SEJARAH BERDIRINYA GASPI ( GABUNGAN SILAT PEMUDA ISLAM )

Suaramedannews.com- Gabungan Silat Pemuda Islam atau biasa disebut dengan GASPI merupakan seni beladiri yang lahir dan berkembang di daerah pesantren, khususnya di Pondok Pesanten Sunan Drajat sebagai pusat latihan dan tempat berdirinya. Pada tahun 1972 Prof. DR. KH Abdul Ghofur yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat mendirikan pencak silat GASPI, pada masa perintisan beliau dibantu oleh 2 tokoh yaitu Mbah Abu Bakrin dan Mbah Mail.

GASPI merupakan seni bela diri tradisional yang keberadaanya tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum, dikarenakan seni beladiri ini muncul hanya sebagai pancingan bagi para santri yang belajar mengaji, supaya giat dalam belajar ilmu agama.

Pada awal berdirinya GASPI Romo KH. Abdul Ghofur hanya mengajar beberapa pemuda dari Desa Banjaranyar dan sekitarnya saja, dengan tujuan agar para pemuda yang diajar GASPI itu mau belajar mengaji dan mondok khususnya di Pondok Pesantren Sunan Drajat.

Menurut pendapat beliau belajar bela diri itu hanya sarana (jalan), untuk menghasilkan tujuan yang lebih bermanfaat yakni belajar ilmu agama.

Prof. DR. KH Abdul Ghofur mendirikan GASPI dengan tujuan dakwah lewat pencak silat, akhirnya pada tahun 1972 beliau bersama para pendekar- pendekar GASPI mulai merintis Pondok Pesantren Sunan Drajat yang berada di Banjaranyaar Paciran Lamongan, dengan para pendekar yang diajar oleh beliau mereka diajak untuk mengangkat pasir yang diambil dari laut untuk meratakan tanah di Pondok Pesantren Sunan Drajat.

Tahun 1973, beberapa anggota GASPI mengikuti acara pentas seni di Desa Banyubang Kecamatan Solokuro. Pak Mad Urifan bersama dulur – dulur GASPI yang telah mendapatkan gemblengan Prof. DR. KH Abdul Ghofur turut serta memperlihatkan berbagai ketegasan, mereka beratraksi dengan pedang, tombak, berjalan di atas tali, kekebalan tubuh, makan beling dll. Pertunjukan inipun merebut perhatian di banyak kalangan dan semakin mempopulerkan nama KH. Abdul Ghofur dan nama GASPI, Dari pertunjukan akrobat itu Prof. DR. KH Abdul Ghofur diberi uang sebesar Rp 17.000 suatu jumlah yang telah melelehkan air mata Prof. DR. KH Abdul Ghofur dan para dulur – dulur GASPI.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah, Kita gunakan uang ini untuk membeli bahan-bahan bangunan.” ucap Kh. Abdul Ghofur.

“injih”, sambut dulur – dulur GASPI.
Akhir tahun 1973 Prof. DR. KH Abdul Ghofur kembali lagi untuk mencari ilmu di pesantren-pesantren dan GASPI sendiri di teruskan oleh muritnya yang bernama Kak Wujud Efendi (aji gondrong), tahun demi tahun berjalan akhirnya pada tahun 1975 Prof. DR. KH Abdul Ghofur pulang dari pesantren.

Bersama dulur GASPI Prof. DR. KH Abdul Ghofur pulang dari tugasnya di Kalimantan, pada tahun 1977 an beliau melatih pencak silat selama 2 minggu di Bumi Borneo itu, mereka bergegas pulang, sebab Banjaranyar seperti telah menjerit-jerit, memanggil-manggil agar di atas tanah petilasan Sunan Drajat ini segera di bangun sebuah pesantren. Prof. DR. KH Abdul Ghofur pulang dengan membawa rejeki yang cukup untuk membeli bahan-bahan bangunan.

Hari itu tanggal 7 September 1977, tumpeng berukuran besar telah dibuat. Mbah Maftukhan dan KH. Abdul Ghofur tak bisa menyembunyikan keharuan dalam dadanya. Wajah mereka bersinar,bercahaya. Semua orang yang memiliki pertalian darah dengan Sunan Drajat sepekat untuk membangun pesantren di atas petilasan ini. Tak ada yang protes apalagi saling berebutan untuk kuasa- menguasahi. Semua ikhlas, Ikhlas menunjuk KH. Abdul Ghofur sebagai pemimpin pesantren nanti. Iklhas dan mendukung usaha dan jerih payah Mbah Maftukhan dan KH. Abdul Ghofur. Demi tegaknya Islam di atas bumi Banjaranyar ini.
Gabungan Silat Pemuda Islam didirikan dengan tujuan:
Menjalin ukhuwah islamiah.
Melestarikan budaya asli Indonesia.
Menyeimbangkan antara kekuatan jasmani dan rohani.

Mendidik pesilat yang berjiwa Islami.
Sebagai olahraga.
Sebagai beladiri.

Para pemuda yang di ajar oleh Prof. DR. KH Abdul Ghofur antara lain : 1. Pak Karham (Kemantren), Kak Aji gondrong Alm (Banjaranyar), H Abdul Qohar (Banjaranyar) , Bang Tejo (Banjarwati), H Mansyur (Banjaranyar), Kak Ujud Alm (Banjaranyar), Muhammad Urifan Alm (Banjaranyar) dan Pak Roman (Banjaranyar).

Dari murid-murid beliau yang terus mengajar di pesantren adalah Kak Ujud Efendi (Alm), sayangnya baru beberapa tahun mengajar, beliau di panggil oleh yang maha kuasa dan akhirnya diteruskan oleh muridnya Kak Sumarno.

Menurut cerita, jurus-jurus yang berkembang sekarang ini, sebagian sudah dipadukan dan dikombinasikan dengan pengalaman-pengalaman Kak Ujud tentang beladiri, karena beliau termasuk pendekar terkenal, yang sering diajak tukar pengalaman oleh pendekar-pendekar seluruh Indonesia. Dalam mengkombinasikan dan memadukan jurus-jurus tersebut, beliau di awasi dan di bimbing oleh gurunya (Prof. DR. KH Abdul Ghofur). Hal ini didasari oleh Qoidah Ushul Fiqih Al muhafadhotu ‘alaal qodimis sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah (Menjaga yang lama yang masih baik, mengambil yang baru yang lebih baik).

GASPI merupakan bela diri berdasarkan seni untuk pengembangan tubuh dan jiwa, GASPI bukan hanya merupakan bela diri yang keras seperti bela diri kebanyakan yang hanya mencari keunggulan semata. GASPI adalah Bela Diri yang berdasarkan akhlak agama, dengan bukti jurus- jurusnya kebanyakan diambil dari “Lafadz-lafadz Al Quran.

Bagaimana kita menghadapi lawan, bagaimana memukul, bagaimana menendang, bagaiman menerima serangan lawan, semuanya itu di latih dan di kembangkan berdasarkan seni dan akhlak. Kata wong jowo Toto Kromo ditoto supoyo duwe karomah (kamulyan). Kata Lawan dalam bela diri sudah menjadi sesuatu yang biasa, karena dalam bela diri, kita membutukan lawan untuk patner dalam menguji teknik kita.

Dalam GASPI sesunggunya lawan yang paling berat ada di dalam tubuh kita (hawa nafsu).

GASPI merupakan seni bela diri yang berkembang di pesantren, keberadaanya untuk menunjang pendidikan di pesantren khususnya Pondok Pesantren Sunan Drajat. Dalam pengembanganya GASPI mendidik pesilatnya untuk mempunyai pendirian serta keyakinan kokoh, peka terhadap lingkungan, selalu berhati- hati dalam melangkah, berani berkorban demi hasil yang besar, Siap menghadapi rintangan dalam berjuang, serta mendidik pesilatnya agar mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah lewat doa dan tawakal.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memberi panjang yuswo, serta paring wilujeng sehat jasmani dan rohani dateng Syaikhina wa murobbi ruhina shohibil fadlilah wa sa’adah Romo KH. Abdul Ghofur.”
Amiin yaa robbal alamiin.
(Dok.Gapsi/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close