Suaramedannews.com, Medan – Penyakit Cardiovascular seperti jantung, kanker, stroke, gagal ginjal terus meningkat dan menempati penyakit tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia- usia produktif.
Tingginya resiko penyakit jantung koroner disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti, merokok dan pola makan yang tidak seimbang.
Gaya hidup, merokok dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK). Lima puluh persen penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau Sudden Cardial death.
Prevalensi (resiko) cardiovascular disease (CVD) meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang ujar Dr.dr. H. Elman Boy,M.Kes,Sp.KKLP,FIS-PH,FIS-CM,AIFO-K. Yang juga Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah sumatera Utara UMSU) ini kepada Abdul Aziz, Ahad (5/6/2022).
Kepala Bagian IKM/IKK/IKP FK ini menerangkan bahwa, satu dari dua lansia di Indonesia menderita CVD dan paling banyak terjadi pada perempuan. Aktifitas fisik rendah dan lemahnya kondisi psikis pada lansia menurunkan kebugaran lansia dan meningkatkan risiko CVD, terutama akibat efek domino yang diinisiasi oleh pembatasan aktifitas fisik dan isu-isu keselamatan seperti pada Pandemi Covid 19, yang 2 tahun belakangan ini menjangkiti umat manusia.
Kebugaran dapat dinilai secara obyektif melalui tingkat konsumsi O2 maksimal (VO2maks) yang dapat di ukur dengan cara prediksi, termasuk dengan metode perhitungan 6 minute walk test (6MWT) yang dikembangkan oleh Nury, telah digunakan secara luas di Indonesia,”lanjut Elman Boy.
Kebugaran lansia juga dipengaruhi oleh stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA), salah satu prooksidan yang menjadi marker penting bagi kelemahan fisik yang dialami lansia, sedangkan aktifitas Gluthathione peroxidase (GPx) sebagai salah satu antioksidan sangat penting dalam mencegah stres oksidatif.
Bagi para lansia direkomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik reguler dengan intensitas ringan-sedang setidaknya 2,5 jam/pekan atau 30 menit/hari, sebagai perlindungan vaskular.
Aktifitas fisik memberikan respon adaptasi akut dan kronis kepada tubuh manusia, respon adaptasi akut dapat dicapai dalam kurun waktu 6 pekan. Modifikasi gaya hidup dengan melakukan aktifitas fisik intensitas ringan-sedang dengan pendekatan mind body medicine saat ini menjadi tren di dunia, namun penelitian tentang pengaruh Salat Dhuha terhadap kebugaran lansia, masih belum dijelaskan dengan baik, tentu ini manjadi tantangan bagi kita-kita, terutama para dokter.
Dari 101 orang calon relawan perempuan lansia yang ada di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dinas Sosial Binjai Provinsi Sumatera Utara, 26 orang lansia telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan telah di bagi menjadi dua kelompok secara acak, yaitu kelompok salat dhuha 2 rakaat (n=13) dan kelompok salat dhuha 8 rakaat (n=13). Selama penelitian berlangsung, relawan penelitian tidak merubah kebiasaan sehari-hari.
Pemeriksaan fisik diagnostik, darah dan pemeriksaan jalan cepat bolak balik di lintasan dengan segenap kemampuan maksimal, selama enam menit (6MWT), pemeriksaan VO2maks dengan metode tidak langsung (formula Nury), pemeriksaan aktivitas GPx dan kadar MDA dengan metode spektrophotometer, pemeriksaan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik serta denyut jantung pada para relawan penelitian telah dilakukan sebanyak dua kali, yakni sebelum dan sesudah intervensi salat dhuha berjamaah di masjid yang ada di UPT.
Dr.dr. Elman melanjutkan, Salat dhuha yang dilaksanakan 5 kali sepekan selama 6 pekan antara pukul 08.00 – 10.00 WIB, dilaksanakan secara berjamaah, memenuhi rukun dan syarat sah salat serta memerhatikan tuma’ninah pada setiap gerakannya. Saat pelaksanaan penelitian terjadi drop out 2 orang relawan, yakni 1 orang dari masing-masing kelompok, karena tidak tertib mengikuti salat dhuha sebagai mana kesepakatan (kelompok salat dhuha 2 rakaat) dan oleh karena harus di rawat karena sakit (kelompok salat dhuha 8 rakaat).
Jumlah relawan yang mengikuti Waktu penelitian sampai selesai dan dianalisis pada masing-masing kelompok sebanyak 12 orang, dilaksanakan dari bulan Januar sampai bulan Maret 2021.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salat dhuha 2 rakaat dan 8 rakaat telah berhasil meningkatkan jarak tempuh uji jalan 6 menit (6MWT) pada lansia. Meskipun demikian, salat dhuha 8 rakaat lebih efektif (P<0,05) meningkatkan jarak tempuh 6MWT dibandingkan dengan kelompok salat dhuha 2 rakaat.
Pada penelitian ini rerata usia relawan pada kedua kelompok adalah 68 tahun, namun rerata jarak tempuh 6MWT yang berhasil di tempuh pada pra penelitian hanya sejauh 424 meter pada kelompok salat dhuha 2 rakaat dan 430 meter pada kelompok salat dhuha 8 rakaat. Berdasarkan hal tersebut, hasil jarak tempuh 6MWT oleh relawan pada kedua kelompok masih berada pada kategori kurang.
Nilai prediksi VO2maks yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa kebugaran lansia yang menjadi relawan penelitian ini masih berada di bawah nilai normal, yakni di bawah 20 mLO2. kgbb-1.min-, meskipun salat dhuha dua dan delapan rakaat selama 6 pekan berhasil meningkatkan nilai prediksi VO2maks pada kedua kelompok, ujar Elman.
Setelah melaksanakan salat dhuha 8 rakaat selama 6 pekan, kadar MDA turun secara signifikan, sedangkan aktivitas GPx meningkat. Salat dhuha 8 rakaat lebih efektif menekan kadar MDA dan meningkatkan aktifitas GPx dibandingkan salat dhuha 2 rakaat yang dilaksanakan selama 6 pekan, sebelum penelitian responden sudah terbiasa melaksanakan salat dhuha lebih dari 2 rakaat.
Salat dhuha 8 rakaat menggunakan durasi bergerak secara aktif lebih panjang dibandingkan dengan Salat dhuha 2 rakaat. Setiap rakaat Salat dhuha menggunakan waktu sekitar 2 menit, sehingga Salat dhuha 2 rakaat telah menggunakan waktu sekitar 20 menit perpekan, sedangkan Salat dhuha 8 rakaat telah menggunakan waktu sekitar 80 menit perpekan. Hal ini berkaitan pada aktivitas fisik yang teratur dalam waktu yang cukup.
Penelitian saat ini mengkonfirmasi bahwa stres oksidatif berhubungan dengan aktivitas fisik berbasis nilai-nilai religi dan keyakinan pada wanita lansia.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa salat dhuha 2 rakaat dan 8 rakaat selama 6 pekan sama-sama efektif menurunkan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut jantung pada lansia muslimah. hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa salat dhuha 8 rakaat selama 6 pekan lebih efektif menurunkan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut jantung dibandingkan dengan salat dhuha 2 rakaat pada lansia muslimah.
Meskipun penelitian ini telah menunjukkan manfaat salat dhuha 2 dan 8 rakaat pada CRF, stress oksidatif, tekanan darah dan denyut jantung, namun penelitian ini masih terbatas pada efek adaptif akut, oleh karena itu efek adaptif kronis seperti 12 pekan, masih perlu dilakukan.
Kesimpulan penelitian ini adalah salat dhuha 2 rakaat dan salah dhuha 8 rakaat yang dilaksanakan selama 6 pekan, efektif meningkatkan jarak tempuh 6MWT dan VO2maks, serta menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik serta denyut jantung pada muslimah lansia. Salat dhuha 8 rakaat selama 6 pekan lebih efektif meningkatkan jarak tempuh 6 minute walking test (6MWT), nilai prediksi VO2maks dan aktivitas GPx dari pada salat dhuha 2 rakaat pada muslimah lansia.
Salat dhuha 8 rakaat selama 6 pekan efektif menurunkan kadar MDA, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut jantung dari pada salat dhuha 2 rakaat pada muslimah lansia,”pungkas Dr.dr Elman Boy.
Penulis : Abdul Aziz, ST.
(Pemerhati sosial dan lingkungan)