Mak Katik, Paluruih Adat Minangkabau

Suaramedannews.com,Medan- Musra Dahrial Katik Rajo Mangkuto, yang akrab disapa Mak Katik adalah seorang budayawan, seniman, dan staf pengajar di Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Andalas Padang mata kuliah yang diajarkan Etnologi Minangkabau.

Pria kelahiran Batipuah Baruah Padang Panjang , Kabupaten Tanah Datar 18 Agustus 1949 dikenal sebagai pemerhati budaya dan adat minangkabau yang sudah mulai langka tergerus zaman.

Kemampuan dan dedikasi Mak Katik terkait adat istiadat dan kebudayaan Minangkabau telah menarik perhatian Kirstin Pauka, dari Universitas Hawaii peneliti adat minangkabau khususnya randai, gayuang basambuik, Mak Katik pertama kali batandang ke Universitas Hawaii untuk mengajar pada kurun waktu 2000-2011.

Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) Mak Katik telah menjadi dosen tamu di universitas of Hawaii, Amerika Serikat dan Akademi Seni Budaya Kebangsaan Malaysia ini menegaskan, adat dan agama di Minangkabau ibarat Aua jo Tabiang, sanda manyanda kaduonyo.

Usaha yang dilakukan Mak Katik dalam melestarikan kebudayaan tradisional Minangkabau patut mendapat acungan jempol ujar Abdul Aziz peserta diskusi.

Hantaran kato diateh adalah pembuka diskusi kami dengan Mak Katik di acara ” Sapakan di Ranah Minang ” yang diprakarsai oleh Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM-3) Sumatera Utara yang dilaksanakan di Rumah Gadang jl. Adinegoro Medan, jumat (11/11/2022).

Anjalai tumbuah di munggu, sugi sugi di rumpun padi.

Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikkan budi.

Pengetahuan hanya di dapat dengan berguru,

Kemulian hanya di dapat dengan budi yang tinggi.

Anjalai pamago koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.

Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak di dengar dan menarik bagi orang yang dihadapi.

Lah bakumpua sagalo bundo kanduang duduak basimpuah rapek-rapek untuk mandanga pituah kok lai dapek.

Mak Katik, perjuangannya dan mengajarkan adat minangkabau tanpa lelah dilakukan sejak lama.

Dalam pandangannya adat minangkabau yang Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah itu makin luntur perannya di masyarakat, akibatnya perilaku masyarakat berjalan dengan rel yang menyimpang tidak sesuai lagi dengan adat Minangkabau yang sesungguhnya.

Ia menyampaikan konsep adat minangkabau soal berpakaian yang meliputi penutup tubuh, penutup malu, penutup aurat, dan pelindung dari miang telah bergeser jadi sekedar pembalut tubuh.

Ini musti menjadi perhatian orang tua, alim ulama, cadiak pandai, dan kita semua, “ujarnya.

Terlebih dengan hadirnya alat canggih yang bernama Hand phone yang membuat perilaku sebagian besar masyarakat telah bergeser, ini harus menjadi perhatian kita semua, ” pungkasnya.

Sebelum diskusi dimulai , Ramadius selaku Sekretaris Panitia membuka festival Randang yang diikuti 6 peserta terdiri dari:

1. Ikatan Keluarga Luhak Agam.

2. Ikatan Keluarga Pasaman.

3. Simpang Ampek. Toboh, Pariaman.

4. Yessy.

5. Solok Saiyo.

6. Santiang.

Festival ini wajib membuat rendang sedangkan penyertanya ada gulai jariang, gulai cubadak, anyang bada.

Pengumuman pemenang akan diumumkan pada penutupan tanggal 27 November 2022.

Acara diskusi bersama Mak Katik di akhiri foto bersama dengan Ketua BM3 Sumut H. Syahrudin Ali, Sekretaris Yunan Sirhan dan para bundo kanduang.

Penulis: Abdul Aziz, STPemerhati sosial dan lingkungan.

(Reporter:Anto/Editor:Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *