Seni Budaya Masih Terjaga di Hutaimbabaru

Beberapa kelurahan dan desa di Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru banyak terdapat kelompok seni budaya daerah yang sekaligus sebagai tempat pembinaan warisan daerah tersebut.  Hal itu diungkapkan Camat Padangsidimpuan Hutaimbaru, Kamis (1/9).

Sayidiman Pulungan mengungkapkan, di antara jenis seni-budaya dan kearifan lokal yang masih lestari di daerahnya meskipun mulai menurun.

Seperti Marosong-osong dan musik Nungneng, Marosong-osong merupakan kearifan lokal yang menjadi tradisi, dengan sahut-bersahut dua kelompok yang menggunakan bahasa santun dan pantun saat bertandang atau menerima tamu.

Tentang Nungneng, merupakan sejenis alat musit etnik yang sudah mulai hilang dari pengetahuan generasi dan masyarakat desa. “Untuk Marosong-osong sampai hari ini di Kelurahan Lubuk Raya hingga Lembah Lubuk Manik masih ada setiap malam dalam seminggu sekali, naposo nauli bulungnya berlatih dan itu terus dibina, katanya.

Sementara, Nungneng, katanya, hanya ada sisa di Desa Tinjoman dan alat musiknya sendiri tinggal beberapa orang di desa itu yang mampu memainkannya. Selain Marosong-osong, ada juga pelatihan seni budaya margondang dan maronang-onang yang secara swadaya dari pelaku seni kebudayaan daerah di Kelurahan Palopat Maria.

Beberapa tempat yang disebutkan camat tersebut, belum ada yang terpusat dan dikelola dengan baik sehingga dapat menjadi daya tarik daerah dalam kebudayaan. Acara pertunjukan seni dan kearifan budaya yang sering kita buat ada di Gedung Tagor, hanya sekilas itu saja. Memang ada beberapa perkumpulan seni yang dibina langsung dari dinas, tapi saya lupa pastinya. Harapan kita ini akan terus dibina untuk menjaga kelestariannya sebagai kekayaan daerah kita, ungkapnya.

Sebelumnya, salah seorang budayawan Mahlil Pasaribu Baginda Soamalon, beberapa waktu lalu saat ditemui, Jum’at (30/8) di rumah kecilnya di Palopat Maria, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru menyimpulkan, pelestarian adat budaya sebagai kekayaan daerah ini sangat perlu ditopang oleh pemerintah daerah.

Dalam tatanan adat di Kota Padangsidimpuan, Mahlil yang dalam tatanan pekerjaan adat biasa mengambil tempat sebagai na pande halok-halok atau biasa disebut orang kaya (Master of Ceremony/MC). Begitu juga di Kabupaten Tapanuli Selatan, tepatnya di Istana Hasadaon, ia tetap memiliki tugas sebagai orang kaya.

Selain fungsinya sebagai orang kaya adat di Kota Padangsidimpuan, Mahlil di rumahnya kerap melatih dan mengajari anak-anak kampung dengan seni, adat dan kekayaan budaya yang dimiliki Tapanuli Bagian Selatan seperti markobar, maronang-onang dan marpantun.

Kampung kita sudah sering mendapat piala pada festival-festival adat,” ucapnya ahli dalam memainkan musikal gondang dan melantunkan onang-onang, itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close