Religiusitas Remaja Aceh Korban Bencana Tsunami Pasca 12 tahun

Email

Kiriman Penulis : Naila Iffah Mahasiswi Psikologi Universitas Syiah Kuala

SUARAMEDANNEWS.com, Aceh – Remaja Aceh korban tsunami memiliki religiusitas yang meningkat, hal ini ditandai dengan beberapa aspek, Pertama, yaitu keyakinan agama, dimana keyakinan kekuasaan Allah swt melalui penciptaan alam semesta sampai pada bencana tsunami yang tak pernah terlupakan. Kedua, yaitu aspek pelaksanaan ibadah yang menunjukkan peningkatan ibadah yang dilakukan oleh remaja korban tsunami, dengan peningkatan ibadah remaja merasa lebih tenang, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, yaitu perilaku dalam lingkungan yang biasa, yaitu berperilaku baik terhadap orang tua meningkat karena ingin berbakti. Keempat, yaitu aspek pengetahuan agama mengenai ajaran-ajaran agama yang telah didapatkan sejak kecil. Aspek tersebut membuat remaja Aceh lebih merasa dekat dengan Allah.

Keyakinan terhadap agama yang mereka anut membuat remaja di kota Banda Aceh korban Tsunami merasakan kebesaran Allah swt, menerima ketentuan yang di berikan Allah swt, merasakan kasih sayang Allah dengan diberikan keluarga yang lengkap, kehilangan keluarga, sehingga remaja Aceh merasakan kedekatan yang lebih baik dengan Allah swt.Peningkatan ibadah yang dilakukan seperti shalat, puasa, mengaji membuat remaja Aceh merasa lebih tenang, lega, dapat mengendalikan hawa nafsu dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt.

Rasa ketakuatan pada remaja korban Tsumami Aceh muncul karena adanya peristiwa tsunami yang membuat keluarganya menghilang, dan ada ketakutan bahwa ajal akan datang kapan saja sehingga ketika remaja melakukan sebuah kesalahan atau melanggar sebuah aturan-aturan agama akan merasa menyesal dan memohon ampunan, insaf, tawakkal dan tabah pada kehendak yang Allah swt berikan.

Dengan demikian aspek-aspek diatas menunjukkan bahwa religiusitas remaja Aceh korban tsunami terus meningkat. Pada dasarnya religiulitas yang dimiliki oleh remaja Aceh korban tsunami dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan keluarga, dukungan lingkungan masyarakat tempat tinggal dan pengalaman yang mengatasi ketakutaan terhadap bencana tsunami. Pendidikan yang diberikan keluarga sangat berpengaruh pada keyakinan remaja terhadap agama yang menunjukkan peningkatan dalam melaksanakan ibadah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Rasa religiusitas remaja Aceh yang muncul dari pola asuh orang tua yang dididik semenjak kecil. Pendidikan agama yang diterapkan sejak kecil dengan sistem otoriter dan keras adalah sesuatu yang sakral dilakukan, sehingga agama tidak boleh dimain-mainkan, sehingga agama terbentuk dalam unsur kepribadian remaja Aceh.

Sesuai dengan teori belajar Skinner mengenai reward dan punishment, ketika seseorang melakukan kebenaran maka akan mendapatkan penghargaan ( reward ), tetapi jika melakukan sebuah kesalahan akan mendapatkan hukuman ( punishment ). Pada saat remaja Aceh masih kecil, ketika remaja melakukan kesalahan seperti tidak melaksanakan shalat akan dipukul, ketika tidak berpuasa akan mendapatkan jatah sedikit pada hari raya.

Proses belajar yang melalui pendidikan keluarga yang diperoleh sejak kecil menjadikan remaja Aceh meyakini ajaran agama yang dianutnya, lalu melaksanakan ajaran-ajaran agama seperti shalat, puasa, zakat, bertingkah laku baik kepada orang tua, lingkungan dan sekitarnya.Faktor dukungan lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi religiusitas remaja Aceh korban tsunami, hubungan yang terjalin antara remaja dengan lingkungan masyarakat membuat remaja yakin kepada Allah swt, bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia saling bergantung, saling membutuhkan pertolongan.

Pengalaman tsunami yang dialami oleh remaja Aceh membuat remaja lebih mendekatkan diri kepada Allah swt, keyakinan pada ketentuan-ketentuan Allah swt dan menerima cobaan yang Allah swt berikan pada dirinya seperti pengalaman yang sangat mengerikan yang dapat membuat remaja meyakini bahwa ada hikmah dibalikmusibah yang dialaminya. Maka dengan menyempurnakan ibadah-ibadahremaja aceh merasakan ketenangan dan dapat mengendalikan diri.

Remaja juga berbuat baik kepada orng lain yang ada dilingkungannya, baik terhadap tetangga, teman, dan guru. Sehingga remajaAceh dapat merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya dan merasa lebih dekat denganAllah dengan cara lebih bersabar, pasrah dan tawakkal. Begitu juga halnya denganketakutan yang muncul karena adanya kematian, kebutuhan rasa aman dan selamat membuat remaja Aceh korban tsunami mendekatkan diri kepada Allah swt dengan meyakini semua kehendak Allah swt, melakukan perintahNya danmeninggalkan segala laranganNya, baik dalam menjalankan ibadah maupun dalam lingkungan sosial yangdidukung oleh pengetahuan agama yang telah remaja miliki.

Berdasarkan dinamika psikologis remaja Aceh korban tsunami dapatdiketahui bahwa setelah tsunami religiusitas remaja Aceh korban tsunami terus meningkat. Salah satu ciri yang menonjol dari remaja Aceh yaitu kedekatan dengan orang tua, baik secara fisik dan psikologis karena remaja dapat meluangkanlebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktuuntuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas (Desmita,2005). Masalah yang dihadapi oleh remaja dengan orang tuanya adalah sulitnyamengadakan komunikasi, sebagian remaja Aceh lebih terbuka pada teman-temansebayanya, dengan cara menceritakan masalah yang remaja alami. Selain itu, dengan adanya proses belajar dari pengalaman masa laluyang dialami oleh rakyat Aceh menjadikan remaja Aceh lebih kuat dan tabah menghadapi cobaan yang menimpa dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *