Focus Group Discussion Sesi ke 4. Di Taman Cadika Pramuka Medan Johor.

Suaramedannews.com,Medan – Ditemaram senja Senin 31 Oktober 2022 di taman cadika pramuka Medan Johor dilaksanakan kegiatan lanjutan berupa diskusi membahas tentang bencana yang menimpa di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara terutama kota Medan dengan mengangkat persoalan banjir, puting beliung dan gempa, yang sering dan baru terjadi.

FGD ini lebih fokus mengangkat masalah-masalah yang timbul setelah bencana banjir datang, yang menjadi salah satu poin penting dalam mengurangi korban bencana dari sisi Kesehatan.

Pada diskusi ringan kali ini yang hadir merupakan gabungan dari para akademisi, praktisi, relawan dan mahasiswa/i. Kolaborasi masing-masing pihak perlu dilakukan secara berkala sebagai bagian dari PENTAHELIX.

Pemaparan pertama dilakukan oleh Bambang Elkadi M.Kes, dosen kebencanaan dari Politeknik Medan, banyak pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan. Dikesempatan ini Hendra Blue dari relawan menyampaikan beberapa pertanyaan dan pernyataan, yaitu : Tahun-tahun sebelumnya untuk pemantauan penyakit yang timbul, pemerintah belum konsen dan fokus terhadap dampak dari bencana, kegiatan SAR masyarakat hanya melakukan search (pencarian) saja tetapi belum menjalankan teknik rescuenya (penyelamatan), barulah terjadi perubahan setelah tsunami melanda Aceh dimana pihak NGO luar negeri datang untuk memberikan bantuan kepada korban bencana, munculnya ilmu/bidang rescue yang disosialisasikan kepada masyarakat dilakukan oleh para NGO luar tersebut. Kegiatan NGO luar berjalan dengan melakukan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat(PPGD), sehingga pihak lokal lebih terbantu dalam melakukan pelatihan tindakan PPGD kepada masyarakat walaupun masih terbatas, belum optimalnya kelanjutan kegiatan PPGD, serta belum terintegrasi, dan belum sistematis.

Untuk outcomenya, sebagai contoh bencana banjir di pesisir dan daerah terpencil berbagai pihak masih belum bisa membedakan untuk menggunakan peralatan terkait jenis bencana, untuk masyarakat umum yang menjadi pengungsi belum ada unsur yang ditunjuk menjadi leading sectoral sebelum bantuan datang.

Contoh lainnya rencana bantuan dari BNPB untuk pemasangan Early Warning System di Sembahe, masyarakat masih menolak untuk dilakukan pemasangan EWS ditakutkan hilang karena faktor keamanan. Inilah sikap ataupun kebiasaan masyarakat yang masih sulit untuk menerima sosialisasi mengenai kebencanaan, “ujar Hendra.

Secara tegas Bambang Elkadi M.kes menjawab, kita seharusnya bisa lebih komprehensif seluruh disiplin ilmu harus disatukan, harus berkelanjutan sering remedial atau diulang.

Team tanggap darurat harus diperkuat dari disiplin di bawah Komando IC (Insiden Komander) agar lebih terkoordinir dan terintegrasi dengan membangun sebuah sistem.

Hal yang senada disampaikan oleh Donald Nababan sebagai seseorang yang bertubuh tegap dan kuat. Kita juga harus membuat strategi mengurangi dampak bencana yang terjadi. Sebagai komparasi negara lain yang sudah maju sudah membangun tembok penahan secara massif sebagai bagian dari pembangunan terstruktur, dibuatnya metoda monitoring secara terpadu dan terkini dan real time dengan menggunakan teknologi tepat guna, walaupun begitu kita juga harus optimalisasi sumber daya manusia yang ada seperti pemuda-pemudi yang berada dilokasi bencana. Pola, style ataupun gaya organisasi kepemudaan harus berubah, jangan hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, pesannya kepada para pendengar yang hadir di diskusi tersebut.

Tidak kalah menarik penyampaian dari Dr. Otniel Ketaren, sebagai seseorang yang sudah pengalaman dalam mengurangi korban bencana sudah banyak memberikan saran dan masukan, beliau mengatakan PBB sudah memprediksi terjadinya KLB di daerah-daerah yang terdampak bencana seperti daerah terpencil yang sulit di akses, untuk sisi Kesehatan Medical Respon paling tidak waktu pelaksanaannya (3-4) hari sudah selesai dilakukan, berbicara KESMAS beliau mengatakan sepanjang pengungsi masih ada dan masih harus dilakukan trauma healing, fogging dan lain sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan Dasar.

Di Haiti terjadi KLB Kolera dengan korban jiwa lebih dari 200.000, bencana lainnya seperti campak, ispa bisa terjadi pada fase kedua bencana. Yang menjadi perhatian adalah media penyebar KLB tersebut seperti kencing tikus, air, jamban dan shelter menjadi sorotan penting sebagai media penyebaran KLB. Untuk Sektoral leading perlu diperhatikan sebagai pemutus kebijakan, begitu juga Publik Health Respon harus dan wajib ada untuk hari pertama dan selanjutnya sesuai dengan Standart Pelayanan. Itulah salah satu pesan beliau sebagai salah satu akademisi dari Universitas Sari Mutiara.

Hadir Toto punggawa ORARI, beliau mengatakan masyarakat yang terdampak banjir belum bisa meninggalkan hunian masing-masing. Seperti kejadian Gunung Sinabung saat meletus masyarakat tidak mau menerima masker sebagai pelindung , hal lainnya di Pulau Nias sistem alarm banyak yang rusak, pemerintah belum bisa menanggani perawatannya. Alat komunikasi seperti jaringan 2G, 3G dan 4G besar kemungkinan terputus, direkomendasikan untuk menggunakan low band seperti Handy Talky, inilah yang disebut RADIO DISASTER, ” jelasnya. Dalam diskusi ini hadir urun rembuk Pemerhati Sosial dan lingkungan Abdul Aziz, beliau memberikan contoh seperti kejadian hujan yang terjadi 30 Oktober 2022, dengan curah hujan 29, 3 mm dengan kelembaban udara 97%, yang artinya intensitas hujan masih kategori rendah, yang perlu diperhatikan adalah infrastruktur yang ada, kita harus memberikan masukan kepada pemangku kepentingan seperti pemerintah. Perlakuan pemerintah dalam menjalankan tugasnya seperti pembenahan saluran air, membuat biopori dan lain sebagainya.

Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) yang diwakili Dolly Rasyid, berharap masing-masing NGO yang ada di Kota Medan harus diperhatikan dan diberikan kegiatan Pelatihan secara berkala.

Salah satu mahasiswi Universitas Sari Mutiara mengatakan kalau mereka mahasiswa/i masih dianggap sepele dalam memberikan penyuluhan atau sosialisasi ke masyarakat. Kami ingin berkontribusi, ajari kami bagaimana caranya, agar masyarakat memahami kami.

Ketua organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Sumatera Utara Supriyanto bertanya tentang adakah informasi dari sisi Juklak /Juknis pada saat terjadi bencana, dimana bisa didapat hal tersebut, bagaimana hubungan dan alurnya dengan penyampaiannya melalui RADIO PANGGIL (Handy Talky), mungkin pertanyaan ini bisa di jawab oleh pihak yang berkompeten, walaupun secara gamblang sudah dijawab oleh Bapak Hendra Blue dengan gayanya yang khas.

Menarik diakhir Sessi acara moderator handal, DR. Rahmat Wida Sembiring didampingi saudara Ahmad membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) ini untuk menjadi perhatian Kalaksa BPBD Kota Medan bagaimana seharusnya menangani banjir, membuat program mitigasi, sosialiasi kebencanaan.

BPBD menjadi instansi yang berwenang menangani permasalahan kebencanaan di kota Medan, juga kita merekomendasikan juga ke DPRD Kota Medan agar mengakomodir dan menyetujui Program-program yang diajukan BPBD untuk kepentingan masyarakat, “pungkas Rahmat Wida Sembiring.

(Reporter:Anto/Editor:Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *