Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

UIN SU Menuju World Class University

SUARAMEDANNEWS.com – Akreditasi internasional merupakan syarat mutlak harus dicapai oleh perguruan tinggi untuk menjadi world class university, akreditasi internasional merupakan sebuah pengakuan terhadap universitas yang memiliki desain dan kemampuan mencetak lulusan berdaya saing tinggi secara internasional. UIN SU terus berbenah menjadi kampus yang terfavorit di tingkat nasional hingga internasional menuju UIN SU World Class University, persiapan ini ditandai dengan dilaksanakannya  “Workshop Kurikulum dan Penyelenggaraan Kelas Internasional Ekonomi Islam dan MoA antara UIN SU dengan Kulliyah of Economics and Management  Science-International Islamic University Malaya, Selasa/ 01 november 2017. Keseriusan Rektor UIN SU Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M.Ag membuka kelas internasional didukung oleh Dirjen Pendis dengan memberikan kesempatan UIN SU dengan jargonnya JUARA (Maju dan Sejahtera) menjadi satu satu nya universitas terpilih dan pertama dalam mempersiapkan Kelas Khusus Internasional adalah program S1 dengan orientasi dan standar internasional. Program ini didirikan dengan pertimbangan (1) globalisasi, (2) kebutuhan pasar, dan (3) potensi sumberdaya 4) melahirkan ahli dan praktisi go internasional, yang tidak lain untuk mewujudkan visi UIN SU adalah masyarakat pembelajar berdasarkan nilai nilai islam (Islamic Learning Society) .

Program kelas internasional ini diharapkan dapat menjawab dari kebutuhan internasional akan keilmuan yang terintegrasi pada prodi Ekonomi Islam FEBI UIN SU dijadikan rujukan awal untuk memulai kelas internasional ini, dimana Ekonomi Islam UIN SU saat ini menjadi kebanggaan siapa saja karena tahun ini mendapat penghargaan dari IAEI sebagai kampus ekonomi islam terdepan.  Peluang ini harus kita manfaatkan dengan sebaik baiknya menjadi program S1 internasional terbaik dan memiliki reputasi tinggi pada bidang ekonomi dan bisnis di tingkat internasional khususnya ASEAN.

Persiapan pembukaan kelas internasional ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi UIN SU, mengingat Ekonomi Islam UIN SU akan menjadi barometer di tingkat nasional dan global.  Selama ini orang menganggap kelas internasional hanya dibuka di luar negeri, tapi sekarang tidak , Perguruan Tinggi bisa membuka kelas internasional didalam negeri ,dan ini menjadi kesempatan buat UIN SU bisa membuka kelas internasional ini. UIN SU JUARA menjadi satu satu nya universitas yang siap menjawab tantangan global dalam memulai persiapan kelas internasional ekonomi islam sebagai langkah awal.  Pembukaan kelas internasional ini nantinya diharapkan menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki kemampuan akademik terbaik, integritas moral tinggi, dan latar belakang pendidikan internasional yang diakui secara global, menjadi ahli ekonomi islam yang go internasional. UIN SU JUARA telah banyak karya riset dosen dosen yang telah terpublikasi, dan UIN SU telah menjalin banyak kerjasama global diberbagai universitas ternama yang ada di Amerika, Arab Saudi, Turki, Singapura, Malaysia, dll.

Kelas internasional ini nantinya akan banyak diminati  oleh mahasiswa baik yang berada dalam negeri  maupun luar negeri tentunya. Pembukaan kelas internasional ekonomi islam menjadi harapan kita semua , mengingat kompetisi global saat ini menjadi peluang kita untuk UIN SU lebih go internasional melahirkan ilmuwan ilmuan terapan ekonomi islam yang handal dan berdaya saing secara global.

UIN SU memiliki kesiapan menghadapi segala perubahan. Di hadapan kita berbagai tantangan jelas di depan mata, UINSU dihadapkan pada era MEA yang mengharuskan kita bersaing ketat di tingkat global khususnya ASEAN. Kita juga harus berubah menyikapi berbagai perubahan peraturan dan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia yang semakin ketat. Untuk mencapai akreditasi internasional, perguruan tinggi harus dapat memenuhi berbagai kriteria yang telah ditetapkan sesuai standar internasional.

Beberapa tahun terakhir, kampus-kampus negeri maupun swasta telah berupaya menjadi universitas kelas dunia atau world class university. Argumen yang mengemuka mengapa kampus-kampus berupaya menjadi berkelas dunia adalah agar dapat bersaing dengan kampus-kampus kelas dunia dan sekaligus menghasilkan lulusan yang juga dapat bersaing dengan lulusan dari negara-negara maju di dunia internasional. Argumen-argumen tersebut muncul pada dasarnya karena memang melihat beberapa kenyataan mutakhir akibat dari globalisasi dalam berbagai sendi kehidupan manusia.

Pertama, globalisasi dalam bidang ekonomi yang mewujud dalam praktik ekonomi pasar bebas. Kedua, globalisasi dalam bidang budaya dalam bentuk masuknya budaya asing ke Indonesia. Ketiga, globalisasi tenaga kerja sebagai akibat dari praktik ekonomi pasar bebas. Keempat, globalisasi bidang pendidikan dengan pendirian lembaga pendidikan di banyak negara berkembang dan beasiswa antar-negara. Dalam globalisasi itulah setiap orang seakan dituntut menguasai pengetahuan dan kemampuan yang dapat digunakan sebagai modal utama memasuki ekonomi pasar bebas, tujuannya agar dapat berkompetisi dan memenangkan kompetisi global itu.

Dampak globalisasi membuat negara-negara berkembang (new emerging and developing countries) merasa harus menyetarakan kualitas dirinya sejajar dengan negara-negara maju dilihat dari Human Development Index (HDI), Program for International Student Assessment (PISA), dan lainnya. Dari sinilah nilai-nilai kompetisi ditabur dan tumbuh subur, terlebih ketika dipupuk oleh rasa inferioritas diri negara berkembang dalam bentuk pengejaran angka-angka HDI, PISA, dan sejenisnya. Dengan kondisi tersebut, dapat dipahami mengapa pihak kampus (dan juga pemerintah) tampak begitu bersemangat dengan world class university yang dianggap sebagai keniscayaan satu-satunya cara untuk dapat bertahan dan berkompetisi di tengah globalisasi.

World Class University juga kerap didefinisikan pada penilaian, perankingan, dan pengakuan yang berskala internasional pada universitas atau kampus di berbagai negara. Studi Levin, Jeong dan Ou (2006) menyebut beberapa tolok ukur skala pengakuan internasional world class university sebagai berikut.

1) Keunggulan penelitian (excellence in research), antara lain ditunjukkan dengan kualitas penelitian, produktivitas dan kreativitas penelitian, publikasi hasil penelitian, banyaknya lembaga donor yang bersedia membantu penelitian, adanya hak paten, dan sejenisnya.

2) Kebebasan akademik dan atmosfer kegembiraan intelektual.

3) Pengelolaan diri yang kuat (self-management).

4) Fasilitas dan pendanaan yang cukup memadai, termasuk berkolaborasi dengan lembaga internasional.

5) Keanekaragaman (diversity), antara lain kampus harus inklusif terdahap berbagai ranah sosial yang berbeda dari mahasiswa, termasuk keragaman ranah keilmuan.

6) Internasionalisasi, misal internasionalisasi program dengan meningkatkan pertukaran mahasiswa, masuknya mahasiswa internasional atau asing, internasionalisasi kurikulum, koneksi internasional dengan lembaga lain (kampus dan perusahaan di seluruh dunia) untuk mendirikan program berkelas dunia.

7) Kepemimpinan yang demokratis, yaitu dengan kompetisi terbuka antar-dosen dan mahasiswa, juga kolaborasi dengan konstituen eksternal.

8) Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

9) Kualitas pembelajaran dalam perkuliahan.

10) Koneksi dengan masyarakat atau kebutuhan komunitas.

11) Kolaborasi internal kampus.

Dengan beberapa tolok ukur itu kita mulai bisa menangkap apa yang dimaksud dengan kampus berkelas internasional, yakni kampus-kampus yang menempati peringkat besar dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga dengan reputasi internasional. Beberapa lembaga pemeringkatan yang dikenal perguruan tinggi di Indonesia misalnya Times Higher Education Supplement (THES), Webometrics, dll.  Berdasarkan THES (London) mensyaratkan empat hal, yakni  kualitas riset dengan bobot 60%, kesiapan kerja lulusan (10%), pandangan internasional  (international outlook) (10%), dan kualitas pengajaran (20%).

ARWU, yang berkedudukan di Tiongkok, mematok lima syarat, yaitu jumlah alumni/staf yang mendapat penghargaan internasional, jumlah peneliti (dosen) yang risetnya banyak dikutip peneliti lain, jumlah artikel yang diindeks oleh jurnal yang telah ditentukan, persentase artikel yang dipublikasikan jurnal internasional, dan jumlah biaya riset PT yang bersangkutan.

Persyaratan Webomatrics berbeda lagi. Ada empat syarat, yakni berapa banyak tautan situs eksternal dari situs lain, banyaknya “halaman” yang ditemukan “mesin pencari” di internet, banyaknya volume file yang ada di situs PT dalam format pdf, ps, doc, dan powerpoint, dan jumlah tulisan akademik yang dijumpai di Google Scholar.

Dari beragam syarat itu, terdapat  tiga syarat inti yang patut diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Pertama, bagaimana perguruan tinggi merancang kegiatan riset yang dapat menghasilkan invensi dan inovasi kualitas dunia.

Kedua, bagaimana agar tulisan peneliti atau dosen dapat dipublikasikan oleh jurnal akademik internasional dan dapat menjadi referensi oleh peneliti dan dosen PT lain.  Dan ketiga, bagaimana staf atau alumni suatu PT dapat meraih penghargaan-penghargaan bertaraf internasional. Tampak bahwa unsur riset merupakan syarat terpenting dalam World Class University ,artinya, tanpa reputasi riset, sebuah PT tidak mungkin masuk peringkat dunia. Riset sudah menjadi kewajiban di dunia akedamik, yang mana tradisi ini memang sudah ada sejak dulu kala.

Di Indonesia, tradisi riset masih perlu mendapat perhatian serius. Pada umumnya PT kita masih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sementara kontribusinya terhadap kegiatan riset masih samar-samar, jika tak boleh disebut “tak-jelas. Kiprah riset disini masih diposisikan sebagai ‘academic exercises’, belum fokus pada usaha untuk menghasilkan invensi dan inovasi. Padahal dalam konsep terkini, PT sudah diposisikan menjadi pusat riset (centre of excellent), yang umumnya bekerja sama dengan industri.

Melihat kondisi yang dialami PT kita saat ini, hendaknya para pemimpin PT, peneliti maupun kalangan praktisi perlu mengubah mindset atau orientasi. Seyogianya riset PT kini menghasilkan kekayaan intelektual, invensi, dan inovasi, yang secara nyata dapat dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat dan industri sehari-hari. Buang pemikiran bahwa riset hanya untuk paper atau memenuhi angka kredit, ataupun untuk kenaikan pangkat belaka. Perubahan mindset dan orientasi ini mutlak. Apalagi produk riset PT sudah dituntut dan semestinya menjadi bagian pendorong roda perekonomian nasional.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *