Arah Gerak Perjuangan PERSIS 100 tahun Kedua.

Suaramedannews.com, Jakarta-Rentang 100 tahun pertama telah dilewati PERSIS dengan mengusung dan membumikan paham pembaharuan (tajdid) di Indonesia. Seratus tahun kedepan tantangan perubahan zaman semakin kompleks, kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan pemikiran ke agamaan akan terus berubah dengan berbagai dinamikanya.

Strategi dan pola dakwah yang lebih terbuka harus dikedepankan, terus meningkatkan kualitas dakwah dengan memberikan perhatian besar pada visi ke-Islaman, kebangsaan dan kesejahteraan dalam dakwah yang lebih terbuka, demikian paparan disampaikan Prof. Dadan Wildan Anas Sekretaris Majelis Penasehat PP PERSIS pada 13 November 2022 dalam Musyawarah Kerja Nasional Ke-Satu di Jakarta.

12 September 2023 yang akan datang Persatuan Islam genap 100 tahun dalam kiprah dakwahnya dibelantara Indonesia.

Dalam menjalankan risalah dakwah kita harus berkaca kepada para tokoh PERSIS abad 20 yang mampu tampil sebagai organisasi pemikiran Islam yang berpengaruh,”kata Dadan Wildan.

Sebaliknya di awal abad 21 di era digital dan kesejagatan, di era pemikiran umat yang semakin bebas dan liberal tentunya Persis harus kembali menampilkan jati dirinya sebagai organisasi pembaharu pemikiran Islam.

Patut kita berkaca dan bercermin kepada tokoh pelopor berdirinya organisasi ini seperti H. Muhamad Zamzam dan H. Mohammad Yunus dan semakin semarak dan bernas dengan bergabungnya A. Hassan dan Mohammad Natsir di era berikutnya.

Sementara Wakil Ketua Umum PP PERSIS Prof. Atip Latifulhayat, SH, LLM, Ph. D menyampaikan perlunya reinventing and transforming menjelang se abad berdirinya Persis sebagai rujukan utama pemikiran Islam menjadi suatu keniscayaan.

Kedepan seluruh jajaran Pimpinan Pusat harus lebih kuat dalam mengembangkan pemikiran sehingga dikenal lebih luas di pentas nasional dan internasional, kajian dan dialog ke Islaman di tingkat nasional dan dunia akan kembali menempatkan Persis sebagai harakah tajdid, ” ujar Atip Latifulhayat.

Dadan Wildan menekankan zaman terus berubah, Persis harus berani mengubah pola, strategi, media, dan metode dakwah yang lebih terbuka, sehingga lebih aktif menegakkan amar makruf nahi munkar dengan cara yang tepat dan terukur.

Persatuan Islam harus tetap hadir sebagai pencerah sebagaimana kelahirannya di awal abad ke 20.

Di era digital, Persis harus mampu kembali mewujudkan jati dirinya sebagai organisasi pemikiran Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Lanjutan diskusi kami, Persis terus mematangkan konsep keterlibatan dan partisipasi ke dalam politik Indonesia, dari rangkaian sejarah Persis telah memberikan kejelasan mengenai warna ideologi dan gerakan politiknya.

Dari segi ideologi, Persis sangat kukuh dengan doktrin ketidakterpisahan politik dari kehidupan sehari – hari.

Doktrin ini adalah doktrin yang terpelihara sejak masa Rasulullah Saw. hingga saat ini yang merupakan karakter khas politik Islam.

Persis menganjurkan kader-kader terbaiknya terjun ke gelanggang politik agar dapat berkontribusi buat NKRI yang kita cintai bersama pungkas,”Prof. Dadan Wildan.

(Reporter:Anto/Editor:Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *