Pelaku Industri Asuransi Berharap Banyak pada Kaum Perempuan

SUARAMEDANNEWS.com, Jakarta – Banyak pelaku industri asuransi menyatakan rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia justru merupakan indikator besarnya potensi pasar. Pernyataan itu seringkali disambung dengan penjelasan mengenai peluang bisnis yang kian terbuka lantaran terus tumbuhnya jumlah masyarakat kelas menengah di Tanah Air. Penetrasi asuransi nasional tidak bergerak jauh dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

 

Pada 2011, tingkat penetrasi sektor ini mencapai 2,06%. Artinya, perolehan premi baru mencapai 2,06% jika dibandingkan dengan pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia. Pada akhir tahun lalu penetrasi asuransi juga baru 2,26%.

 

Tidak hanya penetrasi, tingkat utilitas atau inklusi layanan jasa asuransi pun masih terbilang rendah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pada tahun ini tingkat pemanfaatan layanan asuransi baru mencapa kisaran 11,8% dari total populasi penduduk. Tingkat inklusi itu masih jauh dari target otoritas sebesar 75% pada 2020.

 

Potensi pasar yang seringkali diungkapkan pelaku industri sekaligus menyiratkan adanya tantangan untuk meningkatkan kinerja bisnis dan jangkauan layanan. Salah satu kunci mengatasi tantangan tersebut adalah memaksimalkan pasar dengan berfokus pada kaum perempuan.

 

Riset yang dilakukan AXA bersama International Finance Corporation yang berafiliasi dengan World Bank dan Accenture pada 2015 menunjukkan kaum perempuan merupakan peluang terbesar bagi industri asuransi dunia. Penelitian global bertajuk She for Shield: Insure Women to Better Protect All itu menyatakan pada tahun 2030 industri asuransi akan memperoleh US $1,7 triliun dari segmen perempuan.

 

Setengah dari jumlah tersebut berasal dari para perempuan di 10 negara ekonomi berkembang, yakni Brasil, China, Kolombia, India, Meksiko, Maroko, Nigeria,

 

Thailand, Turki, dan Indonesia. Indonesia menjadi negara ekonomi berkembang dengan tingkat pertumbuhan tercepat di antara 10 negara lainnya. Pada 2030, riset itu memprediksi premi asuransi individual dari kaum perempuan berkisar US$9 miliar – US$14 miliar atau sekitar 10 – 16 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2013 yang berkisar US$0,9 miliar.

 

Faktor pendorong bagi pertumbuhan signifikan itu di antaranya adalah semakin banyak perempuan Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Faktor pendidikan itu membantu mereka untuk meningkatkan pendapatan dan status sosial, serta pada akhirnya menumbuhkan kebutuhan akan proteksi diri.

 

Peran Penting

 

Di sisi lain, riset She for Shield itu juga menunjukkan peran penting dan kontribusi yang perempuan ciptakan di sektor asuransi. Ke depan,m kaum perempuan baik sebagai pemimpin di bidang keagenan, pemasaran, maupun distributor profesional diyakini mampu turut serta meningkatkan jangkauan perlindungan asuransi secara global.

 

Chief Corporate Affairs AXA Indonesia Benny Waworuntu menilai pertumbuhan premi dari kaum perempuan di pasar asuransi nasional memang jauh lebih potensial ketimbang 10 negara ekonomi berkembang lainnya dalam riset tersebut. Apalagi, saat ini secara demografis jumlah penduduk wanita jauh lebih besar ketimbang kaum pria.

 

Menurutnya, hal itu didukung fakta bahwa Indonesia sudah jauh lebih baik dalam pemberian kesempatan yang lebih setara kepada kaum perempuan. “Empowering program di Indonesia jauh lebih baik. Pemimpin perempuan di negara kita sudah jauh lebih banyak,” ujarnya pekan lalu.

 

Benny menjelaskan AXA di Indonesia telah menetapkan kaum perempuan sebagai salah satu target pasar pasar. Menurutnya, pemasaran produk asuransi kepada nasabah perempuan cenderung akan membuka jalan bagi pemasaran produk asuransi lainnya.

 

Pasalnya, kaum perempuan umumnya memegang peran penting dan berpengaruh dalam pengaturan keuangan dalam keluarga di Indonesia. Pada saat

yang sama, kata Benny, wanita juga akan menjadi agen yang mampu menyampaikan edukasi keuangan kepada banyak pihak. “Program CSR kami juga arahkan kepada kaum perempuan sebab mereka ujung tombak kemajuan, khususnya soal literasi keuangan.”

 

Chief of Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia ( Sun Life) Shierly Ge menilai peran perempuan Indonesia saat ini telah berubah. Bila dahulu hanya kaum pria yang bekerja, saat ini kaum perempuan sudah lazim turut serta mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Itu adalah peluang bagi asuransi sebab fungsi asuransi adalah untuk memproteksi nilai ekonomis atas risiko yang tidak terduga,” ujarnya, Rabu (19/10).

 

Pihaknya juga mendorong program edukasi kepada kaum perempuan. Selain memproteksi diri, wanita dinilai lebih peka memenuhi kebutuhan proteksi bagi seluruh anggota keluarganya. Dia optimistis fokus asuransi kepada kaum perempuan akan mendorong penetrasi dan utilitas asuransi di Indonesia. Sebagaimana lazim diungkapkan, mendidik satu perempuan berarti mendidik satu generasi. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close