Ketua Umum Gema Santri Nusa Meminta Bupati Samosir dan Gubsu Bisa Beri Solusi Atas Permasalahan Madrasah Yayasan Ibnu Sina

Suaramedannews.com, Samosir – Masalah keagamaan di Samosir, khususnya terkait agama Islam, meliputi kesulitan mendapatkan Al-Qur’an dan minimnya pembinaan untuk umat Islam. Selain itu, Samosir juga dikenal dengan mayoritas penduduknya yang beragama Kristen, dengan adanya beragam tradisi keagamaan dan kepercayaan yang unik.

Disini Peran Tokoh Agama Pimpinan lembaga keagamaan dan tokoh agama di Samosir memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dan mensukseskan berbagai kegiatan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Gema Santri Nusa dan Pengurus BPET MUI Pusat ( RI ) KH. Akhmad Khambali,SE,MM di Medan, Kamis,(24/04/2025).

Menyikapi Kasus yang terjadi saat ini di Samosir terkait Yayasan Ibnu Sina, KH.Akhmad Khambali meminta agar penanaman nilai-nilai toleransi beragama di Kabupaten Samosir masih perlu ditingkatkan lagi, terutama di kalangan generasi Muda dan Tetua Adat Batak Toba yang masih sulit membuka diri terhadap umat agama yang berbeda.

Oleh karena itu, KH.Khambali sapaan akrabnya, meminta pemerintah Kabupaten Samosir dapat mempertimbangkan untuk:

– Meningkatkan Pendidikan Toleransi:

Meningkatkan pendidikan toleransi beragama di sekolah-sekolah dan masyarakat untuk mempromosikan pemahaman dan toleransi antar umat beragama.

– Mengembangkan Kegiatan Interaksi Antar Agama: 

Mengembangkan kegiatan interaksi antar agama untuk mempromosikan kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

– Menguatkan Peran Tokoh Agama:

Menguatkan peran tokoh agama dalam mempromosikan kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

KH.Khambali meminta kepada Bupati Samosir agar menjadi garda terdepan untuk penyelesaian permasalahan yang terjadi saat ini.

“Saya Mendesak Bupati Samosir selaku Kepala Pemerintahan setempat Hendaknya ambil langkah-langkah Konkrit menyikapi terkait keagamaan khususnya untuk Agama Islam, karena dengan Toleransi Indonesia khususnya Sumatera Utara menjadi sejuk, Damai, Nayaman dan Aman, apalagi Sumut sebagai Miniatur Indonesia, Bupati tidak boleh Buang Badan, Bupati Harus ada di Garda Terdepan dalam Hal ini” Tegasnya.

” Ingat…. dalam Hal Toleransi, kita sudah sangat clear… apalagi di kalangan Umat Islam selalu dan terus Gelorakan Toleransi Antar Umat Seagama, Toleransi antar Umat Beragama dan Toleransi antar sesama, seperti yang sudah kita lakukan selama ini di luar pulau Samosir, dengan cara menjaga dan mengamankan Gereja saat kegiatan hari besar saudara kita yang beragama kristen ” lanjutnya

Dirinya juga meminta kepada masyarakat terkhusus umat Islam diluar Samosir jangan sampai terprovokasi dengan info – info yang tidak benar.

” Saya meminta kepada seluruh lapisan masyarakat terkhusus umat Islam jangan terprovokasi dengan info – info yang tidak tau kebenarannya, saya yakin Pemkab Samosir dan Gubernur Sumatera Utara, serta yang bisa mengambil kebijakan bisa memberi solusi atas permasalahan ini, mari kita saling berjabat tangan untuk menciptakan Indonesia damai” lanjutnya kembali

Terlepas dari permasalahan yang terjadi KH. Khambali menjelaskan jika umat Islam di Indonesia selalu mengutamakan Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathoniyyah bukan Ukhuwah Basariyah.

“Kita selalu Mengamalkan Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathoniyyah (bukan Ukhuwah Basariyah) adalah dua konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan hubungan antar manusia”

Ukhuwah Insaniyah

Ukhuwah Insaniyah adalah persaudaraan kemanusiaan yang berdasarkan pada kesamaan asal-usul manusia, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Ukhuwah Insaniyah menekankan pentingnya hubungan baik dan saling menghormati antar manusia, tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau bangsa.

Ukhuwah Wathaniyah

Ukhuwah Wathaniyah adalah persaudaraan kebangsaan atau persaudaraan berdasarkan tanah air atau negara. Ukhuwah Wathaniyah menekankan pentingnya hubungan baik dan saling menghormati antar warga negara, serta mempromosikan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat.

Perbedaan

Perbedaan antara Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathaniyah adalah:

– Ukhuwah Insaniyah lebih luas dan mencakup semua manusia, sedangkan Ukhuwah Wathaniyah lebih spesifik dan terbatas pada warga negara atau masyarakat tertentu.

– Ukhuwah Insaniyah menekankan pada kesamaan asal-usul manusia, sedangkan Ukhuwah Wathaniyah menekankan pada kesamaan tanah air atau negara.

Kedua konsep ini sangat penting dalam membangun hubungan baik dan harmonis antar manusia, serta mempromosikan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat. Dengan memahami dan mengamalkan Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathaniyah, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera.

KH. Khambali menegaskan kepada Bupati Samosir jika tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi, ia meminta kepada Gubernur Sumut turun Gunung untuk mencari solusi yang baik, Agar kerukunan beragama dan toleransi bisa tercipta.

” Jika Bupati tidak bisa Menyelesaikan dalam hal ini, maka kami harap Gubernur selaku kepanjangan Tangan Pemerintah Pusat, Harus Turun Gunung untuk mencari Solusi yang Terbaik buat anak anak kita disana ” tutupnya

Terpisah Kepala Kanwil Kemenag Sumut H. Ahmad Qosbi, S.Ag, MM saat diminta tanggapannya mengatakan solusi sementara para siswa dipindahkan sementara ketempat yang sudah disediakan.

” Itu masalah peribadi sewa menyewa lokasi Madrasah gak ditutup sementara mereka belajar di tempat yang disediakan “jelasnya singkat.Kamis,(24/04/2025).

Sementara Pembina Yayasan Ibnu Sina Samosir Ustadz Yunaedy Sitorus menjelaskan jika proses ngajar mengajar siswa pasca dipindah paksa oleh anak pemilik rumah atau lahan terpaksa belajar di Ruangan Kantor KUA Samosir.

“Sejak awal Ramadhan sampai tanggal 10 April 2025, dengan jumlah siswa Raudhatul Athfal 26 siswa, Madrasah Ibtidaiyah 55 Siswa dan jumlah guru Raudhatul Athfal 3 orang dan guru Madrasah Ibtidaiyah 12 orang terpaksa belajar di Ruangan Kantor KUA Samosir” jelasnya. Kamis,(24/04/2025).

” Mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya Kegiatan belajar dan mengajar, maka dengan kesepakatan Bersama antara wali siswa dan pihak madrasah, kami melakukan pembongkaran gembok secara Bersama-sama pada tanggal 10 April 2025 yang lalu dan proses kegiatan belajar dan mengajar kami laksanakan digedung yang kami sewa sampai saat ini. Walau sampai saat ini gangguan demi gangguan hampir setiap hari kami terima sehingga sangat menggangu aktifitas belajar siswa “Keluhnya

(Royziki F.Sinaga/red)

 

About SMN_RY22

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *