HAFAL DAN LUPA
- Pengertian Hafal
Secara lebih luas, menghafal adalah usaha untuk memasukkan sesuatu ke dalam pikiran agar selalu ingat. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata menghafal berasal dari kata “hafal” yang artinya telah masuk ingatan tentang pelajaran atau dapat mengucapkan diluar kepala tanpa melihat buku atau catatan lain. Kemudian mendapat awalan me– menjadi menghafal yang artinya adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat.
Menurut bahasa Arab, menghafal menggunakan terminology alHifzh yang artinya menjaga, memelihara, atau menghafalkan. Hifzh diartikan memelihara atau menjaga dan mempunyai banyak idiom yang lain, seperti si-fulan membaca al-Qur’an dengan kecepatan yang jitu (zhahru al-lisan) dengan hafalan diluar kepala (zhahru al-qolb). Baik kata-kata zhahru al-lisan maupun zhahru al-qolb merupakan kinayah dari hafalan tanpa kitab, karena itu disebut “istizhahrahu” yang berarti menghafal dan membacanya diluar kepala.
Kemampuan penghafal Al Qur’an menjaga hafalannya seperti dijelaskan dalam satu hadits Rasuluuah SAW
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ القُرْآنِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ ) رواه البخاري
Artinya:
Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan penghafal Al Qur`an adalah seperti seorang yang memiliki onta yang terikat, jika dia selalu menjaga ontanya, maka dia akan menahannya, namun jika dia melepaskannya, onta itu akan pergi. (HR Bukhari)
Menurut Suryabrata sebagaimana yang dikutip oleh Kamilhakimin Ridwal Kamil dalam bukunya “ Mengapa Kita Menghafal (tahfizh) al-Qur’an”, istilah menghafal disebut juga mencamkan dengan sengaja dan dikehendaki, artinya dengan sadar dan sungguh-sungguh mencamkan sesuatu. Dikatakan dengan sadar dan sungguh-sungguh, karena ada pula mencamkan yang tidak senngaja dalam memperoleh suatu pengetahuan
Menghafal termasuk metode belajar di berbagai lembaga pendidikan. Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, membaca Al-Qur’an.
Menghafal merupakan kegiatan menghayati dan meresapkan bacaan-bacaan kedalam hati hingga melekat kuat dalam ingatan. Demikian juga aktivitas menghafal Al-Qur’an menempati tingkatan tertinggi dengan membaca dan mendengar karena terhimpun tiga aktivitas sekaligus yaitu membaca, mengulang bacaan, dan menyimpan dalam memori otak.
- Pengertian Lupa
Pengertian Lupa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lupa berarti lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi; atau tidak teringat. Lupa juga bisa berarti tidak sadar akan keadaan diri sendiri atau keadaan sekelilingnya.
Lupa merupakan ketidakmampuan untuk memunculkan kembali informasi yang telah dipelajari atau disimpan dalam ingatan. Proses lupa melibatkan hilangnya atau modifikasi informasi dari memori jangka pendek atau jangka panjang, baik secara spontan maupun bertahap. Lupa dapat terjadi pada siapa saja dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengulangan, gangguan informasi lain, atau perubahan kondisi saat pengkodean dan pengambilan informasi.
Menurut Imam Suprayogo (uin-malang.2016) lupa.salah satu sifat manusia adalah pelupa. Apa yang dilakukan atau dialami beberapa waktu saja, kadang sudah dilupakan. Hanya peristiwa yang benar-benar mengesankan, berhasil dapat diingat dalam waktu lama. Sedangkan kegiatan rutin sehari-hari cepat sekali dilupakan. Oleh karena lupa itu, seseorang kadang ragu apakah sudah melaksanakan shalat atau belum. Demikian pula dalam shalat juga lupa, sudah sampai raka’at ke berapa, dan seterusnya. Akan tetapi hendaknya seseorang jangan sering mengatakan dirinya lupa agar lupa out tidak menyertai dirinya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ، بَلْ نُسِّيَ وَاسْتَذْكِرُوا القُرْآنَ، فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ ) رواه البخاري (
Artinya
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah seseorang mengatakan, ‘Aku lupa ayat ini dan ini’. Akan tetapi katakanlah ‘Telah dilupakan’. Hendaklah kamu selalu mengulang-ulang bacaan Al-Qur`an, sebab ia begitu cepat perginya dari dada orang dari pada hilangnya onta (yang diikat)
Setelah melihat definisi menghafal dan Al-Qur’an diatas tadi dapat disimpulkan bahwa
mnghafal Al-Qur’an adalah proses untuk memelihara, menjaga, dan melestarikan kemurnian Al-
Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad lewat malaikat Jibril diluar kepala agar tidak
terjadi pemalsuan dan perubahan serta dapat menjaga dari sifat lupa.
- FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUDAH HAFAL DAN LUPA
- 1. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUDAH HAFAL
Faktor yang mempengaruhi mudah atau sulitnya menghafal bisa berasal dari internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi konsentrasi, motivasi, strategi belajar, kondisi psikologis, dan pembawaan. Faktor eksternal mencakup lingkungan belajar, metode pengajaran, dukungan keluarga, dan fasilitas yang memadai.
Faktor Internal:
1). Konsentrasi: Kemampuan untuk fokus pada materi yang dihafal sangat penting. Kondisi lingkungan yang tenang dan minim gangguan dapat meningkatkan konsentrasi.
2). Motivasi: Motivasi yang kuat akan membuat seseorang lebih semangat dan mudah dalam menghafal.
3). Strategi Belajar: Penggunaan metode menghafal yang efektif, seperti mind mapping, teknik mnemonik, atau active recall, dapat meningkatkan daya ingat.
4). Kondisi Psikologis: Stres, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya dapat mengganggu kemampuan menghafal.
5). Pembawaan: Beberapa orang mungkin memiliki bakat alami yang membuat mereka lebih mudah menghafal, misalnya dalam bidang musik atau bahasa.
Faktor Eksternal:
1). Lingkungan Belajar: Lingkungan yang kondusif, tenang, dan bebas dari gangguan akan membantu proses menghafal.
2). Metode Pengajaran: Metode pengajaran yang menarik dan interaktif dapat membuat materi lebih mudah dipahami dan diingat.
3). Dukungan Keluarga dan Lingkungan: Dukungan dari keluarga, teman, dan guru dapat memberikan motivasi dan semangat tambahan.
4). Fasilitas: Fasilitas yang memadai, seperti tempat belajar yang nyaman dan bahan ajar yang lengkap, juga dapat mendukung proses menghafal.
Cara Meningkatkan Kemampuan Menghafal diantaranya adalah:
1). Tidur yang Cukup: Pastikan tidur yang cukup agar otak dapat beristirahat dan memproses informasi dengan baik.
2). Olahraga Teratur: Olahraga dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan meningkatkan daya ingat.
3). Makan Makanan Bergizi: Konsumsi makanan yang kaya akan vitamin dan mineral yang baik untuk otak, seperti buah-buahan, sayuran, dan ikan.
4). Hindari Stres: Kelola stres dengan baik melalui relaksasi, meditasi, atau aktivitas lain yang menyenangkan.
5). Buat Jadwal Belajar: Atur waktu belajar secara teratur dan buat target hafalan yang realistis.
6). Gunakan Berbagai Metode: Coba berbagai metode menghafal untuk menemukan yang paling efektif bagi diri sendiri.
7). Jangan Takut Bertanya: Jika ada materi yang sulit dipahami, jangan ragu untuk bertanya kepada guru, teman, atau orang yang lebih ahli.
- CARA CEPAT DALAM MENGHAPAL
Santri di pondok pesantren seringkali mengalami kesulitan dalam menghafal baik pelajaran ataupun menghafal Alqur’an. Syekh Az-Zarnuji berbagi kiat bagi para santri dan pelajar agar lebih cepat dalam menghapal pelajaran, serta mampu menjaga hapalan tersebut agar tidak mudah lupa. Kiat-kiat dimaksud adalah:
1). Bersungguh-sungguh dalam menyimak pelajaran dan menghapalkannya
2). Berusaha terus-menerus dan rutin melakukannya
3). Mengurangi makan-minum yang berlebihan, salah satunya dengan memperbanyak puasa sunah
4). Rajin menjalankan shalat malam
5). Rutin membaca Al-Quran dengan cara melihat mushaf. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. “Amal umatku yang paling utama adalah membaca Al-Quran dengan melihat mushafnya.”
Selain itu, Syekh az-Zarnuji juga memberi doa dan amalan khusus kepada para penimba ilmu ketika mengambil kitab atau buku yang akan dipelajari atau dihapalkan. Doanya adalah sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ عَدَدَ كُلِّ حَرْفِ كُتِبَ وَيُكْتَبُ أَبَدَ الْأَبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِيْنَ
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah, maha suci Allah, segala puji milik Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar, dan tiada daya upaya selain pertolongan Allah yang maha tinggi, agung, mulia, dan maha mengetahui, sebanyak semua huruf yang telah ditulis dan akan ditulis selama-lamanya dan sepanjang waktu.”
Kemudian, setiap selesai shalat fardhu, dianjurkan membaca:
آمَنْتُ بِاللهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدِ الْحَقِّ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَكَفَرْتُ بِمَا سِوَاهُ
Artinya:
Aku beriman kepada Allah, Dzat yang maha esa, maha tunggal, serta maha haq. Tidak sekutu bagi-Nya. Dan aku ingkar kepada tuhan selain-Nya.
Selain kiat dan bacaan di atas, juga disebutkan kiat lainnya, yaitu selalu membaca shalawat, bersiwak setiap waktu, mengonsumci madu, makan kandar dan kismis merah sebanyak 21 butir setiap hari (jika ada).
- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUDAH LUPA
Adapun yang berkaitan dengan mengenai proses lupa adalah:
1). Teori Atropi (Decay): Teori ini menyatakan bahwa lupa terjadi karena informasi yang disimpan dalam memori tidak digunakan atau jarang digunakan, sehingga lama kelamaan memudar dan hilang.
2). Teori Interferensi: Teori ini menjelaskan bahwa lupa disebabkan oleh informasi lain yang mengganggu atau menghalangi informasi yang ingin diingat.
Ada dua jenis interferensi yaitu :
- Retroactive Inhibition: Informasi baru menghambat kemampuan mengingat informasi lama.
- Proactive Inhibition: Informasi lama menghambat kemampuan mengingat informasi baru.
3). Teori Kegagalan Pengambilan (Retrieval Failure): Teori ini berpendapat bahwa informasi mungkin masih ada dalam memori jangka panjang, tetapi tidak dapat diakses karena kurangnya petunjuk yang tepat saat mencoba mengingatnya.
Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan lupa:
- Kurangnya Pengulangan: Informasi yang jarang diulang atau dilatih cenderung lebih mudah dilupakan.
- Perubahan Kondisi: Perbedaan situasi antara saat informasi dipelajari dan saat mencoba mengingatnya dapat mempengaruhi kemampuan mengingat.
- Gangguan Emosional atau Psikologis: Peristiwa traumatis atau stres dapat menyebabkan informasi ditekan atau sulit diakses.
- Faktor Usia: Kemampuan mengingat bisa menurun seiring bertambahnya usia.
- Kondisi Medis:Beberapa kondisi medis seperti Alzheimer atau demensia dapat menyebabkan gangguan memori yang signifikan.
Meskipun lupa seringkali dianggap sebagai hal negatif, lupa juga memiliki sisi positif. Lupa terhadap pengalaman buruk atau traumatis dapat membantu seseorang untuk pulih dan berkembang lebih baik.
Sedangkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia. Lupa bukan persoalan sederhana, bahwa banyak orang mengalami kerugiaan atau kecelaan hanya oleh karena lupa itu. Lebih-lebih lagi adalah orang yang melupakan dirinya, amanah atau tanggung jawabnya, dan bahkan terhadap tuhannya.
Syekh az-Zarnuji menyebutkan hal-hal yang menyebabkan hilangnya hapalan, yaitu:
- perbuatan dosa dan maksiat
- pikiran yang sedih dan bingung
- terlalu banyak kesibukan dan hubungan yang tidak bermanfaat.
Namun, semua itu dapat ditepis dengan cara memperbanyak shalat yang khusyu, fokus menghasilkan ilmu, dan senantiasa bertawakal kepada Allah. az-Zarnuji, Ta’limul-Muta’allim, 41-42).
BAB III
KESIMPULAN
Menghafal termasuk metode belajar di berbagai lembaga pendidikan. Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, membaca Al-Qur’an. Menghafal merupakan kegiatan menghayati dan meresapkan bacaan-bacaan kedalam hati hingga melekat kuat dalam ingatan. Demikian juga aktivitas menghafal Al-Qur’an menempati tingkatan tertinggi dengan membaca dan mendengar karena terhimpun tiga aktivitas sekaligus yaitu membaca, mengulang bacaan, dan menyimpan dalam memori otak.
Selain faktor internal, faktor eksternal juga memainkan peran penting dalam menentukan sejauh mana siswa dapat menghafal dengan efektif. Salah satu faktor eksternal yang paling berpengaruh adalah metode pengajaran yang digunakan oleh pendidik. Metode pengajaran yang kurang variatif dan tidak menyesuaikan dengan gaya belajar siswa dapat membuat proses menghafal menjadi sulit dan membosankan. Gaya belajar siswa yang beragam, seperti gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik, seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif. Jika seorang siswa memiliki gaya belajar visual, misalnya, maka penggunaan diagram, gambar, atau video edukatif dapat membantu meningkatkan kemampuannya dalam menghafal.
Lupa merupakan ketidakmampuan untuk memunculkan kembali informasi yang telah dipelajari atau disimpan dalam ingatan. Proses lupa melibatkan hilangnya atau modifikasi informasi dari memori jangka pendek atau jangka panjang, baik secara spontan maupun bertahap. Lupa dapat terjadi pada siapa saja dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengulangan, gangguan informasi lain, atau perubahan kondisi saat pengkodean dan pengambilan informasi.
Faktor internal meliputi konsentrasi, motivasi, strategi belajar, kondisi psikologis, dan pembawaan. Faktor eksternal mencakup lingkungan belajar, metode pengajaran, dukungan keluarga, dan fasilitas yang memadai.
Cara sepat menghafal adalah: Bersungguh-sungguh dalam menyimak pelajaran dan menghapalkannya, Berusaha terus-menerus dan rutin melakukannya, Mengurangi makan-minum yang berlebihan, salah satunya dengan memperbanyak puasa sunah, Rajin menjalankan shalat malamdann Rutin membaca.
Hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia. Lupa bukan persoalan sederhana, bahwa banyak orang mengalami kerugiaan atau kecelaan hanya oleh karena lupa itu. Lebih-lebih lagi adalah orang yang melupakan dirinya, amanah atau tanggung jawabnya, dan bahkan terhadap tuhannya.
Syekh az-Zarnuji menyebutkan hal-hal yang menyebabkan hilangnya hapalan, yaitu:
- perbuatan dosa dan maksiat
- pikiran yang sedih dan bingung
- terlalu banyak kesibukan dan hubungan yang tidak bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Desy, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Amelia, 2003), hlm. 117
http://pksaceh.net/mengapa-kita-menghafal-tahfidzh-al-qur%E2%80%99an/(02Maret2014)
http://www.imamsyafii2pku.org/hafalan-al-quran-itu-cepat-hilang-ini-cara-menjaganya/#_ftn1
https://uin-malang.ac.id/r/160701/lupa.html
https://www.google.com/search?q=FAKTOR+YANG+MEMPENGARUHI+MUDAH+HAFAL&sca_esv=
Nofindra, R. (2019). Ingatan, lupa dan transfer dalam belajar dan pembelajaran. Jurnal Pendidikan Rokania, 4(1), 21-34.
Nur Fazrah Hasibuan1 , Amanda Putri Handayani2: Jurnal Intelek Insan Cendikia, ANALISIS FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB SISWA KESULITAN DALAM MENGHAFAL, Vol : 2 No: 4, April 2025 E-ISSN : 3047-7824