Suaramedannews.com, AcehTamiang – Di tengah sunyi batu nisan dan bukit pemakaman, ratusan warga Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, terpaksa bertahan hidup. Bukan untuk berziarah, melainkan mengungsi dari banjir yang menenggelamkan kampung mereka. Kuburan Cina menjadi satu-satunya tempat paling tinggi dan aman dari terjangan air.
Pemandangan itulah yang membuat Tim Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) mengaku prihatin saat turun langsung ke lokasi, Minggu (28/12/2025).
“Kami sangat prihatin. Warga membangun tenda darurat di areal komplek kuburan Cina. Ini tentu tidak layak, baik dari sisi lingkungan maupun kesehatan,” ujar Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari A.M. Sinik.Kepada Wartawan di Medan, Senin (29/12/2025).
Azhari, yang akrab disapa Ari, datang ke Aceh Tamiang dalam rangka menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui program Peduli Berbagi Menyambung Tali Asih Sesama Kita bertajuk “Pray for Sumatera”. Bantuan yang disalurkan berupa sembako, Al-Qur’an, mukena, kain sarung, serta kebutuhan pangan dan perlengkapan ibadah lainnya.
Ari menceritakan dirinya selama disana didampingi Ibrahim Johar, tokoh setempat yang juga pengawas area pemakaman, Ari berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang segera menyediakan lokasi pengungsian yang lebih layak.
“Lingkungan yang aman dan sehat, meski hanya sementara, akan memberi rasa tenang bagi warga yang sedang tertimpa musibah,” katanya.
Titik Tertinggi, Pilihan Terakhir
Meski tampak pasrah dan berusaha tenang, Ari mengaku menyimpan kekhawatiran. Kompleks pemakaman tersebut jelas bukan tempat ideal untuk dihuni dalam waktu lama.
Ibrahim Johar, yang juga menjabat sebagai Datuk (kepala desa) Kampung Durian, mengungkapkan bahwa warga sudah tujuh hari mengungsi.
“Kami berada di kuburan Cina karena ini titik tertinggi di Kampung Durian. Air tidak bisa menjangkaunya,” tutur Ibrahim.
Banjir mulai melanda Aceh Tamiang sejak Ahad, 30 Oktober, setelah Sungai Tamiang yang berhulu di kawasan hutan Leuser meluap akibat hujan deras yang turun tanpa henti. Air keruh merangsek permukiman, mengubah sumber kehidupan menjadi petaka.
Awalnya hanya beberapa kampung yang terdampak. Namun debit air terus meningkat. Dua hari kemudian, giliran Kecamatan Rantau terendam. Warga sempat bertahan di rumah.
Kuburan Cina itu kini bukan lagi sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang hidup sementara bagi sekitar 300 hingga 500 jiwa yang rumahnya terendam, rusak, bahkan hanyut diterjang banjir besar.
“Di sinilah titik tertinggi kampung kami,” kata Ibrahim Johar, Datuk Kampung Durian. “Air tidak sampai ke sini. Jadi mau tak mau, kami mengungsi ke kuburan.”
Sudah tujuh hari Ibrahim bersama warganya tinggal di area pemakaman itu. Siang hari mereka bertahan dari terik, malam hari bergelut dengan gelap dan dingin. Listrik padam. Tak ada penerangan kecuali lilin yang menyala beberapa jam. Untuk mengisi daya telepon seluler, mereka menumpang genset tetangga — itu pun jika ada solar.
Banjir yang melanda Aceh Tamiang sejak akhir Oktober datang perlahan, lalu berubah menjadi bencana. Sungai Tamiang yang berhulu di rimba Leuser meluap setelah hujan deras turun tanpa henti. Air keruh merangsek masuk ke rumah warga, naik dari semata kaki hingga mencapai tiga meter.
Awalnya, warga masih berharap air akan surut. Mereka bertahan di rumah masing-masing. Namun harapan itu tenggelam seiring naiknya debit air. Pada hari ketiga, tak ada lagi pilihan selain pergi — menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Di sela-sela makam itulah tenda-tenda darurat didirikan. Anak-anak tidur beralas tikar tipis, orang tua duduk termenung, menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Hingga kini, sebagian warga belum berani kembali ke rumah. Lumpur masih menggenang. Beberapa bangunan roboh, sebagian lainnya hilang terseret arus. Lapangan sepak bola Kampung Durian pun tenggelam dalam lumpur tebal.
“Entah sampai kapan kami di sini,” ujar seorang pengungsi lirih. “Rumah kami masih berlumpur. Ada yang sudah hanyut.”
Di tengah keterbatasan, warga Kampung Durian bertahan dengan kesabaran. Di antara makam-makam tua, mereka belajar kembali tentang arti hidup, kehilangan, dan harapan.
Banjir mungkin telah merenggut banyak hal, namun di kuburan Cina itu pula, nilai kemanusiaan justru menyala — lewat solidaritas, kepedulian, dan uluran tangan bagi sesama.
“Semoga setiap bantuan menjadi doa, dan setiap uluran tangan menjadi cahaya harapan,” pungkas Ari.
(Royziki F.Sinaga/Red)