SUMATERA UTARA, SURGANYA INDUSTRI PERKEBUNAN DI INDONESIA

Suaramedannews.com – Sumatera Utara, memang terkenal dengan Danau Toba dan Pulau Samosirnya. Hal ini menjelaskan bahwa propinsi yang berada di Pulau Sumatera ini banyak menjanjikan potensi wisata yang luar biasa. Namun ternyata hal itu bukan satu-satunya potensi yang dimiliki Sumatera Utara. Karena ternyata, hasil perkebunan saat ini bisa menjadikan Sumatera Utara surganya hasil perkebunan yang ada di Indonesia.

Menariknya potensi di sektor agro industri untuk Propinsi Sumatera Utara, memang bukan terjadi saat ini saja. Sejatinya kondisi ini sudah berlangsung lama, namun lantaran kurangnya eksposur terkait kondisi diatas itulah yang pada akhirnya membuat kondisi bisnis agro industri yang ada di Sumatera Utara kurang ter publikasi dengan baik.

Karena hingga saat ini, sebenarnya ketika kita bicara soal bisnis agro industri yang ada di Propinsi Sumatera Utara maka beberapa komoditi seperti : Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Coklat dan Tembakau bisa dikatakan salah satu penghasil terbaiknya adalah dari Sumatera Utara. Contoh menariknya adalah salah satu hasil komoditi agro industri Sumatera Utara seperti Tembakau khususnya yang berasal dari Deli sudah begitu terkenal hingga sampai Kota Bremen Germany.

Semua hal itu membuktikan bahwa Sumatera Utara memang menyimpan begitu banyak potensi dari agro industri di Indonesia. Berdasarkan hal itulah, hingga pada akhirnya beberapa negara luar tertarik untuk mencoba melakukan kolaborasi bisnis dengan Indonesia yaitu melalui Propinsi Sumatera Utara dalam beberapa komoditi hasil pertanian.

Salah satunya adalah investor yang berasal dari Kazakhstan dan Tajikistan. Kedua negara yang masuk dalam kawasan Asia Selatan ini memang satu group dengan beberapa negara lain seperti : Kazakhstan (pop. 18 million), Kyrgyzstan (6 million), Tajikistan (9 million), Turkmenistan (6 million), and Uzbekistan (33 million).[4] Afghanistan (pop. 35 million).

Terjalinnya keinginan untuk bekerja sama dalam sektor agro industri memang bukan terjadi begitu saja. Hal itu terjadi setelah kedua negara tersebut yang di wakili oleh pejabat-pejabat terkaitnya sempat melakukan kunjungan ke beberapa lokasi seperti : Brastagi, Tarutung dan beberapa daerah lain yang ada di Kabupaten Simalungun Dimana dalam kunjungan kerja tersebut mereka tertarik untuk mengamati produk perkebunan seperti : produk agro industri Kopi, Teh dan Coklat.

Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat mereka memutuskan untuk mencoba melakukan kerja sama. (1) Potensi yang di miliki Sumatera Utara dalam industri agro sudah tidak di ragukan lagi. Mengingat saat ini beberapa produk agro yang berasal dari Sumatera Utara sudah terkenal tidak saja di Indonesia tetapi juga di mancanegara. (2) Saat ini dan ke depan, keunggulan yang diberikan Sumatera Utara dalam bisnis agro, karena memang propinsi ini di arahkan oleh Pemerintah Pusat menjadi salah satu pusat produk pertanian unggul yang bernilai jual tinggi.

TEKNOLOGI ,KUNCI KESUKSESAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DI INDONESIA
Terkait dengan besarnya potensi bisnis yang ada dalam industri agro di Indonesia. Maka saat ini agaknya menjadi momentum terbaiknya Indonesia dalam pengembangan industri agro berbasis teknologi informasi. Kondisi seperti ini mungkin saja terjadi karena memang Era Industri 4.0 yang saat ini sedang terjadi memungkinkan semua sektor industri terkoneksi dengan teknologi.

Beberapa hal berikut bisa menjadi contoh bagaimana integrasi menjadi satu cara terbaik untuk meningkatkan potensi industri agro di Indonesia. Contoh kasus Perkebunan Kelapa Sawit misalnya, selama ini, perkebunan kelapa sawit terkendala dengan isu lingkungan. Solusi terbaiknya adalah dengan (1) Meningkatkan konsumsi biodiesel domestik melalui mandatory Biodiesel B-20 (PSO dan Non-PSO). (2) Mencoba melakukan terobosan dengan mencari pasar ekspor biodiesel non konvensional kepada :Jepang, Tiongkok, India, Malaysia, negara-negara di Timur Tengah serta Asia Tengah dan Utara (3) Mencoba memaksimalkan pemanfaatan dana desa, seperti yang disampaikan oleh Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) bahwa tahun ini besarannya lebih Rp40 triliun. Melihat besarnya potensi itulah yang pada akhirnya membuat Enny menyarankan agar besaran anggaran tersebut bisa di alihkan beberapa prosen untuk peningkatan pembangunan infrastruktur daerah/desa yang disesuaikan dengan keunggulan komoditas agro dari masing-masing daerahnya.

Terkait kondisi yang terjadi pada industri agro yang ada di Indonesia. Handri Kosada, CEO Barantum memberikan statemennya ,” Integrasi bisnis memang akan efektif jika di perkuat dengan adanya implementasi dari sisi teknologi informasi. Dimana saat ini lanjut Handri (www.barantum.com) ada satu sistem yang bisa memungkinkan beberapa sektor industri terkoneksi dengan sebuah aplikasi sistem yang biasa di sebut dengan istilah CRM. Kondisi ini bisa menjadi satu perhatian khusus, mengingat saat ini sektor Agro Industri juga masuk menjadi salah satu sektor industri unggulan dalam Era Industri 4.0 yang ada di Indonesia.

Realisasi dari kolaborasi bisnis yang coba di bangun antara pelaku industri agro dengan pebisnis teknologi digital dapat coba di realisasikan dengan menyesuaikan karakter bisnis yang terjadi dalam Era Industri 4.0 : (1). Interoperabilitas ( kesesuaian). Karakter industri 4.0 mengharuskan industri yang bersangkutan harus memiliki kondisi dimana kemampuan mesin, perangkat kerja, sensor sistem dan manusianya harus bisa ter-koneksi dan berkomunikasi dengan baik satu dengan lainnya lewat perangkat internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP).

(2) Sebuah industri yang sudah berbasis 4.0, pada akhirnya harus bisa memberikan transparansi secara informasi. Realisasinya adalah bahwa pada prinsipnya sebuah perusahaan membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar bisa di olah sehingga menghasilkan informasi konteks yang bernilai tinggi. Terkait dengan dua hal yang berhubungan dengan karakter industri 4.0, maka Handri menyarankan agar pelaku industri tersebut mulai mengimplementasikan satu sistem yang bernama CRM ( Customer Relationship Management). Adalah sistem aplikasi CRM yang akan mampu memberikan kontribusi report yang berdasarkan updating data ter-kini-nya. Bersumber dari database customer/ klien, pada akhirnya CRM bisa di jadikan salah satu media koordinasi antara Pemerintah dengan pelaku industri yang ada di daerah-daerah pada saat pemerintah ingin merealisasikan pemanfaatan dana desa yang saat ini jumlahnya Rp40 triliun menjadi lebih ter-konsep dan terarah dengan baik (achmad s)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close