Terkait Kegaduhan Hotel AFF U-19, Elfanda Ananda Menantang Semua Pihak Buka Data Kepublik

Suaramedannews.com, Medan – Polemik tunggakan hotel peserta AFF U-19 2026 jadi tamparan buat PSSI dan pemerintah daerah. Pengamat Kebijakan Publik Elfanda Ananda menyebut kekacauan ini bukti koordinasi yang berantakan sejak awal persiapan, dan kini berpotensi merusak citra Indonesia di ASEAN.

Elfanda mengungkit surat Sekjen Kemenpora 29 April 2026 yang menunjuk PSSI sebagai penyelenggara resmi turnamen. Dengan status itu, pembiayaan akomodasi seharusnya sudah beres jauh sebelum kick-off.

“Faktanya publik malah lihat Pemkot Medan saling lempar tanggung jawab sama panitia soal siapa yang bayar hotel. Kalau koordinasi dari awal beres, drama kayak gini nggak akan terjadi,” kata Elfanda, Rabu (3/6/2026).

Menanggapi klaim Sekda Medan bahwa Pemkot tak pernah janji biayai hotel, Elfanda menantang semua pihak buka data.

“Kalau ada MoU, surat resmi, atau berita acara yang nyatakan Pemkot tanggung akomodasi, tunjukkan ke publik. Kalau nggak ada, tudingan ‘Pemko ingkar janji’ juga harus dipertanggungjawabkan. Apalagi yang ngomong oknum yang ngaku panitia dan sempat bikin gaduh lewat pernyataannya,” tegasnya.

Yang menjadi pertanyaan Elfanda masalah akomodasi baru meledak di tengah turnamen. Kabar Timor Leste harus pindah hotel karena tunggakan bayar jadi bukti nyata kelalaian penyelenggara.

“Akomodasi itu kebutuhan dasar atlet. Masa udah datang buat tanding, masih pusing cari tempat tidur? Ini kegagalan yang nggak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Meski secara hukum Pemkot bisa bilang nggak ada dasar anggaran, Elfanda bilang Pemko Medan dan Pemprov Sumut tetap punya tanggung jawab moral sebagai tuan rumah. Apalagi Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution sendiri turun tangan pantau Stadion Teladan dan Stadion lainnya.

“Administrasi mungkin punya batas, tapi kepemimpinan publik nggak. Pemda wajib pastikan event berjalan lancar. Jangan baru gerak kalau masalah udah viral,” katanya.

Bagi Elfanda, yang dipertaruhkan bukan cuma tagihan hotel, tapi reputasi Indonesia di mata negara ASEAN.

“Kalau atlet muda datang buat main bola, tapi malah sibuk urus penginapan, maka yang gagal bukan cuma panitia atau Pemda. Yang gagal adalah sistem kita dalam menggelar event internasional,” pungkasnya.

(Royziki F.Sinaga)

About SMN_RY22

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *