Exif_JPEG_420

SDN16 Parmonangan Kab. Samosir Memperingati Hari Guru Ke77 Dengan Penuh Cinta Kasih

Suaramedannews.com, Samosir – Sosok guru, kerap disebut sebagai pahlawan tanpa jasa. Karena lewat tangan mereka, tidak hanya sebatas ilmu yang diberikan untuk mencerdaskan bangsa, dalam didikannya para guru menambahkan nilai-nilai moral serta akhlak kepada muridnya untuk menjadi bekal di masa depan.

Sebagai wujud penghargaan atas semua jasa-jasa mereka, seluruh masyarakat Indonesia, tepat Jumat 25 November 2022 memperingatinya sebagai Hari Guru Nasional.

Ada pun tema yang diusung Hari Guru Nasional pada tahun ini adalah “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”

Peringatan hari Guru yang diadakan SDN 16 Parmonangan Desa Parmonangan, Kecamatan Pangeruran, Kabupaten Samosir sama dengan sekolah yang ada di seluruh Indonesia, melakukan upacara.

Kepala Sekolah SDN16 Parlindungan Simbolon Spd dalam sambutannya saat memimpin upacara mengatakan dalam amanatnya kepada seluruh peserta upacara, kita harus terus belajar dan tidak ada batas waktu untuk belajar.

” Kepada seluruh anak-anak Bapak teruslah belajar, tidak ada batas waktu untuk belajar ” ucapnya

Lanjut, Kepala Sekolah juga menjelaskan tema hari guru yang ke 77 tahun kali ini ” Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar ” jelasnya

Lanjutnya, Parlindungan Simbolon S.Pd juga memperkenalkan nama tenaga pengajar yang ada di SDN16 Parmonangan yang berjumlah 8 guru. Nerli Martina Simbolon S.Ag, Setina Damanik S.Pd, Jhon Ali Malau S.Pd, Hotsan Sihaloho S.Pd, Okto Kusuma Situmorang S.Pd, Heppi Malau S.Pd.K, Kinroni Manik S.Pd, Englis Siringoringo S.Pd.

Kegiatan dilanjut dengan pemotongan kue ulang tahun oleh Kepala Sekolah SDN16 Parlindungan Simbolon Spd, potongan kue pertama disuapkan oleh semua guru kepada Kepala Sekolah dan dilanjut kepala Sekolah menyuapi semua guru.

Suasana semangkin akrab antara Guru dan Siswa setelah perwakilan dua orang siswa menyuapi Kepala Sekolah sebagai perwakilan dari Guru dan dilanjut dengan penuh cinta kasih semua guru menyuapi seluruh siswa yang mengikuti upaca, Hal ini membuktikan jika guru adalah orang tua kedua bagi seluruh siswa yang harus dihormati dan harus juga diperhatikan kesejahtraannya.

Peringatan Hari guru di SDN16 Parmonangan terbilang sangat sederhana tapi penuh suka cita tampak hadir dalam hari Guru ke 77 Kepala Desa Parmonangan yang di wakili Kepala Dusun III Friska Manik, Ketua LSM LPPAS RI Bastian Simbolon yang juga perwakilan dari wali murid.

Bastian Simbolon LSM LPPAS RI dalam sambutannya memberi aspriasi kepada seluruh Guru di Indonesia terkhusus di SDN16 Parmonangan.

” Saya sangat bangga dengan seluruh guru yang ada disini dan saya juga pernah merasakan suka duka menjadi guru seperti Bapak dan Ibu Guru yang ada disini ” ucapnya

Lanjut, Bastian Simbolon membagi pengalamannya pada saat mengajar, kalau kita sebagai pengajar tidak perlu memukul saat akan menghukum siswa saat mereka melakukan kesalahan atau pun saat mengajar.

Lanjutnya, Ketua LSM LPPAS RI bercerita jika saat Beliau menjadi guru memberi hukuman kepada siswa dengan cara menasehati dan menyetrap murid, bertujuan agar siswa bisa menyadari kesalahannya.

Kepala Desa Parmonangan yang di wakili Kepala Dusun III Friska Manik dalam sambutannya sangat bangga dengan kemajuan sekolah terutama semua pendidik yang ada di SDN16 Parmonangan, beliau juga mengatakan dengan kemajuan ini bisa terus dipertahankan kuwalitas pendidik dan kalau bisa ditingkatkan.

Untuk diketahui, Hari Guru Nasional telah dicetuskan sejak tahun 1994 sesuai dengan keputusan Presiden Soeharto. Berdasarkan Keppres Nomor 78 Tahun 1994 dan pada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati pula bersamaan dengan HUT PGRI atau ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia.

Lantas, seperti apa sejarah HUT PGRI yang tahun ini genap berusia ke-77 tahun dan diperingati bersamaan dengan Hari Guru Nasional?

Melansir dari laman resmi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), organisasi guru di Indonesia telah ada sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).  Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.  Selain mengajar, kala itu tak mudah bagi PGHB untuk memperjuangkan nasib para guru pribumi. Lantaran memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda dengan guru Belanda.

Sejalan dengan keadaan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB).

Kemudian muncul pula organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.

Munculnya kesadaran kebangsaan dan kesetaraan, mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Salah satu hasillnya saat Kepala HIS yang kerap dijabat orang Belanda, satu per satu mulai berpindah ke tangan orang Indonesia.

Semangat perjuangan yang semakin berkobar, lambat laun tak lagi semata-mata untuk memperjuangkan kesetaraan. Namun, memuncak menjadi perjuangan nasional dengan pekikan kata “merdeka”.  Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya bagi para guru dan bangsa Indonesia sangat didambakan.   Tantangan baru kemudian kembali dirasakan oleh para guru pribumi kala itu.

Saat kependudukan Jepang masuk, segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) bahkan dapat lagi melakukan aktivitas.  Namun, semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi dasar bagi PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia. Kongres itu diadakan di Surakarta pada tanggal 24-25 November 1945.

Para peserta Kongres Guru Indonesia ini adalah para guru yang aktif mengajar, pensiunan guru, dan pegawai pendidikan RI yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).   Sejak Kongres Guru Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari sebelumnya yang terpecah belah dalam berbagai organisasi.

Semangat perjuangan selalu utuh dalam tubuh PGRI sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, organisasi ketenagakerjaan yang bersifat unitaristik dan independen.  Dari sanalah berawal ditetapkannya hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahun oleh masyarakat Indonesia.

(Reporter:Fery Sinaga/Editor:Indra Matondang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *