Sosiolog Politik Shohibul Anshor Tanggapi Postingan Prof Hasan Bakti, ‘Jabatan Mau Resiko tak Mau

Suaramedannews.com,Medan – Sosialog politik Drs Shohibul Anshor Siregar MSi menanggapi postingan Prof Dr H Hasan Bakti Nasution MA di laman facebooknya yang telah dihapus, namun telah ramai diperbincangkan terkait ungkapan ‘Jabatan Mau, Resiko tak Mau‘.Selasa 11/10.2022.

Kepada wartawan yang menghubunginya pada Selasa (11/10), Shohibul Anshor menyampaikan tiga tanggapannya atas postingan itu.

Pertama, telisik atas sasaran yang dibidik oleh Prof Hasan Bakti. Kedua, telisik atas makna di balik kalimat. Ketiga, what is the root of the problem atau apa akar masalahnya.

Menurut Shohib (panggilan akrabnya -red), bagian pertama tak didasarkan pada pretensi subjek definitif yang dikisahkan dalam pernyataan Prof Hasan Bakti.

Tetapi bagian kedua sebaliknya, menganggap pernyataan ditujukan langsung kepada kondisi carut-marut UIN Sumut pasca penjatuhan hukuman disiplin kepada Syahrin Harahap. Sedangkan bagian ketiga lebih bersifat analisis atas apa yang terjadi pada UIN Sumut.

Shohibul Anshor mengatakan tidak dapat memastikan apakah Direktur Pasca Sarjana UIN Sumut, Prof Hasan Bakti Nasution, sedang menyindir keadaan yang dinilainya sebagai carut-marut di kampus “plat merah” itu setelah beralihnya kepemimpinan kepada dropping pejabat Pelaksana tugas (Plt) Prof Dr Abu Rokhmad, M.Ag yang ditunjuk oleh Menteri Agama RI seiring penjatuhan hukuman disiplin kepada Rektor Syahrin Harahap. Mengapa?

Pertama menurutnya, perkara rivalitas dalam memperebutkan jabatan dan masalah ketidakbecusan dalam menjalankan amanah, tentu bukanlah masalah khas UIN Sumut. Sebab hal serupa itu juga terjadi di mana-mana, dan untuk Indonesia sendiri sudah menjadi perbincangan publik dan sudah menjadi konsumsi umum sejak lama.

Kedua, tidak ada diksi yang secara verbatim menyebut kampus, apalagi UIN Sumut dalam kalimat yang ditulis Prof Hasan Bakti.

“Tetapi kita pun tak dapat menyalahkan jika secara asosiatif orang dengan mudah menyangkakan bahwa yang dimaksudkan dalam sindiran itu ialah kondisi mutakhir UIN Sumut,” ujarnya.

Lagi pula, imbuhnya, orang dengan mudah menduga bahwa dengan di deletenya kalimat itu dari laman facebook oleh penulisnya sendiri, diduga ada penyesalan atau upaya menghindari risiko. Risiko di sini bersifat ganda, yakni risiko dekat dan langsung, serta risiko jauh dan tak langsung.

Jika Prof Hasan Bakti diposisikan atau disangkakan sedang berkisah tentang kondisi Indonesia, menurut Shohib rasanya ia tak perlu merasa secemas itu.

Karena faktanya, kini banyak guru besar seperti dia yang selama ini mendiamkan masalah carut-marut bangsa justru mulai melempar kritik dengan tetap menjaga norma dan tanggung jawab akademik yang terukur. Risikonya jauh dan tak langsung.

Tapi risiko dekat dan langsung dapat muncul, jika yang dimaksudkan oleh kisah Prof Hasan Bakti adalah masalah internal UIN Sumut.

“Tentu dapat dibayangkan nasib relasi yang pernah dibangunnya dengan Syahrin Harahap dan beberapa kolega terdekatnya. Itu pasti akan memburuk,” ujar Shohib.

“Hal-hal seperti itu memang sangat kerap terjadi. Apalagi menurut berita yang mengungkap hal ini, Saidurrahman pernah berucap demikian: “Jika kamu berkuasa, semua orang mendekatimu dan jika kamu jatuh, semua orang akan menjauhi dan meninggalkanmu, seolah-olah tidak mengenalmu. Semua itu agar kamu menyadari bahwa hanya kepada Allah-lah kita bersandar dan kembali“, timpalnya.

Tetapi, di luar dugaan risiko itu, perkiraan benefit juga dapat diandaikan buat Prof Hasan Bakti. Shohibul Anshor menjelaskannya begini:

Secara normal dapat dipastikan bahwa salah satu tugas Plt Rektor UIN Sumut Prof Dr Abu Rokhmad, M.Ag adalah mempersiapkan pejabat definitif. UIN Sumut ketika masih IAIN pernah berpengalaman beroleh Rektor dropping dari luar, malah seorang tentara aktif, Nazri Adlani.

Menurut Shohib, jika yang akan di definitifkan kelak sebagai Rektor UIN Sumut bukan pejabat dropping Plt yang sekarang, maka Prof Hasan Bakti Nasution dengan cara ini terlihat seakan berusaha mencuri perhatian untuk kelak dipertimbangkan dalam bursa calon Rektor.

Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tetapi dapat sangat efektif terutama dalam sistem penentuan Rektor bukan di kampus, melainkan otoritas Menteri Agama. Jadi, tak terlalu jauh juga mengidentifikasi Prof Hasan Bakti sedang melakukan semacam “investasi politik”. Tentu hal itu sah-sah saja.

Telisik Atas Makna di Balik Kalimat.Shohibul Anshor mengatakan setelah berulangkali membaca, ia berkesimpulan bahwa kalimat Direktur Pasca Sarjana UIN Sumut, Prof Hasan Bakti Nasution itu, berisi dua hal yang berbeda:

Pertama, kalimat “jika berisiko berusaha menolak, tapi jika untung dia berebut duluan”.

Menurutnya, tidak ada yang salah dari deskripsi bersifat universal itu. Karena selamanyalah sebuah pilihan (sebagaimana diterangkan dalam teori rational choice) sebagai hasil pertimbangan komplit atas dua sisi secara simultan, yakni untung (benefit) atau rugi (risk). Baik benefit maupun risk, dapat mencakup politik, ekonomi, budaya dan seterusnya.

Akan tetapi, meskipun setiap pilihan selalu bersisi ganda, yang juga dapat disebut advantage atau disadvantage, pandangan setiap orang tidak selalu sama terhadap pilihan itu.

Dijelaskannya, dalam pemilihan Rektor UIN Sumut periode 2016-2020, di antara para guru besar yang memenuhi syarat dan yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa jabatan Rektor UIN Sumut itu adalah advantage buat mereka adalah Hasan Asari, Katimin, Pagar, Saidurrahman Harahap, dan Syahrin Harahap.

Begitu juga ketika pemilihan untuk masa jabatan 2020-2024, meski Syahrin Harahap yang terpilih, tetapi tak hanya dia dan 4 rivalnya (Saidurrahman, Amroeni Drajat, Abdullah dan Faisar Ananda) yang menilai jabatan itu sebuah amanah yang penting sesuai hukum kelangkaan (law of scarcity).

Karena sesungguhnya selain mereka yang maju dalam rivalitas-rivalitas itu, banyak guru besar yang berkeinginan untuk diamanahi jabatan Rektor. Namun yang menilainya sebagai peluang beroleh advantage bagi diri, keluarga dan institusi, dan yang pada akhirnya menumbuhkan keberanian “mengambil risiko dan konsekuensi perjuangan”, hanyalah mereka yang disahkan sebagai calon Rektor.

Kedua, kalimat “banyak yang berebut jabatan, tapi tidak becus melakukan tugas-tugas jabatan…”

“Saya melihat secara spesifik kalimat ini ditujukan kepada pejabat yang meski begitu berat dalam memenangkan perjuangan perebutannya, namun belakangan terbukti tak becus menjalankan amanah,” ucapnya.

Sebab, lanjutnya, jika yang dikisahkan adalah kondisi UIN Sumut saat ini pasca peralihan kepemimpinannya, maka tentu saja pernyataan Prof Hasan Bakti itu dapat diperdebatkan. Namun jika pernyatannya adalah penjelasan tentang fakta saat ini, maka kemungkinannya terdiri dari dua kategori.

Kategori pertama, pemimpin puncak UIN Sumut yakni Syahrin Harahap yang gagal menjalankan amanah, atau yang dalam diksi pilihannya “tidak becus melakukan tugas-tugas jabatan”.

Kategori kedua, orang-orang yang kini masih menjabat di UIN Sumut sebagai hasil “pembentukan kabinet” Syahrin Harahap. Semuanya “tidak becus melakukan tugas-tugas jabatan”, menurut Prof Hasan Bakti.

Apa Akar Masalahnya.Shohibul Anshor berpendapat, satu hal yang menurutnya tak terpikir oleh Prof Dr Hasan Bakti Nasution, MA ialah apa sebetulnya akar masalah di UIN Sumut? (the root of the problem).

Itu jauh lebih penting untuk ditemukan oleh para guru besar di UIN Sumut dan seluruh perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama RI.

“Sangat diperlukan penjelasan bersifat struktural atas hal ini, karena membunuh simptoma (gejala) tak akan pernah menyelesaikan masalah,” tandasnya.

(red/has)

(Reporter:Anto/Editor:Ridho)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *