SAAT NYA HARGA BBM TURUN

Suaramedannews.com – Pemerintah sampai saat ini belum mengambil sikap soal harga BBM di tengah anjloknya harga minyak dunia, harga minyak yang sangat rendah, bahkan di bawah US$ 27 per barel, level terendah sejak 20 tahun terakhir. Pemerintah dan Pertamina punya kesempatan bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk menurunkan harga BBM. Terlebih lagi rendahnya harga minyak sudah berlangsung dalam jangka waktu lama. Penyebabnya adalah karena permintaan minyak yang terus berkurang.

 

Pertamina lebih sigap menyesuaikan harga BBM ketika harga minyak dunia naik ketimbang saat harga sedang turun. Padahal, penurunan harga BBM bisa jadi stimulus tambahan di tengah wabah COVID-19. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai Badan Usaha Milik Negara, Pertamina punya peran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tugas utama Pertamina itu kan tidak hanya mencari profit , juga ada tujuan lain yang ingin dicapai meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data Bloomberg, per pukul 15.38 WIB Jumat (17/4/2020), harga minyak mentah golongan West Texas Intermediate untuk kontrak Mei 2020 berada di angka 18,34 dolar AS per barel. Sementara harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juni berada di angka 27.76 dolar AS per barel. Mestinya Pertamina itu sudah menurunkan harga BBM, khususnya yang non-subsidi. Karena harga BBM non-subsidi itu penetapan harganya itu kan berdasarkan mekanisme pasar, dan harga acuan minyak dunia yang digunakan pertamina untuk menentukan harga BBM. BUMN harus segera koordinasi dengan regulator yaitu Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) agar melakukan penyesuaian harga BBM saat ini.

Kita harus berhitung sebenarnya berapa harga BBM RON 88 saat ini. Formula harga dasar BBM Premium diatur dalam Keputusan Menteri ESDM No 62 Tahun 2019, dimana Bensin RON 88 ditetapkan dengan formula 96,46% MOPS untuk Mogas92+Rp 821,00/liter. Harga minyak mentah Indonesia atau ICP bulan Maret 2020 sekitar US$ 34 per barrel. Sedangkan berdasarkan rata-rata, harga MOPS untuk Mogas 92 sekitar US$ 14 per barrel diatas ICP. Sehingga MOPS benchmarking tersebut sebesar US$ 48. Kemudian dengan kurs rupiah sebesar Rp 16.000 maka didapatkan harga dasar Bensin RON 88 sebesar Rp 4.853 per liter. Kita kalikan dengan 0,9646 dan ditambahkan Rp 821 maka harga dasar BBM Premium RON 88 adalah Rp 5.473 per liternya. Kemudian kita tambahkan dengan PPN 10% dan PBBKB 5% maka didapatkan harga jual BBM Premium RON 88 adalah sebesar Rp 6.300 per liternya. Dengan formula tersebut, maka selayaknya BBM saat ini sudah bisa turun harga.

Pasar minyak berada di bawah tekanan kuat dari kedua kekhawatiran tentang kehancuran permintaan karena pandemi virus korona menyebar dan kelebihan pasokan setelah eksportir utama Arab Saudi meningkatkan produksinya dan memangkas harga untuk meningkatkan penjualan kepada konsumen di Asia dan Eropa. harga BBM di Amerika hanya US$1,6 per galon atau setara dengan Rp6.800 per liter. Dengan gaji buruh US$10 dolar per jam, harga BBM di Amerika itu begitu murahnya. Hal ini mengingatkan bagaimana hebohnya ketika harga minyak dunia turun drastis ke level 30 dolar per barel pada tiga pekan lalu akibat perang minyak antara Arab Saudi dan Rusia.Saudi ingin produksi minyak dikurangi, agar harga bisa naik. Waktu itu harganya masih 50 dolar/barel, dianggap terlalu rendah. Rusia tidak mau menurunkan produksi minyaknya merasa tidak terikat dengan keputusan OPEC organisasi negara pengekspor minyak.

Arab Saudi pun marah sehingga membanting harga minyaknya, sekaligus menaikkan produksinya menjadi 12 juta barel per hari. Naik 2 juta barel/hari dari biasanya, dan sekarang harga itu turun lagi , turun sendiri dimana produksi minyak bertambah banyak sedang pemakaian BBM menurun drastis di mana-mana. strategi Arab Saudi untuk membanjiri pasar dengan minyak mentah demi merebut kembali pangsa pasar. Arab Saudi mengejutkan pasar dengan meluncurkan perang harga terhadap Rusia. Gejolak itu terjadi setelah adanya ketegangan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC dengan Rusia. Rusia menolak mengikuti upaya OPEC untuk menyelamatkan pasar minyak yang rusak karena virus corona dengan memangkas produksi.

Akibat demam corona , jangan sampai lupa, berapa harga minyak mentah sekarang. Dengan momentum harga minyak dunia yang sedang rendah saat ini, maka penurunan BBM akan memberikan dampak yang besar terhadap ekonomi Indonesia, yang dapat dirasakan masyarakat pasalnya, dengan harga BBM yang rendah, nantinya diharapkan bisa membuat harga bahan pangan menjadi turun, dan lebih membantu golongan berpendapatan rendah serta penurunan harga BBM diproyeksikan mampu mendorong daya beli masyarakat di tengah kondisi perlambatan ekonomi akibat penyebaran virus corona. Keberadaan BBM selama ini telah menjadi komoditas utama bagi kelangsungan aktivitas masyarakat dari sektor energi.Kita semua menunggu kebijakan dari pemerintah agar dapat merealisasikan penurunan harga BBM ini. Adapun harga jual BBM non-subsidi Pertamina di stasiun pengisian bahan bakar saat ini antara lain Pertamax Turbo Rp 9.850 per liter, Pertamax Rp 9.000 per liter, Pertalite Rp 7.650 per liter, Pertamina Dex Rp 10.200 per liter, dan Dexlite Rp 9.500 per liter.

Menyikapi nilai jualnya kepada masyarakat, di satu sisi jangan sampai ada kesan mengeksploitasi masyarakat dengan memberi harga terlalu tinggi jauh dari nilai keekonomian, juga jangan terlalu rendah sehingga membutuhkan subsidi yang tinggi dari pemerintah.

Bila menggunakan paramater baru yang sedang terjadi, yaitu USD senilai Rp16.000 dan harga minyak USD35 per barrel, maka harga minyak mentah setara Rp3.500, ditambah biaya pengolahan, transportasi, dan PPn maka bisa menjadi Rp4.500, bila ditambah keuntungan Pertamina 10% maka akan menjadi seharga Rp5.000. Untuk menjaga kelangsungan tugas pertamina dalam menjalankan sprogram BBM Satu Harga sampai ke pelosok ditambah menutupi penurunan pendapatan di sisi hulu. Maka masih pantas ditambah lagi dengan nilai Rp500 sampai 1.000 per liter BBM.

Penurunan harga bahan bakar minyak nantinya diharapkan dapat mendongkrak ekonomi Indonesia yang sedang tekanan akibat mewabahnya virus corona atau Covid-19, memberikan stimulus ekonomi bagi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dan terlebih karena efek Covid-19 , Selain itu, harga BBM yang murah dapat membantu sejumlah sektor di antaranya adalah transportasi, industri pada karya dan pada modal, sehingga harapannya dapat menumbuhkan ekonomi domestik, ini menjadi kesempatan bagi Pertamina untuk menarik para pengguna Premium ke BBM jenis Pertamax series dengan disparitas harga yang tidak terlalu tinggi dengan Premium maupun Pertalite dan dapat membebaskan pemerintah dari beban subsidi BBM, bahkan subsidi energi yang dampaknya akan bagus untuk kesehatan fiskal atau APBN. Pemerintah mesti konsisten dan tidak politis dalam arti, saat harga minyak rendah, harga BBM turun, saat nanti ada pergerakan harga naik, ada evaluasi lagi dan harga bbm juga dapat disesuaikan di tingkatan harga yang baik untuk daya beli masyarakat maupun APBN. Penurunan harga BBM dalam waktu dekat memungkinkan untuk dilakukan dan rasional. Pasalnya, proyeksi harga minyak pada semester I/2020 diproyeksikan lebih rendah dari US$40 per barel secara rata-rata. Sementara itu, pada semester II/2020, harganya minyak dunia diprediksi hanya akan naik sedikit pada level di bawah US$50 barel secara rata-rata.

 

Sunarji Harahap

Dosen FEBI UIN SU /Pengamat Ekonomi / Penulis Mendunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *