Diduga Mandor PT Nitra Kebal Hukum, Setelah Mencoba Mencelakai Wartawan

Suaramedannews.com, Deliserdang – Lagi lagi, Aksi kekerasan terhadap Wartawan kembali terjadi dan kali ini menimpa salah seorang wartawan salah satu media Online di Medan Lamhot Sinaga (33) di wilayah Hukum Polsek Namorambe. Kejadian tersebut terjadi ketika Lamhot Sinaga Sedang Mewawancarai Seorang Wanita terkait tanamannya yang rusak akibat pemotongan pohon mahoni milik pengusaha PT Nitra.Jumat,(12/01/2023).

Kejadian ini diduga berkaitan dengan konflik lahan antara warga dan pengusaha tersebut. naasnya seorang nenek (60) warga Desa Kuta Tengah jadi korban.

Lamhot Sinaga (33) saat ditemui mengisahkan saat kejadian dirinya sedang mewawancarai Nenek Boru Tarigan (60) warga setempat, yang tanamannya rusak.

“Menurut Beru Tarigan, pengusaha itu telah memotong pohon mahoni yang berakibat merusak tanaman jagungnya. Dan pengusaha itu mengeluarkan kata-kata kotor dan hinaan. Hal ini menimbulkan cekcok antara kedua belah pihak”kata Lamhot Sinaga.

Kejadian ini berlanjut sampai aksi penutupan akses menuju lahan milik pengusaha tersebut. Belakangan diketahui dari warga bahwa jalan menuju pintu masuk lahan pengusaha tersebut adalah milik mertua Beru Tarigan, dan terjadi aksi seperti film mafia Hongkong.

Saat pelaku yang berusaha menabrak Lamhot Sinaga, Namun yang tersenggol Nenek Boru Tarigan (60).(dok.SMN)

“Saya melihat seorang laki-laki berinisial ITS mengendarai sepeda motor dengan niat menabrak saya, mungkin karena saya terlalu mencampuri urusan di sini” jelas Lamhot.

Namun naas, yang ditabrak itu bukan Lamhot, melainkan Beru Tarigan, yang saat itu sedang berada di dekatnya. Akibatnya, Beru Tarigan harus mendapat perawatan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, pelaku penabrak itu turun dari sepeda motornya dan berjalan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Nenek Boru Tarigan (60) saat dibawa Ke Rumah Sakit Setelah di Serempet Pelaku.(dok.SMN)

Ironisnya saat kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Babinkamtibmas Legianto dan Yahya Barus beserta Kepala Desa Natanail Palawi bersama anggotanya.

“Yang sangat saya sayangkan, insiden ini terjadi di depan mata pihak kepolisian Namorambe dan aparat Desa Kuta Tengah. Namun, mereka tidak melakukan tindakan apa pun terhadap pelaku maupun korban. Mereka hanya diam di tempat dan tidak berbuat apa-apa. Saya dan korban berharap pihak kepolisian segera bertindak tegas terhadap pelaku, dan terhadap anggota kepolisian dan desa juga harus dilanjutkan ke sanksi tugasnya karena melakukan pembiaran,” tegasnya Lamhot.

Terpisah Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumut, Eris Julietta Napitupulu saat diminta tanggapannya prihal dugaan kekerasan oleh oknum kepada wartawan meminta kepada perusahaan media bersangkutan agar secepatnya mendampingi wartawannya untuk buat laporan ke Polda Sumatera Utara.

“Kalau bisa media bersangkutan agar segera lakukan pendampingan untuk membuat laporan ke Poldasu, agar oknum tersebut bisa di proses secara hukum, karena seperti kata Kapoldasu, media dan Polisi adalah mitra tidak bisa dipisahkan” kata Eris,Minggu,(14/01/2024).

“Saya juga meminta kepada pihak kepolisian khususnya Polda Sumut agar secepatnya menindak dan mengusut tuntas permasalahan yang terjadi, agar jangan lagi ada kekerasan kepada awak media saat bertugas dilapangan”tambahnya

Wakil Ketua Bid Pendidikan PWI Sumut yang sapaan akrabnya Mas Sugiatmo mengecam keras tindakan oknum yang mencoba melukai wartawan yang sedang bertugas.

“Dari kejadian pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, pasal 18 ayat (1), yang menyebutkan bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta”jelasnya,Minggu,(14/01/2023).

“Dan jika benar pelaku berencana melukai atau menganiayaan Ada tiga macam penganiayaan berencana yang tertuang di dalam Pasal 353 KUHP, yaitu penganiayaan berencana yang tidak berakibat luka berat atau kematian dan dihukum penjara paling lama 4 tahun, lalu penganiayaan berencana yang berakibat luka berat dan dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun, serta penganiayaan berencana yang berakibat kematian yang dapat dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun”tutupnya

Perlu diketahui juga pada hari Minggu,(14/01/2024) Malam Lamhot Sinaga didampingi rekan jurnalis yang bertugas di Namorambe telah membuat Laporan ke Polsek Namorambe, Namun sangat disayangkan laporan korban tidak diterima.

“Laporan saya di Polsek tidak diterima, kata Polisi yang piket kami harus menghubungi Kapolsek langsung”Jelas Lamhot Sinaga.

(Royziki F.Sinaga/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *