Suaramedannews.com, Samosir – Awal saya bertugas dan berbaur dengan masyarakat Samosir, agak timbul rasa canggung, karena baru pertama kali saya tinggal di daerah yang masyarakat Muslimnya menjadi Minoritas.
Namun rasa canggung itu berangsur hilang setelah saya berjumpa dengan beberapa sahabat yang seprofesi dengan saya, dari mereka, saya banyak belajar tentang kearifan lokal yang ada di Samosir.
Karena walau saya bersuku Batak bermarga Sinaga banyak hal yang belum saya ketahui tentang budaya Batak apa lagi bahasanya yang kebetulan saya tidak mengerti, karena kebetulan saya dibesarkan di keluarga Melayu dan selalu berbahasa Indonesia.
Selama saya di Samosir banyak hal yang saya pelajari tentang budaya Batak yang sebelumnya saya dapatkan dari Shersing di Internet dan beberapa buku yang saya baca.
Kalau menurut saya selama di Samosir tidak salah memang jika daerah ini dibilang Kepingan Surga, karena pemandangan Alamnya yang sangat indah, udaranya yang segar, nyanyian burung yang berkicau di Pagi hari dan nyanyian jangkrik juga serangga malam memecah sepinya dikala malam membuat ketenangan tersendiri bagi kita yang ingin mencari ketenangan jiwa.
Kalau untuk toleransi beragama disini saya rasakan cukup baik, karena walau saya beragama Muslim sahabat saya yang ada disini dan beberapa orang yang berkerja di pemerintahan yang saya kenal tetap menghargai perbedaan itu.
Apa lagi saat ini bulan Suci Ramadhan akan tiba dan ini pengalam baru juga bagi saya menjalankan ibadah puasa di Samosir yang Muslimnya minoritas.
Tapi jangan berkata bahwa berpuasa di wilayah minoritas itu sulit dan sepi, bahkan melaksanakan ibadah selama Ramadhan di wilayah minoritas di Samosir itu justru sangat indah.
Karena sejak awal, saudara-saudara kita yang non-Muslim atau pemeluk Agama Kristen Katolik dan Kristen Prosestan yang berada di Samosir tetap toleransi dan sangat menghargai masyarakat Muslim yang kebetulan minoritas di Samosir untuk menjalankan Ibadah Puasa.
Hal itu disampaikan oleh Ketua BKM Al Hasanah SH Hutagalung yang sapaan akrabnya Haji Hutagalung saat saya temui setelah selesai sholat Dzuhur, disalah satu Warung Kopi yang berada di perkarangan Mesjid Al Hasanah Pangururan.Selasa,(21/03/2023)
Walau baru pertama bertemu dengan Ketua BKM Al Hasanah yang juga merupakan tokoh masyarakat dari Agama Muslim yang ada di Samosir beliau dan beberapa orang pengurus BKM Al Hasanah menerima kedatangan saya dengan sangat baik.
Dalam dialog ringan dengan Ketua BKM, beliau menjelaskan kepada saya jika kegiatan umat Muslim yang ada di Samosir setiap Bulan Puasa tidak jauh berbeda dengan daerah lain yang masyarakatnya mayoritas Muslim.
“Setiap berbuka puasa banyak umat Muslim yang ada disekitar Pangururan atau umat Muslim yang kebetulan lewat dan berwisata ke Samosir singgah ke Mesjid ini untuk berbuka Puasa dan mengerjakan Sholat Magrib” Jelasnya
Beliau juga mengatakan kepada saya jika umat Muslim di Samosir banyak para perantau yang mengadu nasib di Kabupaten Samosir yang daerahnya mempunyai selogan kepingan surga, karena pemandangan alamnya yang sangat indah juga banyaknya tempat wisata yang bisa dikunjungi.
Setelah meneguk air mineral Ketua BKM yang juga pengurus MUI di Samosir kembali melanjutkan ceritanya, jika Muslim yang mengadu nasib disini banyak para pedagang kecil yang tersebar dibeberapa Kecamatan.
Saya pun bertanya kepada Bapak SH Hutagalung apakah ada di Samosir dibuat kegiatan seperti kebiasaan yang dibuat di Kota, yang saya ambil contoh di Kota Medan yang ada membuat kegiatan Ramadhan Fair.
Bapak SH Hutagalung mengatakan belum pernah kegiatan seperti itu diadakan di Samosir, Namun Ketua BKM menjelaskan jika memang ada wacana untuk tahun depan pengurus BKM yang ada di Samosir akan membuat kegiatan seperti itu.
“Memang disini kita umat Muslim belum pernah membuat kegiatan seperti itu disini, Namun sudah ada wacana seluruh pengurus BKM yang ada di Samosir akan membuat kegiatan seperti itu di tahun depan” jelas beliau kepada saya
“Karena sebetulnya kegiatan seperti itu juga sangat membantu mempromosikan sektor pariwisata yang ada di Samosir, agar masyarakat yang ada diluar Samosir mungkin banyak yang tidak tau jika di Samosir ada umat Muslimya menjadi tau, selain itu untuk menambah gairah masyarakat Muslim yang ada diluar Samosir tidak lagi ragu datang berwisata ke Samosir” Tambahnya
Ketua BKM Al Hasanah juga mengisahkan kepada saya saat Kapolres Samosir yang baru AKBP Yogie Hardiman SH.SIK.MH pertama kali ke Mesjid Al Hasanah, Kapolres mengatakan jika beliau baru pertama bertugas di daerah yang Muslimya minoritas.
“Saya sangat berterima kasih kepada Pak Yogie karena sangat mendukung semua kegiatan yang ada di Mesjid Al Hasanah, contohnya waktu acara Israh Mi’raj yang kemarin baru dilaksanakan di Mesjid Al Hasanah, Pak Yogie mengatakan ini pertama selama menjabat sebagai Polisi beliau memimpin di daerah yang Muslimnya minoritas dan ini menjadi tantangan baru bagi saya” menirukan ulang apa yang pernah di katakan Kapolres.
“Saya juga berterima kasih kepada Kepala Koramil Pangururan yang baru dan Kejari Samosir yang juga selalu mendukung program BKM Al Hasanah” tambahnya lagi
Sayapun kembali bertanya kepada beliau apakah ada kegiatan seperti MTQ di Samosir yang biasanya di adakan di Daerah lain, dari penjelasan beliau sedikit membuat saya yang baru berada disini agak terkejut karena Depag Samosir belum pernah mengadakan kegiatan seperti itu di Samosir.
“Untuk Kabupaten Samosir belum pernah diadakan MTQ, saya juga tidak mengerti kenapa Depag yang ada disini tidak pernah berpikir untuk melakukan kegiatan itu” Sambil menandatangani beberapa berkas yang diberikan Pengurus BKM Al Hasanah
Dalam dialog tersebut saya juga bertanya apakah Mesjid Al Hasanah ada kegiatan Takfis Qur’an, beliau pun menjelaskan kepada saya, jika kegiatan itu sempat dibuat namun karena faktor ekonomi masyarakat Muslim disini yang terbatas menyebabkan kegiatan itu ditunda.
“Disini ada dua orang guru Takfis Qur’an namun karena faktor ekonomi masyarakat yang Muslim disini sangat sulit, menyebabkan kegiatan itu yang sudah direncanakan dibuat di Mesjid Al Hasanah akhirnya tertunda”
Bapak SH Hutagalung juga menjelaskan kepada saya, sejarah singkat berdirinya Mesjid Al Hasanah yang biaya pembangunannya didapat dari suwadaya masyarakat Muslim yang ada di Samosir yang sangat berharap ada berdiri Mesjid di Kota Pangururan.
“Untuk pembiayaan membangun Mesjid Al Hasanah kita peroleh dari suwadaya masyarakat muslim yang ada di Samosir dan Umat Muslim yang singgah Sholat disini”
Beliau juga berterima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati yang menjabat sekaran Vandiko T.Gultom dan Martua Sitanggang yang mau membantu Mesjid Al Hasanah, yang sebelumnya pemimpin yang memimpin Samosir kurang memperhatikan Mesjid Al Hasanah.
Pak Haji kembali bercerita jika untuk pendidikan Agama saat ini, ada beberapa orang remaja yang menuntut Ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) yang ada diluar Samosir.
Sayapun kembali bertanya kepada Pak SH Hutagalung prihal tentang pendidikan apakah disini ada Madrasah, mendengar itu Pak SH menjelaskan kepada saya jika sekolah Madrasah disini ada, namun saat ini sudah tergusur untuk pembangunan Water Fronsity.
Pak Haji juga menjelaskan jika saat ini banyak dari masyarakat Muslim disini butuh bantuan dari modal usaha hingga modal untuk bertani.
Dampak dari itu semua, akhirnya ada beberapa anak-anak yang sulit untuk mengenyam pendidikan, dikarenakan faktor Ekonomi keluarganya yang sulit.
Mendengar itu saya pun bertanya apakah Baznas dan Depag Samosir tidak pernah melakukan sosialisasi tentang bantuan untuk anak-anak yang kurang mampu.
Pak Haji menjelaskan kepada saya jika masalah itu sudah pernah di omongkan kepada pihak terkait, namun sampai saat ini belum ada solusi nyata yang didapat.
Dihadapan Pak Haji saya mencoba menghubungi Ustad Nahar yang informasi nya belia Kasih Hurais di Depag Samosir, namun sangat disayangkan sampai tulisan ini saya muat beliau belum juga mengangkat Telpon dan Chattingan saya.
Saya pun kembali menanyakan kepada Pak Haji apakah tidak ada masyarakat yang beragama Muslim yang tinggal disini berniat membangun Madrasah, mendengar pertanyaan saya Pak Haji memberitahukan kepada saya jika ada Masyarakat yang beragama Muslim yang mau mendirikan Madrasah di Desa Sitnihuta kecamatan Pangururan, namun ada sedikit hambatan hingga sampai saat ini belum bisa direalisasikan pembangunannya.
Saya pun ingin mencari tau apa hambatan itu, namun Pak Haji memberitahukan kepada saya agar coba bertanya lebih lanjut apa yang menyebabkan pembangunan Madrasah terhambat kepada pihak Yayasan Ibnu Sina.
Setelah cukup puas berdiskusi dengan Pak SH Hutagalung saya pun berpamitan kepada pengurus BKM Al Hasanah untuk melanjutkan kegiatan saya.
(Penulis:Royziki.F.Sinaga/Editor:Anto)