BSI Motor Baru Perekonomian Bangsa

Bank Syariah Indonesia (BSI) berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi dengan perencanaan keuangan yang baik sesuai prinsip syariah dan optimalisasi peluang bisnis syariah pasca pandemi Covid-19.  Sejak 1 Februari 2021 telah diresmikan bank terbesar bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., yang merupakan hasil penggabungan usaha tiga bank milik anak usaha BUMN yakni PT Bank BRI Syariah Tbk., PT Bank BNI Syariah,Tbk dan PT Bank Syariah Mandiri, Tbk diyakini dapat membangkitkan ekonomi dan keuangan syariah serta memajukan ekosistem halal di tanah air.

Merger ini memberikan harapan bagi pertumbuhan perbankan syariah. Melihat data dan fakta di atas, dapat diperkirakan pertumbuhan dan keberhasilan strategi bisnis tiga bank BUMN syariah sangat berpengaruh pada potret industri perbankan syariah ke depan, nantinya akan berfokus untuk semua segmen nasabah, mulai dari UMKM, affluent middle-class, investor, wholesale, dan korporasi. sejarah penting di perbankan syariah Indonesia.

Tujuan utama penggabungan usaha ini adalah meningkatkan daya saing dan market share. Karena itu, bank syariah BUMN yang baru ini akan dan harus menargetkan konsumen bank konvensional, dan/atau yang paling baik adalah unbanked people demi meningkatkan market share-nya. Selain itu, riset menunjukkan bahwa nasabah eksisting bank syariah yang muslim religius bukanlah swing customers.

Tidak mudah terpengaruh untuk berpindah ke bank lain (bank syariah atau konvensional) hanya jika bank lain tersebut menawarkan rates yang lebih tinggi. Dengan besarnya modal inti dan aset, apalagi ditargetkan jika bank syariah BUMN ini bisa naik ke buku IV, maka bank ini bisa mendapat sumber dana lebih murah. Sumber dana murah mampu membuat bank syariah BUMN menyalurkan pembiayaan dengan murah dengan target utama adalah UMKM. Belajar dari pengalaman Bank Mandiri yang lahir dari merger pada 1999 silam karena terkait dampak krisis keuangan hebat di tahun 1998, penggabungan bank syariah kali ini tidak berdasarkan sense of crisis.

Seberapa pun hebatnya krisis keuangan dan kesehatan akibat pandemi Covid-19 kali ini, tetapi keparahannya belum separah kondisi 1998. Karena itu, merger bank syariah BUMN bisa belajar banyak dari keberhasilan merger empat bank pemerintah pada 1999. Merger saat itu mendukung riset bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi (M&A) selama krisis memiliki kinerja yang melebihi perusahaan yang tidak melakukan M&A. Strategi Pasca Merger penguatan literasi, edukasi, dan inklusi demi menjangkau unbanked people. Dengan edukasi yang masif, literasi keuangan akan meningkat sehingga dalam jangka panjang turut menumbuhkan inklusi. Per 2019, literasi keuangan Indonesia hanya 38,03%, naik 8,3% dari 2016. Sementara inklusi keuangan di saat yang sama adalah 76,19 %, naik 8,3 % dari 2016. Kenaikan literasi keuangan yang diikuti inklusi keuangan secara nasional tidak terjadi di industri perbankan syariah. Literasi keuangan syariah Indonesia hanya 8,93% di tahun 2019, naik sedikit dari posisi 2016 sebesar 8,1%. Sementara itu, inklusi keuangan syariah justru turun dari 11,1% pada 2016 menjadi 9,1% pada 2019. Target utama literasi ke depannya harus fokus menyasar ibu rumah tangga dan pemuka agama. Saat ini pengembangan ekonomi dari pesantren sedang mulai gencar dilakukan.

Hal ini merupakan langkah yang baik untuk menjangkau para pemuka agama di pesantren-pesantren, sehingga mampu membagikan ilmu-ilmunya kepada muridnya agar memakai produk bank syariah berupa layanan digitalisasi model bisnis dan digitalisasi layanan. Dengan melakukan digitalisasi di model bisnis dan layanan, maka customer experience akan meningkat sehingga bisa menarik nasabah baru. Untuk digitalisasi layanan, bank syariah BUMN yang baru nanti bisa mengambil contoh produk digital beberapa bank yang menyediakan layanan pembukaan rekening dan membuka/menutup deposito dengan mudah, cepat, dan gratis; atau transfer uang tanpa biaya.

Sedangkan digitalisasi model bisnis bisa dilakukan bank hasil merger dengan turut menggandeng pelaku teknologi finansial (tekfin) agar mereka bisa menjadi kawan untuk pengembangan usaha. Indonesia menjadi pusat keuangan syariah di Asia bukanlah sekadar angan-angan dan bisa menjadi harapan kita bersama. Keuangan syariah, termasuk fintech syariah, sendiri sudah mendapatkan momentumnya, yang gerakannya langsung dipimpin oleh presiden melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) guna membawa Indonesia menjadi kiblat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada tahun 2024.

Kehadiran Bank Syariah Indonesia adalah pertanda besarnya potensi perkembangan ekonomi nasional tahun ini didorong oleh industri syariah , dimana penerapan sistem ekonomi syariah juga menguntungkan bagi masyarakat non-Muslim. saat ini indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen

Ekonomi keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini dilandaskan pada potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang sangat menjanjikan. Prospek dan tatanan perkembangan keuangan syariah menunjukkan trend positif dan relatif stabil, namun dibalik perkembangan tersebut ada kekhawatiran bahwa perkembangan keuangan syariah merupakan rangkaian dari euforia reformasi dan dapat memicu adanya immature booming, jika semua itu tanpa didasari kerangka kelembagaan dan pengaturan yang memadai dari aspek best practices.

Maka dalam rangka membangun industri keuangan syariah masa depan yang tangguh diperlukan penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, mekanisme pembukaan jaringan dan upaya penyebarluasan informasi.

Kecenderungan masyarakat untuk memilih bank syariah sebagai bank pilihan untuk menempatkan dana dan meminjam fasilitas. Dengan peluang yang bagus dan pangsa pasar masih terbuka lebar di Indonesia, diharpakan Bank Syariah Indonesia (BSI) ini semakin meningkatkan layanannya. Sementara tantangan bank syariah ke depan menurutnya terkait disrupsi teknologi. Bank syariah juga harus bisa cepat melakukan inovasi untuk menghadapi persaingan perbankan yang mengarah ke digital banking. Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi tantangan dalam memajukan industri keuangan syariah.

Bank harus bisa mencetak SDM yang berkualitas dan memahami dengan baik mengenai bisnis bank syariah sehingga dapat memperbesar pasar syariah di industri keuangan dan perbankan.

Untuk menjangkau pelaku UMKM hingga pelosok, Bank Syariah Indonesia (BSI) akan bekerja sama dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan di seluruh Indonesia untuk mencapai proyeksi dana disalurkan untuk UMKM senilai Rp53,83 triliun. UMKM merupakan kelompok nasabah terbesar yang dilayani perusahaan. Oleh karena itu, porsi penyaluran pembiayaan dari BRI Syariah bagi UMKM sudah mencapai 46 persen persen dari total portofolio pembiayaan.

Perbankan syariah butuh faktor pendorong untuk meningkatkan kinerja perbankan. Terdapat beberapa faktor yang secara signifikan menjadi pendorong peningkatan kinerja industri perbankan syariah, baik dalam kegiatan penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaan.

Pertama, ekspansi jaringan kantor perbankan syariah mengingat kedekatan kantor dan kemudahan akses menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan nasabah dalam membuka rekening di bank syariah.

Kedua, gencarnya program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai produk dan layanan perbankan syariah semakin meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat.

Ketiga, upaya peningkatan kualitas layanan (service excellent) perbankan syariah agar dapat disejajarkan dengan layanan perbankan konvensional. Salah satunya adalah pemanfaatan akses teknologi informasi, seperti layanan Anjungan Tunai Mandiri (ATM), mobile banking maupun internet banking.

Untuk mendukung hal ini, secara khusus Bank Indonesia mendorong bank konvensional yang menjadi induk bank syariah agar mendorong pengembangan jaringan teknologi informasi bagi BUS dan UUS yang menjadi anak usahanya. Faktor keempat adalah penegasan beberapa produk perundangan yang memberikan kepastian hukum dan meningkatkan aktivitas pasar keuangan syariah.

Keempat, Keuangan syariah, termasuk fintech syariah, sendiri sudah mendapatkan momentumnya, yang gerakannya langsung dipimpin oleh presiden melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) guna membawa Indonesia menjadi kiblat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada tahun 2024. Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah pertanda besarnya potensi perkembangan ekonomi nasional tahun ini didorong oleh industri syariah , dimana penerapan sistem ekonomi syariah juga menguntungkan bagi masyarakat non-Muslim. saat ini indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, sudah selayaknya Indonesia menjadi pelopor dan kiblat pengembangan keuangan syariah di dunia. Pesatnya perkembangan perbankan syariah tidak terlepas dari moralitas dan nilai-nilai agama Islam yang melekat pada industri perbankan syariah itu sendiri. Kesuksesan perbankan syariah harus terus diperjuangkan oleh seluruh stakeholder perbankan syariah. Eksplorasi, inovasi dan kreasi pengembangan perbankan syariah harus dilakukan dengan strategi yang tepat guna. Target sosialisasi juga harus lebih fokus terutama kepada stakeholder tidak langsung dari perbankan syariah seperti ulama, cendikiawan, tokoh agama , tokoh masyarakat, masyarakat umum, akademisi, praktisi, asosiasi, mahasiswa, dan pelajar. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan pemahaman masyarkat terkait fungsi, kemanfaatan, peran dan positioning perbankan syariah nasional.

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen FEBI UIN Sumatera Utara / Pengurus MES Sumut / Pengurus IAEI Sumut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *