Kirab kebangsaan TMP di Lapangan Mini Serbaguna, Jalan Raja Saul Lumbantobing Tarutung, Kabupaten Taput bersamaan dengan Hari Lahir Pancasila, Kamis (1/6/2017).

TMP Gelar ‘Kirab Kebangsaan’ Peringati Hari Lahir Pancasila

SUARAMEDANNEWS.com, Tarutung – Taruna Merah Putih (TMP) kembali menggelar kirab kebangsaan dalam rangka menyambut hari lahir Pancasila yang selalu diperingati pada 1 Juni setiap tahunnya. Kirab kebangsaan kali ini dipusatkan di Lapangan Mini Serbaguna, Jalan Raja Saul Lumbantobing Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Kamis (1/6/2017).

Kirab kebangsaan ini dihadiri sekitar 4.000 massa dari berbagai kelompok masyarakat setempat. Kegiatan yang ruton digelar TMP itu juga menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya.

Tarian daerah yg ditampilkan seperti tarian Tor Tor, Tarian Nias, Tarian etnis Tionghoa, persembahan lagu dari etnis Jawa. Ada juga Rizal pengamen dari Sumedang, Jawa Barat dibina oleh bang Ara.

Kirab kebangsaan dibuka langsung oleh Ketua Umum (Ketum) TMP, Maruarar Sirait. Hadir sebagai host acara adalah anggota DPR RI dari Fraksi PDIP yang juga ketua DPD TMP Jawa Barat Nico Siahaan, penyanyi Edo Kondoligit, Rolas Sitinjak dan Bupati Taput Nikson Nababan serta Mangapul Purba dari DPD PDIP Sumut.

Dalam sambutannya, bang Ara biasa akrab disapa Maruarar Sirait mengatakan, Pancasila adalah dasar negara bangsa Indonesia yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Walaupun dalam perjalanan sejarah bangsa ini, selalu ada kekuatan yang dari dulu berupaya menggoyang Pancasila.

“Selalu ada kekuatan yang tidak setuju kita hidup harmonis. Selalu ada kekuatan yang tidak setuju dengan perbedaan-perbedaan,” kata anggota Komisi XI DPR RI itu.

Bahkan, sambung politisi PDIP itu, yang menjadi kekuatan dibuat perbedaan-perbedaan itu menjadi kelemahan kita. Apa yang harus kita lakukan?

“Teman-teman GMNI, GMKI, Ormas lainnya, teman-teman dari berbagai suku, agama, saya tanya tadi. Ketua MUI Taput juga saya tanya ada 63 masjid di Taput. Saya tanya aman melaksanakan ibadah? Ketua MUI setempat menjawab, “Aman”.

Menurut putra politisi senior PDIP Sabam Sirait itu, walaupun mayoritas Kristen Protestan di Kabupaten Taput namun agama lain apapun agamanya tetap aman dan tenang menjalankan ibadahnya di daerah itu. “Itu baru pancasila. Inilah contoh keberagaman bangsa ini,” ucapnya.

Dari berbagai survey, sambung Ara, yang mendukung radikalisme itu hanya sedikit. Masalahnya sileny mayority selama ini kebanyakan diam.

“Sekarang waktunya bersuara dan kasih contoh. Dari utara Sumut disini umat kristiani, muslim, hindu, katolik dan Budfha bisa hidup aman, damai dan bersatu. Apapun agamanya bisa beribadah dengan tenang dan itulah Pancasila,” katanya.

Kata Ara, Taput adalah salah satu contoh daerah bagaimana Pancasila itu diamalkan. Taput dihuni oleh berbagai agama dan suku tetapi bisa hidup damai dan tenteram.

“Di sini umat beragama bisa hidup aman, tenteram hidup damai dan bersatu. Pancasila butuh figur seperti pak Bupati Nikson untuk bisa melaksanakan hal tersebut,” katanya.

Hadir dalam kirab itu antara laim lembaga adat dalihan natolu, forum pembaruan kebangsaan, badan kerjasama antar gereja, GMNI, GMKI, Ikatan Anak Siborong-Borong, Puja Kesuma, Bara-JP, STAKPN, Universitas Sisingamangaraja (USI) XII dan lainnya. (FAS/TS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *