Mengenang KH Aceng Zakaria Sosok Tauladan, Guru Bangsa dan Ulama Besar

Suaramedannews.com,Medan – Guru bangsa itu telah berpulang keharibaan Sang Khalik, KH Aceng Zakaria dipanggil Allah SWT pada hari Senin 26 Rabiul Akhir 1444 H atau 21 November 2022 dalam usia 74 tahun.

Tentu kita semua merasakan kegetiran yang mendalam dan merasa sangat kehilangan dari sosok ulama tawadhu yang mendarmakan umurnya untuk Islam.

Dalam hal ini penulis merangkai ungkapan perasaan para tokoh, para murid yang bersentuhan langsung dengan pribadi yang menyejarah ini.

Prof. Dadan wildan Hasan (catatan seorang murid).

Jelang Muktamar Persis Ke 16 saya termasuk yang berharap Kyai Aceng Zakaria tidak mencalonkan diri kembali sebagai Ketua Umum.

Pertimbangannya sederhana beliau lebih tepat menempatkan diri sebagai Guru Umat Persis dan Guru Bangsa.

Tidak banyak tokoh yang rela dengan rendah hati untuk tidak lagi berkompetisi di level pimpinan dan berkenan menjadi Guru bagi semua. Di antara manusia yang langka itu di level nasional salah satunya BJ. Habibie.

Beliau terhormat sampai akhir usianya untuk tidak lagi ikut riuh dipercaturan politik praktis tanah air.

Menjadi mata air keteladanan yang tak pernah habis.

Di wilayah keagamaan, saya berharap beliau meneladani atsar Habibie. Syukurlah, Allah takdirkan beliau sesuai harapan saya dengan keputusan beliau tidak mencalonkan diri pada Muktamar lalu, beliau memberikan teladan yang indah bagi generasi muda.

Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan beliau pasti memiliki kenangan masing-masing,”ujar Wildan.

Sejak saya menjadi santri di Ponpes Persis 99 Rancabango Garut mulai tahun 1998, saya sudah dapat menangkap beliau sebagai pembelajar dan Guru sejati.

Belajar dan mengajar adalah darah dan nafas hidupnya, beliau melanjutkan tradisi Ulama khususnya Ulama Persis,

menulis karya ilmiah.

Tidak kurang dari 103 buku telah ditulisnya, semua kalangan dari berbagai aliran dan paham keagamaan di Indonesia mengambil manfaat dari karya-karya beliau.

Ke-Ulamaan beliau diakui secara nasional, bahkan internasional tatkala kitab monumentalnya, Al Hidayah mendapatkan apresiasi dari salah seorang Syaikh Universitas Al Azhar Mesir.

Di zamanya saat ini, tidak ada satu pun ulama yang melampaui produktivitasnya melahirkan buku demi buku.

Teladan ini harus menjadi standar bagi kader PERSIS khususnya dalam menempuh jalan Da’wah melalui tulisan.

Selama puluhan tahun dengan tulisannya beliau mendidik dan mencerdaskan umat.

Yakni umat Islam yang merupakan mayoritas pada penduduk negeri ini.

Sejatinya beliau mendidik dan mencerdaskan bangsa.

Tidak keliru apabila beliau layak disebut sebagai Guru Bangsa.

Dr. Adian Husaini

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Pada 29 Januari 2022, beliau bersama istrinya, berkunjung ke Pesantren At-Taqwa Depok.

Kami sempat berbincang -bincang sebelum beliau melanjutkan aktivitasnya, mengisi pengajian dan mengunjungi Ust Amin Jamaluddin yang kini juga sudah dipanggil Allah SWT.

Sosok Kyai Aceng Zakaria adalah seorang ulama pejuang yang istiqomah sampai akhir hayatnya.

Hebatnya, dua bulan lalu dalam Muktamar PERSIS XVI di Bandung, KH Aceng Zakaria memutuskan untuk tidak bersedia dipilih lagi. Beliau sudah menyiapkan penerusnya, yaitu Dr. Jeje Zaenuddin.

Kyai Aceng Zakaria bisa dikatakan salah satu ulama hebat di Indonesia.

Sebelum beliau wafat, tahun 2021 sudah terbit biografi beliau, berjudul: “KH Aceng Zakaria Ulama Persatuaan Islam, ” karya Pepen Irfan Fauzan dkk.

Pada Ahad 4 April 2021 saya diminta membedah buku tersebut. Salah satu kehebatan beliau di usianya yang ke -73 tahun, telah menulis 103 judul buku.

KH Aceng Zakaria lahir di Garut Jawa Barat 11 Oktober 1948, ayahnya Kyai Ahmad Kurhi, seorang ulama dari garis keturunan ulama terkenal di Garut, KH A. Shidiq yang dikenal dengan sebutan Mama Sukarsa.

Kyai Aceng dikenal sebagai aktivis organisasi, juga seorang ulama, pemimpin pesantren, pejuang dan penulis produktif.

Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Timur Tengah, beliau memiliki penguasaan Bahasa Arab yang mumpuni, dari 103 judul bukunya 33 judul ditulis dalam Bahasa Arab.

Beberapa bukunya termasuk kategori best seller, seperti Al-Hidayah fi Masaaili Fiqhiyyah al-Muta’aridhah, al-Muyassar fi Ilmi al-Nahwi, dan al-Kaafi fi Ilmi al-Sharfi.

Menyimak kiprah dan karya ilmiahnya, Kyai Aceng bisa disebut seorang ulama produk pendidikan lokal berkualitas internasional.

Peran seorang KH E. Abdurrahman sangat penting dalam pendidikan beliau.

Gurunya itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap konsep pendidikannya.

Sukses pendidikan Kyai Aceng tidak terlepas dari hal penting untuk meraih ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) Niat dan adab thalabul ilmi.

Buku biografi KH Aceng Zakaria menguatkan bukti bahwa umat Islam indonesia memiliki model pendidikan ideal.

Model inilah yang melahirkan ulama dan tokoh – tokoh besar seperti Buya, Hamka, Mohammad Natsir, KH Wahid Hasyim, dan tentu KH Aceng Zakaria.

KH. Muhammad Nuh, MSP.

Anggota Majelis Penasehat PP PERSIS.

Al-Ustadz KH Aceng Zakaria produktif menulis buku, tradisi yang hidup di kalangan Ulama Persatuan Islam. Sebagai perintisnya adalah Tuan A. Hassan yang dinobatkan sebagai Guru PERSIS.

Beliau tekun mendidik santri di pesantren yang dikelola hingga akhir hayatnya.

Tentu ini menjadi ilmu yang terus menyebar dan mengalir pahala dan kebaikan kepada beliau.

Secara pribadi saya punya pengalaman khusus dengan Al-Marhum.

Setelah dilantik sebagai anggota DPD RI mewakili Sumatera Utara pada 1 Oktober 2019, saya berkunjung ke PP PERSIS, bertemu dengan Ustadz Aceng dan mohon nasehatnya,

Beliau menyampaikan beberapa pesan moral, agar bertaqwa kepada Allah SWT, menjaga diri.

Diakhir tausyiah beliau berpesan, sampaikanlah kepada ummat ini, apa yang sebenarnya yang terjadi di negeri ini.

Sebab tidak banyak masyarakat yang mengerti, nasehat yang berkesan bagi saya.

Semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia di sisi-Nya.

Prof. Dr. Jajang A Rohmana, Ketua Dewan Tafkir PP PERSIS.

Sosok Ustadz Aceng lebih dikenal sebagai ulama sekaligus Ketua Umum PERSIS Periode 2015-2022 yang disegani di Jawa Barat.

Ketokohannya sebagai ulama PERSIS berakar dari latar belakang pendidikan yang dijalaninya di lingkungan pesantren tradisional di Wanaraja Garut, selanjutnya belajar di pesantren Pajagalan Bandung.

Karya-karyanya memperlihatkan konektivitas tradisi keilmuan tradisional terutama dari aspek pembahasan dan sumber kajian.

Sebagai seorang reformis, Aceng Zakaria juga melakukan modifikasi pembahasan secara sistematis dan praktis.

Ini menunjukkan bahwa genealogi keilmuan Islam tradisional memiliki posisi penting dalam menopang perkembangan gagasan Islam reformis di Indonesia.

Tradisi keilmuaan tradisional Islam sebagai modal dasar para aktivis reformis tersebut mencerminkan kelangsungan dinamika pemikiran Islam yang tidak sepenuhnya lepas dari lingkungan kultur keilmuan pesantren, tempat dimana mereka lahir dan berkembang.

Sebuah dinamika gerakan Islam yang mencerminkan kelangsungan dan perubahan pemikiran keislaman sebagai respons terhadap budaya lokal di satu sisi dan isu modernitas di sisi lainnya.

Dalam Musyawarah Kerja Nasional I Persatuan Islam pada 13 – 14 November 2022 penulis ditugaskan oleh KH. Muhammad Nuh menghadiri Musykernas, mewakili beliau.

Berjumpa Ustadz Aceng Zakaria pada peresmian kantor PP PERSIS di Bambu Apus Jaktim, beliau memberikan tausyiah kepada hadirin, itulah pertemuan terakhir dengan beliau. Saat mendapat khabar Ustadz Aceng meninggal dunia tidak terasa ada bulir-bulir bening yang mengalir di pipi ini.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…

Selamat jalan Pejuang.

Penulis:Abdul Aziz (Anggota Dewan Tafkir PP PERSIS)

(Reporter:Anto/Editor:Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *