Miris!! Rasa Empati hilang di tengah – tengah kita

suaramedamnews.com,Mandailing Natal- Sejatinya Hari Raya Idul Fitri 1444H disambut Suka cita dengan berbagai macam pernak pernik lebaran mulai dari mengenakan pakaian baru serta berbagai macam menu hidangan lebaran tentunya yang sangat lezat.
Namun tidak demikian halnya yang di alami Ompung(kakek)Deling 77 tahunni.

Jangankan untuk membeli baju buat berlebaran dan menyiapkan hidangan lebaran yang lezat,untuk makan dan aktifitas keseharian,semenjak penyakit Lumpuh yang di deritanya Kakek tersebut hanya bisa menunggu pemberian dan belas kasihan orang yang lewat di depan gubuknya.

Ompung (Kakek) Deling(77) hidup sebatang Karang di gubuk berukuran 2×3 meter dekat jembatan Penghubung Naga Juang-Desa Jambur Matinggi,Kecamatan Panyabungan Utara.

Kakek Deling tinggal di gubuk tersebut tanpa penerangn listrik dan hanya mengandalkan senter mancis sebelum dirinya tertidur.

Hal itu seperti yang di utarakan khoiriyah kepada jurnalis Warta Mandailing Kamis(27/04/2023).

Menurut Khoiriyah, Ompung Deling hidup dalam kondisi memprihatinkan, ia tinggal sebatang kara di gubuk kecil dengan kondisi mengidap penyakit kelumpuhan, miris, Ompung itu tidak memiliki sumber kehidupan.

Saat berkunjung, lanjut Khoiriyah, Ompung Deling bercerita, dia makan dari belas kasihan warga setempat, kadang ada yang memberi roti dan goreng pisang, kadang dalam sehari sebiji nasi pun ngak bisa dia makan sama sekali, karena tidak ada yang datang memberi.

“Untuk makan nasi sudah sangat jarang dalam lima bulan ini, katanya karena keluarganya jarang menjenguk apalagi mengantar bekal makanan sejak dirinya diasingkan di gubuk itu,” ujar Khoiriyah kepada Warta Mandailing, Kamis (27/04/23)

“Alat penerangan kakek itu malam hari hanya mengandalkan senter mancis sebelum dirinya tertidur.”terangnya.

Hingga saat ini, Ompung Deling sudah menghuni gubuk kecil itu jalan lima bulan, tinggal dalam gubuk derita tersebut menjadi pilihan setelah kakinya lumpuh satu tahun terakhir.

“Diceritakan Ompung, sebelumnya ia tinggal di ladang, karena kondisi kesehatan dengan umurnya yang semakin tua, lima bulan lalu warga membangun gubuk kecil untuk tempat tinggal si kakek.” pungkasnya.

Kepiluan semakin bertambah ketika Ompung Deling kesusahan saat ingin makan, ia begitu jarang makan nasi belakangan ini lantaran tidak memiliki perlengkapan rumah tangga dan uang untuk beli beras.

Bukan hanya untuk mendapatkan makanan begitu juga dengan buang hajat, untuk BAB kakek terpaksa menunggu warga yang lewat dari areal pondoknya, tak jarang warga menolak permintaan kakek untuk membopongnya ke sungai.

“Susahnya lagi, saat mau BAB, mau jalan sendiri tidak bisa, kadang untuk itu saya tahan sampai setengah hari, begitu cerita kakek.” tutur Khoiriyah.

Amat miris ketika dirinya merasa sakit dan kelaparan tidak satupun orang yang mengetahui keadaannya, diketahui Ompung Deling terakhir dapat makan nasi hari kedua lebaran kemarin.

Namun meski hidup di tengah keterbatasan, tidak membuat kakek menyerah,dan tetap tegar menghadapi kejamnya kehidupan, ia selalu berharap untuk bisa sembuh agar bisa bekerja lagi.

(Reporter:Suhartono/Editor:Anto)

About SMN_Ant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *