Sejarah Bulan Syawal Dan 6 Peristiwa Penting Juga 4 Keistimewaannya

Suaramedannews.com, – BULAN Syawal adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriyah yang penuh keutamaan dan keistimewaan. Berada tepat dibelakang bulan Ramadhan, kalangan ulama dan fukaha menilai syawal sebagai bulan pelaksanaan konsep Idul Fitri yang bermakna kembali ke fitrah.

Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya seekor unta yang mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” (Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin – karya Muhammad bin ‘Allan al Shiddiqi al Syafii al Maki)

Seusai bulan syawal, orang akan memasuki bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam. Dimana pada tiga bulan ini, tidak dibolehkan terjadinya peperangan.

Banyak orang beranggapan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, dalam arti peningkatan amal dan kebaikan. Akan tetapi, kurang tepat jika dikatakan bahwa sebab mengapa bulan ini dinamakan Syawal adalah karena seusai ramadhan, manusia melakukan peningkatan dalam beramal dan berbuat baik.

Status bulan Syawal kemudian berubah ketika ajaran Islam mulai disemai Rasulullah SAW, budaya dan tradisi jahiliyah itu sirna seiring meluasnya pengaruh Islam di jazirah Arab. Selain itu sejarah awal Islam juga mencatat sejumlah momen penting di bulan Syawal.

Beberapa diantaranya bahkan memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan pengembangan agama Islam di fase berikutnya, salah satunya adalah perang Uhud yang berlangsung pada 15 Syawal 3 Hijriyah atau Ahad 31 Maret 625M.

Peristiwa penting lainnya adalah terjadinya Perang Bani Qainuqa, disini pasukan kaum muslim yang dipimpin Rasulullah memerangi kaum yahudi lataran mereka memerangi kaum muslim, mereka juga yang pertama menghianati perjanjian yang dibuat kedua belah pihak.

6 Peristiwa Penting Di Bulan Syawal :

Pertama, Perang Uhud yang pecah pada 15 Syawal, yakni tiga tahun setelah hij rah nya Nabi SAW. Sebanyak 700 pasukan Muslim berhadapan dengan sekitar 3. 000 pasukan musyrik. Awalnya, umat Islam mendominasi jalannya pertem puran. Orang-orang musyrik terdesak sehingga meninggalkan harta benda yang me reka bawa. Di sinilah sekelompok pasukan Muslim yang bertugas sebagai pemanah di puncak-puncak bukit lengah.

Mereka lantas turun meskipun sebelum nya Rasulullah SAW telah berpesan agar mereka tetap bertahan, apa pun yang terjadi di tengah medan laga. Khalid bin Walid, yang waktu itu masih kafir, dan anak buahnya melihat celah untuk menyerang balik. Akhirnya, barisan Muslimin kocar-kacir. Bahkan, Rasulullah SAW mengalami luka-luka yang cukup pa rah. Alquran surah Ali Imran ayat 121 turun berkenaan dengan peristiwa ini.

Kedua, Perang Bani Qainuqa yang terjadi pada Syawal tahun kedua hijrah. Kali ini, umat Islam Madinah menghadapi fitnah yang dilancarkan kaum Yahudi. Lantaran kejahatan dan pengkhianatan kaum Yahudi itu sudah keterlaluan, Rasulullah memutuskan mengusir mereka dari Madinah. Beliau memimpin pasukan Muslim untuk menghalau mereka keluar.

Ketiga, Perang Bani Sulaim yang terjadi pada Syawal juga di tahun kedua hijrah. Lokasinya ada di Kudri. Saat itu, ada sekitar 200 orang pasukan Muslim yang berarak menuju Qarqarah al-Kadri. Rasulullah memimpin mereka dalam menghadapi Bani Sulaim dan Gathafan. Namun, musuh-musuh Islam itu pada akhir nya melarikan diri.

Keempat, Perang Khandaq yang berlangsung pada Syawal, lima tahun setelah hijrah. Ini merupakan kali pertama perang dengan strategi yang dicetuskan seorang Persia-Muslim, Salman al-Farisi. Di negerinya, kubu-kubu menciptakan parit yang dalam dan lebar guna menghalau pasukan musuh. Rasulullah menyetujui ide ini setelah berunding dengan para sa habat, termasuk Salman. Bahkan, Ra sulullah dengan tangannya sendiri ikut ber sama- sama membangun parit perta hanan itu.

Total pasukan Muslim menca pai 3. 000 orang, sedangkan pasukan seku tu kaum musyrik sebanyak seribu orang. Dalam perang ini, kubu musyrikin me ngalami kekalahan karena diterjang angin puyuh setelah menunggu lama di luar parit.

Kelima, Perang Hunain, terjadi pada tahun kedelapan Hijriyah pada Syawal. Saat itu, kaum Muslim menghadapi suku Hawazin dan suku Tsaqif. Dua pekan lamanya Perang Hunain berlangsung setelah Rasulullah berhasil memimpin kaum Muslim dalam menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah. Dengan demikian, pasukan Muslim di medan Hunain cukup diuntungkan dengan kondisi men tal yang penuh kegemilangan. Dari total 12 ribu pasukan Muslim, sebanyak 2. 000 di antaranya berasal dari dukungan Quraisy Makkah. Hasilnya, Perang Hunain dimenangkan kaum Muslim.

Keenam, pengepungan Thaif yang meru pakan imbas dari Perang Hunain. Di sini, sisa-sisa kekuatan suku Hawazin dan Tsaqif yang berhasil melarikan diri dari Perang Hunain bertahan di benteng yang cukup kuat. Namun, pasukan Muslim meng gempur benteng tersebut dengan pelbagai pesenjataan, termasuk pelempar batu (manjaniq) dan pendobrak (dab babah).

Dalam Syawal, hal istimewa lainnya adalah berlangsungnya pernikahan Nabi Mu hammad SAW dengan Ummul Mu`minin, `Aisyah. Pada bulan Syawal pula, Rasulullah SAW menikah dengan Ummu Salamah.

Kejadian lainnya yang patut dicatat adalah kelahiran Imam Bukhari. Pada Syawal 194 Hijriyah, sosok ini lahir. Sepanjang hayatnya, beliau amat berjasa dalam merealisasikan kompilasi hadis- hadis Nabi SAW. Karyanya, Shahih al- Bukhari,masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Uniknya, guru Imam Muslim ini juga wafat pada bulan Syawal, tepatnya di malam Idul Fitri 256 Hijriyah. Jasadnya dimakamkan di Samarkand usai shalat.

4 Keistimewaan Di Bulan Syawal

1.Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal

Keistimewaan bulan syawal yang pertama adalah puasa 6 hari di bulan syawal. Puasa 6 hari pada bulan syawal ini biasanya dilakukan mulai hari kedua bulan syawal, karena di hari pertama, yaitu saat hari raya idul fitri diharamkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Setelah menjalani puasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan, puasa 6 hari di bulan syawal ini menjadi pelengkap atau penyempurna amalan pada bulan Ramadan.

Walaupun biasa dilakukan pada hari kedua bulan syawal, banyak juga yang melaksanakan ibadah puasa 6 hari di bulan syawal ini pada minggu kedua bulan syawal. Hal ini disebabkan karena minggu pertama syawal kebanyakan orang masih merayakan hari raya idul fitri dengan bersilaturahmi ke rumah keluarga maupun teman. Saat bersilaturahmi ini biasanya disertai dengan makan dan minum dalam rangka lebaran.

Keutamaan puasa Syawal terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Muslim. Hadits itu berasal dari Abu Ayyub Al Anshori yang pernah mendengar sabda Nabi Muhammad SAW.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR Muslim).

Dengan keutamaan puasa 6 hari di bulan syawal ini, tentunya akan sangat merugi bila seorang muslim tidak memanfaatkan salah satu keistimewaan bulan syawal ini. Dengan hanya mencukupkan puasa Ramadan dengan puasa 6 hari di bulan syawal membuat kamu memndapatkan pahala seakan berpuasa setahun penuh. Maka dari itu, puasa 6 hari di bulan syawal merupakan salah satu keistimewaan bulan syawal yang paling besar pahalanya bagi umat islam, walaupun merupakan ibadah sunah. Melaksanakan puasa 6 hari di bulan syawal juga merupakan wujud rasa syukur dan memohon ampunan kepada Allah SWT bagi seluruh umat muslim. .

2. I’tikaf Di Bulan Syawal

Melakukan i’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid merupakan salah satu keistimewaan di bulan syawal. Maksud berdiam diri ini tentunya bukan hanya berdiam diri saja di dalam masjid tanpa melakukan apa-apa. Berbagai amalan dan ibadah dapat dilakukan selama melaksanakan I’tikaf. I’tikaf merupakan cara seorang hamba lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berzikir, melaksanakan salat 5 waktu dan salat sunah, serta membaca Al-Quran.

Biasanya I’tikaf dilaksanakan seminggu terakhir di bulan Ramadan. Pelaksanaan I’tikaf banyak yang dilakukan saat malam hari saja, ada juga yang benar-benar melaksanakannya seharian penuh tanpa kelaur dari masjid, kecuali untuk makan.

I’tikaf ternyata bisa juga dilakukan di bulan syawal, apabila pada bulan Ramadan kamu tidak sempat melaksanakannya. Jadi keistimewaan bulan syawal selanjutnya adalah sebagai waktu untuk mengganti ibadah I’tikaf yang terlewat atau tidak sempat dilaksanakan saat bulan Ramadan. Bulan syawal hadir sebagai penyempurna dan penambal amalan-amalan yang tidak dapat dilaksanakan saat bulan Ramadan.

3. Menikah Di Bulan Syawal

Keistimewaan bulan syawal selanjutnya adalah melaksanakan pernikahan. Tentunya kamu tidak asing lagi dengan keistimewaan bulan syawal satu ini, pasalnya sering sekali setelah hari raya idul fitri banyak umat islam yang melaksanakan pernikahan. Menikah pada tanggal berapapun dan pada hari apapun di bulan syawal merupakan suatu kebaikan bagi yang melaksanakannya.

Seperti yang dikisahkan dalam hadits muslim dari istri rasul Aisyah RA.

“Rasulullah SAW menikahiku saat bulan syawal dan mengadakan malam pertama dengan aku di bulan syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian selain aku?” (HR. Muslim, An Nasa’i).

Jadi menikah di bulan syawal merupakan salah satu sunah rasul, dimana Nabi Muhammad SAW menikah pada bulan syawal.

4. Bulan Silaturahmi

Bersilaturahmi merupakan salah satu ibadah yang tidak asing lagi di bulan syawal. Salah satu keistimewaan bulan syawal ini biasanya dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti mudik ke kampung halaman dan saling bermaafan dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman. Jadi tidak heran bila bulan syawal begitu istimewa dengan menjadi salah satu bulan dimana kebanyakan umat muslim bersilaturahmi. Bulan syawal merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT dengan silaturahmi dan bermaaf-maafan yang dilaksanakan oleh seluruh umat islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *