Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid

SUARAMEDANNEWS.com, Medan – Sejak zaman Rasulullah dan para sahabat serta pada zaman kekhalifahan Islam, masjid tidak hanya sebagai fungsi ibadah namun juga fungsi pendidikan serta ekonomi. Betapa potensialnya keberadaan masjid-masjid yang tersebar dan mengakar di masyarakat Muslim bila dijadikan wahana pengembangan ekonomi kerakyatan. Selain mendukung program pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan guna pemerataan kemakmuran dan pengentasan kemiskinan, juga selaras dengan program kemesjidan yang menginginkan kesejahteraan bagi jamaahnya baik di dunia maupun akhirat. Maka program pengembangan dan pembinaan ekonomi syariah yang berbasis masjid menjadi program strategis untuk dijalankan. Tentu dengan agenda perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang matang dan berkesinambungan. Tinggal sekarang bagaimana political will (dari segi kebijakan dan penganggaran) pemerintah dalam memanfaatkan peluang ini guna memberdayakan ekonomi kerakyatan yang berbasis simpul-simpul keagamaan guna mewujudkan pemerataan kesejahteraan.

Ekonomi jadi sokoguru utama dalam kehidupan. Mulai dari organisasi terkecil semacam keluarga, hingga sebuah entitas berskala Bangsa dan Negara. Oleh karena itu menghidupkan berbagai kegiatan yang mendukung perekonomian harus menjadi satu prioritas utama dalam pembangunan masyarakat madani.

Memberdayakan Ekonomi jelas tak melulu urusan pemerintah pusat saja, dibeberapa daerah sudah menerapkan ekonomi berbasis masjid contohnya, ekonomi dibangun dengan prinsip pemberdayaan berbasis masjid. Jelas hal ini adalah satu contoh wujud pembangunan ekonomi yang mengarah pada penguatan sokoguru kebangsaan secara umum, menuju masyarakat madani berbasis Ummat.

Tak sekedar menguatkan atau membangun ekonomi, “Pemberdayaan haruslah bersumber dari masjid dan berfokus pada kesejahteraan ummat, bagaimana mengabdikan pemikiran dan tenaganya untuk berfokus pada kemakmuran masjid serta sekelilingnya terutama bagi masyarakat muslim disekitar kita agar menuju pemberdayaan dan penguatan ekonomi berbasis masjid yang sejati.

Pemberdayaan masjid diangkat melalui pertumbuhan dana atau asset yang dimiliki masjid yang terkumpul lewat shadaqah, infaq serta serapan dana ummat lainnya yang sebenarnya jika dilakukan penghitungan secara transparan dengan mengedepankan prinsip akuntabilitas jelas sangat besar.

Berikutnya yang harus dikedepankan dalam proses ini tentu adalah manajerial dasar, yang berbasis pada memajukan sumber daya manusia dalam struktur organisasi sebuah masjid tersebut agar mampu melakukan pengelolaan secara mandiri, transparan dan akuntabel. Hal itu dapat dilakukan didalam kerangka entitas di dalam masjid tersebut terlebih jika sudah memiliki BMT/LKMS.

Peran dari lembaga BMT/LKMS bisa juga diafiliasikan dengan Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK) daerah dan pemilik modal atau stakeholder, dan lebih lanjut adalah lembaga perbankan utamanya yang memiliki basis layanan syariah.

Jelas hal tersebut bukan perkara mudah, sebab mengentaskan kemiskinan adalah ibarat mengurai rumitnya benang yang saling berbelit. Tetapi jika hal tersebut memang dilakukan untuk mengejawantahkan tafsir tekstual menuju satu realitas Ummat yang madani dan mandiri secara ekonomi, bukan berarti hal tersebut tidak mungkin terwujud.

Keberadaan masjid menjadi fenomena tersendiri dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Karena masjid dapat memenuhi sisi spiritual masyarakat Islam. Oleh karena itu, fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah. Di masjid umat Islam dapat melakukan kegiatan-kegiatan shalat berjamaah, dzikir, doa, dan kegiatan-kegiatan penyucian jiwa lainnya yang bersifat ritual keagamaan. Dalam waktu bersamaan, masjid pun dapat berfungsi sebagai media pengembangan sosial kemasyarakatan. Misalnya di bidang pendidikan, perekonomian, dan kesehatan. Inilah upaya-upaya yang dilakukan oleh umat Islam untuk memfungsikan dan memakmurkan masjid sebagaimana diperintahkan dalam ayat berikut ini:

Artinya: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah; maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]:18).

Berdasarkan ayat ini, apabila kita ingin senantiasa mendapat petunjuk dari Allah maka makmurkanlah masjid sebagaimana fungsinya, yakni fungsi utamanya sebagai tempat beribadah. Oleh karena itu, kriteria orang-orang yang memakmurkan masjid itu adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan adanya Hari Akhirat, lalu mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan memiliki kemandirian serta kepercayaan diri yang kuat karena hanya takut kepada Allah saja. Fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah ini harus dipelihara sepanjang masa. Maka segenap umat Islam harus memiliki komitmen untuk senantiasa memakmurkan dan memfungsikan masjid sebagaimana mestinya.

eksistensi masjid tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Maka masjid harus dikelola secara baik dan efektif supaya dapat  berfungsi secara baik. Dalam hal ini masjid dapat berfungsi sebagai lembaga keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Sebagaimana lazimnya lembaga, tentu masjid-masjid yang tersebar itu memiliki pengurus atau pengelola. Lembaga dalam hal ini dapat berupa organisasi, badan, atau yayasan. Adanya lembaga ini mutlak diperlukan untuk memperkuat barisan umat Islam dalam menyebarkan agamanya. Karena Islam ini selain sebagai agama risalah yang bersumber dari wahyu Ilahi, juga sebagai agama dakwah yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia sebagai perwujudan dari Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin (menjadi rahmat bagi semesta alam).

Dalam kaitan dengan lembaga pengelola masjid dikenal dengan nama Dewan Kemakmuran Masjid/Mushalla (DKM). Sedangkan yang dimaksud organisasi kemakmuran masjid dan mushalla, seperti yang dikemukakan Departemen Agama (1990:6),  adalah “Organisasi yang dibentuk untuk mengelola masjid atau mushalla dan melaksanakan berbagai kegiatan di dalam masjid atau mushalla seperti pendidikan, perpustakaan, kesehatan, dan koperasi”. Maka di antara jajaran pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) biasanya ada bidang yang secara khusus mengelola program pemberdayaan ekonomi jamaah. Di antara program kerjanya menyelenggarakan usaha koperasi untuk membina dan meningkatkan amal usaha dan perekonomian jamaah masjid. Di sinilah strategisnya pengelolaaan koperasi syariah berbasis masjid. Sehingga tarap hidup ekonomi jamaah dapat meningkat berkat keberadaan koperasi syariah. Juga motivasi mereka untuk mengunjungi masjid menjadi berganda, yakni selain untuk beribadah secara ritual, juga untuk mengembangkan ekonomi sebagai bekal beribadah kepada Allah SWT.

Seperti dimaklumi, bahwa ekonomi merupakan suatu lapangan yang sangat penting dalam kehidupan. Sebagai agama yang sempurna, maka Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap persoalan ekonomi. Jangan sampai umat terjatuh dalam kekufuran karena terpuruknya ekonomi atau kemiskinan. Maka dalam Islam ada syari’at zakat, infak, wakaf, dan shadaqah. Semua ini dimaksudkan untuk membangun kepedulian antar sesama sekaligus memberdayakan ekonomi keumatan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat menggapai kemakmuran dan kesejahteraan.

Islam sangat peduli terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam beberapa riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah saw tidak suka kepada orang-orang yang hanya duduk-duduk di masjid tanpa ikhtiar dan berusaha mencari penghidupan. Bahkan dalam Islam ada anjuran, apabila kita sudah selesai menunaikan ibadah shalat, maka bertebaranlah di muka bumi untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup. Sehingga umat Islam benar-benar dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat dengan menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumuah [62]:10).

Masjid  sebagai lembaga keumatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat mesti memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan ekonomi umat. Misalnya dengan mendirikan Koperasi Jamaah Masjid (KOPJAMAS), Baitul Maal wal Tamwil (BMT), Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS), ataupun memiliki unit usaha masjid. Lembaga ekonomi masjid ini tentunya harus dikelola secara baik dan profesional. Sehingga lembaga ini benar-benar dapat membantu dan melayani umat dalam pemberdayaan ekonomi kecil dan menengah. Juga mesti dikembangkan kemitraan dan jaringan dengan lembaga-lembaga keuangan syari’ah lain demi pengembangan lembaga ekonomi masjid tersebut. Dengan demikian diharapkan masjid dapat berdaya dengan kegiatannya, bergaya dengan tampilan fisik bangunannya, dan masyarakat selaku jamaahnya dapat sejahtera berkat pengelolaan lembaga ekonomi masjid yang berpihak pada masyarakat menengah dan kecil ke bawah.

Tentunya Rasulullah Muhammad SAW pun telah mencontohkan dalam membina dan mengurusi seluruh keperluan masyarakat, baik di bidang ekonomi, politik, sosial kemasyarakatan, pendidikan, angkatan bersenjata, dan lain sebagainya melalui masjid. Kuncinya pada pengelolaan masjidnya.

Masjid Nabawi oleh Rasulullah SAW difungsikan sebagai (1) pusat ibadah, (2) pusat pendidikan dan pengajaran, (3) pusat informasi Islam, (4) pusat pengkajian dan penyelesaian problematika umat dalam aspek ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Masih banyak fungsi masjid yang lain. Namun yang jelas pada zaman Rasulullah, masjid dijadikan oleh Beliau sebagai pusat peradaban. Pusat sumber inspirasi dalam mengembangkan syiar dan kemajuan ideologinya.

Rasulullah SAW berhasil membina masyarakatnya meskipun komposisi struktur masyarakat yang ada ternyata masyarakat dengan multi ras, multi etnis dan multi agama. Akhirnya, masyarakat bentukan Rasulullah menjadi masyarakat yang disegani dan dikagumi baik lawan maupun kawan dan menjadi pemimpin di dunia pada masanya.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close