Raden Nuh “Trio Macan 2000” Dibebaskan dari Nusa Kambangan

SUARAMEDANNEWS.com, Jakarta – Setelah menjalani hukuman penjara selama hampir tiga tahun, Raden Nuh yang disebut-sebut pemilik akun antikorupsi @triomacan2000 akhirnya keluar dari Lembaga Permasyarakatan ((Lapas) Batu Nusakambangan Cilacap setelah mendapat pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan HAM RI pada tanggal 15 Juni 2017 lalu. 

“Benar, klien kami (Raden Nuh) telah bebas dari Lapas Batu Nusakambangan hari Kamis (15/6) kemarin karena mendapatkan Pembebasan Bersyarat dari Kemenkumham “, ungkap Haris Aritonang Penasihat Hukum Raden Nuh pada Sabtu (17/6) sore kemarin di Jakarta. 

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada bulan Juni 2015 lalu menvonis Raden Nuh lima tahun penjara karena dinyatakan bersalah melanggar Undang-undang Informatika dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 27 ayat 2 junto Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHPidana) yakni turut serta dalam perbuatan pidana pencemaran nama baik melalui alat elektronik. 

Kasus pidana yang menjerat Raden Nuh berserta Edi Syahputra dan Koesharyono yang terjadi pada bulan Oktober 2014 lalu sempat menjadi isu kontroversial di media massa dan publik. Hal ini dikarenakan mencuatnya dugaan publik bahwa perbuatan pidana yang dituduhkan kepada Raden Nuh, Edi Syahputra dan Koesharyono sangat bernuansa politis dan dianggap penuh rekayasa yang didasarkan kepada aktivitas Raden dkk sebelumnya menolak keras rencana akuisisi 100 persen saham PT Dayamitra Telkom (Mitratel) oleh PT Tower Bersama Infrastruktur Grup (TBIG) senilai USD 940 juta atau sekitar Rp13 triliun. 

Akuisisi anak perusahan PT Telkom pengelola seluruh Menara Seluler Telkom (Base Transceiver Station) oleh TBIG itu dituding Raden sarat KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) serta membahayakan ketahanan telekomunikasi nasional Indonesia. Perjuangan Raden Nuh menggagalkan akuisisi Dayamitra Telkom tidak sia-sia. Berkat kegigihan Raden melakukan kampanye penolakan akuisisi Mitratel akhirnya DPR dan KPK memutuskan membatalkan akusisisi anak perusahaan BUMN strategis itu. PT Telkom dan PT Mitratel pun terhindar dari bencana penguasaan asing sebagaimana telah menimpa PT Indosat sebelumnya.

Selama hampir tiga tahun menjalani masa hukuman, Raden Nuh mendapat perlakuan ‘khusus dan istimewa’. Berdasarkan keterangan Haris Aritonang penasihat hukum Raden Nuh, kliennya (Raden Nuh) kerap dipindah dari satu lapas ke lapas lain. “Bayangkan saja, selama kurang dari tiga tahun Raden Nuh dipindah tujuh kali, terakhir di Lapas Batu Nusakambangan”, ujar Haris. Ditambahkannya, meski Raden Nuh kerap dipindah ke satu lapas ke lapas lain, Raden selalu mendapat perlakuan yang baik dan manusiawi dari pihak Lapas. 

Mengenai kemungkinan Raden Nuh akan aktif kembali di media sosial dan gerakan antikorupsi seperti sebelumnya,  Haris mengatakan tidak mengetahui secara pasti. “Fokus Bang Raden sekarang dan ke depan adalah menata kembali kehidupan keluarga dan pribadinya yang terbengkalai selama beliau dipenjara”, pungkas Haris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *