Produk Halal, Mengapa Tidak !

Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam. 3. Proses Produk Halal yang selanjutnya disingkat PPH adalah rangkaian kegiatan untuk menjamin kehalalan Produk mencakup penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk.

Kebutuhan produk halal tak hanya bagi masyarakat muslim, tetapi kebutuhan masyarakat nonmuslim juga. Jika suatu produk halal, berarti produk tersebut aman dikonsumsi, sehat dan tidak mengandung sumber-sumber penyakit di dalamnya. Hal ini kemudian menyebabkan berbagai produk dan identitas tempat perdagangan di luar negeri semakin banyak mencantumkan label halal. Label halal tersebut pun kini telah menjadi keunggulan dan value added yang ditawarkan kepada konsumen.

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung akhir tahun ini, potensi bisnis halal tersebut pun mulai digarap. Bahkan, negara yang mayoritas bukan muslim, seperti Singapura dan Thailand sudah memulai menggarap pusat produk halal di negaranya. Negara-negara tersebut paham betul, bahwa menjual produk makanan bagi konsumen turis dari negara-negara muslim harus identik dengan produk halal. Indonesia semestinya menyadari bahwa menjual produk halal adalah kebutuhan dan kewajiban. Harus muncul paradigma ke depan bahwa sebagian besar produk makanan, bahan makanan, dan jasa tertentu di Indonesia sudah pasti kehalalannya. Apalagi sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yaitu pertama perspektif agama yaitu sebagai hukum makanan sehingga konsumen muslim mendapat hak untuk mengkonsumsi makanan sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanya perlindungan konsumen. Yang kedua adalah perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennyasebagian besar muslim, maka tentu saja dengan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangiblevalue.Produk pangan yang kemasannya tercantum label halal akan meningkatkan daya tarik bagi konsumen muslim.

Produk pangan (Makanan dan Minuman) adalah produk yang paling besar disertifikasi halal. World Halal Food Council (WHFC) merilis bahwa saat ini kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negara-negara yang mayoritas beragama non-muslim pun sudah banyak yang menerapkan prinsip halal bagi produk-produknya.
Pangan halal adalah kebutuhan setiap muslim, banyak ayat alquran maupun hadis yang menegaskan keharusan konsumsi halal. Hukum halal pada makanan,dalam Islam tidak hanya sekedar doktrin agama, tetapi justru menjamin bahwa makanan tersebut sehat dan aman yang secara ilmiah masuk akal (scientifically sound).

Banyaknya perusahaan bakery yang berdiri di Provinsi Sumatera Utara khususnya Kota Medan, menjadikan kota medan ragam dengan wisata kuliner. Kota Medan merupakan kota miniatur Indonesia yang menjadi salah satu kota terbesar ketiga yang ada di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014 Penduduk kota Medan berjumlah hampir 3 juta jiwa. Dari jumlah itu sebesar 67,8% agama Islam, 8,1% pemeluk agama Kristen Protestan, 10,1% pemeluk agama Budha, 0,17% agama Hindu dan 4,52% pemeluk agama Kristen Khatolik. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi persentase jumlah penduduk yang memeluk agama islam kota Medan mayoritas, bertambahnya perusahaan bakery yang ada dikota Medan ,harus diiringi dengan produk bakery lebih dapat menjamin kesehatan masyarakat termasuk gizi dan proses pembuatan kue dan roti bakery tersebut. Hal ini terdapat di beberapa perusahaan bakery kota Medan yang beroperasi ditengah mayoritas penduduk nya muslim, tetapi belum memiliki sertifikasi halal. Pengusaha bakery yang dalam mendirikan usahanya harus melihat kondisi tersebut jika perusahaan tersebut beroperasi ditengah masyarakat kota medan , maka  sudah seharusnya pengusaha Muslim dan Non Muslim mengurus sertifikasi HALAL dari Majelis Ulama Indonesia Kota Medan . Sertifikat Halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk. Sertifikat Halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman LABEL HALAL pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.Pengadaan Sertifikasi Halal pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya sebenarnya bertujuan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin konsumen muslim. Berdasarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Makanan Majelis Ulama Indonesia ( LPPOM MUI) Syarat kehalalan sebuah produk tersebut meliputi:

  1. Tidak mengandung DNA babi dan bahan-bahan yang berasal tradisional dari babi
  2. Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti; bahan yang berasal dari organ tubuh manusia, darah,  dan kotoran-kotoran.
  3. Semua bahan yang berasal dari hewan yang di sembelih dengan syarikat islam.
  4. Semua tempat penyimpanan tempat penjualan pengolahan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk daging babi; jika pernah digunakan untuk daging babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dahulu dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat.

Pengusaha jangan hanya menerapkan prinsip ekonomi dengan meraih keuntungan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan konsumen, tetapi Pengusaha haruslah lebih mengedepankan etika bisnis produksi yang etis dengan memberikan produk yang terbaik bagi kesehatan konsumen , dimana didalam pembuatan bakery tersebut jangan sampai memakai bahan bahan yang dapat merusak kesehatan, apalagi terindikasi bahan bahan haram yang tidak layak dikonsumsi oleh konsumen. Inilah peran dan tanggung jawab pemerintah kota Medan ,DPRD Kota Medan, Organisasi Islam, LSM dan terkhusus  Majelis Ulama Indonesia Kota Medan harus mampu memberikan sosialisasi betapa pentingnya sertifikasi halal

Ada beberapa titik kritis peluang masuknya bahan haram dalam pembuatan produk bakery  :

 Tepung Terigu

Tepung terigu adalah bahan utama dalam pembuatan produk bakery dan kue. Secara garis besar ada dua jenis tepung gandum yaitu tepung gandum keras (strong flour) dan tepung gandum lunak (soft flour).

Pada pembuatan tepung gandum seringkali ditambahkan bahan-bahan aditif yang berfungsi untuk meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang dihasilkan. Salah satunya yaitu L-sistein (biasanya dalam bentuk hidrokloridanya) yang berfungsi sebagai improving agent (meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan).

L-sistein yang murah yang banyak tersedia di pasaran adalah L-sistein yang dibuat dari rambut manusia, khususnya yang diproduksi di Cina.

 

Tentu saja karena berasal dari bagian tubuh manusia maka L-sistein ini haram sehingga tepung terigu yang menggunakan L-sistein dari rambut manusia haram hukumnya bagi umat Islam.

Disamping bahan aditif yang ditambahkan kedalam tepung terigu untuk maksud memperbaiki sifat tepung terigu, ada pula bahan aditif yang ditambahkan kedalam tepung terigu dengan maksud untuk memperkaya nilai gizinya, yakni vitamin dan mineral. Dari segi kehalalan, yang patut diperhatikan adalah penambahan vitamin vitamin yang tidak larut dalam lemak dan mudah rusak selama penyimpanan diantaranya vitamin A. Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueous) dan agar tidak mudah rusak selama penyimpanan biasanya disalut. Bahan penyalut yang digunakan selain bahan yang halal seperti berbagai jenis gum juga bahan yang diragukan kehalalannya yaitu gelatin.

Bahan Pengembang

Bahan pengembang adalah bahan tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti dan kueh yang berfungsi untuk mengembangkan adonan supaya adonan menggelembung, bertambah volumenya, demikian juga pada saat adonan dipanggang dapat lebih mengembang.

Dari semua bahan-bahan ini yang tidak boleh digunakan adalah cream of tartar. Cream of tartar sebetulnya adalah garam potasium dari asam tartarat yang diperoleh sebagai hasil samping (hasil ikutan) industri wine (sejenis minuman keras), itu sebabnya mengapa bahan ini tidak boleh digunakan oleh umat Islam.

Kuas berbulu babi

Kuas sering dipakai untuk mengoleskan mentega, margarin, telur, cokelat, dll. Hati-hati dengan bahan bulu kuas, karena umumnya berasal dari bulu babi (bisa mencapai 80-90%).

Pada gagang kuas berbulu babi sering tertulis kata : Bristle, Pure Bristle, 100% China Bristle, dll. Salah satu makna kata Bristle adalah Pig Hair atau bulu babi (Webster’s Dictionary) yang berstatus najis apabila basah. Oleh karena itu, roti yang terkena sapuan kuas najis menjadi terkena najis, sehingga haram dimakan. Pengganti kuas bulu babi adalah kuas dari bahan plastik (polyester). Perusahaan kuas merk Ken Master dan Selery juga meproduksi kuas dari bahan halal ini.

Rhum

Rhum banyak dipakai untuk mem-buat adonan tercampur dengan baik, agar cake lebih awet, serta untuk mengikat aroma. Rhum diharamkan karena memiliki sifat khamer. Bahkan kandungan alkohol rhum bisa mencapai 38-40%.

Daging dan Produk Olahannya

Daging haram (khususnya : babi) dapat masuk dalam berbagai bahan dan produk rerotian. Produk daging dan olahannya dapat masuk dalam bentuk : daging, sosis, abon, dll.

Emulsifier

Emulsifier adalah bahan yang dipakai agar bahan-bahan yang berkadar lemak tinggi dapat bercampur dengan air ketika dibuat adonan. Beberapa macam emulsifier juga dapat dipakai sebagai stabilizer(penstabil) adonan roti.

Ada beberapa jenis emulsifier yang lazim dipakai di pasaran, seperti : lesitin, lesitin kedelai (soya/soy lechitine), dan emulsifier lain yang menggunakan kode E-number. Lesitin bersifat syubhat karena bisa berasal dari bahan nabati maupun hewani (sapi, babi, dll). Lesitin kedelai halal karena berasal dari bahan nabati. Hati-hati dengan E-number, karena beberapa emulsifier (seperti : E471, E472, dll.) ada yang menggunakan bahan dari babi.

Ovalet

Ovalet dipakai sebagai pengembang dan pelembut produk bakery. Bahan ini dibuat dari asam lemak, bisa berasal dari asam lemak hewani maupun nabati (tumbuhan). Apabila berasal dari tumbuhan, tentu tidak masalah. Namun apabila dibuat dari produk hewani, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal atau hewan haram (babi).

Shortening

Shortening sering dikenal dengan istilah mentega putih. Bahan ini berasal dari lemak, bisa dari lemak hewan, tanaman, maupun campuran keduanya. Shortening sering dipakai untuk membuat sensasi lembut dan renyah (crispy). Oleh karena bisa berasal dari lemak hewan, maka shortening bersifat syubhat. Selain itu, sudah lama dikenal di masyarakat bahwa lemak hewan (animal fat) yang paling enak adalah lemak babi (Lard). Meskipun ada yang menulis dengan huruf Arab, namun karena berasal dari babi, maka tetap saja lard hukumnya haram.

Margarin

Margarin dibuat dengan bahan dasar lemak tumbuhan. Dalam proses pembuat-annya, sering kali ada bahan penstabil (stabilizer), pewarna, maupun penambah rasa (flavor) yang ditambahkan. Oleh karena itu, apabila bahan penstabil yang dipakai dari tanaman tentu tidak masalah. Namun apabila berasal dari produk hewan, maka harus dipastikan dari hewan halal atau haram. Penggunaan lesitin babi, membuat produk roti menjadi haram.

Bakers Yeast Instant (Ragi)

Yeast banyak dipakai pada produk-produk rerotian sebagai bahan pengembang (bread improver). Dalam pembuatannya, adakalanya ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier). Nah, kalau emulsifier yang dipakai berasal dari bahan haram (misal : lesitin babi), maka yeast ini tentu menjadi tidak halal.Selain itu, senyawa anti-caking (anti gumpal) yang ditambahkan juga harus diperhatikan status kehalalannya.

Keju

Keju berasal dari susu hewan, bisa berasal dari susu sapi, domba/kambing, unta, dll. Perbedaan penamaan keju didasarkan pada asal bahan, asal daerah, dan proses pembuatannya.Dalam pembuatannya, untuk memperoleh curd/padatan, susu digumpalkan dengan bantuan enzyme danstarter. Apabila enzim yang dipakai berasal dari saluran pencernaan hewan haram, maka tentu statusnya menjadi haram.

Creamer

Creamer dibuat dari susu. Titik kritisnya terdapat pada bahan enzim yang dipakai untuk memisahkan keju dan whey. Apabila menggunakan enzim haram, maka status creamer yang bersangkutan haram.

Cokelat

Dalam proses pembuatan cokelat batangan dari buah cokelat segar kadang dibutuhkan emulsifier. Emulsifier dapat berasal dari lesitin nabati (dari biji kedelai, bunga matahari, jagung, dll.) maupun dari produk hewani. Adakalanya lesitin hewani dibuat secara enzimatis menggunakan enzim Phospholipase A2 yang bisa berasal dari pankreas babi.

Bagi produsen produk halal  baik bagi  pengusaha muslim maupun non muslim untuk berupaya mengembangkan dan meningkatkan produksi produk  halal sehingga mampu berkompetisisi di pasar dunia.Untuk dapat mengambil peran dominan pada market pangan halal dunia, tentunya produk halal Indonesia harus mampu meyakinkan market halal dengan produk yang berkualitas, salah satunya sertifikat halal yang melekat sebagai salah satu indikator kualitas produk dapat memberikan jaminan kualitas halal atas produk dimaksud. Ini akan menjadi kebutuhan akan terwujudnya kesiapan yang handal, tangguh serta ungggul dalam pembangunan dibidang produk halal domestik.

Data dari State of The Global Islamic Economy 2014-2015 menyebutkan indicator  tren bisnis halal terlihat pada lima bidang industri terus menunjukkan kemajuan. Antara lain jasa keuangan Islami (Islamic finance), makanan halal, busana muslim, media dan rekreasi halal, serta farmasi dan kosmetika halal.

Produk yang menjadi pengisi pasar halal pun sekarang sudah tidak hanya seputar makanan dan minuman saja, namun telah meluas ke industri obat, vaksin, kosmetik, fashion, hingga industri pariwisata seperti hotel dan travel. Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia. Bahkan, di Jepang, Korea, Thailand, hingga Singapura yang memiliki penduduk heterogen, teknologi pemeriksa halalnya sudah canggih dan akurat.

proses pengadaan produk halal harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Kebutuhan tersebut salah satunya harus dipenuhi pada sistem suplai dan rantai pasok halal. Misalnya, pengadaan peternakan dan rumah potong hewan yang dijamin halal pada hulu sistem, sistem logistik halal, dan pelabuhan halal pada bagian hilir, dan seterusnya.

Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Namun anehnya, gerakan-gerakan halal justru diprakarsai oleh negara-negara yang penduduk Muslimnya minoritas. Misalnya, Vietnam. Vietnam kini telah mempromosikan konsep Vietnam Moslem Tourism –Wisata Muslim ke Vietnam. Isi kegiatannya kurang lebih turis akan diajak berkunjung ke tempat-tempat wisata di sana, kemudian makan di restoran halal. Konsep sederhana yang Indonesia pun lebih dari mampu untuk memasarkannya. Di Belanda misalnya, telah berdiri pelabuhan halal di Kota Roterdam. Singapura bahkan sudah mendeklarasikan diri sebagai Global Halal Hub atau pusat internasional untuk halal, hanya dengan modal menjadi tetangga Indonesia.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PEMERHATI EKONOMI SYARIAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *