapat menciptakan sistem keuangan yang tidak berorientasi pada keuntungan semata, namun juga memperhatikan aspek kemanusian.  Kegiatan investasi dan pengelolaan keuangan yang berlandaskan etika seperti ini juga telah menjadi trend di beberapa negara di dunia. Seperti semangat investasi beretika yang terkait dengan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sejalan dengan semangat yang terkandung dalam ekonomi syariah yang universal ini. Nilai-nilai ini telah  lama tertanam telah menjadi tradisi luhur bangsa Indonesia.

Kedua, keuangan berbasis syariah merupakan salah satu pilar dalam membangun perekonomian nasional, khususnya terkait dengan pengembangan UMKM dan pembiayaan infrastruktur. Saat ini jumlah nasabah keuangan syariah sudah mencapai +18 juta rekening, dimana saat ini Indonesia merupakan negara yang memiliki lembaga keuangan mikro terbesar di dunia, yang sebagian berbentuk Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), dan koperasi jasa keuangan syariah.

Ketiga, peningkatan efisiensi di pasar keuangan syariah sangat penting untuk dicapai. Peningkatan kapasitas dan efisiensi pada sektor keuangan komersial syariah mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah serta lembaga keuangan non-bank syariah. Sementara sektor dana sosial keagamaan meliputi sektor zakat dan wakaf yang berpotensi untuk memberikan akses yang jauh lebih luas kepada masyarakat pra-sejahtera agar bisa mendapatkan berbagai pelayanan selain pelayanan keuangan, seperti kesehatan dan pendidikan yang murah. Dalam kacamata makro, pengembangan sektor keuangan syariah ini akan sangat membantu untuk menurunkan tekanan fiskal secara signifikan, dalam bentuk penurunan berbagai macam subsidi Pemerintah melalui keterlibatan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan.

Keempat, penguatan fungsi riset, penilaian dan edukasi. Perlu ada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kapasitas tersebut akan dapat ditingkatkan melalui berbagai kegiatan riset berkualitas dan pelatihan, sehingga bukan hanya akses keuangan yang dapat diperluas, akan tetapi setiap manusia Indonesia akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan keahlian, agar dapat menjadi bagian penting dari proses pembangunan nasional.

Kelima, Distribusi pembiayaan syariah untuk pengembangan rantai nilai halal melalui pendalaman pasar keuangan syariah untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan syariah.

Keenam, untuk meningkatkan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah secara global dan nasional, diperlukan peran aktif semua pihak, baik pembuat kebijakan, pelaku ekonomi maupun dunia pendidikan. Kontribusi ini dapat dilakukan dengan pemberdayaan dan penguatan ekonomi syariah dicapai melalui penguatan rantai nilai halal dengan mengembangkan ekosistem dari berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan dalam rantai hubungan bisnis untuk memperkuat struktur ekonomi yang inklusif. Program ini dilaksanakan di 4 sektor utama, yaitu industri makanan halal dan halal, sektor pariwisata halal, sektor pertanian dan sektor energi terbarukan.

Indonesia juga merupakan negara penerbit sukuk negara terbesar, serta merupakan satu-satunya negara yang menerbitkan sukuk ritel. Hal ini merupakan modal awal yang harus terus dikembangkan agar keuangan syariah menjadi pilar utama dalam pembangunan nasional, khususnya dalam mendukung pengembangan UMKM dan pembiayaan infrastruktur.

Penguatan basis investasi berdasarkan prinsip syariah, seperti dalam industri keuangan syariah diharapkan dapat memperkuat struktur sistem keuangan nasional secara keseluruhan,  yang dapat mendukung proses penyaluran dana dan investasi masyarakat ke dalam penyediaan modal guna menyokong proses pembangunan ekonomi secara berkesinambungan. Keberadaan sistem keuangan syariah yang berada dibawah pengawasan OJK ini,  yang telah menerapkan pengaturan berbasis risiko akan menambah stabilitas sistem keuangan dan pada saat yang sama memberikan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat terhadap jasa keuangan berbasis syariah yang aman dan efisien.

Menguatnya keberadaan lembaga keuangan syariah secara domestik dipandang sebagai peluang bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya dalam bentuk investasi syariah. Peluang investasi berdasarkan prinsip syariah  sebagai bentuk diversifikasi portfolio sumber permodalan dari luar negeri yang berguna menyokong program pembangunan nasional. Pada saat ini perkembangan instrument investasi syariah semakin berkembang secara internasional yang telah dapat dimanfaatkan dengan baik oleh komunitas internasional.

Sebagai negara besar dengan berbagai potensi ekonomi, sepatutnya Indonesia dapat menjadi pusat perkembangan keuangan syariah global.  Guna mencapai keinginan kita menjadi leader dalam pengembangan keuangan syariah global dan memanfatkan perkembangan sektor jasa keuangan syariah ini bagi kemaslahatan bangsa, perlu kerjasama antar kementerian, lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah terkait untuk bersama-sama saling mendukung pengembangan sektor jasa keuangan syariah, mengatasi berbagai hambatan perkembangan industri jasa keuangan syariah, dan secara sinergis melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor jasa keuangan syariah.

Kedepannya industri keuangan syariah dapat tumbuh dengan baik dikarenakan KNKS sedang merancang peta jalan mengenai solusi lima arah perkembangan untuk menaikkan market share keuangan syariah di perbankan syariah yang masih lima persen. Adapun yang cara yang dapat dilakukan yaitu :

  1. Meningkatkan kontribusi keuangan syariah terhadap perekonomian nasional.
  1. Memperkuat kapasitas industri jasa keuangan syariah melalui peningkatan permodalan, skala usaha, dan efisiensi.
  2. Mengembangkan sumber daya manusia dan IT.
  3. Mengembangkan produk dan layanan IJK syariah untuk melayani seluruh lapisan masyarakat.
  4. Meningkatkan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan sinergi pengembangan IJK syariah.

Kesadaran masyarakat menggunakan usaha keuangan syariah perlu dibangun, yang tentu saja ini harus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan jasa keuangan syariah dan kemudahan akses keuangan bagi masyarakat luas.  Apabila semua potensi ekonomi berbasis syariah yang telah ada saat ini terus dikembangkan, maka kita optimistis bangsa Indonesia akan menjadi pusat perkembangan keuangan syariah di tingkat dunia.

keuangan syariah di Indonesia dibagi menjadi tiga era. Tiap eranya berlangsung sekitar satu dekade dengan karakteristik dan perkembangan yang berbeda.

Era pertama berawal pada tahun 2000an, terutama ketika IAEI terbentuk pada 2004. Instrumen keuangan syariah mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari sumber biaya pembangunan nasional. Di antaranya dengan keberadaan regulasi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf dan Undang-Undang No 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Kini, selain SBSN yang rutin dikeluarkan pemerintah, juga ada Project Based Sukuk (PBS) untuk membantu pembiayaan infrastruktur negara. kedua instrumen ini menunjukkan keberadaan keuangan syariah yang semakin signifikan dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

IAEI juga sempat terlibat dalam persiapan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Bambang menilai, regulasi ini sejalan dengan pengembangan sistem ekonomi berlandaskan keadilan, pemerataan dan pemanfaatan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Pada era kedua, atau setelah 2010-an, muncul regulasi sektor keuangan dan riil. Salah satunya ditandai dengan amandemen regulasi mengenai zakat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Pada era ini, badan amil zakat juga sudah memiliki peranan lebih penting. Badan Amil Zakat sebagai pengumpul zakat, juga penyalur ke titik-titik yang lebih tepat sasaran sekaligus mampu menjawab permasalahan, terutama kemiskinan.

Selain itu, muncul regulasi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Dana Haji. Amanah dari regulasi ini adalah membentuk lembaga pengelolaan keuangan haji yang diharapkan mampu membuat manajemen lebih profesional dan memberikan manfaat bagi jamaah.

Setelahnya, ada era ketiga yang akan segera terjadi pada 2020. Era ini diharapkan akan terjadi integrasi lebih kuat antara sektor riil halal dengan keuangan syariah. “Kita melihat, sektor keuangan syariah eksis karena dibutuhkan oleh perkembangan industri halal di Indonesia yang makin besar.

Salah satu bentuk nyata dari integrasi itu adalah terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Lembaga ini menjadi wujud komitmen pemerintah untuk mengembangkan keuangan syariah secara serius dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya, agar keuangan dan riil dapat sama-sama berkembang.

Perkembangan keuangan syariah di Indonesia masih mengalami hambatan terbesar, di antaranya karena terkendala di sektor riil yang bertindak sebagai sisi demand atau permintaan. Sektor riil saat ini masih belum dapat ‘menyerap’ atau berjalan beriringan dengan sektor keuangan syariah yang merupakan sisi supplai atau penyediaan. Salah satu industri yang memberikan peluang paling besar untuk mengatasi permasalahan ini adalah biro perjalanan umrah dan haji. Industri tersebut sudah berjalan lama di Indonesia. Hanya saja, manajemen, terutama dari sisi keuangan, belum berjalan secara maksimal dan harus disempurnakan dari waktu ke waktu,

Perkembangan ekonomi saat ini sudah masuk ke era digitalisasi ekonomi syariah dapat merambah dalam berbagai aspek ekonomi baik ekonomi mikro maupun ekonomi makro . Melalui Financial Technology ( Fintech ) Syariah, keuangan syariah di Indonesia akan semakin berkembang. Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Keuangan Islam harus jadi pemicu bagi penguatan ekonomi nasional karena ekonomi Syariah merupakan dasar dari pemberdayaan ekonomi umat. Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memajukan keuangan syariah. Yakni, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariah dan kemaslahatan umat. Misalnya, sistem produksi dan rantai nilai dalam sektor industri halal yang antara lain ditunjukkan pada tingkat efisiensi proses dengan adanya penerapan teknologi digital.

Pesatnya perkembangan teknologi digital yang ditandai dengan kehadiran sejumlah berbagai alat komunikasi mutakhir, dimana setiap orang dapat mengolah, memproduksi, serta mengirimkan maupun menerima segala bentuk pesan komunikasi, di mana saja dan kapan saja, seolah-olah tanpa mengenal batasan ruang dan waktu, dengan sendirinya telah memacu terjadinya perkembangan di sektor media massa, yang merupakan bagian dari komponen komunikasi. Akibatnya, serbuan informasi yang bersumber dari media massa, baik cetak maupun elektronik mulai terasa. Disadari atau tidak, saat ini kita memang telah berada dalam suatu lingkaran yang sarat akan informasi. Hal ini tentunya akan memberikan dampak-dampak tertentu bagi masyarakat, baik positif maupun negatif. Namun pastinya, yang perlu diwaspadai adalah dampak negatif dari pesatnya perkembangan tersebut yang secara tidak langsung mulai mengisi liku- liku kehidupan masyarakat. Sebagai catatan, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini perkembangan media massa dan arus informasi di Indonesia memang terbilang luar biasa.

Sekarang ini peran digital sangat luar biasa, hampir semua perekonomian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi atau digitalisasi, baik dalam mengemas produk ataupun dalam memasarkan produk, sehingga lebih mudah dan lebih cepat dalam distribusi informasi yang digunakan untuk membuat pertumbuhan ekonomi semakin cepat dan tiada batas dengan dukungan teknologi digital dan teknologi informasi. Teknologi informasi yang sudah merambah keindividu (personal) dapat mendukung era digitalisasi informasi dan komunikasi pada ekonomi konvensional maupun ekonomi syariah, teknologi tersebut sekarang sudah dalam genggaman tangan pengguna gadget seperti aplikasi mobile yang dapat diunduh dan dipasang dengan fitur mudah dimengerti oleh user. Demikian pula di dunia perbankan, dalam melakukan kegiatannya perbankan syariah bekerja sama dengan bidang teknologi informasi untuk membangun sistem informasi perbankan syariah dengan membuat aplikasi khusus (app) yang dapat mempermudah semua proses-proses transaksi yang ada diperbankan. Terbentuknya masyarakat digital akibat dari tersebut dipacu oleh perkembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat intensif di semua bidang baik ekonomi, pemasaran, keuangan, jasa, pendidikan dan sebagainya. Maka, digitalisasi terbentuk untuk memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi, sehingga perekonomian meningkat.

Teknologi Digital merupakan peralihan dari pengoperasionalan nya tidak lagi banyak menggunakan tenaga manusia. tetapi lebih cenderung pada sistem pengoprasian yang serba otomatis dan canggih dengan system computer, dalam bentuk bilangan biner (nol dan satu) dengan format yang dapat dibaca oleh komputer. Teknologi digital pada dasarnya hanyalah sistem menghitung sangat cepat yang memproses semua bentuk-bentuk informasi sebagai nilai-nilai numeris. Pada teknologi analog, gambar dan suara diubah menjadi gelombang radio, maka teknologi digital menkonversi gambar dan suara menjadi data digital yang terdiri dari angka 1 dan 0. Dengan teknologi digital ini, gambar yang ditampilkan memiliki kualitas warna yang lebih natural dan resolusi yang lebih baik, tidak pecah atau turun kualitasnya jika gambar ditampilkan di layar yang besar.

Digital Economy versi Encarta Dictionary adalah “Business transactions on the Internet: the marketplace that exists on the Internet“. Digital Economy lebih menitik beratkan pada transaksi dan pasar yang terjadi di dunia internet. Keberadaan IT dan globalisasi yang menyebabkan terjadinya tingkat produktifitas dan pertumbuhan (perusahaan atau negara) sangat tinggi. Istilah New Economy memang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Menurut studi Kauffman dan ITIF, New Economy diukur dengan sejumlah indikator yang dikelompokkan dalam lima komponen yaitu pekerjaan berbasis pengetahuan, globalisasi, dinamisme ekonomi, transformasi ke digital economy, dan kapasitas inovasi teknologis.

Di tengah perkembangan yang amat pesat dan kondisi kita saat ini yang sedang berada di era digital dapat membuat ekonomi syariah semakin menyebarkan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia. Ekonomi syariah dengan segala infrastruktur dan instrumennya harus mampu mengambil peluang yang sangat besar ini. Kesempatan emas ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para penggiat ekonomi syariah.Banyak hal yang dilakukan dalam dunia digital seperti sekarang ini dalam mengembangkan ekonomi syariah, khususnya di Indonesia. Indonesia yang memiliki gelar negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini memiliki potensi sangat besar dalam pengembangan ekonomi syariah.

Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk muslim di Indonesia berada di kisaran 87% atau sekitar 207 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar ini harus dimanfaatkan dengan sangat jeli, terlebih ketika kita dapat dengan mudah mengakses teknologi smartphone sebagai dampak kemajuan teknologi digital.

Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) akhir– akhir ini dirasakan hampir di setiap aspek kehidupan masyarakat. Sebagaimana setiap kemajuan teknologi komunikasi yang lain, internet masuk ke berbagai bentuk kehidupan masyarakat. Hal ini terjadi karena komunikasi adalah salah satu kebutuhan yang mendasar pada masyarakat. Teknologi internet berkembang dan menyatu dalam sebuah ‘dunia’ atau ‘ruang maya’ atau sering disebut sebagai cyber-space, sebuah dunia atau tempat orang dapat berkomunikasi, ‘bertemu’, dan melakukan berbagai aktivitas ekonomi/bisnis.

Dari sisi Financial technology atau fintech memang sedang naik daun di era digital seperti sekarang. Keberadaan fintech ternyata sangat membantu manusia dalam melakukan transaksi keuangan, seperti pembayaran, jual beli saham, peminjaman uang, dan transaksi lainnnya. Di Indonesia, badan yang berwenang untuk mengawasi kegiatan fintech ini adalah Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Penggunaan fintech ini diyakini dapat membantu Indonesia dalam mengembangkan teknologi di bidang keuangan.

Posisi fintech dimaksudkan untuk memudahkan manusia dalam melakukan kegiatan keuangan. Maka dari itu, sesuai dengan potongan ayat di atas, teknologi finansial dapat diterapkan dalam ekonomi Islam. Ke depannya, financial technology di mata ekonomi Islam ini diperkirakan dapat membawa sekitar $1 triliun untuk sektor keuangan syariah di Indonesia.

Fintech syariah juga telah dicanangkan di Indonesia. Fintech syariah dimaksudkan untuk membantu UMKM dalam mendapatkan modal dan sertifikasi halal bagi produk-produk yang dijual. Dengan mudahnya pengurusan sertifikasi, diharapkan akan lebih banyak lagi produk halal yang dihasilkan oleh Indonesia. Fintech syariah ini juga dapat digunakan untuk memberikan pemahaman tentang ekonomi Islam yang merata di seluruh kalangan masyarakat.

Financial technology di mata ekonomi Islam memang menguntungkan. Oleh karenanya, manfaatkan teknologi tersebut dengan baik dan gunakan dengan bijak. Jika pengunaannya tidak sesuai dengan ajaran dan hukum Islam, tentu saja penggunanya yang nantinya menjadi sangat dirugikan.

Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) pada November 2015, pengguna internet di Indonesia mencapai 34% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 88,1 juta. Sedangkan pengguna media sosial mencapai 79 juta dan pengguna ponsel 318,5 juta.  Hal tersebut menunjukkan pemanfaatan teknologi digital di Indonesia sangat besar. Pemanfaatan teknologi digital tersebut berdampak pada perkembangan bisnis e-commerce yang belakangan ini mulai diminati oleh masyarakat. Salah satunya dalam hal financial technology (fintech).

Financial technology (FinTech) merupakan salah satu sektor industri dalam perekonomian yang terdiri dari para perusahaan yang menggunakan teknologi untuk memberikan layanan keuangan secara lebih efisien. Menurut laporan dari Accenture (Hitsss.com) menyebutkan bahwa nilai investasi ke dalam bidang fintech selama sembilan bulan pertama tahun 2015 mencapai US$ 3,5 miliar. Angka tersebut hampir mencapai empat kali lebih besar dari angka US$ 880 juta yang tercatat sepanjang tahun 2014. Sehingga dapat diprediksi akan terjadi peningkatan nilai investasi dalam bidang fintech pada tahun 2016.

Perkembangan fintech menjadi begitu sangat penting sehingga diharapkan dapat memberikan perubahan dalam inovasi produk, layanan maupun model bisnis. Inovasi produk diantaranya dalam sistem pembayaran, layanan perbankan, layanan asuransi, pinjaman dan lain sebagainya. Diharapkan dengan adanya bisnis financial technology dapat mengembangkan dan meningkatkan market share perbankan syariah. Sebab penggunaan konsep tradisional dalam industri perbankan belum dapat meningkatkan market share perbankan syariah secara signifikan. Selain itu, banyaknya nasabah yang berminat dengan digital banking merupakan suatu peluang besar dalam memanfaatkan fintech tersebut sebagai sarana untuk memudahkan nasabah dalam bertransaksi.

Perkembangan fintech dan industri lainnya disektor jasa keuangan sangat dipengaruhi oleh faktor kepercayaan (trust) dari masyarakat. Jika kepercayaan masyarakat dapat meningkat, maka dapat dipastikan bisnis fintech dapat berjalan dengan baik. Faktor kepercayaan tersebut perlu didukung oleh regulasi pemerintah untuk melindungi kepentingan umum antara kedua belah pihak, baik pemilik modal maupun yang membutuhkan modal, sehingga Otoritas Jasa Keuangan dan Perbankan saat ini sedang mengkaji penerapan suatu program fintech khususnya dalam industri perbankan. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan layanan perbankan secara lengkap kepada nasabah baik berupa simpanan, pinjaman, maupun jasa perbankan lainnya, bahkan yang dapat memungkinkan nasabah melakukan transaksi lain seperti e-commerce, bancassurance, investasi lainnya.

Aplikasi fintech yang diterapkan sesuai dengan prinsip dan nilai ekonomi syariah tidak hanya berjalan pada sektor keuangan syariah komersial, namun juga dapat mencakup implementasi pada keuangan sosiai syariah seperti pengumpulan dan penyaluran zakat, infaq, shadaqah dan wakaf.

Perbankan syariah juga menghadapi tantangan dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Bank syariah harus secepatnya masuk ke dunia perbankan digital (digital banking), hal ini tentu nantinya dikhawatirkan bank syariah yang tak segera berbenah dan masuk ke digital banking akan tertinggal dari para pesaingnya. Tak hanya itu, bank juga harus siap bersaing dengan perkembangan bisnis teknologi keuangan (Financial Technologi) yang semakin cepat.

Penulis

Sunarji Harahap, M. M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara / Penulis Mendunia / Pemerhati Ekonomi Syariah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close