PERAN PENTING ASURANSI JIWA SYARIAH DI ERA MODERN

Suaramedannews.com – Industri asuransi adalah industri global, perkembangan industri ini dipengaruhi oleh kondisi di negara serta di wilayah regional, bukan saja terhadap praktik bisnis, namun juga peraturan yang berlaku. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan industri asuransi yang fluktuatif dari tahun ke tahun seiring dengan kondisi perekonomian Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semester I-2019 mencatatkan total premi asuransi mencapai Rp 221,14 triliun, naik 3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yakni premi asuransi jiwa Rp 81,56 triliun dan premi asuransi umum Rp 40,13 triliun. Khusus untuk asuransi umum sendiri mengalami pertumbuhan yang signifikan 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

Sebagai pembanding tingkat pertumbuhan premi asuransi umum di negara-negara industri maju adalah antara 1,5% dan 2%, sementara di pasar negara berkembang diprediksi pertumbuhan tahunan antara 3% dan 4%. Pengecualian bagi negara berkembang adalah Asia, mengingat tingkat pertumbuhan tinggi yang berkesinambungan di India, Indonesia dan terutama China, wilayah tersebut akan mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 7% per tahun dalam jangka panjang. Saluran distribusi pemasaran asuransi akan lebih banyak menggunakan digital. Hal ini mengakibatkan lanskap distribusi asuransi berubah. Sementara itu pasar asuransi jiwa dunia dipimpin oleh negara Indonesia, Rusia dan China, tingginya tingkat pertumbuhan asuransi jiwa dan kesehatan selama beberapa tahun terakhir kemungkinan akan berlanjut.

 

Berkembangnya akad syari’ah di Indonesia telah memberikan titik terang bagi ummat Islam menuju sistem ekonomi berbasiskan syari’ah. Usaha di bidang asuransi syari’ah salah satu­nya sangat menjanjikan masyarakat untuk terlibat di dalamnya dikarenakan kentalnya prinsip saling tolong-menolong (tawa’un). Sekecil apapun upaya pengembangan industri asuransi syariah di negeri ini patut kita berikan apresiasi dan dukungan penuh ke depannya demi terwujudnya karakter pribadi masyarakat yang menjalankan perekonomian berlandaskan prinsip syari’ah.

 

Sebagaimana terdapat dalam AlQur’an S. Al-Maidah ayat 2 : Artinya : “….Dan tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan ketaqwaan. Dan Janganlah tolong menolong dalam hal keburukan dan permusuhan…….”.
Juga kembali ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya orang beriman adalah orang yang memberikan keselamatan dan perlindungan terhadap harta dan jiwa manusia” (HR. Ibnu Majah).

 

Dalam ekonomi Syariah, tata kelola serta aturannya haruslah berlandaskan hukum Islam yaitu Al-Quran dan Hadits. Hal ini yang menjadi poin perumus utama dalam landasan fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Sedangkan, tata laksana dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan yang menjadi acuan pelaksanaan di Indonesia. Dalam hal asuransi jiwa syariah, maka landasan fatwanya adalah Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 21/DSN-MUI/X/2001, tentang: Pedoman Umum Asuransi Syariah. Asuransi Syariah (ta’min, takaful, tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru’ yang memberikan pola pengambilan untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan Syariah dan tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian),riba, zhalim, suap dan maksiat.

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah masyarakat dan menciptakan laju perkembangan baru. Melalui inovasi teknologi, telah tercipta digitalisasi yang mempercepat perputaran informasi yang mengubah struktur ekonomi global dan nasional. Melalui Digitalisasi dapat berinovasi jenis produknya dengan menemukan fitur baru agar market driven, karena masyarakat akan cenderung memilih produk asuransi sesuai dengan kebutuhannya saja. Produk-produk asuransi individual sudah tidak dapat lagi menggunakan polis standar. Dalam era economic sharing, kolaborasi adalah strategi distribusi yang tepat untuk mengefisienkan biaya rata-rata. Dengan profit & cost sharing, bisnis akan dapat terjaga kelanjutannya. Dengan pesatnya perkembangan perusahaan asuransi di Indonesia yang menunjukan besarnya minat masyarakat terhadap jasa produk asuransi syariah untuk menjawab tantangan di era modern berbagai fitur dan pelayanan seperti e-commerce, bancassurance, investasi lainnya.

 

Ada 5 Peran Asuransi Jiwa  Syariah di Era Modern ini diantaranya:


1. Pengalihan Resiko.
Dalam teori pengalihan resiko, tertanggung menyadari ada ancaman bahaya terhadap harta kekayaan miliknya atau terhadap jiwanya. Jika suatu hari bahaya tersebut menimpa harta kekayaan atau jiwanya, maka dia akan menderita kerugian atau korbanjiwa atau cacat raga akan mempengaruhi perjalanan hidup seseorang atau ahli warisnya. Tertanggung dalam hal ini sebagai pihak yang terancam bahaya merasa berat memikul beban resiko yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Untuk mengurangi atau menghilangkan beban resiko tersebut, maka pihak tertanggung berupaya mencari jalan kalau ada pihak lain yang bersedia mengambil alih beban resiko ancaman bahaya dan dia sanggup membayar kontra prestasi yang disebut premi.


2. Pembayaran Ganti Rugi..
Dalam hal ini terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka tidak ada masalah terhadap resiko yang ditanggung oleh penanggung. Dalam praktiknya,bahaya yang mengancam itu tidak senantiasa sungguh-sungguh akan terjadi. Ini merupakan kesempatan baik bagi penanggung mengumpulkan premi yang dibayar oleh beberapa tertanggung yang mengikatkan diri kepadanya. Jika pada suatu Ketika sunguh-sungguh terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka kepada si tertanggung yang bersangkutan akan dibayarkan ganti kerugian seimbang dengan jumlah asuransinya. Dalam praktiknya,kerugian yang timbul tersebut bersifat sebagian, tidak semuanya berupa kerugian total. Dengan demikian,tertanggung mengadakan asuransi yang bertujuan untuk memperoleh pembayaran ganti kerugian yang sungguh-sungguh dideritanya.


3. Pembayaran Santunan.
Asuransi kerugian dan juga asuransi jiwa diadakan berdasarkan perjanjian bebas (sukarela) antara penanggung dan tertanggung, akan tetapi, Undang-Undang mengatur asuransi yang bersifat wajib, artinya tertanggung terikat dengan sipenanggung karena perintah undang undang bukan karena perjanjian. Asuransi jenis ini biasa disebut sebagai asuransi sosial. Asuransi  sosial bertujuan melindungi masyarakat dari ancaman bahaya kecelakaan yang mengakibatkan kematian atau cacat tubuh.
Dengan membayar sejumlah konstribusi (semacam premi), maka sitertanggung berhak memperoleh perlindungan dari ancaman bahaya. Tertanggung yang membayar konstribusi tersebut adalah merekayang terikat pada suatu hubungan hukum tertentu yang ditetapkan undang-undang, misalnya hubungan kerja, penumpang anggutan umum.


4. Kesejahteraan Anggota.
Tujuan asuransi yang terakhir yaitu untuk kesejahteraan anggotanya. Apabila beberapa orang berhimpun dalam suatu perkumpulan, maka perkumpulan tersebut berkedudukan sebagai si penanggung, sedangkan anggota perkumpulanlah yang berkedudukan tertanggung. Jika terjadi peristiwa yang mengakibatkan kerugian atau kematian bagi anggota (tertanggung), maka perkumpulan akan membayar sejumlah uang kepada anggota (tertanggung) yang bersangkutan.


5. Instrumen Investasi.
Mudharabah atau hasil investasi yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan dengan menabung atau deposito sehingga dapat berfungsi sebagai instrumen investasi. Asuransi Syariah sekarang menjadi pilihan asuransi yang mulai diminati di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, perkembangan asuransi syariah ibarat tanaman yang tumbuh subur. ragam asuransi syariah juga semakin banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Mulai dari produk asuransi jiwa, asuransi kesehatan sampai dengan asuransi kerugian.

 

 

Penulis
Sunarji Harahap, M.M.
Dosen / Pengamat Ekonomi UIN SU / Pemerhati Ekonomi Syariah / Penulis Mendunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *