POTENSI INDONESIA SEBAGAI NEGARA INDUSTRI 10 BESAR TERKEMUKA DUNIA

POTENSI INDONESIA SEBAGAI NEGARA INDUSTRI 10 BESAR TERKEMUKA DUNIA

Suaramedannews.com – Memasuki semester ke-2 tahun 2019, agaknya inilah tahun pembuktian bagi Indonesia. Kenapa, karena di tahun 2018 lalu, sekalipun kondisi makro ekonomi Indonesia belum pulih. Tetapi Indonesia mampu mengembangkan lingkungan industrinya, sehingga Indonesia berhasil masuk dalam kategori 10 negara terbesar di sektor industri.

Pencapaian Indonesia ini memang bukan perkara mudah. Karena dengan prestasi tersebut justru Indonesia mesti bisa membuktikan pada dunia luar bahwa memang Indonesia layak sebagai negara industri. Sekalipun dalam beberapa waktu ini Indonesia sudah bisa bicara dengan adanya peningkatan angka investasi dan produktivitas industri manufaktur-nya. Wajar jika pada akhirnya hal ini membawa dampak positif bagi peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri yang selama ini banyak di impor dari luar negeri.

Seperti di sampaikan Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian,” Indonesia patut bangga, karena saat ini bangsa kita telah mampu memberikan manufacture value added, bagi industri di dalam negeri. Pernyataan Haris Munandar tersebut pada akhirnya memang sejalan dengan kondisi yang nyatakan oleh United Nations Development Organization ( UNIDO). Bahwa saat ini, di mulai pada tahun 2018 lalu, ternyata ada peningkatan nilai sebesar 16,70% dibanding angka yang terjadi pada tahun 2014. Jika 2014 (USD202,82 miliar ) menjadi (USD236,69 miliar ) tahun 2018.

Keberhasilan itu pada akhirnya mampu menghantarkan Indonesia bisa masuk dalam kategori Top 10 Jajaran Negara Industri terbesar di dunia. Sungguh luar biasa apa yang dicapai Indonesia, karena dari 10 negara tersebut di dalamnya terdapat nama-nama negara besar di sektor industri. Dari mulai : China (28,8%), Korea Selatan (27%), Jepang (21%), Jerman (20,6%) dan Indonesia (20,5%). Sementara untuk beberapa negara yang kontribusi industrinya di bawah 17% terdiri dari : Meksiko, India, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Perancis, Kanada dan Inggris.

Apa yang saat ini telah di capai oleh Indonesia, memang kondisinya sudah terasa sejak beberapa waktu lalu. Dimana konsentrasi Indonesia untuk secara kontinyu meningkatkan potensi bisnisnya terutama dalam sektor industri sudah terasa. Hingga pada akhirnya tren peningkatan tersebut terasa pada saat Indonesia memasuki tahun 2014. Tercatat dari tahun 2014 hingga 2018 ada kenaikan nilai investasi sebesar 15,6% dari 2014 ( Rp195,74 triliun) menjadi 2018 (Rp226,18 triliun).

Itulah sebabnya, ketika saat ini Indonesia memasuki Era Industri 4.0. Maka satu hal yang mesti dilakukan oleh para pelaku industrinya adalah : menerapkan Prinsip Rancangan Industri 4.0 : Interoperabilitas ( kesesuaian ), Transparansi informasi, Bantuan mandiri dan Keputusan mandiri.

Dimana implementasi dari ke-4 point diatas dapat di jabarkan dalam beberapa hal seperti misalnya ; Produk harus memiliki keandalan dan produktivitas yang berkelanjutan, Produk harus memiliki keamanan TI ( dalam kondisi ini perusahaan sekelas Symantec, Cisco, Penta Security sudah mulai mengaplikasikan kondisi tersebut), Produk harus menyesuaikan model layanan dan bisnis atau Produk harus di produksi oleh SDM yang memiliki pendidikan dan memiliki skill pekerja secara profesional.

PERSPEKTIF SEKTOR INDUSTRI INDONESIA INDONESIA DALAM ERA INDUSTRI 4.0

Ada dua ciri khas produk yang bisa kita lihat, pada saat produk tersebut masuk dalam kategori Era Indonesia 4.0. Seperti yang di sampaikan oleh Handri Kosada, CEO Barantum bahwa ,” Dalam Era Industri 4.0, maka keterkaitan produk dengan aplikasi teknologi semakin terlihat. Kondisi ini lanjut Handri sesuai dengan beberapa point yang telah di jelaskan diatas.

Dimana untuk menuju kearah sana, dibutuhkan tidak saja konsistensi dari pelaku industrinya. Tetapi juga produk yang ada mesti menyesuaikan dengan model layanan dan bisnis era industri 4.0. Sehingga untuk mencapai hal itu, biasanya dalam sebuah industri peran Divisi Research and Development menjadi salah satu divisi khusus yang akan menangani masalah inovasi produk.

Ke semua hal yang telah di jelaskan diatas, pada akhirnya bisa menjadi sebuah produk yang unggul berkat adanya sosialisasi yang baik di hadapan customer. Karena mereka-lah yang pada akhirya menjadi salah satu kunci utama dalam pengembangan sebuah produk. Konsep aplikasi bisnis seperti inilah yang menurut Handri Kosada, CEO Barantum dibutuhkan satu sistem yang saat ini terkenal dengan sebutan CRM.

Konsep kerjanya sendiri, seperti yang disampaikan Handri bahwa CRM ( Customer Relationship Management) adalah sebuah aplikasi yang berfungsi untuk memaksimalkan potensi bisnis yang ada di sisi customer. Maka dengan melihat beragamnya karakter customer akan membuat perusahaan mendapatkan begitu banyak masukan dari database CRM yang diimplementasikan oleh perusahaan. Berdasarkan hasil dari database customer inilah, kunci Divisi R&D dalam melakukan mengembangkan inovasi produk sesuai apa yang d butuhkan oleh customer.

Bukan saja seperti yang telah di jelaskan diatas. Fungsi lain dari CRM adalah untuk mem-backup peralihan yang terjadi dalam lingkup pengembangan kualitas SDM yang ada. Jika perusahaan mengharapkan dengan Era Industri 4.0 SDM mesti mampu berinteraksi langsung dengan teknologi informasi. Maka dalam kondisi seperti ini fungsi CRM bisa menjadi salah satu alternatif solusi terbaik bagi perusahaan. Kenapa, karena CRM bisa memperkuat cara kerja SDM yang ada agar bisa bersifat technology minded.

Dengan penjelasan tersebut jelas terlihat, bahwa keberadaan CRM memang memiliki beberapa fungsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Dimana beberapa divisi yang bisa di support oleh fungsi dari CRM adalah : Divisi Sales & Marketing serta Divisi General Affair. Karena kelebihan sistem ini adalah mampu memberikan laporan secara terintegrasi.

PERSPEKTIF DUKUNGAN KEMENPERIN TERHADAP PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI
Korelasi apa yang disampaikan oleh Handri Kosada tersebut, memang pada akhirnya sejalan dengan apa yang menjadi concern Kemenperin. Dimana implementasi teknologi sistem seperti CRM itulah yang sebenarnya memang di butuhkan oleh pelaku bisnis dalam industri manufacture. Hal itu pula yang dinyatakan dalam perspektif Making Indonesia 4.0. Sebuah komitmen yang akan menjadikan Indonesia Negara yang masuk dalam jajaran 10 Negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Senada dengan pernyataan diatas, hal itupun juga diperkuat oleh Johanes Budi K, Direktur Keuangan PT. Grand Kartech Tbk,” Kami mendukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam setiap lini di perusahaan. Dengan pernyataan memang mengindikasikan bahwa memang aplikasi CRM bisa menjadi strategi perusahaan untuk meningkatkan grade-nya menjadi perusahaan yang sesuai katagori Era Industri 4.0

Mungkin kita bertanya siapa Grand Kartech itu sebenarnya. Dia adalah perusahaan local yang cukup memiliki nama di dunia industri. Sekarang ini, perusahaan tersebut menjadi salah satu manufacture local untuk mesin-mesin industri seperti : boiler, pressure vessel, tangki, mesin-mesin customized/make to order, dan lain-lain.

Sehingga dengan konsep bisnis yang lebih banyak berhubungan dengan customer itulah, pada akhirnya kelak sistem manajemen customer akan menjadi salah satu tujuan perusahaan. Salah satu target perusahaan agar keberadaan divisi R&B bisa mengambil salah satu dasar bisnisnya dari akumulasi data yang tersaji dari sistem yang ada di CRM.

Pada intinya saat ini, ketika perusahaan di Indonesia sudah harus masuk dalam model bisnis Era Industri 4.0. Maka sebuah sistem seperti CRM akan bisa menjadi salah satu solusi terbaik bagi perusahaan. Dimana sebuah sistem yang terintegrasi, misalnya dengan call center pada akhirnya akan membuat sebuah proses kerja di lingkungan perusahaan menjadi lebih terprogram.

Hasil akhirnya sudah pasti, dengan semua sistem yang terintegrasi dengan baik, maka bisa di pastikan kinerja perusahaan akan bisa di ukur dengan baik. Sehingga harapan manajemen agar bisa meningkatkan omzet penjualannya tiap periode bisa di prediksi dengan lebih baik dan terencana. (achmad sf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *