Suaramedannews.com, Samosir – Kematian massal ikan kembali terjadi di perairan Danau Toba, tepatnya di wilayah Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (28/11/2025). Peristiwa ini terpantau di dua lokasi utama, yakni perairan Desa Tanjung Bunga (Simarsasar) dan Kelurahan Pintusona.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Samosir, Edison Pasaribu, mengungkapkan bahwa insiden ini diduga kuat dipicu oleh penurunan drastis kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di perairan tersebut. Laporan awal sudah masuk sejak Kamis (27/11), setelah warga melihat banyak ikan yang “pingsan” dan akhirnya mati.
Hingga saat ini, sekitar lima truk canter berisi ikan mati telah diangkut dari lokasi. Jumlah tersebut diperkirakan belum mencakup keseluruhan, karena sebagian bangkai ikan juga dikumpulkan warga. Totalnya diperkirakan mencapai sekitar 50 ton.
Edison mengatakan laporan pertama disampaikan oleh para pemilik Keramba Jaring Apung (KJA), yang melihat ikan peliharaan mereka mengap-mengap di permukaan air, tanda kuat bahwa ikan kekurangan oksigen.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, DLH bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian melakukan pengujian kualitas air di dua titik terdampak. Tim DLH turun langsung pada Kamis pagi untuk mengukur tiga parameter utama: pH, suhu, dan DO.
Hasil pengukuran menunjukkan pH berada pada kisaran 6–6,9, masih normal untuk perairan tawar. Suhu air juga terpantau aman di angka 28 derajat Celsius. Namun kadar oksigen terlarut justru berada pada kondisi kritis, yakni hanya 1 mg/L.
“Standar DO yang sehat untuk ikan berada di angka 5 hingga 8 mg/L. Jika DO turun di bawah 2 mg/L, ikan sangat rentan mati,” jelas Edison. Sabtu (29/11/2025).
Ia menilai anjloknya DO menandakan perairan sedang mengalami tekanan ekologis yang berat. Penurunan ini dapat dipicu oleh perubahan cuaca, stratifikasi air, pembusukan bahan organik, atau tingginya intensitas budidaya ikan di sekitar lokasi.
Akibat rendahnya oksigen, ikan tidak mampu bernapas normal sehingga banyak ditemukan mati mengapung di area keramba. Kondisi ini langsung ditangani tim gabungan yang terdiri dari DLH, Dinas PUPR, serta Satgas Ponton Kodim 0210/TU dengan melakukan pembersihan dan pengangkutan bangkai ikan agar tidak mencemari perairan.
Edison juga mengimbau para pemilik KJA untuk lebih waspada dan rutin memonitor kualitas air, terutama pada masa pancaroba yang rentan memicu gangguan ekosistem Danau Toba.
Ia menambahkan, pada Mei lalu pernah ada tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang melakukan riset terkait kondisi perairan, namun hingga kini DLH Samosir belum menerima hasil penelitian tersebut.
“Karena belum menerima laporan penelitian itu, kami belum bisa memastikan penyebab utama kekeruhan air yang memicu kematian ikan,” tegasnya.
DLH Samosir memastikan akan terus melakukan pemantauan berkala dan berkoordinasi lintas sektor untuk mencegah kejadian serupa terulang.
(Royziki F.Sinaga/red)