suaramedannews.com- Medan – Penulis: Supriadi – Kecerdasan emosional (EQ) memiliki pengaruh besar pada berbagai aspek kehidupan individu. Secara umum, EQ yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain, yang pada akhirnya berdampak positif pada hubungan interpersonal, pengambilan keputusan, dan bahkan prestasi belajar
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, baik dengan pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan bu ku dan alat pelajaran, sarana pendidikan serta perbaikan manajemen sekolah. Dengan berbagai usaha ini ternyata belum juga menunjukan peningkatan yang signifikan.
Kecerdasan emosional dengan beberapa kecakapan utama yang dimilikinya, ini tidaklah mudah diperoleh karena ia tidak hadir dan dimiliki secara tiba-tiba atau langsung jadi, sebaliknya kemampuan tersebut harus dipelajari sejak dini. Kemampuan untuk bereaksi secara maksimal ini sudah ada pada bayi yang baru lahir. Maka dalam hal kemampuan mempelajari kecerdasan emosional perlu ditumbuhkembangkan atau diasah keberadaannya secara kontinuitas.
Banyak contoh disekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal atau sering disebut dengan intelegence question (IQ) padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang kini telah menjadi dasar penilaian baru.
Emosi sangat penting bagi rasionalitas oleh karena itu dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran yang rasional, mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran penting dalam emosi kita, kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian tertentu kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan yang berlainan yaitu kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh kedua-duanya tidak hanya oleh IQ, tetapi kecerdasan emosional yang memegang peranan.
Peran orang tua tidak dapat dilepaskan. Sikap orang tua corak hubungan yang terjadi antara orang tua dan anak serta bagaimana perhatian orang tua terhadap sekolah, maka semua ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar anak. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, meskipun mungkin mereka tidak pernah saling kenal
Pendidikan agama Islam di sekolah sangatlah penting diberikan sejak dini dan merupakan tanggungjawab orang tua sepenuhnya di rumah. Pendidikan agama Islam dalam keluarga sebagai fondasi yang kemudian dilanjutkan di sekolah sebagai pengembangan anak selanjutnya. Segala problem atau masalah anak di sekolah dapat diatasi dengan bimbingan guru dan perhatian dari orang tua. Guru dan Orang tua harus selalu bekerjasama dalam menyelesaikan masalah anak, sehingga anak terbimbing dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami baik dalam pelajaran maupun tingkah laku sehari-hari.
Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik juga penting agar peserta didik bisa mengendalikan diri dengan baik. Pengendalian diri ini erat kaitannya dengan kematangan jiwa seseorang. Di sinilah selama mengikuti proses pendidikan para peserta didik dikembangkan jiwanya agar menemukan kematangan. Sungguh, pada saat seseorang mempunyai kematangan jiwa maka ia akan bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Mempunyai kepribadian yang kuat termasuk bagian penting dari pengembangan potensi yang dilakukan dalam proses pendidikan. Sungguh hal ini sangat diperlukan, apalagi hidup di zaman yang semakin kompleks di era modern seperti ini.
Pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik juga sangat diperlukan dalam rangka untuk meningkatkan kecerdasan. Bahkan, dalam banyak persepsi, dalam rangka untuk meningkatkan kecerdasan inilah tujuan utama dari setiap proses pendidikan. Padahal, terkait dengan kecerdasan ini, setidaknya ada tiga macam kecerdasan yang dikembangkan dalam proses pendidikan. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan yang sesungguhnya sudah merupakan pemberian Tuhan ini harus dikembangkan dengan baik apabila manusia ingin mendapatkan kesempurnaan hidup.
Potensi yang dimiliki peserta didik juga diperlukan agar anak manusia mempunyai akhlak yang mulia. Persoalan akhlak ini sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata terkait dengan berhasil atau tidaknya dari proses pendidikan. Seorang peserta didik tidak bisa dikatakan berhasil hanya dari penilaian kecerdasan intelektual semata, namun mengabaikan nilai-nilai yang masuk dalam ukuran akhlak. Setinggi apapun kecerdasan intelektual seseorang jika akhlaknya buruk maka ia pun akan dinilai buruk oleh masyarakat.
Indikator dalam kecerdasan emosional ini adalah mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan maka dari itu untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa, mereka harus mampu mengelola emosi dan sering berlatih untuk meningkatakn percaya diri khususnya di sekolah. berlanjut (harianto)