KONFERWIL PWNU SUMUT: Apa Yang Dibutuhkan Warga Nahdiyyin Sumut?

Suaramedannews.com, Medan – Menjelang pelaksanaan Konferwil Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara beberapa bulan mendatang, menarik untuk dilihat. Para kandidat yang ingin bertarung sudah mulai ramai meski terdengar sayup-sayup bahkan ada yg merasa sudah mendapat restu dan lain sebagainya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Mitra Santri Nusantara (GEMA NUSA) KH. Akhmad Khambali SE MM

Sampai saat ini saya sudah mendengar, baru ada tiga kandidat yang intens tampil. Tentu belum final, masih banyak serangkaian dinamika yang terjadi sampai hari pelaksanaan. Finalnya nanti di forum saat penyataan kesediaan, visi dan misi dan pemaparan arah gerakan Jami’iyah Aswaja ini di ruang lingkup Sumatera Utara.

Ketiga bakal calon kandidat itu adalah H. Marahalim Harahap, Dr H Moch Hatta Siregar serta H. Rahudman Harahap. Ketiganya, tentu tidak diragukan lagi kapabilitas serta loyalitasnya terhadap Nahdlatul Ulama. Dengan ketokohannya sudah pasti memiliki basis pendukung di masing-masing faksi.

H. Marahalim begitu namanya yang akrab dipanggil merupakan Wakil Ketua PWNU Sumut Saat ini dalam perjalanannya juga pernah menjabat sebagai Anggota Dewan.

Berikutnya Dr Moch Hatta Siregar, Wakil Rektor III Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) dan juga sedang menjabat sebagai Sekretaris PWNU saat ini. Sosok Dr Moch Hatta lebih dikenal murah senyum, tenang dan ringan tangan serta ngayomi.

Nama terakhir tentu tak kalah menarik, H. Rahudman Harahap, mantan Walikota Medan, mantan Sekda dan sudah malang melintang sebagai seorang birokrat, sosok yang “centang perenang” di keormasan dan selalu terdepan di dalam kegiatan Jam’iyyah khususnya kegiatan NU, bahkan di setiap kegiatan Banom-Banomnya NU. H. Rahudman selalu mensupport dan terdepan, agar marwah An-Nahdliyyah selalu terjaga dari anasir yang akan merusak nama besar NU.

Riwayat singkat tadi, tentu memberikan ekspektasi dari warga Nahdiyyin Sumatera Utara untuk menitipkan mandat dalam mengelola jami’iyah yang usianya hampir seabad ini.

Lalu pertanyaan yang timbul ialah, “Apa sebenarnya yang dibutuhkan nahdiyyin Sumatera Utara saat ini dan berkelanjutan secara futuristik?”

Secara tatanan konsep harakah (gerakan) tentu NU sudah mapan dan sulit diganggu gugat, nilai-nilai ke-aswajaan di level syariat (ibadah) maupun pada jenjang muamalah pada masyarakat multikultural dan pluralisme.

Moderasi beragama gaungnya juga sudah terdengar lantang sejalan dengan slogan lslam Nusantara ala NU sesuai dengan perspektif Al-Qur’an. Tinggal bagaimana nilai ini dijaga dan dirawat sampai pada level grass roots (akar rumput) Nahdiyyin.

KH Akhmad Khambali ketika bersama jama'ah Majelis Sholawat Ahlul Kirom yang diasuhnya dalam melestarikan amaliyah kultural Nahdlatul Ulama membaca Maulid Diba' (Dok.suaramedannews.com/istimewa)
KH Akhmad Khambali ketika bersama jama’ah Majelis Sholawat Ahlul Kirom yang diasuhnya dalam melestarikan amaliyah kultural Nahdlatul Ulama membaca Maulid Diba’ (Dok.suaramedannews.com/istimewa)

Program utama NU adalah sosial keagamaan, tentu tanpa mengabaikan sektor ekonomi. Karena untuk sampai pada level mapannya sosial keagamaan, pada saat yang sama ada sektor ekonomi yang ikut andil.

Sejalan dengan visi utama Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Yahya Cholil Staquf tentang kemandirian ekonomi umat dan semangat kembali ke khittah organisasi.

Sebagai basis Islam tradisional yang mayoritas umatnya tinggal di pedesaan harusnya NU Sumatera Utara dapat membaca itu, dimensi kelas yang teralienasi. Sejauh ini NU pada umumnya tidak mengetahui yang suka tahlilan, selamatan dan kenduri apa pekerjaan mereka dan bagaimana pendapatan mereka?

NU harus bisa hadir khususnya di Sumatera Utara untuk menutupi ketimpangan kelas dan ekonomi warga Nahdiyyin akar rumput.

Sumatera Utara dengan wilayah yang membentang luas tentunya sangat banyak program yang bisa dilakukan khususnya di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

Sebagai organisasi hirarkis, PWNU Sumatera Utara tentu perlu menjalankan arahan Tanfidziyah PBNU, namun  tetap dinamis sesuai kebutuhan dan apa yang diperlukan.

Fokus ekonomi dan pemberdayaan umat perlu di bangkitkan, hal ini akan lebih mudah jika bergerak beriringan dengan 33 PCNU Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Utara.

Jika berjalan sampai level Pengurus Ranting tentu era kemapanan ekonomi Nahdiyyin Sumatera Utara akan terwujud. Tinggal menunggu waktu saja.

Selaku warga Nahdliyyin yang juga diberi amanah sebagai salah satu Wakil Ketua Banom NU bersama warga Nahdiyyin Sumut lainnya punya harapan besar, bahwa dengan megahnya kantor Sekretariat bukan hanya sekedar tempat bernaung, menyimpan berkas dan perangkat organisasi.

KH Akhmad Khambali saat sowan ke KH Syarif Rahmat (Dok.suaramedannews.com/istimewa)

Tapi lebih sebagai Pusat Service Exellence dan Perubahan serta Pembinaan Jam’iyyah An-Nahdliyyah. Tentunya perlu kolaborasi seluruh elemen, dan nominal biaya yang tak sedikit. Lagi dan lagi butuh ekonomi yang mapan.

Bermacam asa digantungkan oleh warga Nahdiyyin Sumatera Utara pada saat Konferwil mendatang, tapi kembali lagi dependen Pengurus Cabang yang tentunya mempunyai otoritas dengan memberikan hak suara saat pemilihan.

Tak lupa tetap melanggengkan budaya NU yaitu “sowan” tidak hanya secara vertikal pada Kyai, Guru, sesepuh tentu juga secara horizontal. Suara dan masukan warga Nahdiyyin kelas proletar juga disambangi “sowan”.

Sebagai epilog, semoga Konferwil berjalan lancar, mencapai kriteria pemimpin yang diinginkan. Hadanallahu wa iyyakum ajma’in. Wallahu muwafiq ila aqwamith thariq.

Salam Ta’dzim dari Al Faqiir

Penulis:

KH Akhmad Khambali, SE, MM

One comment

  1. Muhammad saleh.S.Ag

    Nu sumut harus tetap solid dan punya komitmen yang kuat untuk membesarkan Nahdhatul ulama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *