Suaramedannews.com, Medan – Rusia merupakan salah satu negara terkuat di dunia , dimana selama ini lembaga keuangan Islam telah ada di Rusia, namun sistem perbankan syariah ini adalah merupakan kali pertama diresmikan menjadi Undang-Undang negara.
Power Globalisasi Ekonomi Syariah tahun 2023 ini ditandai Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani undang-undang yang memperkenalkan perbankan syariah pada awal Agustus lalu. Landasan hukum ini menjadi rujukan kebijakan untuk menilai kelayakan menjalankan bank syariah di Rusia.
Parlemen Rusia yang dikenal dengan Duma mengadopsi undang-undang untuk melakukan percobaan pengenalan perbankan Islam di empat wilayah Rusia. Hal ini terjadi saat negara itu mendapatkan sanksi keras dari Barat pasca serangannya ke Ukraina. Hal ini akan berjalan dari 1 September 2023 hingga 1 September 2025 di Dagestan, Chechnya, Bashkortostan, dan Tatarstan, yang mayoritas warganya beragama Islam. Durasinya dapat diperpanjang dan peserta dalam percobaan itu akan dicatat oleh Bank Sentral.
Dokumen pencatatan tersebut nantinya akan diserahkan ke Duma oleh sekelompok deputi dan senator yang dipimpin oleh Anatoly Aksakov, ketua komite Duma di pasar keuangan. jika program ini terbukti berhasil, rencananya adalah memperkenalkan peraturan baru tersebut ke seluruh negeri, dimana harapannya sistem perbankan syariah dapat mengembangkan “pembiayaan berbasis aset dan hubungan kemitraan pembagian risiko. Adapun kelompok pertama yang mendapat manfaat dari pasar baru ini adalah usaha kecil dan menengah, dan lebih berorientasi pada pembiayaan ekonomi riil dengan produk ekonomi riil.
Hal Ini akan mengubah lanskap perbankan dan keuangan di Rusia, dengan prinsip-prinsip Islam yang mengatur transaksi dan operasi keuangan. Dalam perjalanan menuju pelaksanaan penuh, pemerintah Rusia telah mempersiapkan proses adaptasi dan edukasi bagi masyarakat dan lembaga keuangan terkait.
Pengenalan sistem ekonomi Islam di Rusia mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjembatani kerjasama ekonomi dengan negara-negara Muslim dan menciptakan lingkungan keuangan yang lebih inklusif dan berkeadilan Sistem keuangan syariah menjalankan sistem hubungan berbasis kemitraan, hal ini jarang terjadi dalam keuangan konvensional. Adapun hal utama dalam perbankan syariah adalah landasan sistem hukum Islam yang melarang transaksi yang melibatkan riba, atau membebankan bunga karena dianggap sebagai pertukaran yang tidak adil, sedangkan dalam pembiayaan konvensional semuanya berbasis utang dan nasabah menanggung seluruh risiko dan kewajiban dalam transaksi. Sementara untuk perbankan syariah adalah berbasis aset, dengan keuntungan dan risiko dibagi antara lembaga keuangan dan nasabah sebagai bagian dari kemitraan.
Tidak ada bank yang mendapatkan keuntungan dari masalah keuangan klien dan kebangkrutan yang sering terjadi dalam keuangan konvensional, perbankan syariah juga tidak membiayai sektor-sektor yang haram dan merugikan masyarakat seperti alkohol, tembakau, dan perjudian. Perbedaan utama lainnya adalah perbankan syariah tidak mengizinkan spekulasi pembiayaan, derivatif keuangan, atau transaksi tanpa aset nyata, yang sebelumnya telah memicu krisis keuangan global.
Sektor perbankan syariah diprediksi akan memiliki tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 40 persen dan diperkirakan akan mencapai nilai 7,7 triliun dolar AS pada tahun 2025, pertumbuhan pasar yang sedang berkembang tersebut akan membutuhkan regulasi dan perlindungan investor dan klien. Namun, pasar keuangan Islam tidak dapat memanfaatkan manfaat dari program dukungan negara untuk pembiayaan hipotek dan usaha kecil dan menengah karena semuanya berlandaskan pada pinjaman berbunga dan itu bertentangan dengan syariah.
Hambatan-hambatan ini sebagian diselesaikan untuk pembiayaan hipotek dalam undang-undang yang diadopsi. Eksperimen ini diharapkan dapat mengembangkan kondisi lebih lanjut untuk pengembangan keuangan Islam.
Perbankan Islam adalah “sebuah inisiatif yang telah lama ditunggu-tunggu”, dan bahkan telah dibahas di Rusia sejak krisis keuangan tahun 2008. Saat itu, bank menghadapi kekurangan likuiditas dan mulai mencari sumber uang tunai alternatif.
Setelah itu menyusul aneksasi Krimea dari Ukraina pada tahun 2014, ketika bank-bank Rusia merasakan tekanan dari sanksi-sanksi Barat. Bahkan, Asosiasi Bank-Bank Rusia mengusulkan untuk mengizinkan perbankan syariah di Federasi Rusia dan membentuk sebuah komite di dalam Bank Sentral untuk mengatur aktivitas bank-bank syariah.
Perang di Ukraina dan tekanan Barat terhadap sektor ekonomi Rusia juga menjadi pendorong proses peralihan ke perbankan syariah.
Setiap gelombang krisis baru dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong Rusia untuk semakin menjauh dari Barat dan beralih ke Timur, yang dalam banyak kasus berarti hubungan yang lebih besar dengan perekonomian di negara – negara yang mayoritas muslim Perbankan Islam mengimplikasikan ketaatan pada prinsip syariah dalam penyediaan jasa keuangan. Secara khusus, prinsip itu melarang mengambil persentase atau biaya tetap untuk pinjaman. Undang-undang yang diadopsi juga memungkinkan pengumpulan remunerasi variabel, tergantung pada hasil transaksi. Pengenalan perbankan Islam juga melibatkan pembentukan dewan khusus di Bank Sentral Rusia, sebuah lembaga arbitrase yang akan mengevaluasi apakah keputusan bank tertentu sesuai dengan prinsip Syariah.
Hal ini menjadi pembuka peluang besar untuk bagi 30 juta umat Muslim di Rusia dari total penduduk 147 Juta Jiwa umunya yang merasakan dampak dari implementasi nilai nilai dari perbankan syariah.
Kelompok Muslim Rusia tersebar di beberapa wilayah. Hal ini yang membuat mereka sangat heterogen dan beragam. Selain bermukim di kota-kota besar seperti Moskow, Nizhiniy, dan Saint Peterburg,terdapat pula konsentrasi Muslim yang hidup di wilayah-wilayah kecil seperti Bashkortasan, Tartasan, Chechnya, dan Dagestan. Pesatnya pertumbuhan jumlah Muslim di Rusia disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingkat kelahiran yang tinggi dan juga kedatangan imigran Muslim.
Islam diperkirakan masuk Rusia sejak abad ke-7 M, sebagaimana yang tertera dalam buku The State and Stakes of Islam “From” Russia. Beberapa tahun setelah Nabi Muhammad wafat, para pasukan Islam dibawah komando Abdurrahman bin Rabiah berhasil menaklukkan sebuah wilayah yang sekarang disebut kota Derbent di Dagestan. Sejak saat itu, Islam terus tumbuh dan berkembang di Rusia meski tidak sepesat Kristen Ortodoks. Grand Mufti Rusia Syekh Rawil Gaynetdin menyebutkan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan populasi Muslim di Rusia terus menanjak.
Pertama, angka kelahiran keluarga Muslim Rusia begitu tinggi. Kedua, kedatangan dari orang-orang Muslim dari Asia Tengah dan komunitas Muslim di Rusia adalah pribumi. Mereka terus tumbuh dan diterima masyarakat sebagaimana agama lain yang berkembang Rusia. Perkembangan Islam sempat surut saat Komunis menguasai negara itu. Pada saat Komunis berkuasa, umat beragama –bukan hanya Islam- mengalami nasib yang kelam. Mereka ‘diburu’, bahkan tidak segan-segan untuk dibunuh dengan atau tanpa alasan yang bisa diterima akal. Setelah Komunis runtuh, populasi Muslim Rusia terus menunjukkan kenaikan.
Seperti Indonesia, Rusia juga merupakan negara yang majemuk dan multietnis. Ada sekitar 190-an suku di Rusia. Kurang lebih 58 suku memeluk agama Islam. Mereka umumnya Sunni dan menganut dua mazhab, yaitu Hanafi dan Syafii. Sedangkan, jumlah pengikut Syiah di Rusia sangat kecil.
Kebanyakan mereka tinggal di Derbent, Dagestan Selatan. Salah satu hal yang menarik adalah tidak adanya perbedaan antara Sunni dan Syiah di Rusia karena keduanya merupakan anggota dari United Muslim Ummah (Persatuan Umat Islam), sebuah komunitas Muslim di Rusia. Terdapat tiga organisasi Islam di Rusia menurut status dewan federal. Pertama, Dewan Mufti Rusia (Council of Muftis of Russia) yang bermarkas di Moskow. Kedua, Otoritas Spiritual Muslim (The Muslim Spiritual Authority) yang berbasis di Ufa. Organisasi ini menjadi ‘rumah besar’ bagi 522 komunitas Muslim yang ada di sekitar wilayah Ufa. Ketiga, Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus (The Muslim Spiritual Authority in the Caucasus) yang terdiri dari 830 komunitas Islam yang berada di sekitar wilayah Kaukakus Utara.
Hal menarik lainnya adalah fakta bahwa Islam lebih dulu diakui sebagai agama resmi di Rusia daripada Kristen Ortodoks. Pada tahun 654 M, pasukan memasuki Kota Derbent di Dagestan yang kemudian menjadi fokus untuk Islamisasi Kaukasus Timur Laut, disebut sebagai bab al-jihad atau pintu gerbang jihad. Pada tahun 922 M, sebuah wilayah di Rusia -yang saat ini disebut- Volga-Bulgaria sudah mendeklarasikan bahwa Islam adalah agama resmi ‘negara’.
Sementara, agama Kristen Ortodoks baru diakui sebagai agama resmi negara bagian Kievan Rus 66 tahun setelahnya atau pada tahun 988 M.
Geliat Islam di Rusia semakin ‘cerah’ manakala Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet pada 2015 silam. Masjid yang terletak di dekat stadion Olympic itu mampu menampung menampung 10 ribu jamaah dan menjadi masjid terbesar di daratan Eropa. Perkembangan Islam di Rusia –utamanya setelah rezim Uni Sovyet tumbang- memang cukup menggembirakan.
Bayangkan saja, sejak tahun 1989 hingga hari ini, populasi Muslim Rusia meningkat 40 persen. Bahkan pada tahun 2050 nanti, populasi Muslim Rusia diprediksi bakal mencapai setengah dari total penduduk Rusia.
Sunarji Harahap, M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Sumatera Utara/ Guru Best Teacher SMA Unggulan Al Azhar Medan / PENULIS MENDUNIA / Pengurus IAEI Sumut / Ketua Dewan Penasehat FOGIPSI Sumut