Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Perpektif Investasi Syariah

SUARAMEDANNEWS.com – Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemajuan teknologi banyak membawa kemudahan dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh, sekarang kita tidak perlu lagi membawa uang dalam jumlah besar saat ingin membeli barang yang mahal. Cukup dengan menggesekkan kartu atau transfer uang dalam jumlah yang sesuai dengan harga barang yang dibeli. Peran dan fungsi Bank juga meningkat untuk memfasilitasi kebutuhan ini. Sekarang Bank bukan hanya menjadi tempat untuk menabung uang saja. Bank juga menjadi salah satu tempat investasi yang cukup menguntungkan.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam, investasi melalui Bank ini sering dianggap sebagai bentuk riba. Oleh karena itu terbentuklah Bank-Bank syariah yang kini banyak populer dikalangan masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Bank konvensional, Bank syariah memiliki sistem yang didasari pada syariat agama Islam yang dilandasi oleh Al-Qur’an, Hadits, dan Fatwa Ulama, dalam hal ini MUI. Bukan hanya itu, Bank syariah juga hanya berinvestasi pada usaha usaha halal

Investasi pada dasarnya adalah bentuk aktif dari ekonomi syariah. Dalam Islam setiap harta ada zakatnya. Jika harta tersebut didiamkan, maka lambat laun akan termakan oleh zakatnya. Salah satu hikmah dari zakat ini adalah mendorong setiap muslim untuk menginvestasikan hartanya agar bertambah.

Investasi mengenal harga. Harga adalah nilai jual atau beli dari sesuatu yang diperdagangkan. Selisih harga beli terhadap harga jual disebut profit margin. Harga terbentuk setelah terjadinya mekanisme pasar.

Suatu pernyataan penting al-Ghozali sebagai ulama besar adalah keuntungan merupakan kompensasi dari kepayahan perjalanan, risiko bisnis dan ancaman keselamatan diri pengusaha. Sehingga sangat wajar seseorang memperoleh keuntungan yang merupakan kompensasi dari risiko yang ditanggungnya.

Ibnu Taimiah berpendapat bahwa penawaran bisa datang dari produk domestik dan impor. Perubahan dalam penawaran digambarkan sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan, sedangkan permintaan sangat ditentukan harapan dan pendapatan. Besar kecilnya kenaikan harga tergantung besarnya perubahan penawaran dan atau permintaan. Bila seluruh transaksi sudah sesuai dengan aturan, kenaikan harga yang terjadi merupakan kehendak Allah SWT.

Prinsip-prinsip Islam dalam muamalah yang harus diperhatikan oleh pelaku investasi syariah (pihak terkait) adalah:

  1. Tidak mencari rizki pada hal yang haram, baik dari segi zatnya maupun cara mendapatkannya, serta tidak menggunakannya untuk hal-hal yang haram.
  2. Tidak mendzalimi dan tidak didzalimi.
  3. Keadilan pendistribusian kemakmuran.
  4. Transaksi dilakukan atas dasar ridha sama ridha.
  5. Tidak ada unsur riba, maysir (perjudian/spekulasi),
    dan gharar (ketidakjelasan/samar-samar).

 

Berdasarkan keterangan di atas, maka kegiatan di pasar modal mengacu pada hukum syariat yang berlaku. Perputaran modal pada kegiatan pasar modal syariah tidak boleh disalurkan kepada jenis industri yang melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diharamkan. Pembelian saham pabrik minuman keras, pembangunan penginapan untuk prostitusi dan lainnya yang bertentangan dengan syariah berarti diharamkan.

Semua transaksi yang terjadi di bursa efek harus atas dasar suka sama suka, tidak ada unsur pemaksaan, tidak ada pihak yang didzalimi atau mendzalimi. Seperti goreng-menggoreng saham. Tidak ada unsur riba, tidak bersifat spekulatif atau judi dan semua transaksi harus transparan, diharamkan adanya insider trading. Istilah mudharabah merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh bank-bank syariah. Prinsip ini juga dikenal sebagai qiradh atau muqaradah. Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana pihak perama (shahibul maal) menyediakan dana dan pihak kedua (mudharib) bertanggungjawab atas pengelolaan usaha.

Orang-orang Madinah meyebut kontrak jenis ini dengan sebutan muqaradah, dimana perkataan ini diambil dari perkataan qard yang berarti menyerahkan. Dalam hal ini pemilik modal akan menyerahkan modalnya kepada pengusaha. Keuntungan hasil usaha dibagikan sesuai dengan nisbah bagi hasil untung/rugi yang telah disepakati bersama sejak awal. Kalau rugi, maka pemilik modal akan kehilangan sebagian imbalan dari hasil kerja keras dan manajerial skil selama proyek berlangsung.

Mudharabah adalah suatu kerjasama kemitraan yang terdapat pada zaman jahiliah yang diakui oleh Islam. Di antara orang yang melakukan kegiatan mudharabah ialah Nabi Muhammad SAW sebelum beliau menjadi Rasul. Beliau bermudharabah dengan calon istrinya Khadijah dalam melakukan perniagaan antara Negeri Makkah dengan Negeri Syam.

Dalam transaksi mudharabah harus memenuhi rukun mudharabah meliputi, yaitu:

  1. Shahibul maal (pemilik dana/nasabah).
  2. Mudharib (pengelola dana/pengusaha/bank), amal (usaha/pekerjaan).
  3. Ijab dan Qabul.

Dilihat dari kuasa yang diberikan kepada pengusaha, mudharabah terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. Mudharabah Muthlaqah (investasi tidak terikat) yaitu pihak pengusaha diberi kuasa penuh untuk menjalankan proyek tanpa larangan/gangguan apapun urusan dalam proyek tersebut, dan tidak terikat dengan waktu, tempat, jenis, perusahaan, pelanggan. Investasi tidak terikat ini pada usaha perbankan syariah diaplikasikan pada tabungan dan deposito.
  2. Mudharabah Muqayyadah (investasi terikat) yaitu pemilik dana (shahibul maal) membatasi/memberi syarat kepada mudharib dalam pengelolaan dana seperti, hanya untuk melakukan mudharabah bidang tertentu, cara, waktu, dan tempat tertentu saja. Bank dilarang mencampurkan rekening investasi terikat dengan dana bank atau dana rekening lainnya pada saat investasi.

Pada transaksi ini bank dilarang untuk menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan tanpa penjamin atau jaminan. Bank diharuskan melakukan investasi sendiri tidak melalui pihak ketiga. Jadi, dalam investasi terikat ini pada prinsipnya kedudukan bank sebagai agen saja, dan atas kegiatannya tersebut bank menerima imbalan berupa fee.

Pada pola investasi terikat dapat dilakukan dengan cara channelling dan executing, yakni:

  1. Channelling, apabila semua risiko ditanggung oleh pemilik dana dan bank sebagai agen tidak menanggung risiko apapun.
  2. Executing, apabila bank sebagai agen juga menanggung risiko dan hal ini banyak yang menganggap bahwa investasi terikat executing ini sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip mudharabah, namun dalam akuntansi perbankan syariah diakomodir karena dalam praktiknya pola ini dijalankan oleh bank syariah.

 

Dengan makin tingginya kesadaran warga Indonesia tentang keberadaan dan sistem Bank Syariah, maka makin banyak yang mulai berinvestasi. Mulai dari menabung hingga memiliki produk produk lain yang ditawarkannya. Nyatanya, investasi syariah ini bahkan banyak dilirik oleh kalangan non-muslim pula. Ini karena sistem Bank syariah dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan Bank konvensional. Adapun keuntungannya antara lain:

  1. Bebas Riba

Ini adalah alasan utama yang menyebabkan banyak masyarakat Indonesia pada awalnya memilih Bank syariah. Praktik riba yang erat kaitannya dengan bunga yang diberikan pihak Bank kepada nasabah dalam tabungan, deposito dan investasi tidak akan ditemukan dalam sistem Bank Syariah. Bank syariah justru menawarkan bagi hasil atau nisbah. Oleh karena itu banyaknya keuntungan yang dihasilkan tidak menentu. Nasabah juga tidak akan mengetahui jumlah keuntungan hingga periode yang disepakati berakhir. Biasanya keuntungan yang didapatkan lebih besar dibandingkan dengan bunga Bank.

  1. Bebas dari Praktik Gharar

Praktik gharar diartikan sebagai ketidak terbukaan suatu sistem, baik jual beli atau transaksi lain, yang mengakibatkan penipuan dapat terjadi dengan mudah. Pada hal ini Bank syariah melakukan semua proses penanaman modal maupun penyalurannya secara terbuka, sehingga nasabah tidak merasa diberatkan. Nasabah juga menanamkan modal secara sadar dan terbuka.

  1. Bebas dari Maysir

Maysir adalah istilah untuk adanya spekulasi. Bank syariah menetapkan harga yang jelas sehingga tidak ada spekulasi yang berkembang tentang berapa yang harus dibayarkan atau membuat celah adanya oknum tertentu untuk melakukan penipuan.

  1. Manajemen Islami

Seperti namanya, pengelolaan dan semua proses yang ada dalam Bank syariah dilandaskan syariat Islam. Oleh karena itu nasabah akan merasa aman untuk menitipkan uangnya. Jaminan ini juga ditambah dengan keuntungan yang besar dalam investasi hasil bagi sehingga banyak yang tertarik berinvestasi syariah

Ada Tiga Jenis Produk investasi syariah yang bisa dipilih antara lain:

  1. Deposito Syariah

Sama halnya dengan jenis deposito pada Bank konvensional, deposito syariah juga merupakan simpanan dana yang bisa diambil pada periode yang ditentukan. Perbedaannya keuntungan selama periode itu diberikan sebagai keuntungan bagi hasil sedangkan Bank konvensional menggunakan bunga. Biasanya keuntungan ini lebih besar jika dibandingkan dengan tabungan syariah.

Saat memilih deposito, nasabah dapat memilih jangka waktu penyimpanan deposito, bisa 1 bulan, 2 bulan, atau lebih dari itu. Jika jangka waktu yang diambil 1 bulan, biasanya bagi hasil yang ditetapkan sebesar 50:50. Ini dapat bertambah jika jangka waktunya lebih lama. Bank, sebagai pengelola dana, akan mengelola dana ini dan saat periode jangka waktu yang ditetapkan habis, nasabah dapat mengambil uangnya beserta besarnya keuntungan selama periode tersebut. Sedangkan jika nasabah ingin mengambil depositonya, maka deposito dapat diambil tanpa keuntungan.

  1. Saham Syariah

Saham adalah surat bukti bagian modal suatu PT yang dapat diperjual belikan. Jadi sama halnya dengan jual beli lainnya, jual beli saham juga diperbolehkan dalam ajaran agama Islam. Sayangnya tidak semua perusahaan yang dibeli sahamnya melakukan aktivitas sesuai ajaran agama. Misalnya, perusahaan yang menjual minuman keras. Saham syariah tidak berbeda dengan saham lain hanya saja kita sebagai investor tidak dapat berinvestasi kepada perusahaan yang menjual barang barang yang dilarang atau kegiatan kegiatan yang bertentangan dengan agama.

  1. Asuransi Syariah

Asuransi adalah jenis investasi yang lebih bersifat personal dan banyak dicari. Berbeda dengan asuransi konvensional, pemegang asuransi syariah berperan sebagai pemilik dana sedangkan perusahaan asuransi berperan sebagai pengelola dana saja. Sehingga perusahaan asuransi tidak dapat menggunakan dana tersebut tanpa kuasa dari pemilik dana. Ini berbeda dengan asuransi konvensional dimana pemegang asuransi tidak dapat mengetahui secara pasti berapa jumlah premi yang berhasil dikumpulkan oleh perusahaan. Perusahaan asuransi konvensional juga bisa menginvestasikan dana yang terkumpul kemanapun karena mereka yang bertindak sebagai penanggung dana klaim.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *