Sunarji Harahap, M.M Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Universalitas Ekonomi Islam

SUARAMEDANNEWS.com, Medan (24/11/2016) – Universalitas menurut bahasa berasal dari bahasa inggris universal ,yang berarti: Semesta dunia, Universally ,yaitu: Disukai di seluruh dunia atau Universe, berarti Seluruh bidang. Dalam kamus Al-Munjid As-syamlah adalah: Sesuatu yang luas.

Dengan pengertian di atas, maka Islam adalah risalah yang universal sekaligus konfrehensif dan lengkap, dia adalah agama, Negara Ekonomi, Hukum, Ideologi, Prinsip, Aplikasi, Teori dan Praktek serta selalu relevan untuk semua tempat dan zaman.

Ekonomi Islam di bangun atas dasar syariat Islam, karena ia integral dari agama Islam. Ekonomi Islam akan mengikuti agama Islam dalam berbagai aspeknya. Islam sebagai sistem kehidupan (way of life), Islam menyiapkan berbagai perangkat aturan lengkap bagi kehidupan manusia, termasuk ekonomi. Ada beberapa aturan yang bersifat pasti dan bersifat permanen, sementara beberapa aturan yang bersifat konstektual sesuai dengan situasi dan kondisi

Dalam sistem ekonomi syariah prinsip yang sangat fondemental bahwa kekuasaan yang tertinggi hanya Allah semata, manusia diciptakan hanya sebatas melakukan eksplotasi dan ekselarasi di bumi dalam batas-batas tertentu.

Oleh karena manusia tidak menyelahi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan sang Maha Pencipta. Manusia sanggup memikul amanah yang diberikan Tuhan kepadanya dan untuk itu, ia bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan.

Islam menempatkan bahwa segala makhluk di alam jagad raya ini hak mutlak Allah. Sedangkan manusia hanya mempunyai hak sebatas memanfatkaannya. Allah menjadikan manusia sebagai penentu kebijakan di bumi.

Manusia diberikan otoritas untuk mengatur kehidupannya selayak mungkin. Pemberian otoritas tersebut, bukan berarti manusia dibiarkan untuk mengelola bumi ini sebebas-bebasnya. Tetapi, manusia dibatasi dengan nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup.

img_5586081907899
Sunarji Harahap, M.M. Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Islam memandang kehidupan manusia sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak memilahkan kehidupan antara ruhiyah dan kehidupan jesmaniyah. Ini berarti Islam tidak mengenal kehidupan hanya berorientasi akhirat semata, tanpa menghiraukan kehidupan dunia, demikian juga sebaliknya, hanya memikirkan kehidupan duniawi tanpa memikirkan kehidupan akhirat.

Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya. Penyembahan kepada Allah sebagai konsekuensi dari pertanggungjawaban manusia sebagai penentu kebijakan di bumi.

Sebagai penentu kebijakan, manusia dibekali dengan potensi fujur dan potensi taqwa , kedua potensi tesebut saling mendominasi. Potensi taqwa mengantarkan manusia untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi dirinya, bagi sesamanya dan untuk alam sekelilingnya. Sedangkan potensi fujur mengantarkan manusia untuk melakukan pekerjaan yang mendatangkan modarat bagi dirinya, sesamanya dan alam sekelilingnya.

Prinsip-prinsip ekonomi syariah membentuk keseluruhan kerangka yang menjadi dasar prilaku dalam bermuamalah. Menurut Ali Abd al-Rasul, prinsip ekonomi syariah didasarkan atas lima nilai universal, yakni tauhid (keyakinan hanya satu Tuhan yaitu Allah), ’adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah) dan ma’ad (hasil), kelima dasar ini menjadi inspirasi untuk menyusun teori-teori ekonomi Islam.

Perkembangan ekonomi syariah (Islam) belakangan ini semakin menimbulkan rasa optimis. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga keuangan syariah dan aset yang mereka kelola. Di sisi keilmuan, teori-teori ekonomi syariah terus digali dan dikembangkan di berbagai kampus dan lembaga-lembaga penelitian.

Optimisme ini tumbuh berdampingan dengan berbagai kritik yang dialamatkan kepada ekonomi Islam dan lembaga-lembaga ekonomi yang merepresentasikannya. Di antara kritikan itu adalah bahwa lembaga-lembaga keuangan syariah tidak lebih dari lembaga-lembaga kapitalis yang bermerek syariah. Ekonomi Islam dicurigai sebagai ekonomi ekslusif, primordial, dan merupakan wajah religius dari kapitalisme itu sendiri.

Berbagai kritik dan kecurigaan itu memang ada benarnya, namun tidak semuanya benar. Produk dan jasa keuangan syariah harus terus dikembangkan agar benar-benar sesuai syariah, tidak saja secara fiqh, tetapi juga secara etika yang melandasinya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana halnya dengan ekonomi syariah yang dianggap ekslusif dan primordial?

Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk memahami ekonomi Islam adalah dengan membaca kembali praktek ekonomi pada era kenabian dan best practice yang dilaksanakan beberapa generasi sesudahnya. Untuk lebih memahami lagi nilai-nilai keislaman dalam bidang ekonomi, pembacaan tersebut hendaknya diteruskan kepada praktek ekonomi sebelum era kenabian. Pembacaan yang saksama terhadap sejarah ini akan mengantarkan kita kepada pemahaman yang kritis dan komprehensif terhadap ekonomi Islam modern. Kegagalan dalam memahami perilaku ekonomi nabawiyah akan membuat ilmu dan praktek ekonomi Islam seperti tercerabut dari akarnya.

Ajaran Islam tentang ekonomi tidaklah tumbuh dalam ruang yang hampa tanpa ada praktek ekonomi yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, ajaran tersebut lahir sebagai kritik terhadap praktek ekonomi yang berkembang pada masa itu. Terlebih lagi, Islam lahir di tengah masyarakat Makkah yang sangat akrab dengan nuansa perdagangan dan disampaikan oleh seorang rasul yang latarbelakang karirnya adalah seorang pedagang. Dalam perspektif agama, hal ini bukan sesuatu yang kebetulan tetapi telah menjadi suatu ketetapan (maktub) dari Sang Khaliq. Sang Nabi tentu mengetahui praktek-praktek ekonomi menyimpang yang biasa dilakukan pada waktu itu. Beliau, tentu melihat ketimpangan ekonomi dan sosial masyarakat Makkah sebelum menjadi rasul. Keadaan inilah yang belakangan berhasil beliau ubah dengan syariat Islam.

Periode kenabian biasa dibagi menjadi periode Makkah dan periode Madinah. Masing-masing periode mempunyai karakteristik tersendiri menyangkut ayat-ayat yang diturunkan dan syariat yang dibangun. Periode Makkah lebih menitikberatkan pada pembangunan akidah monoteisme (tauhid) dan revitalisasi perilaku mulia (akhlaq al-karimah). Periode Madinah merupakan periode pembangunan syariat ibadah dan aturan-aturan kemasyarakatan. Beberapa tokoh menyebut corak ajaran Islam pada periode Makkah bersifat universal dan pada periode Madinah sebaliknya.

Namun sayangnya, tidak banyak yang memberi perhatian khusus kepada aspek ekonomi syariat Islam pada periode Makkah. Padahal, di samping menekankan pada tauhid, banyak ayat-ayat Makkiyah membawa pesan universal di bidang ekonomi. Ayat-ayat tersebut merupakan kritik terhadap praktek ekonomi yang terjadi pada waktu itu. Misalnya, ayat-ayat yang berisi perintah untuk menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin, larangan mengurangi timbangan, larangan menumpuk harta, larangan bermegah-megah, larangan riba, dan sebagainya. Di samping itu juga ada wahyu tentang bangsa Quraisy yang giat melakukan kegiatan perdagangan regional baik di musim panas maupun dingin.

Serangkaian ayat-ayat yang berisikan kritik terhadap perilaku ekonomi masyarakat Makkah pada waktu itu menimbulkan perlawanan dari kelompok yang selama ini diuntungkan. Ajaran Muhammad Saw yang mengajak kepada terciptanya keadilan ekonomi mereka curigai akan mengganggu kepentingan ekonomi dan sosial yang selama ini mereka nikmati. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penolakan kelompok borjuis Makkah di samping karena aspek kepercayaan juga karena ajaran Muhammad Saw mengancam kepentingan ekonomi mereka.

Diturunkannya ayat-ayat ekonomi ini pada periode awal kenabian menunjukkan bahwa misi kenabian di samping berisi ajakan menyembah Allah Yang Esa juga terkait dengan etika berekonomi yang intensitasnya tidak kurang dari intensitas ayat-ayat tauhid. Semangat inilah yang kelak menghasilkan terbentuknya masyarakat Islam di Madinah dengan berbagai aturan-aturan teknis pelaksanaan nilai-nilai ekonomi universal yang telah digagas pada periode Makkah.

Semua harus berlandaskan etika universal berarti bahwa etika tersebut dapat diterima di segala zaman dan tempat atau shalihun li kulli zaman wa makan. Etika ekonomi yang terkandung dalam ayat-ayat Makkiyah merupakan etika yang dapat diterima sepanjang masa dan oleh umat manapun. Kebenaran ayat-ayat ekonomi tidak hanya dapat diterima dengan semangat keimanan (religious commitment) tetapi dapat dibuktikan dengan menggunakan nalar sekuler (secular reason).

Larangan riba misalnya, bersifat universal dan dapat diterima baik melalui pendekatan keagamaan maupun dengan nalar sekuler. Boleh dikata semua agama melarang dan mengutuk praktek riba. Persoalan krusial yang sering mengemuka adalah tentang bunga bank, apakah sama dengan riba atau apakah bunga bank adalah riba yang diharamkan. Para ekonom syariah telah sepakat bahwa bunga bank adalah haram dan keputusan inilah yang melandasi didirikannya bank syariah dan diterbitkannya produk-produk keuangan syariah. Sedangkan melalui nalar sekuler, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku ini berakibat buruk bagi perekonomian, baik secara nasional maupun global. Warga dunia akan terus dihantui oleh krisis keuangan selama praktek ribawi ini masih dipraktekkan. Dan hal ini dapat dilihat bahwa perbankan syariah dan halal dapat diterima dibelahan negara dunia saat ini  karena dunia sudah mengetahui universalitas ekonomi islam memberikan dampak yang luar biasa bagi kemashlahatan bagi siapa saja.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *